
"Kemana Chad?" tanya Joyi saat ia mendapati hanya Alisya yang ada di ruang makan.
"Sepertinya tuan muda masih di ruang kerjanya" jawab salah satu pelayan.
"Alisya, bisakah kau mengajak Chad turun dan makan malam bersama kita?"
"Baik, aku mengerti" jawab Alisya cepat.
Meski sebenarnya ia tak mau berurusan dengan Chad tapi perintah Joyi tidak bisa ia tolak, meski wajahnya mirip Agler tapi Chad memiliki hawa dingin yang menyeramkan. Saat ia dekat dengan Chad saja tubuhnya langsung bergidik ketakutan, hanya dengan melihat matanya saja ia bisa bermimpi buruk.
Tangannya gemetar dan ragu untuk mengetuk, tapi dia sudah terlanjur berada di sana. Dengan mengerahkan seluruh keberanian Alisya mengetuk pintu.
Tok Tok Tok
"Chad... nenek meminta mu untuk keluar" teriak Alisya yang tak bisa menghilangkan nada ketakutan dalam suaranya.
Tok Tok Tok
Ia kembali mengetuk sebab tak ada jawaban sama sekali.
"Apa dia tidak ada di dalam?" gumamnya berfikir.
Tok Tok Tok
Ceklek
"Ah, Ch-chad....nenek meminta mu untuk segera ke ruang makan" ujar Alisya gugup saat tiba-tiba Chad membuka pintu.
Tanpa sepatah kata pun Chad menutup pintu dan berjalan melewati Alisya begitu saja, sikap cuek yang berlebihan itu membuat Alisya agak sakit hati sebab ia merasa seperti patung.
"Akhirnya kau datang juga nak, jika sudah waktunya makan maka hentikan pekerjaan mu dan bergabunglah bersama nenek" ujar Joyi melihat Chad datang.
"Maaf nek, ada banyak pekerjaan yang harus segera ku selesaikan" jawab Chad.
Alisya yang datang belakangan segera duduk di kursinya, makan malam pun di mulai dengan tenang. Joyi nampak menikmati makanannya begitu pun dengan Chad meski tanpa ekspresi, hanya Alisya yang merasa makanan itu hambar.
"Selamat malam tuan, nyonya dan nona Alisya. Maaf telah mengganggu, ada beberapa laporan yang ingin saya sampaikan kepada tuan" ujar manager San yang baru datang.
"Nenek, aku harus kembali bekerja. Terimakasih atas makan malamnya" ujar Chad sambil bangkit.
"Baiklah, nenek mengerti" jawab Joyi.
Setelah kepergian Chad tak lama kemudian Joyi pun undur diri, ia juga punya kesibukan sendiri yang tidak di ketahui Alisya. Kini, seorang diri di ruang makan yang besar dan mewah membuat Alisya merasa asing.
Joyi begitu baik dan memberikan segala yang ia inginkan, bahkan tanpa memintanya Joyi sudah mempersiapkannya. Pakaian bagus nan mahal yang tidak bisa ia beli dari dulu, kamar mewah dan segala fasilitas yang ia inginkan sejak dulu lalu, uang saku dengan jumlah yang besar.
Tapi semua keinginan yang sejak dulu ia inginkan ini entah mengapa Alisya tidak bisa menikmatinya, ada yang hilang dalam dirinya yang membuat satu kehampaan hingga hilang selera hidupnya.
Alisya terpaku pada lampu kamar yang tepat berada di samping kasurnya, dengan bosan ia mematikan lalu menghidupkan kembali lampu itu. Terus berulang sampai benar-benar bosan hingga ia memutuskan untuk bangun, di lihatnya bulan yang pucat dengan awan hitam di sekelilingnya.
Tanpa sengaja, saat ia menatap keluar jendela di lihatnya Chad sedang duduk di bangku taman seorang diri. Dengan cahaya dari lampu Chad nampak asik dengan buku dan kopi panas yang tersedia.
