
Ia mungkin sudah gila karena telah pergi memenuhi undangan itu, atau telah putus asa dan berfikir semua hanya pormalitas biasa. Tapi saat ia tiba senyum itu begitu hangat dengan lambaian tangan yang terasa akrab, membuatnya berfikir mungkin akan ada sesuatu yang baik terjadi.
"Tidak sulitkan sampai ke sini?" tanya Hakan.
Ia hanya menggeleng sambil berfikir bagaimana bisa pemuda ini bersikap seolah mereka sudah kenal lama, bahkan tanpa ragu ia menarik tangan Kyra hingga masuk ke dalam kereta.
Senyumnya yang tak berhenti mengembang memperlihatkan betapa ramahnya ia, memandang pemandangan luar lewat jendela seolah ini hari spesial bagi mereka.
"Kita akan pergi kemana?" tanyanya setelah sekian lama bungkam.
"Jangan terpaku pada tujuannya, nikmatilah perjalanannya agar tidak terasa membosankan" jawab Hakan.
Kyra menegakkan punggung, memilih kembali bungkam dan mencoba menikmati perjalanan seperti yang di katakan Hakan. Sepuluh menit kemudian kereta pun melaju, memperlihatkan pemandangan di luar jendela yang seolah bergerak.
"Kau mau?" tawar Hakan menyodorkan sekaleng minuman.
Kyra menerimanya tanpa mengatakan apa pun, begitu juga saat ia meneguknya. Membuat Hakan semakin penasaran pada sosok gadis cantik itu, di indahnya ia melihat keputusasaan yang tak seharusnya ada namun terlihat memperkuat ketajaman pandangannya.
"Apa kau memiliki fobia tertentu?" tanya Hakan.
"Tidak"
"Baguslah, bagaimana dengan alergi sesuatu?"
"Tidak ada" sahutnya.
Hakan mengangguk tanda mengerti, pertanyaan sederhana itu membuatnya tersenyum sebab telah mengerti Kyra meskipun sedikit.
"Oh lihatlah itu" ujarnya tiba-tiba sambil menunjuk keluar jendela.
Mata Kyra secara reflek melihat ke arah tangan Hakan menunjuk, pertama kali ia melihat pemandangan luar biasa seperti itu. Gedung-gedung tinggi seperti tiang penyangga langit nampak menakjubkan dengan bangunan lain yang lebih rendah, di tambah jalan raya yang di padati kendaraan membuat pemandangan itu seperti miniatur kota.
Kyra tersenyum, menyadari bahwa hal yang selama ini ia anggap biasa akan menjadi istimewa jika di lihat dari sudut pandang berbeda.
Senyum itulah yang dinantikan Hakan sejak tadi, bahkan sejak ia pertama kali bertemu dengan Kyra. Senyum yang menyempurnakan wajah cantik hingga membuat jantung Hakan mulai tak aman, dengan sorot tatapan lain yang di arahkan kepadanya maka hari itu akan jadi pemakaman untuknya.
"Astaga... aku sangat menyukainya" gumam Hakan.
"Apa?" tanya Kyra yang tidak mendengarkan.
"Pemandangannya, aku menyukai pemandangan dari jendela" jawabnya beralasan.
"Oh... " sahut Kyra yang kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada jendela.
Beruntung ia memilih perjalanan yang cukup jauh sehingga seharian itu ia bisa menikmati wajah cantik Kyra dengan senyum sempurnanya, gadis pertama yang membuatnya gila sebab tak bisa berhenti tersenyum.
"Sebentar lagi kita akan keluar wilayah kota, pemandangan pun akan berganti dengan pohon dan gunung yang mendominasi" ujar Hakan.
Kyra hanya mendengarkan tanpa berkomentar apa pun.
"Jika kita beruntung saat kereta melewati pesawahan kita bisa melihat burung-burung kecil yang menggemaskan" ujarnya lagi.
Hakan meneliti ekspresi Kyra dan masih tak ada reaksi apa pun, maka ia pun melanjutkan ceritanya.
"Aku tidak tahu jenis-jenis burung yang biasa hidup di pesawahan, tapi aku senang melihat mereka terbang begitu tinggi dan bebas. Aku sangat suka melihat langit baik di siang maupun malam hari, aku ingin terbang diantara awan dan membiarkan angin mengibarkan pakaian ku"
"Kalau begitu kenapa kau tidak jadi pilot saja?" tanya Kyra yang mulai tertarik.
