
Perjalanan mereka baru saja di mulai meski satu hari telah terlewat dengan menyusuri hutan belantara, ini adalah kali kedua bagi Hans berjalan melewati hutan-hutan karena misi. Kakinya yang baru saja sembuh terus berkedut, mengalirkan rasa sakit ke seluruh bagian telapaknya.
Tiba di hulu sungai saat matahari mulai terbenam membuat mereka memutuskan untuk bermalam di sana, dari cahaya api unggun Hans kembali melihat peta hanya untuk memastikan bahwa ia telah berjalan di jalur yang tepat.
"Kita sudah seperempat perjalanan, kira-kira dua hari lagi kita akan sampai di tujuan" ujar Hans memberitahu.
"Itu bagus, lebih cepat sampai maka akan lebih baik" jawab Elf.
Dengan satu tangan Elf menyerahkan ikan bakar yang baru saja matang kepada Hans, membiarkannya makan sebelum pergi tidur. Hewan malam mulai menunjukkan eksistensinya tepat saat Hans membuang batang tongkat yang di gunakan untuk membakar ikan ke arah api, membuat lidah-lidah merah semakin menjulur menyebarkan kehangatan.
"Elf... aku tahu ini terlambat, tapi terimakasih. Sejak awal kita bertemu kau sudah membantuku, saat ini pun kau masih membantuku" ujar Hans dengan pipi yang merona.
"Tidak perlu di pikirkan, tugas ku memang membantu siapa pun yang butuh pertolongan" jawab Elf sembari tersenyum.
Hal itu membuat kuping Hans semakin memerah dan panas, ia sedikit memalingkan wajah saking malunya sebab tidak tahu harus berbuat apa.
"Um....bagaimana kalau kau katakan saja apa yang kau inginkan? aku tidak bisa mengabaikan semua kebaikan mu itu, rasanya seumur hidup aku akan dihantui rasa hutang budi jika tidak membalasnya"
"Tidak perlu, lagi pula tidak ada yang aku inginkan."
Jawaban itu membuat Hans merengut, satu hal saja meski kecil asal dapat membalas budi Elf ia akan merasa sangat senang.
"Ah... bagaimana jika kau ikut aku ke kota" ujar Hans yang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Apa? kota?" sahut Elf bingung.
"Ya, bukankah kau tidak pernah keluar dari hutan? setelah kita berhasil mendapatkan ramuan itu kau bisa ikut aku ke kota, pemandangan di sana sangat berbeda dari hutan. Ada gedung-gedung tinggi dan toko-toko yang menjual berbagai macam barang, aku juga akan mengajakmu ke kafe untuk mencicipi berbagai macam makanan dan minuman " jawab Hans penuh semangat.
Tapi respon Elf di luar dari ekspetasinya, sedikit pun Elf tidak menunjukkan ketertarikan bahkan wajahnya nampak datar.
"Aku... tidak bisa pergi meninggalkan hutan ku, apa pun yang terjadi di luar sana bukanlah bagian dari ku" jawab Elf pelan.
"Tapi kau belum mencobanya, dunia luar juga sama menyenangkannya aku jamin kau pasti akan merasa senang di... "
"Sudah ku bilang aku tidak bisa pergi! aku tidak perduli pada apa pun yang ada di luar sana!" teriak Elf memotong ucapan Hans.
Dadanya naik turun seolah kelelahan dengan kerutan di dahi yang membuat wajahnya nampak keras, namun ekspresi Hans yang melongo karena kaget membuat Elf tersadar bahwa ia sudah keterlaluan.
"A... aku.... lelah, aku akan tidur sekarang" ucap Elf pelan tanpa mampu menatap mata Hans.
Sejak saat itu Elf lebih banyak diam, bahkan wajahnya selalu nampak murung dengan dahi yang terus mengerut. Hans berusaha mencairkan suasana dengan beberapa lawakan sederhana, namun bahkan Elf tak mendengar apa yang dia katakan.
