Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 59 Tolong Benci Aku


__ADS_3

"Kau dari mana saja?" hardik Reah dalam kemarahannya.


Tapi saat ini hatinyalah yang jauh lebih marah dari siapa pun, dengan dua hal yang terlalu menyebalkan. Tanpa menggubris pertanyaan Reah ia terus berjalan menuju ruang Nyonya dan tak menghiraukan apa pun ia menghadap untuk memberikan sebuah surat.


Rasa heran Nyonya kalah oleh kabar yang mengagetkan itu, dengan terbata ia bertanya.


"Da-dari mana kau dapatkan surat ini?"


"Dia sendiri yang memberikannya padaku"


"Maksud mu...kau pergi menemui Keenan yang menyatakan diri sebagai Raja baru?" tanya Nyonya kembali memperjelas.


Hans membuang muka untuk hal itu, ia masih tidak bisa mengatakan rencananya sebab takut akan menimbulkan masalah baru yang tidak perlu. Meski tak ada jawaban tapi Nyonya tahu dari ekspresi itu bahwa memang Hans telah pergi, ia ingin bertanya lebih lanjut tapi saat ini yang perlu ia lakukan adalah melakukan rapat untuk membahas surat undangan yang ia terima.


Hans pun pamit undur diri dan memilih pulang menemui orangtua serta bicara dengan Ryu untuk membahas Shishio yang ia temukan di istana vampire, ia yakin Ryu akan mengetahui jawaban dari pertanyaan yang bergumul di benaknya.


Tapi saat ia pulang justru rumah yang biasanya damai mendadak hiruk pikuk dengan pertengkaran keluarga Ryu, dengan penasaran ia mencoba bertanya kepada ibunya.


"Seorang pemuda bernama Chad datang melamar Blue, kakek dan paman Ryu tidak setuju tapi bibi Violet tidak menggubrisnya. Sejak kemarin mereka terus bertengkar dan tidak menemukan titik temu" jawab Amelia.


Hans menghela nafas, mengurungkan niatnya untuk bertanya sebab saat ini justru Ryu pun sedang butuh seseorang yang bisa menyelesaikan masalah keluarganya.


Sebagai gantinya ia mencoba meminta pendapat Shigima, meski pengalaman Shigima di Akademi tidak banyak tapi setidaknya ia tetap lebih berpengalaman dari dirinya.


Hans menceritakan apa yang terjadi, termasuk perjalanannya mencari Sang Dewi sampai akhirnya berhasil mendapatkan ramuan jiwa. Tentu kabar mengenai Keenan yang kini menjabat sebagai Raja baru pun ia beritahukan, tapi Shigima jauh lebih tertarik pada Sang Dewi.


Ia mengajak Hans pergi ke sisi lain dari kastil itu, tempat dimana ada banyak ruangan yang tidak terpakai dan tak terjamah manusia. Untuk pertama kalinya Hans sadar bahwa kediaman mereka jauh lebih luas dari apa yang terlihat, dengan begitu banyaknya ruangan berdebu tebal.


"Malam itu setelah ia menghilang semua sepakat untuk tidak pernah menyebutnya lagi, meski begitu diam-diam ayah menyimpan semua barang-barang peninggalanya sebelum di musnahkan" ujar Shigima sambil membuka sebuah ruangan.


Kreeeeeettt....


Lama tak tersentuh suara deritan besi yang berkarat itu cukup membuat telinga mereka ngilu, satu langkah Shigima saat memasuki ruangan membuat debu-debu berterbangan menuju paru-paru untuk mengotorinya.


Dengan sebuah pematik Shigima menyalakan lilin yang ada sebagai penerang sebelum kemudian ia menyalakan lampu, Hans cukup terkejut melihat barang-barang seorang gadis yang di balik kain putih yang tersingkap.


"Apakah....dia Sang Dewi yang kau maksud?" tanya Shigima menunjukkan sebuah foto.


Hans melihatnya untuk memastikan, seorang gadis cantik dengan rambut hitam tengah tersenyum manis.


"Ya, dia gadis yang sama dengan Sang Dewi" jawab Hans yakin.


Bruk


"Ayah!" panggil Hans kaget melihat Shigima yang jatuh terduduk.