Hakan menatap mata yang mulai bernyawa itu, ia tersenyum senang sebelum kemudian menjawab.
"Aku mengalami kecelakaan yang mematahkan tulang punggungku, karena itu aku gagal menjadi pilot."
Ekspresi dingin Kyra perlahan berubah, menampakkan bahwa ia menyesal telah bertanya seperti itu. Tapi meski begitu tak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya, membuat Hakan yakin dia gadis yang cukup keras kepala.
"Memang kenapa jika aku tidak bisa terbang? aku masih bisa menjangkau langit dengan gedung tinggi yang ku buat, hanya karena satu jalan tertutup bukan berarti jalan lain juga di tutup" ujarnya.
Kini Kyra mulai merasa tertarik pada sosok Hakan, jelas bahwa Hakan bukan pemuda yang mudah putus asa dan itu adalah satu nilai lebih yang membuatnya mendapatkan perhatian Kyra.
"Ku dengar kau sudah menjelajah dunia untuk membangun sebuah gedung, dimana saja tempatnya?" tanya Kyra.
Mendapat karcis menuju dunia Kyra tentu takkan Hakan sia-siakan, dia mulai bercerita tentang gedung pertama yang ia buat sebelum akhirnya cerita itu merambah pada perjalanan luar biasa yang telah ia lakukan.
Cerita yang panjang namun tidak membosankan karena Hakan membumbuinya dengan sedikit rayuan dan candaan ringan, sambil melihat pemandangan di balik jendela yang luar biasa bak lukisan.
Tawa pun akhirnya hadir diantara mereka, terbawa suasana Kyra mulai terbuka dengan menceritakan tentang keluarganya. Tentu yang ia utarakan hanya sesuatu yang lumrah dan kebahagiaan-kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan.
Tanpa terasa kini mereka telah sampai di tujuan, tanpa malu Hakan kembali menggandeng tangan Kyra saat mereka keluar dari gerbong kereta. Kali ini tanpa keberatan Kyra membiarkannya, keluar dari stasiun yang ia lihat adalah pedesaan yang cukup sepi.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Hakan.
Mereka berjalan menyusuri trotoar sambil menikmati udara sejuk yang bebas polusi, pohon-pohon dengan daunnya yang rindang begitu memanjakan mata di tambah wangi bunga semerbak saat di tiup angin.
Sepanjang jalan yang di lihat Kyra mayoritas orang berjalan kaki, ia yakin telah berjalan semala lima belas menit dan hanya dua kendaraan yang lewat.
"Ada apa?" tanya Kyra sebab Hakan tiba-tiba terdiam.
"Aku tidak yakin, tapi kalau tidak salah lewat sini kan? memang harusnya lewat sini, tapi aku tidak ingat ada menara itu" gumamnya.
Sementara Hakan berfikir Kyra menatap kebingungan sampai ia sadar apa yang telah terjadi.
"Apa kita tersesat?" tanyanya cemas.
"Hehe sepertinya begitu" jawab Hakan sambil mengusap belakang kepalanya.
"Apa?" teriak Kyra.
Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berjalan ke arah mereka tadi datang, Hakan bermaksud memulai kembali perjalanan mereka dari stasiun. Tapi anehnya setelah lama berjalan mereka tidak juga menemukan stasiun, semakin lama mereka berjalan kaki semakin jauh mereka tersesat.
Aaahhh....
"Aku lelah... sebaiknya kita istirahat dulu" rengek Kyra sambil berhenti berjalan.
"Maaf... ini salah ku, tunggulah di sini akan ku belikan air untuk mu" ujar Hakan.
Ia pun bergegas ke kedai terdekat, membeli dua kaleng minuman sambil bertanya jalan.
"Aku pasti benar-benar bodoh karena mau diajaknya pergi" gumam Kyra kesal.
Tak lama kemudian Hakan kembali dengan minuman dingin, ia memberi Kyra satu dan membiarkannya istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
"Aw.... " erang Kyra tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Hakan cemas.
"Entahlah, kaki ku... rasanya sakit sekali.. " jawab Kyra.
