
Saat dunia terlihat damai dengan angin yang menggugurkan sehelai daun kering, melayangkannya di udara selama beberapa saat sebelum akhirnya jatuh ke bumi. Bukankah tidak ada yang lebih indah dari hal itu? atau saat salju pertama turun ke bumi, menutupnya dengan warna putih.
Bahkan di balik kejamnya metropolitan di atas atap bangunan kita masih bisa melihat pemandangan luar biasa, begitulah dunia yang kita kenal.
Tapi hari ini, dimana kakinya berpijak darah mencat permukaan lantai yang hitam dengan merahnya. Suara deru mobil yang biasa ia dengar kalah oleh teriakan pilu saat ajal seseorang datang menjemputnya, pemandangan itu bagai mimpi buruk yang tak mengijinkannya terbangun.
Rasanya semua hal begitu sempurna awalnya, hingga sebuah mitos menjadi kenyataan.
Vampire itu ada, menghisap darah mu saat kau pikir nyamuk adalah makhluk yang paling menyebalkan. Penyihir itu asli, saat kau pikir semua yang meramalkan seseorang adalah penipu ulung.
Sejak dahulu kala, sejak nenek moyang mu mereka telah menghuni bumi di satu tempat yang tak terjamah. Menutup diri dari mata manusia agar keseimbangan dunia tetap terjaga, atau sekedar melindungi diri sebab kadang hati manusia lebih dingin walaupun tubuh mereka hangat.
Begitu juga dengan seorang pria yang ia pikir sangat sempurna, begitu tampan dan pintar. Begitu baik dan ramah, begitu hangat seperti mentari yang bersinar.
Baru saja ia menerima bahwa pria yang menempati ruang di hatinya sebagai salah satu mitos nyata, kini ia harus percaya bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Srek
Satu langkah kakinya menarik mundur tubuh yang lemah itu, masih dengan mata yang tak bisa berpaling dari kengerian.
Drap Drap Drap Drap
Ia mendengar suara langkah itu, tengah berlari ke arahnya dengan tangan yang di penuhi darah.
Hatinya berkata untuk lari tapi kakinya tak mau bergerak, tangannya memegang senjata tapi tak mau terangkat untuk melindungi diri.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya memejamkan mata, berharap semua ini akan berakhir dengan cepat.
Bruk
Argghhh
"Alisya..... " teriak Agler.
Ah... hhhhhhh... hhhhhh
"Alisya! kau baik-baik saja?" tanya Agler sambil memeriksa tubuhnya.
Butuh waktu beberapa saat bagi Alisya untuk sadar hingga bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya, kini indranya telah kembali normal.
"Sebaiknya kau cari tempat perlindungan" ujar Agler.
Alisya tak menjawab, ia membiarkan Agler membawanya ke tempat yang lebih aman. Di balik meja yang cukup besar Agler yakin sementara waktu Alisya akan aman di sana, sementara ia akan kembali bertarung.
Kini Alisya mengerti kenapa ia di larang ikut, pertempuran itu jauh lebih berbahaya bagi manusia lemah sepertinya.
Jangankan untuk menyerang bahkan untuk melindungi diri saja ia tak mampu, andai Agler tidak sadar ia dalam bahaya bisa di pastikan sudah sejak tadi ia kehilangan nyawanya.
* * *
Ballard tidak pernah menyangka akan kesulitan menghadapi penyihir kecil seperti Reah, baginya ini sangatlah memalukan.
"Reah... biarkan aku yang menanganinya" ujar Reinner mendekat.
Jika yang meminta adalah Reinner maka Reah tak bisa menolak, dengan senyum meremehkan ia meninggalkan Ballard untuk membantu yang lain.
"Aku lihat kau cukup kesulitan menghadapinya" ujar Reinner.
"Jangan bercanda, aku hanya menghormati seorang gadis walaupun dia adalah musuh" balas Ballard.
"Aku mengerti, untuk itulah aku menggantikannya agar kau tak perlu menahan diri" ucapnya.
Klang....
Reinner melemparkan sebuah pedang, ini adalah pertarungan nyata untuk memperebutkan tahta.
Mengambil pedang itu berarti Ballard telah menerima tawaran itu, ia pun mengambil kuda-kuda dan di waktu yang tepat mereka segera melesat untuk memberikan serangan terbaik.