"Bi-bisakah...kau ceritakan lebih detail tentang...pertemuan mu dengannya?" pinta Shigima pelan.


Hans mengangguk, ia membantu Shigima bangkut dan duduk di salah satu kursi. Sesuai permintaan ia menceritakan bagaimana pertemuannya itu yang sesungguhnya Hans benci karena Sang Dewi tidak mau turun tangan untuk membantu.


Shigima mendengarkan dengan serius, selama dua puluh lima tahun ia berfikir Anna benar-benar menghilang dan tak akan pernah di temukan. Tapi justru putranyalah yang berhasil bertemu bahkan bicara dengannya.


"Ayah... benarkah dia adik mu? aku masih belum mengerti mengapa dia harus pergi dan semua menutupi keberadaannya, bahkan saat aku meminta tolong dia juga tidak mau membantu meski ku katakan aku adalah keponakannya" tanya Hans.


"Entahlah Hans, tak ada yang bisa mengerti dirinya. Dia terlalu tua untuk menjadi adik ku tapi terlalu muda untuk menjadi kakak ku, dia terlalu kejam untuk menjadi penyihir tapi terlalu baik untuk menjadi vampire, dia adalah ketidakmungkinan yang nyata untuk itulah kami sepakat menjadikannya legenda"


"Bisakah kau menyederhanakannya?" pinta Hans yang masih belum mengerti.


Shigima menoleh untuk memandang putra yang telah Anna perjuangkan dulu, ia ingat demi Hans Anna rela mempertaruhkan nyawanya hingga menjadi pengkhianat untuk kedua belah pihak.


Secara ringkas Shigima pun menceritakan dari asal batu keabadian, kisah dulu dimana perang besar berawal. Kisah dari Jessa hingga terkuaknya misteri mengapa Anna awet muda, hingga berakhir pada malam dimana Anna menghilang secara misterius.


Hans memandang tak percaya, itu sungguh kisah yang konyol untuk menjadi kenyataan. Tapi mengingat bahwa dirinya adalah penyihir yang telah masuk ke dunia ajaib dimana para peri tinggal tentu saja hal mustahil itu mungkin saja terjadi.


"Dia pasti punya alasan sendiri mengapa tidak bisa membantu kita, panggilan Sang Dewi tidak akan di sematkan untuk makhluk biasa karena itu dia sangat jauh berbeda dengan kita" ujar Shigima.


"Lalu bagaimana dengan guru Shishio?"


"Um...ayah tidak yakin apa yang telah terjadi, kau tahu ayah tidak begitu mengenal pada penyihir tapi mengingat dia adalah salah satu teman Anna ayah yakin ia memiliki alasan sendiri."


Hans termenung, ia ingat Ryu pun berkata hal yang serupa tentang Shishio.


Puk


"Tugas mu sebagai murid yang paling ia percaya hanyalah meneruskan perjuangannya dan terus percaya pada apa yang selama ini membuat mu kuat" ujar Shigima sambil menepuk pundaknya.


* * *

__ADS_1


Meski tubuhnya kotor dengan rambut yang berantakan menutupi wajah tapi Shishio mengenalnya dengan baik, dia adalah salah satu idolanya di masa dulu.


"Kau sudah memberinya makan?" tanya Keenan.


"Seperti yang anda perintahkan, satu kali pun hamba tidak pernah melewatkannya" jawab penjaga itu.


Keenan mengangguk, ia tahu anak buahnya tidak akan melanggar perintahnya. Meski begitu ia cukup heran juga sebab tawanannya terlihat begitu lemah.


"Aku yakin kau mengenalnya" ujar Keenan.


"Reinner... apakah itu benar Rei?" tanya Shishio memastikan.


Mendengar namanya di sebut Rei bergerak perlahan mengangkat kepala, tentu saja hal itu membuat Shishio kaget.


"Kau...masih hidup?" tanyanya perlahan.


"Hanya sampai saat ini" ujar Keenan menjawabkan.


"Kau....datang" ujar Reinner lemah yang di tujukan untuk Keenan.


"Sepertinya kau tidak makan dengan baik, tubuhmu terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku menemuimu. Yah...tapi sudahlah, lihat siapa yang ku ajak untuk menemuimu" tunjuk Keenan.


