Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 125 Proyek Yang Sukses


__ADS_3

Berita yang ia dengar siang itu membuat panas di ubun-ubunnya meluap, seolah keluar asap dari dalamnya saking tak tahan akan emosi yang terpendam.


Supir yang tak tahu menahu kena imbas amarahnya hanya karena lama menstater mobil, begitu juga dengan penjaga pintu kantor yang tak langsung membukakan pintu.


Langkahnya cepat menuju lift, setelah menekan tombol dengan tak sabar ia mengetuk-ngetuk jarinya di lengan menunggu pintu lift terbuka.


Dari raut wajahnya semua orang tahu saat ini Joyi tengah marah, maka semua pegawai mencoba menghindarinya sebisa mungkin agar tak kena omel.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya ia keluar dari lift dengan tergesa-gesa, berjalan ke arah ruangan Chad tanpa memperdulikan semua karyawan yang memasang wajah takut.


Brak


Pintu itu menghantam tembok saat ia buka dengan sekuat tenaga, Manager San yang kebetulan berada di sana terlonjak kaget karena suara bantingan pintu yang memekakkan telinga.


"Tinggalkan kami berdua" perintah Joyi.


Tanpa menunggu isntruksi lainnya Manager San segera beranjak pergi menutup pintu untuk membiarkan Joyi bersama Chad.


"Nenek sudah dengar semuanya" ujar Joyi serius.


"Aku tahu, itu alasan nenek datang terburu-buru bukan?" sahut Chad santai.


"Berapa tahun kau bekerja di perusahaan Chad? mengapa kau bisa kemalingan seperti ini?" tanya Joyi dengan tidak sabar.


"Pengalaman ku tetap kalah olehnya, Shigima lebih paham bagaimana caranya bekerja"


"Tidak Chad, ini ulah saudara mu bukan Shigima" sergah Joyi.


"Apa maksud nenek?"


"Agler bekerja di perusahaan dan menjabat sebagai Direktur Utama, dia yang menggagalkan semua proyek mu"


"Apa?" tanya Chad tak percaya.


"Kau bisa bertanya langsung padanya" ujar Joyi meninggalkan ruangan itu tanpa ada keinginan untuk berlama-lama.


Berita itu tentu sangat menarik perhatian Chad, mengikuti perintah Joyi ia segera meminta Agler untuk bertemu.


Memilih tempat yang sepi dimana itu merupakan kafe kecil di tempat dulu Agler sering beristirahat setelah lelah mengantar pesanan pakaian, mereka bertemu untuk membahas kenyataan yang belum di ketahui Chad.


"Aku membutuhkan semua proyek yang kau miliki, untuk itulah aku mengambilnya tentu dengan bantuan paman Shigima" ujar Agler.


"Paman? sudah sedekat itu rupanya hubungan mu dengan keluarga Hermes" olok Chad yang jelas kurang menyukainya.


Hhhhhhhhh


Agler menghembuskan nafas panjang seolah beban berat menumpuk di pundaknya.


"Aku berniat menikahi Alisya, tapi nenek mu melarangnya dan menganggapku tidak pantas untuknya. Satu-satunya yang bisa ku manfaatkan hanyalah keluarga Hermes, aku sengaja datang ke keluarga itu hanya untuk mendapatkan status dan kedudukan yang layak agar sepadan dengan Alisya" jelas Agler mengeluhkan nasib cintanya.


Chad terdiam mengetahui kenyataan di balik perang dinginnya, jika menyangkut masalah cinta memang segala cara bisa di halalkan.


"Harusnya kau katakan sedari awal padaku" ucap Chad.


"Meskipun kilu beritahu tetap saja jalan yang ku punya hanya menjadi bagian dari keluarga Hermes"


"Tapi dengan memilih jalan itu secara tidak sadar kau sudah menjadi musuhku"

__ADS_1


"Aku hanya mengambil hak yang di wariskan ayah kepadaku, sisanya mereka tak lebih dari orang asing saja" tukas Agler.


Chad mendengus, cukup kesal karena Agler bersikukuh tak ikut andil dalam peperangan antara dirinya dan keluarga Hermes.