Trang... Trang...
Reinner mendarat dengan baik begitu juga dengan Ballard, saling berbalik untuk kembali saling menyerang. Pertarungan itu sangatlah sengit, namun jelas stamina Reinner jauh lebih bagus dari Ballard sehingga ia memiliki keunggulan lebih.
Trang....Trang...
Ujung pedang itu saling bertabrakan kemudian saling bergesekan, dengan bantuan tangan yang lain Ballard mencoba menekan Reinner sekuat mungkin. Tapi tentu itu tidak mudah, dalam beberapa detik Reinner dapat membalikkan keadaan.
Argh..
Buk...
Tendangan Ballard tepat mengenai perut Reinner hingga memaksanya untuk mundur, kesempatan itu ia manfaatkan untuk melarikan diri.
"Hei! tunggu!" teriak Reinner.
__ADS_1
Melihat Reinner yang bergegas mengejar Ballard membuat Reah menyuruh Chad dan Agler untuk bergegas menyusul, sementara sisa pertarungan akan ia bereskan dengan yang lain.
"Baiklah, kami serahkan semuanya pada kalian" ujar Agler segera pergi.
Korban terus berjatuhan, debu kian banyak berterbangan namun seolah tak ada habisnya. Dinding kian berdebu dan lantai kian basah oleh keringat bercampur darah, Alisya masih di sana mengawasi jalannya perang sebagai pengecut.
Begitulah yang terus ia katakan kepada hatinya, selalu seperti itu dimana pun kakinya berpijak.
Ia menundukkan kepala, melihat tangannya yang masih memegang senjata bergetar cukup hebat. Andai ia memiliki sedikit keberanian, mungkin ia tak akan pernah berpangku tangan.
Betapa tangan yang lembut itu selalu saja menerima perlindungan orang lain, mulai dari tangan Joyi lalu Chad, Agler, Ima, Hans, Reah dan entah siapa lagi jika ia tetap duduk berlindung di balik meja.
"Pengecut! angkat tangan mu... " gumamnya mengutuki diri.
Saat ia bersikukuh untuk ikut bukan ini yang ia mau, ia juga ingin berjuang demi orang yang ia cintai.
Hhhhhhhhhhhh
Menarik nafas panjang, Alisya mulai memberanikan diri menatap sekitar lagi. Tak ada yang berubah, semuanya masih sama dengan perang yang entah akan berlangsung selama apa.
Ia memberanikan diri untuk mengangkat tangan, menodongkannya ke depan sementara matanya mencari target. Saat itulah ia melihat Reah sibuk dengan satu makhluk yang tidak mau menyerah meskipun kakinya parah, punggungnya yang bebas menjadi incaran makhluk lain yang segera berlari mendekatinya.
Tak bisa di biarkan, ia harus menolong Reah sebagaimana ia di tolong dulu. Ini adalah balas budi.
Dor...
Argh...
Suara itu cukup membuat Reah terkejut, ia menengok ke kebelakang dan melihat satu makhluk terkapar. Menghabisi makhluk yang sejak tadi merepotkan kini ia bisa melihat Alisya bersembunyi di sana, sambil tersenyum ia mengucapkan 'terimkasih' tanpa suara.
Dua tembakannya tepat mengenai sasaran, itu membuatnya merasa lebih percaya diri.
* * *
Menghilang dalam waktu sekejap Reinner menemukan Ballard di sebuah ruangan lain, itu merupakan tempat pertemuan raja dengan para tetua dan dewan tengah berlindung di balik punggung tentaranya yang kekar.
"Kami akan mengurusnya" ujar Chad yang baru datang.
Reinner sedikit terkejut namun ia senang juga karena kedua putranya ada untuknya, tanpa menunggu lebih lama lagi ia pun mengisyaratkan untuk segera maju.
Perang masih berlanjut, namun waktu yang mereka miliki tidaklah banyak. Efek ramuan yang Alabama buat tidak bertahan lama, pada akhirnya jika mereka tidak cepat menyelesaikan ini maka keadaan bisa berbalik kapan saja.
Whuuuussss....
Saat semua kembali normal ia melihat Ima, Reah, Hans dan Alisya masuk. Kini tahulah ia dari mana asal angin yang kencang itu.