__ADS_1
Satu hari bagai di neraka terasa begitu menyiksa, kini tanpa ucapan selamat malam Hans tidur lebih dulu membiarkan Elf yang melamun di hadapan perapian.
Pagi hari dimana ia terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan perapian padam tanpa kehadiran Elf, segera Hans berdiri dan menyerukan nama Elf.
Namun malah burung-burung yang menjawab seruan itu, panik Hans segera membereskan tas dan berlari mencari Elf tanpa tujuan pasti. Ia hampir putus asa hingga merasa kecewa saat melihat Elf sedang mencoba menangkap ikan di sungai, dihembuskannya nafas panjang untuk membuang aura negatif yang sempat menyelubungi.
"Kau dapatkan ikannya?" tanya Hans menghampiri.
"Ah... mm" jawab Elf sedikit menyunggingkan senyum sambil menggelengkan kepala.
Hans tersenyum dan ikut terjun ke sungai, airnya yang dingin sempat membuatnya bergidik tapi dalam waktu beberapa detik kemudian ia sudah terbiasa. Rupanya Hans lebih jago dalam hal ini, meski Elf seumur hidup tinggal di hutan tapi ia jarang menangkap ikan untuk di konsumsi karena itulah ia tak begitu pandai.
Dalam beberapa menit Hans sudah dapat dua ekor ikan dengan ukuran yang cukup besar, merasa cukup untuk sarapan mereka Hans pun beranjak dari air dan mulai mengumpulkan ranting untuk membakar ikan.
Sementara Elf membersihkan ikannya sambil menunggu api cukup besar untuk membakar, beberapa menit berlalu tanpa ada yang saling bicara. Baik Hans maupun Elf sama-sama asyik memandang jilatan lidah api yang membakar ikan, perlahan menyebarkan aroma khas yang menggugah selera.
"Hans, aku... minta maaf. Tidak seharusnya aku berteriak kepadamu" ujar Elf tiba-tiba dengar wajah sendu penanda ia memang menyesal.
"Hmm, tidak perlu di pikirkan. Aku juga salah karena terus memaksamu" jawab Hans senang sebab Elf mau bicara lagi.
"Ada alasan yang tidak bisa aku katakan kepadamu, intinya aku memang tidak bisa pergi ke dunia mu itu"
"Aku mengerti, maaf karena aku egois."
"Ah... karena aku tidak bisa pergi bagaimana jika kau yang datang kemari?" ujar Elf tiba-tiba.
"Apa?"
"Setelah rencana mu berjalan sesuai keinginan mu kau bisa datang mengunjungi ku, bawalah makanan yang ingin kau aku mencicipinya"
"Benar, aku bisa melakukannya" sahut Hans bersemangat.
Mereka saling tersenyum dan Hans kembali menceritakan bagaimana kehidupannya sebagai anak kota dengan penuh semangat, hal-hal yang mungkin Elf sukai.
Cerita itu menemani langkah mereka yang kembali melanjutkan perjalanan, satu hari penuh dengan dongeng sampai akhirnya Elf mengumumkan mereka hampir tiba di sarang goblin.
"Kita akan pergi esok pagi, tepat saat para goblin pergi dari sarangnya" ujar Elf.
Hans hanya mengangguk mengikuti arahan Elf sebab ia tidak memiliki pengalaman tentang makhluk itu, mereka bermalam tak jauh dari sarang agar tak butuh waktu lama untuk sampai tapi cukup aman.
Dengan perapian kecil agar tidak terlalu mencolok tapi cukup untuk menghangatkan tubuh yang melawan dinginnya malam, berselimut kain tipis Hans duduk tepat di samping Elf yang sudah terbiasa pada cuaca di sana.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Elf.