Dengan cepat mereka memeriksanya, rupanya kaki Kyra lecet karena ia berjalan sejak tadi.
Kyra hanya bisa meringis sambil mengeluh, tapi Hakan tiba-tiba melepaskan sepatunya untuk di pakai Kyra.
"Ini salah ku, maaf" ujarnya tulus.
Melihat wajah penyesalan Hakan membuat Kyra merasa tak enak hati telah mengeluh, padahal Hakan sudah berbaik hati ingin membuatnya senang dalam perjalanan ini.
"Pakai saja, aku tidak bisa menggunakan barang milik orang lain. Aku masih bisa berjalan tanpa sepatu jadi tidak terlalu masalah" ucap Kyra.
"Tidak boleh! bagaimana jika kaki mu terluka karena menginjak sesuatu yang tajam" sahut Hakan.
"Sudan ku bilang aku tidak suka menggunakan barang orang lain" ujar Kyra bersikukuh.
Hakan terdiam, menyadari sifat keras kepala Kyra ia pun kembali memakai sepatunya. Tapi kemudian dia berjongkok tepat di hadapan Kyra dan berkata.
"Naiklah ke punggung ku, dengan begini kaki mu aman dan tidak lelah juga kan?"
"Ta-tapi... "
"Sudah ayo naik, apa kau mau di sini sampai malam?" tanya Hakan.
Tak ada pilihan memang, Kyra pun menyadari ia sudah lelah berjalan maka ia pun naik ke punggung Hakan.
"Wah nona Kyra, ternyata kau lebih ringan dari yang aku bayangkan" ujar Hakan saat ia mulai berdiri.
"Benarkah?" tanyanya.
"Sepertinya kau tidak makan dengan baik akhir-akhir ini" ucap Hakan.
Itu memang benar, karena semua masalah ia telah kehilangan selera makan sehingga berat badannya menjadi turun. Tak bisa menjawab Kyra hanya membisu, membenamkan wajahnya pada bahu Hakan yang kokoh.
Cukup lama ia berjalan hingga akhirnya sampai di tempat tujuan, itu merupakan restoran kecil dengan bangunan kuno yang terlihat hampir rubuh.
Mereka masuk ke dalam dan duduk di salah satu meja yang kosong, tak lama seorang wanita muda menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan.
"Tolong sajikan makanan makanan khas daerah sini" jawab Hakan.
Gadis itu pun pergi tanpa kata, butuh setidaknya sepuluh menit baru pesanan mereka datang. Itu merupakan ayam bakar dengan semangkuk nasi bertabur bawang goreng.
__ADS_1
"Dagingnya empuk dan manis, sangat cocok di makan dengan nasi hangat dan sambal. Tapi kau harus hati-hati karena sambalnya sangat pedas, pertama kali aku makan besoknya perut ku langsung sakit" ujar Hakan.
"Sepertinya kau sangat menyukai makan di sini" ujar Kyra.
"Ini adalah desa kelahiran mendiang ibuku" sahut Hakan.
"Beliau yatim piatu dan merantau ke kota, saat bekerja di kota dia bertemu ayah dan menikah hingga lahirlah aku. Saat kecil sebagai hadiah ulang tahun ke sepuluh ibu mengajak ku kemari, menunjukkan seperti apa tempat kelahirannya dulu dan ini adalah makanan favoritnya. Setelah beliau meninggal aku kembali lagi ke sini saat gagal menjadi pilot, pemandangan yang indah dan makanan lezat ini membuatku kembali bahagia" ujarnya.
Kini Kyra mengerti mengapa Hakan mengajaknya ke tempat terpencil itu, ada sebuah kenangan yang memiliki makna besar yang ingin Hakan tunjukkan padanya.
Sebuah tempat yang bisa membangkitkan semangat, membuat lidah yang mati rasa kembali menikmati sebuah hidangan.
Sesuai perkataan Hakan ayam itu manis rasanya, begitu di pasukan dengan nasi hangat dan sambal pedas menjadi satu kompisis yang nikmat.
"Kau suka?" tanya Hakan.
"Ya, rasanya enak" jawab Kyra sambil tersenyum.