"Maaf kami terlambat" ujar Ima menghampirinya.
"Kalian datang tepat waktu, meski sebenarnya aku tidak ingin melibatkan kalian tapi... terimakasih" jawabnya.
"Alisya seharusnya kau tetap berlindung" ujar pula Agler yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Agler aku mohon... biarkan sekali ini saja aku berjuang dengan mu, aku tidak mau terus di perlakukan seperti putri" pintanya.
"Jangan khawatir, dia pandai menembak" sahut Reah.
Maka Agler tak punya pilihan lain.
"Tetaplah dekat dengan ku" ujarnya.
Alisya tersenyum senang, tentu hanya dalam waktu singkat karena ia harus mulai waspada pada musuh.
"Baiklah... kita mulai" gumam Reah.
Mungkin bagi para pangeran ini adalah perang perebutan kekuasaan, tapi bagi Reah ini hanya rutinitas yang lebih sibuk. Membasmi makhluk pengnisap darah sudah menjadi bagian dari hidupnya, itulah mengapa ia begitu menikmati saat-saat itu.
Dengan bantuan mereka kini ada harapan untuk menang, dengan penuh semangat Chad terus menerjang dan membasmi. Sementara Reinner sibuk dengan Ballard untuk kembali berduel.
"Ballard... sebagai menantu aku sungguh malu padamu" ujar Reinner yang kembali berhadapan dengan Ballard.
"Akulah yang malu memiliki menantu lumpur seperti mu, pengorbanan putriku pada akhirnya sia-sia karena aku tidak berhasil mewujudkan harapan ku" sahut Ballard.
Kenangan sebentar yang di miliki Reinner tentang Catherine tiba-tiba muncul, terus hanya memikirkan keluarganya ia tak mengira pada akhirnya akan jatuh cinta pada seorang gadis vampire yang lugu.
Sangat polos seperti kertas dan halus seperti sutra, sayang dalam usia pernikahan yang semuda jagung bahkan Catherine tak sempat mencicipi kenakalan kedua putranya.
"Tidakkah kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" tanya Reinner.
Ballard termangu sebab ia tak benar-benar mendengarkan.
"Perbuatan mu itu, andaikan... kau tidak pernah berniat menggulingkan ku... atau setidaknya lindungi putrimu dulu... mungkin saat ini Catherine... " gumamnya.
"Apa maksud mu? tentu saja aku melindungi Catherine, aku meminta bantuan Joyi untuk menyelamatkannya" jawab Ballard yang membuat Reinner kaget.
__ADS_1
"Saat kedua cucuku masih dalam kandungan yang terpenting bagiku adalah menyelamatkan pangeran, aku membuat kesepakatan dengan Joyi tapi dia justru memanfaatkan Chad untuk kepentingan pribadi. Selain dari itu Catherine... dia mati terbakar di sebuah gubuk setelah melahirkan para pangeran"
"Jadi... Catherine bukan mati karena ikut di hukum?"
"Jika bukan aku yang menyelamatkan Catherine maka seseorang sudah akan membunuh para pengeran saat mereka masih di dalam kandungan, percayalah padaku bukan hanya aku atau Clarkson yang terlibat dalam insiden itu"
"Siapa? katakan padaku siapa?" tanya Reinner tak sabar.
Ballard tersenyum, berjalan ke depan tepat di mana singgasana berada. Menatapnya cukup lama dan menikmati keramaian yang tercipta hanya pada momen tertentu itu.
"Tugas ku selesai Rei, istana mungkin milik mu tapi tidak dengan hukumnya" ujarnya.
Reinner menatap heran sementara Ballard mulai mengacungkan pedangnya, begitu tinggi hingga pedang itu nampak berkilau saat terkena cahaya matahari.
Reinner merasakan sesuatu yang tidak beres, ia mulai berlari namun tidaklah lebih cepat dari gerakan tangan Ballard.
"Tidaaa...... k.. " hanya perintah itu yang bisa Reinner lakukan meskipun tak berarti.
Perintah yang membuat pedang-pedang menebas udara dan tubuh-tubuh yang siap saling memukul mematung, semua aktivitas terhenti tatkala mata mereka menatap apa yang ada di bawah singgasana raja.