Melihatnya dengan seksama membuat Alisya penasaran tentang asal usul Chad, sampai saat ini dia tidak tahu kemana orangtua Chad atau bagaimana rupa mereka.
Baik Joyi atau siapa pun di rumah itu tak ada yang pernah menyinggung masalah orangtua Chad, ia juga tidak menemukan foto orangtua Chad terpajang di mana pun.
* * *
Aura kuat dari Nick membuat Agler terbangun dari tidurnya, dengan perlahan ia berjalan keluar rumah dan menemui Nick yang ada di luar.
"Bawa benda ini kemana pun kau pergi, saat ada masalah dengan penyihir tunjukkan lencana ini maka mereka akan membiarkan mu" ujar Nick menyerahkan lencana itu.
"Apa guru baik-baik saja?" tanya Agler khawatir.
"Kau tidak perlu merisaukan aku, kami bicara baik-baik bahkan dia berjanji akan membuatkan sup kelelawar untuk ku bila aku berkunjung lagi nanti"
"Syukurlah kalau begitu, keliatannya penyihir itu baik"
__ADS_1
"Di lihat dari umur dan auranya tidak salah lagi dia penyihir hebat yang sudah berpengalaman" komentar Nick mengingat pertemuannya dengan Shishio.
"Baiklah waktunya aku pulang"
"Guru mau pulang sekarang? bukankah ini sudah larut?" tanya Agler kaget.
"Aku tidak bisa lama-lama di sini, Ima pasti akan banyak memberikan pertanyaan yang sulit ku jawab"
"Hahahaha anak itu memang selalu merepotkan" ujar Agler mengingat bagaimana pribadi adiknya itu.
"Kalau begitu sampai jumpa"
"Mm hati-hati di jalan" jawab Agler.
* * *
Alisya kembali bertemu dengan Agler di kampus, mereka memutuskan untuk minum kopi bersama di kantin kampus sebelum kelas di mulai. Hari itu Alisya tidak banyak tersenyum seperti biasanya, ia masih merasakan kehampaan yang tidak tahu apa penyebabnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Agler menatap Alisya yang banyak melamun.
"Ah tentu, um.... bagaimana kabar keluargamu? apa kau sering menghubungi mereka?" tanya Alisya memulai percakapan.
"Terakhir kali ku telpon mereka baik-baik saja, adik ku banyak bertanya bagaimana kehidupan di kota sedang ibuku tak berhenti khawatir dan mengingatkan ku untuk makan"
"Kau punya keluarga yang menyenangkan"
"Tidak juga saat adikku mulai berulah, dia cukup manja dan bersikukuh. Jika aku tidak menuruti keinginannya maka ia akan terus merajuk sepanjang hari, laku ayah akan memarahiku karena terlalu memanjakannya sehingga begitulah jadinya dia"
"Pasti senang memiliki saudara, kau tidak akan pernah kesepian" ujar Alisya yang tiba-tiba teringat nasibnya sebagai anak semata wayang.
"Hidup itu terus berputar, dengan memiliki adik kadang aku merasa kesulitan tapi tetap saja aku bersyukur dan sangat menyayanginya" jawab Agler.
"Aku sudah terbiasa hidup dengannya, kami selalu bersama dan ini adalah kali pertama kami berpisah. Jujur awalnya berat sekali meninggalkannya, aku takut ia tidak bisa mengerjakan apa pun atau berada dalam bahaya saat aku tidak bersamanya. Tapi semakin hari aku semakin sadar bahwa dia adik yang pintar dan kuat, meski rasanya sepi saat tak ada dirinya tapi aku harus bertahan."
Daun-daun berguguran diterpa angin barat, angin yang membawa perasaan dingin ke dalam hati. Alisya menatap daun-daun itu jatuh ke tanah kemudian terbang kembali saat angin menerpanya untuk yang kedua kalinya.
Kini ia telah mengetahui alasan di balik perasaan hampanya, ia baru saja berpisah dengan kedua orangtua yang selalu ada untuknya. Sewaktu dulu mungkin ia memang hidup dengan serba pas-pasan, tapi ia tidak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang.