Sekuat tenaga Rei memalingkan wajahnya, menatap Shishio yang tak bergeming. Karena penglihatannya yang buruk butuh waktu bagi Reinner untuk mengenali Shishio, di tambah waktu yang telah merubah remaja itu menjadi sosok pria dewasa yang mapan.


"Shishio...." panggilnya pelan.


"Yeah, sudah ku duga kau akan mengenalnya. Aku tahu Shishio adalah penyihir berbakat jadi pasti banyak yang mengenalinya" ujar Keenan.


"Bagaimana mungkin? bukankah kau telah tiada?" tanya Shishio.


"Belum" jawab Keenan yang membuatnya mendapat perhatian Shishio.


"Aku menculiknya sebelum ekseskusi"


"Kenapa kau melakukan itu?"


"Karena ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, terlebih Alabama juga membutuhkannya. Tapi sekarang dia sudah tidak di butuhkan lagi, jadi bagaimana kalau kita akhiri saja agar aku bisa menutup tempat ini."


Shishio belum mengerti apa maksud Keenan tapi ia cukup yakin hal itu menyulitkan Reinner, melihat posisi Rei yang dirantai pastilah Keenan memang tidak terlalu berharap banyak padanya.


"Sudah saatnya kau buktikan kelayakan mu dalam kelompok ku" jawabnya.


Terlalu pintar membuat Shishio segera sadar Keenan menginginkan tangannya menghabisi nyawa Rei, hal itu membuatnya curiga Keenan mengetahui masa lalunya dengan keluarga Hermes.


Gep


Tanpa ekspresi kini Shishio mengambil belati itu, membuat senyum mengembang di wajah Keenan. Dengan duduk di hadapan Rei ia bisa melihat jelas mata sayu yang sudah lelah itu tengah memandangnya tanpa ada perlawanan.


"Ada kata terakhir Yang Mulia?" tanya Keenan.


"Jawab....dengan jujur...dimana istriku....dimana Catherine?" ujar Reinner lemah.


"Ck, masih tentang isterimu rupanya.Sejujurnya aku tidak tahu, aku tidak mendengar kabar kematiannya jadi aku pikir dia masih hidup untuk itulah aku gunakan dia sebagai umpan agar kau mau mengatakan keberadaan Anna" jawab Keenan santai.


Hampir belati di tangannya jatuh saat mendengar nama itu di sebut, rupanya ucapan Tianna benar adanya. Ia bahkan menyiksa Reinner hanya untuk informasi yang tidak di ketahui oleh siapa pun.


Rei tersenyum pahit, sebenarnya ia sudah menduga hal itu namun tetap saja ia masih berharap akan adanya keajaiban. Kini dengan satu kekuatan terakhir ia menatap belati di tangan Shishio, ada senyum yang mengisyaratkan rasa penatnya selama ini.


"Yosh, kita akhiri sekarang juga" ujar Keenan melihat Rei yang pasrah.


"Bergentayanganlah, datang padaku dan balaskan dendam mu untuk apa yang akan aku lakukan" ujar Shishio pelan.


"Mm, aku senang...setidaknya nafas terakhir ku berada di orang yang tepat" jawab Reinner.


Jleb


Shishio sadar semakin lama ia menatap mata itu maka hatinya akan semakin ragu, karena itu otaknya segera mengambil alih tangannya agar menusuk dengan cepat dan tepat pada jantungnya.


'Jangan tersenyum! jangan menatap ku dengan damai! kutuklah aku dan benci diriku hingga roh mu tak bisa mencapai singgasana putih, jangan buat aku lebih menyesal atas keputusan ku! aku benci...pada tindakan ku, tolong benci saja aku' batin Shishio dalam detik terakhir sebelum tubuh itu ambruk tak berdaya.


Puk


"Kerja bagus, kau baru mendapatkan sertifikat" bisik Keenan tepat pada telinga Shishio.


"Setidaknya ijinkan aku untuk mengubur jasadnya, bagaimana pun juga dimataku dia memiliki kehormatan" pinta Shishio.


"Terserah kau saja, setelah selesai cepatlah pulang ke istana" ujar Keenan tak perduli.

__ADS_1


Takdir memang tidak pernah ada yang tahu, bagaimana bisa satu tangan yang pernah berjabat ini akan mengambil ruh sebagai bentuk pembebasan dengan cara yang di sesalkan.