"Ya sudah terserah padamu saja" ujar Chad.


"Sebenarnya aku tidak mau ikut campur dalam balas dendam mu, aku tidak peduli pada apa yang telah terjadi di masa lalu tapi.... ada beberapa hal yang harus kau ketahui tentang keluarga Hermes" ucap Agler beralih pada mode yang lebih serius.


Chad menatap dengan penasaran, menunggu Agler mengatakan informasi yang mungkin berguna baginya.


"Hans tidaklah jahat seperti yang kita pikirkan, benar yang di katakan Alisya bahwa Hans itu penolong"


"Kenapa kau membela bedebah itu?" tanya Chad siap murka mendengarnya.


"Karena Hans membuat perjanjian berdarah dengan vampirr demi Jack, dia mengorbankan dirinya demi kepentingan Jack pribadi"


"Apa maksud mu?" tanya Chad kembali penasaran.


"Aku memergoki Hans tengah di santap oleh seorang vampire, setelah ku cari tahu rupanya Jack meminta sesuatu kepada vampire itu dan sebagai imbalannya adalah darah Hans. Kini Jack membuat perjanjian baru untuk meminta sebuah pil yang bisa membuat Kyra berjalan normal, sebagai gantinya Hans akan di kawinkan dengan vampire itu dan Hans telah menyetujuinya" jawab Agler menceritakan apa yang telah ia ketahui.


Chad yang dengan cepat mencerna kabar itu mulai terbakar api amarah, seperti yang di katakan Joyi keegoisan Jack memang telah membuat penderitaan bagi semua orang.


Ia mengepalkan tangan dengan keras hingga permukaan telapak tangannya memutih, tulang pipinya juga ikut mengeras saat giginya beradu.


"Sekarang kau percaya kekejaman Jack bukan hanya karangan saja" ucap Chad pelan.


"Saat ini yang ku pedulikan hanya Kyra, dia terlalu lemah dan harus patuh pada keinginan ibunya sedang yang lain aku tidak peduli" ujarnya.


"Ya, aku juga mengkhawatirkannya"


"Saat ini dia sudah jauh lebih baik meski memang kemungkinan kecil baginya untuk kembali normal" sahut Agler.


Sebenarnya Agler ingin juga menceritakan kisah cinta Kyra dengan Manager San, berharap Chad bisa membantu mereka agar dapat hidup bahagia. Tapi ia urungkan niatnya sebab saat ini dari pihak Manager San sendiri belum ada tujuan pasti, ia masih menemui Kyra secara diam-diam tanpa memberi tujuan hubungan mereka.


"Sebenarnya aku sudah mengetahui masalah ini dari Alisya, ia memberitahuku kalau nenek melarang kalian bertemu. Aku juga sudah bicara dengan nenek, tapi dia melarangku ikut campur dan jika aku bersikukuh maka dia juga akan melakukan hal yang sama dengan hubungan ku dan Ima" ujar Chad tiba-tiba.


"Maaf karena aku hanya diam saja, maaf karena aku hanya memikirkan keselamatan hubungan ku dengan Ima" lanjutnya dengan nada santai tapi matanya sarat akan keseriusan.


"Aku mengerti, pasti sulit bagimu melawan orang yang sudah membesarkan mu. Sebelum pindah ke kastil Hermes aku juga berkali-kali memikirkan ibuku, hingga saat ini meski berhasil mencapai tujuan ku tetap saja ada penyesalan karena pergi tanpa persetujuan ibu" ujar Agler yang penuh pengertian.


"Ima adalah satu-satunya orang yang membawaku dari jurang kegelapan, dia adalah pelitaku karenanya ku pikir akan sulit memilih salah satu diantara nenek atau Ima. Bagiku keduanya sama pentingnya, karena itu aku memilih mengorbankan mu."


Hahahahaha


Tawa Agler meledak mendengar kejujuran Chad, ia tak mengira sifat Chad benar-benar lurus seperti yang di katakan Ima.


"Aku mengerti... kau tidak perlu mengkhawatirkan aku" sahutnya setelah lelah tertawa.


Chad tersenyum, bersyukur memiliki saudara yang lebih pengertian.