Alisya pulang dan kembali menatap rumah yang hanya di huni oleh pelayan, di rumah sebesar itu kehampaan semakin terasa tanpa adanya canda tawa.
Ia memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar, bermalas-malasan hingga akhirnya tertidur. Saat bangun tahu-tahu matahari sudah terbenam, seorang pelayan memberitahunya bahwa makan malam sudah siap. Namun saat ia masuk ke ruang makan tak ada siapa pun di sana, baik Joyi maupun Chad belum ada yang pulang.
Hilang selera Alisya hanya makan sedikit kemudian kembali ke kamarnya lagi, entah mengapa ia tertidur lagi dan bangun saat malam telah larut. Ia mengintip ke luar dan melihat sebagai besar lampu sudah di matikan, satu-satunya cahaya yang menarik perhatiannya berasal dari satu ruangan dengan pintu tertutup.
Alisya berjalan perlahan mendekati ruangan itu, saat ia mencoba mengintip rupanya itu merupakan ruang baca dimana terdapat banyak buku yang tersusun rapi di rak.
Ia masuk setelah memastikan tidak ada orang di dalamnya, dari buku yang terbuka di atas meja ia tahu seseorang sedang membaca di sana tapi kemudian pergi entah kemana.
Berpaling pada buku-buku di rak ia mulai melihat-lihat, kebanyakan yang ada hanya buku tentang bisnis meski ada juga beberapa novel terkenal.
Ia mengambil satu buku untuk di baca, namun saat buku itu keluar dari raknya seekor kecoa juga ikut keluar dan terbang ke arahnya.
Aaaaaaaa......
Bruk..
Prang......
Ah
Ia menengok ke belakang dan melihat Chad berdiri dengan tangan yang sudah kotor terkena tumpahan kopi, sejenak ia lupa pada kecoa sebab di hadapannya ada sepasang mata yang menatapnya dingin.
"Ma-maafkan aku.... " ujar Alisya.
"Ck" decak Chad sambil berjalan ke arah meja.
Dengan menggunakan tisu ia membersihkan tangannya yang terkena tumpahan kopi, tak ada umpatan atau kata apa pun sebagai bentuk amarah. Chad hanya diam tanpa ekspresi dan membiarkan gelas kosong di atas meja, sedang dirinya kembali membaca buku.
__ADS_1
"A-akan ku buatkan kopi yang baru" ujar Alisya takut.
Chad tak menjawab, ia membiarkan Alisya mengambil cangkirnya begitu saja. Alisya sendiri cepat pergi ke dapur, ia membuat kembali kopi yang telah tumpah akibat perbuatannya.
Setelah selesai ia kembali ke ruang baca dan menyimpan kopi itu tepat di samping Chad, Alisya tidak mendapatkan ucapan terimakasih atau apa pun itu karenanya ia pun kembali ke kamarnya.
Pagi harinya Chad bersikap dingin seperti biasa seolah tidak terjadi apa pun, mereka hanya bertemu sebentar sebelum lima menit kemudian manager San menjemputnya untuk pergi ke kantor.
"Kau tidak mengganti pakaian mu sayang?" tanya Joyi melihat Alisya yang masih memakai piyama.
"Hari ini aku tidak ada kelas"
"Oh begitu rupanya, jika kau bosan di rumah pergilah bermain dengan teman-teman mu" ujar Joyi.
Bukannya Alisya tidak mau, tapi ia masih anak baru dan satu-satunya teman yang ia miliki hanya Agler. Sedang saat ini Agler sibuk kerja, jadi bagaimana bisa ia pergi main dengannya.
Alhasil ia hanya bisa menghabiskan waktu dengan diam di rumah, membaca beberapa buku hingga bersantai di kolam renang. Saat makan malam tiba mereka berkumpul lagi tapi kemudian Chad dan Joyi sibuk kembali dengan urusan mereka masing-masing.