Bruk
Tak berdaya, Reinner jatuh bagai setumpuk sampah. Matanya masih tertuju pada Ballard yang kini tak bernyawa, berharap ia akan bangun dan mengatakan apa yang tidak ia ketahui.
Tapi hal itu tak pernah terjadi, tubuh Ballard mulai berubah menjadi butiran debu hitam yang di saksikan oleh semua orang.
Waktu seakan berhenti, para prajurit diam tak bergerak menunggu seseorang menjelaskan posisi mereka saat ini. Begitu juga dengan para pengeran dan yang lainnya, memberi waktu bagi Reinner untuk memberikan pengumuman.
Akhirnya, setelah mendapatkan kembali ketenangannya Reinner bangkit. Menatap keluarga dan rakyatnya, tersenyum meskipun sangat di paksakan.
"Ballard telah mendapatkan keadilan atas dosa-dosanya, dengan ini semuanya berakhir" ujarnya.
Chad dan yang lainnya tersenyum sementara para prajurit memasang wajah batu, Reinner sendiri tidak tahu harus menampilkan ekspresi apa sebab bukan ini akhir yang ia inginkan.
Ada sesuatu yang terlewat, ini menyangkut tentang istri tercintanya. Entah apa itu tapi yang bisa ia harapkan hanya masa ini akan berjalan dengan damai sesuai dengan apa yang di harapkannya.
* * *
Mereka sudah berjalan cukup jauh dari area istana, di tengah hutan itu Jack yakin mereka akan aman sehingga mereka bisa beristirahat sejenak.
"Tidak apa-apa, itu hanya suara angin" ujar Jessa melihat Joyi yang ketakutan.
Jack menatap bagaimana Jessa melindungi Joyi, begitu tulus seolah selama puluhan tahun tak pernah ada masalah apa pun yang terjadi diantara mereka.
Ia begitu senang melihat pemandangan itu hingga menyunggingkan senyum, berbahagia sebab akhirnya apa yang ia idamkan menjadi kenyataan walaupun kondisi Joyi memprihatinkan.
"Kau terlihat seperti kakak baginya" ujar Jack.
Jessa menoleh, tersenyum lembut dan duduk tepat di hadapan Joyi.
"Andai dia tidak pernah mencoba mengusir ku dari hidup mu, sejak dulu saat kita masih remaja dan begitu di mabuk cinta hanya Joyi satu-satunya wanita yang kubiarkan berada di samping mu. Bahkan sebelum kedatangan ku dia sudah lebih dulu memiliki mu, jadi bagaimana mungkin aku menyingkirkannya" sahut Jessa.
Jack tersenyum mengingat bagaimana kisah cinta mereka berawal dulu, Joyi menjadi tempat curhat sekaligus merpati yang selalu bisa di andalkan.
"Aku bersyukur dia telah menjadi bagian dari sejarah ku, begitu juga kehadiran mu yang menjadi bagian dari hidupku" sahut Jack.
Tangannya terulur untuk menggenggam tangan istrinya, ia tersenyum begitu tulus yang di balas oleh Jessa.
Di usia yang semakin renta udara malam itu bagai jarum yang terus menusuk kulit keriputnya, Jack membutuhkan Jessa sebagai tempat dia menghangatkan diri.
Dengan terbuka Jessa merangkul suaminya, tanpa melupakan Joyi yang juga membutuhkannya ia ulurkan satu tangan kepadanya.
Jleb..
Argh...
"Jack... " panggil Jessa lirih.
Jack masih merangkulnya dan kian erat saat erangan itu terdengar, membiarkannya dalam waktu lama hingga malam itu menjadi benar-benar hening.
Srek
Hingga pada akhirnya tangannya yang sudah lemah itu jatuh di atas rumput, saat itulah air mata mulai menetes.
Perlahan Jack melepaskan rangkulannya, melihat bagaimana mata Jessa masih terbuka untuk memperlihatkan kekejamannya.
"Jessa..... aaahhh... aaaahh..... "
Teriakannya sangatlah kencang untuk ukuran seorang kakek tua, teriakan terakhir yang mengantar sang kecintaan menuju keabadian.
Bersama dengan seluruh kenangan yang menjelma menjadi kunang-kunang, menemaninya agar jalan itu terlihat terang.
Dengan begini matanya kembali membengkak setelah basah kuyup oleh air mata, menatap Joyi yang hanya terdiam seolah tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1