* * *


Senja semakin redup saat Agler mengakhiri pertemuannya dengan Chad, menggunakan mobil yang secara pribadi Jack berikan khusus untuk menunjang pekerjaannya Agler pun kembali ke kediaman Hermes.


Kini dengan sigap penjaga segera membuka pintu gerbang begitu melihat mobil Agler akan masuk, saat ia melintas penjaga itu sempat menganggukkan kepalanya sendikit sebagai tanda penghormatan.


Sampai di depan pintu ia segera keluar sementara seorang pelayan beralih masuk ke dalam mobilnya untuk memarkirkannya.

__ADS_1


Ceklek


Di bukanya pintu itu, pemandangan dalam kastil yang cukup sepi membuatnya sedikit heran, tapi ia tak begitu peduli dan segera pergi ke ruang makan.


Jam makam malam sudah tiba, ia berfikir mungkin semua orang sudah berkumpul di ruang makan.


Trek


"Selamat datang.... " teriak semua anggota keluarga Hermes menyambut kedatangan Agler di ruang makan.


Wajah mereka berseri melihat ekspresi kaget Agler, puas akan kejutan yang sukses.


Rupanya setelah Agler berhasil menarik proyek dari Chad Shigima segera memberitahu Jack, mendapat kabar baik di pengalaman pertama Agler dalam bekerja membuat Jack lebih kegirangan.


Karena itulah Jack membuat rencana membuat kejutan untuk Agler, sebagai ucapan selamat atas pencapaiannya. Selain itu memang keberhasilan Agler patut untuk di rayakan, tentu semua setuju atas ide itu termasuk Amelia meski ada sedikit iri hati.


"Selamat atas pencapaian mu" ujar Kyra dari kursi rodanya.


"Terimakasih" balas Agler tersenyum senang.


"Terimakasih semuanya" lanjutnya sambil menatap satu persatu orang yang hadir.


"Aku tahu kau pasti bisa melakukannya" ujar Jack sambil berjalan menghampiri Agler untuk memberinya pelukan.


Agler membalas pelukan itu tentu dengan di barengi ucapan terimakasih lagi, ia juga membalas salam dari Shigima, Ryu dan Hans.


Beralih pada pestanya Jack mempersilahkan Agler untuk membuka botol wine yang telah ia siapkan khusus, saat tutup botol terbuka mereka besorak kegirangan.


Satu persatu gelas pun di isi dengan wine terbaik, gelas-gelas saling beradu sebelum menyentuh bibir dan wine habis melewati tenggorokan.


Makanan tersaji megah di atas meja makan, semua larut dalam pesta kecil yang hanya di hadiri keluarga.


"Kau lelah?" tanya Agler melihat Kyra yang baru minum beberapa gelas saja tapi sudah keliatan mabuk berat.


"Um tidak, aku hanya tidak kuat minum" jawabnya.


"Jangan memaksakan diri, pergilah istirahat"


"Tidak apa, ini adalah pesta pertama mu"


"Tidak begitu hebat, kesehatan mu jauh lebih penting" ujar Agler bersikeras.


"Hmm, baiklah" sahut Kyra mengalah.


"Biar ku bantu" ujar Agler berdiri.


Mulai menarik kursi roda Kyra dari meja ia pun pamit untuk mengantarkan Kyra ke kamarnya, melihat hal itu Ryu tersenyum senang. Rasanya ia memiliki seorang anak pria yang bisa di andalkan, di tengah kegembiraan itu ia bersyukur Agler mau bersatu sebagai keluarga Hermes.


"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan" ujar seorang pelayan tiba-tiba.


"Siapa?" tanya Jack heran sebab ia merasa tidak memiliki janji dengan siapa pun.


"Mungkinkah itu Joyi?" tanya Jessa merasa khawatir.


"Entahlah, ayo kita lihat" jawab Jack.


Ia pun bangkit bersama dengan Jessa, sementara yang lain hanya saling menatap kebingungan.

__ADS_1


Di ruang tamu seorang wanita telah menunggunya, berpakaian serba hitam tengah memunggunginya.


"Ckckck, kau berpesta tanpa mengundang ku" ujarnya.


__ADS_2