Hans mengangguk meski jelas tangannya gemetar, Elf tak dapat menahan senyum melihat sikap sok kuat itu. Dituangnya segelas susu hangat yang ia panaskan di atas perapian ke dalam gelas, kemudian di sodorkannya kepada Hans.
"Jika kita beruntung makhluk itu akan pergi dari sarang setelah matahari terbit, tapi terkadang di cuaca cerah ia lebih memilih diam di sarangnya jadi berdoalah setidaknya besok berawan" ujarnya.
"Andai aku tidak bertemu dengan mu mungkin saat ini aku sudah tiada, melawan kawanan vampanences sendirian bukanlah hal yang mudah dan sekarang aku harus punya strategi untuk mengambil ramuan itu"
"Sepertinya... kita memang ditakdirkan untuk bertemu" sahut Elf sambil menatap bara api.
"Kau percaya takdir?" tanya Hans.
"Tentu saja, aku yakin di balik sebuah pertemuan ada sebuah pelajaran yang bisa aku ambil. Setelah dua puluh lima tahun kau adalah manusia pertama yang aku temui, awalnya aku cukup kaget tapi mengingat kau seorang penyihir itu tidaklah aneh"
"Jadi menurut mu pelajaran apa yang bisa kau ambil setelah bertemu dengan ku?" tanya Hans jelas menunjukkan ketertarikan.
Elf tersenyum sambil mengalihkan pandangan pada langit malam bertabur bintang, ada jeda yang membuat Hans tak sabar sampai Elf akhirnya membuka mulut.
"Meski hutan ku damai tapi dunia sedang tidak baik-baik saja, jika aku diam maka artinya aku egois. Terlalu buruk bagiku untuk menyimpan sifat itu, aku pikir jika aku membantumu menyelamatkan dunia maka aku juga menyelamatkan hutan ku."
Ketulusan mengalir di setiap untaian kata itu, untuk yang kesekian kalinya Hans terpana. Kagum pada kecantikan hati yang di miliki Elf, di banding Sang Dewi baginya Elf adalah Dewi yang sebenarnya.
* * *
Keberuntungan berpihak padanya kali ini, Goblin itu pergi meninggalkan sarangnya tepat saat matahari terbit. Tanpa membuang waktu Elf memandu langkah Hans memasuki sarang yang merupakan sebuah gua, meski tempat itu sepi tapi mereka tetap harus hati-hati sebab Goblin itu bisa datang kapan saja.
Guanya tak cukup dalam namun cukup besar hingga mampu menampung tumpukan koin emas, bagai menemukan harta karun Hans di buat kagum pada semua benda seperti gelas, piring hingga mahkota berlapis emas.
"Ramuan itu berbentuk botol kecil dengan warna emas juga, carilah dengan teliti di sebelah sana sedangkan aku akan mencari di sebelah sini" ujar Elf memberitahu.
"Aku mengerti" jawab Hans.
Ia pergi ke bagian kiri dan mulai mengorek tumpukan koin, berburu dengan waktu hingga butiran keringatnya jatuh membasahi koin-koin itu membuatnya menjadi berkilau.
Srek Srek Srek
Suara langkah yang di seret itu hampir membuat jantungnya copot karena kaget, ia menatap Elf dan beradu pandang dengan panik sampai Elf memberi isyarat untuk bersembunyi.
Secepat mungkin Hans pun mencari tempat dan memutuskan untuk bersembunyi di balik batuan besar yang di timbun koin-koin emas, mengawasi sesosok makhluk yang masuk ke dalam gua.
Kulitnya berwarna hijau seperti kacang polong dengan badan tinggi besar dan perut buncit, Hans bisa melihat ada sepasang tanduk yang mencuat dari keningnya serta gigi yang seolah berisi taring semua.
__ADS_1
Bruk...
Goblin itu menjatuhkan tubuh besarnya di atas tumpukan emas hingga membuat koin-koin itu berhamburan ke segala arah, saat itulah Hans melihat sebuah botol yang ia cari selama ini.