Semakin hari rasanya Alisya semakin kesepian, ia mencoba mengobrol dengan beberapa pelayan tapi mereka tidak terlalu menanggapi. Rupanya mereka tidak diijinkan mengobrol saat bekerja, peraturan itu di buat oleh Chad dan Aeda akan selalu menegur mereka yang keblablasan bicara.
Hhhhhhhhhh
"Satu hari lagi yang membosankan" gumam Alisya saat bangun di pagi yang cerah.
Ia segera membersihkan diri dan setelah berganti pakaian dengan segera ia masuk ke ruang makan, tapi lagi-lagi ruang itu kosong tanpa ada Chad maupun Joyi.
"Nona... ini untuk anda" ujar Aeda menyerahkan sebuah kotak hadiah.
"Apa ini?" tanya Alisya heran.
"Saya tidak tahu, itu pemberian tuan muda" jawab Aeda.
Ia cukup kaget mendengar Chad memberikan hadiah untuknya, dengan penasaran segera ia buka kotak itu untuk mencari tahu apa isinya. Rupanya sebuah satu set lengkap alat lukis dan sketsa, secarik kertas kecil juga terdapat di sana yang bertuliskan.
"Gunakan waktumu dengan baik."
Beberapa hari yang lalu Chad mulai menaruh perhatian kepada Alisya, bukan rasa suka melainkan perasaan satu nasib yang sama. Chad telah mengetahui bahwa belum lama ini orang tua Alisya meninggalkan, itulah alasan mengapa kini Alisya tinggal bersamanya karena ia tidak punya keluarga lagi selain Joyi.
Perasaan hampa, kesepian dan sedih yang menjadi satu pernah Chad alami juga. Itulah mengapa Chad menaruh perhatian kepada Alisya karena mata sendu yang tampak kosong itu bagaikan mencerminkan dirinya sendiri.
Sepulang dari kampus Alisya segera membongkar alat lukisnya, ia tidak pandai menggambar tapi dengan sesuatu yang baru itu setidaknya ada hal yang bisa ia lakukan.
Ia mulai dengan membuat sketsa buah-buahan yang mudah, perlahan ia mencoba menggambar hingga tanpa terasa waktu berjalan begitu saja. Saat makan malam rupanya hanya Joyi yang pulang, sedang Chad sendiri baru pulang setelah malam cukup larut.
Alisya melihat Chad masuk ke dalam ruang baca dan ia pun berinisiatif untuk membuatkan kopi.
Tok Tok Tok
"Siapa?" tanya Chad hera sebab seingatnya semua pelayan sudah pergi ke kamar masing-masing.
Ceklek
Pintu terbuka dan nampaklah Alisya dengan segelas kopi di tangannya, ia berjalan perlahan untuk kemudian menaruh kopi itu di meja.
"Ini..... sebagai ucapan terimakasih dariku" ujar Alisya dengan perasaan masih ragu.
Chad tidak menjawab maupun berekspresi lain, wajahnya tetap datar tanpa memalingkan mata dari bukunya.
"Aku... tidak pandai menggambar apalagi melukis, tapi saat aku mulai mencobanya rasanya sangat senang. Tanpa terasa waktu berjalan begitu saja, tiba-tiba sketsa yang ku buat sudah jadi. Melihat hasil karyaku sendiri meski pun tidak bagus tapi rasanya cukup memuaskan, aku jadi ingin membuatnya lagi dan belajar lebih giat lagi" ucap Alisya.
Chad masih saja tidak merespon, hal itu membuat senyum Alisya menghilang perlahan.
"Ah... maaf sudah mengganggumu, selamat malam" ujar Alisya memilih untuk pergi.
"Aku kenal seorang pelukis yang memberikan les, jika kau mau aku akan bicara dengannya" ujar Chad tiba-tiba.
Sejenak Alisya termenung, tapi kemudian ia mengerti maksud ucapan Chad.
__ADS_1
"Mm, aku mau" jawabnya sambil kembali tersenyum.
Chad kembali terdiam tapi kali ini Alisya sudah mengerti, ia mengucapkan salam sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.