* * *


Aaarrrgggghhhh...


Hhhhhhh Hhhhhhh Hhhhhhh


"Chad? kau kenapa?" tanya Ima khawatir.


"Entahlah, rasanya...tiba-tiba dadaku terasa sakit" jawabnya sambil menggenggam erat kemejanya.


"Tegakkah tubuhmu, bernafaslah secara perlahan" ujar Ima sambil membantunya bersandar pada kursi.


Seolah ada sesuatu yang menusuk jantungnya Chad merasakan sakit di sana, anehnya hatinya pun ikut perasakan perih hingga terasa sesak. Seperti sesuatu yang berharga baru saja hilang dari dirinya, sesuatu yang akan sulit ia dapatkan kembali.


"Benar begitu, tarik nafasmu dan buang secara perlahan" ujar Ima sambil mempraktekan.


Untuk beberapa saat bahkan air mata mengalir begitu saja, membuat Ima lebih khawatir lagi. Untungnya hanya berlangsung beberapa menit saja, Chad sudah merasa baikan meski hatinya masih terasa sedih tanpa alasan yang jelas.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ima.


Chad mengangguk dan tersenyum.


"Kau membuat ku khawatir" ujar Ima ketus.


"Maafkan aku, entah mengapa tiba-tiba dadaku terasa sakit"


"Ah...kau pasti lelah karena terus bekerja, pergilah dan istirahat" ucap Ima.


Jauh-jauh ia datang ke sana hanya untuk melihat wajah cantik gadisnya yang selalu mampu membuatnya damai, tentu Chad tak mau pulang begitu saja sebab ia telah terbiasa di manjakan oleh Ima.


Chad bergerak mengangkat kakinya dan mulai merebahkan diri dengan kepala dalam pangkuan Ima, itu cukup mengagetakan Ima tapi ia tak berkomentar apa pun.


"Aku hanya butuh istirahat sebentar saja" ujar Chad.


"Baiklah" sahut Ima.


Tanpa diminta tangannya mulai bergerak menyisir rambut Chad yang lembut, perlahan mengantarkan rasa nyaman hingga penat dan rasa sakit itu hilang dari hatinya. Beberapa saat kemudian ia pun bermimpi indah.


"Ah, aku ketiduran" erangnya sambil melonjat kaget.


"Chad...kau baru terlelap beberapa menit saja" ujar Ima heran.


"Benarkah? rasanya aku sudah tidur seharian" sahut Chad sambil menggosok matanya.


Ungkapan itu membuat Ima berfikir tentang bagaimana pola tidur Chad, selama ini ia selalu melihat Chad terjaga di tambah kulitnya yang lebih pucat dari bulan meyakinkannya bahwa Chad jarang beristirahat.


"Pukul berapa sekarang?"


"Lima belas" sahut Ima.


"Masih ada waktu sebelum makan malam tiba, aku harus segera pergi"


"Urusan kantor?" tanya Ima.


"Begitulah, banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan" jawabnya.


Tapi Ima tidak menyahut lagi, wajahnya masam tanpa mau memandang Chad. Melihat hal itu Chad justru merasa gemas dan ingin mencubit pipi Ima hingga membiru, tapi jika ia lakukan maka pipinya duluan yang akan membiru karena satu pukulan yang kuat. Maka Chad pun jongkok di depan Ima dan bertanya.


"Ada apa?"


"Tidak ada"


"Sungguh?" tanya Chad lagi yang kemudian Ima menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab.


"Aku hanya....kau tahu akhir-akhir ini kau semakin sibuk saja"


"Bukankah kau juga sibuk menghadapi ujian sekolah?"


"Aku tahu, tapi setidaknya aku butuh waktu untuk bersenang-senang sejenak agar kembali bersemangat"


"Kau bisa pergi taman bermain bukan? ku dengar ada pertunjukan sirkus di balai kota. Baiklah aku harus pergi sekarang, sampai jumpa" ujar Chad dengan terburu-buru.


Ima hanya mengedipkan mata sambil membuka mulutnya melihat kepergian Chad, tak percaya pada ucapan yang baru saja ia dengar.


"Sial! mengapa pria tidak pernah peka pada keinginan pacarnya?" gerutunya.

__ADS_1


__ADS_2