Senang mendapat respon yang baik Hakan mulai ikut makan, mereka begitu menikmati hidangan dengan santai sampai lupa akan rasa lelah dan sakit di kaki yang lecet.
Puas pada hidangan itu mereka memilih menikmati senja di bukit sampai kereta yang akan membawa mereka pulang tiba.
"Bukankah itu sangat damai? tidak ada suara yang membuat kepala mu pusing" ujar Hakan.
"Terlalu damai sampai rasanya aku tidak ingin pulang" sahut Kyra.
"Kalau begitu bagaimana jika kita tinggal di sini?" tanya Hakan.
Kyra tak bisa menjawab, sebab pertanyaan itu terdengar seperti sebuah lamaran yang romantis. Matanya lekat memandang Hakan dengan setumpuk rasa yang mengaduk hatinya, menghentikan laju darahnya ke otak sehingga ia tak bisa berfikir dengan baik.
Hahahaha
"Wajah mu terlihat lucu" ujar Hakan tertawa.
Dengan kesal Kyra membuang muka, berharap ia bisa menghilang begitu saja.
"Aku tidak mungkin mengajak mu tinggal begitu saja, untuk itu harus ada ritual resmi yang mengikat sumpah kita" sambung Hakan yang kini lebih membuat Kyra kehilangan muka.
"Se-sepertinya kereta kita sebentar lagi akan tiba, kita harus cepat ke stasiun agar tidak ketinggalan" ujar Kyra sambil berdiri.
Tanpa menunggu Hakan ia lebih dulu berjalan menuruni bukit dan berlari ke arah stasiun, mencoba melupakan ucapan Hakan agar degup jantungnya kembali normal.
Sementara Hakan tersenyum lebar melihat sisi feminis Kyra yang nampak menggemaskan, seperti seorang putri yang jatuh cinta namun sembunyi di balik gelarnya agar tidak merasa malu.
"Gadis yang menarik" gumam Hakan.
Tepat saat Hakan mengikuti Kyra ke stasiun tak berapa lama datanglah kereta mereka, kini tanpa pegangan tangan Kyra masuk lebih dulu dan duduk tepat di samping jendela.
Menatap ke arah luar meski tahu Hakan memperhatikannya tapi ia tak peduli, bukan kali pertama ia di perhatikan maka Kyra bisa bersikap acuh.
Dan hal itu membuat Hakan semakin tertarik, ia yang tercipta dengan kemampuan menaklukkan hati setiap gadis baik dengan tingkah atau ucapan kini malah merasa tak bernilai.
Sepanjang perjalanan pulang yang lama mereka hanya terdiam, Kyra mengagumi pemandangan dan Hakan mengagumi pemandangan di depannya.
"Ini stasiun kita" ujar Hakan setelah berjam-jam membisu.
Kyra mengangguk dan mereka pun turun, membelah keramaian di stasiun kota Kyra kembali menghirup udara yang telah terkontaminasi.
"Ayo" ajak Hakan.
Mereka berjalan kembali, menyusuri trotoar dengan bunyi bising kendaraan dan hiruk-pikuknya dunia.
Masih tak ada yang mau bicara sampai mereka tiba di sebuah halte bis, untuk pulang ke rumah Kyra hanya tinggal naik bis itu maka ia pun sampai. Tapi sebelum ia naik tiba-tiba Hakan memegang tangannya, Kyra menoleh dan melihat sebuah tatapan yang membuatnya membeku.
Entah sihir apa yang telah Hakan gunakan tapi Kyra melewatkan bisnya, saat bis itu telah melaju jauh dari mereka barulah Hakan bicara.
"Bolehkah aku mengantar mu pulang? mobil ku terparkir tak jauh dari sini."
Awalnya Kyra hanya terdiam, tapi ia tak memiliki banyak pilihan maka ia pun mengangguk.
Hakan tersenyum senang, mereka kembali berjalan untuk mengambil mobil Hakan. Dalam perjalanan pulang ke kediaman Hermes rasa penasaran Hakan semakin menjadi sebab Kyra begitu kuat membungkam mulut, sampai mereka tiba di pintu gerbang kastil Hermes lagi-lagi Hakan memegang tangan Kyra sebelum ia pergi.
"Saat makan ayam bakar aku teringat pada ibuku, itu membuat sebuah kerinduan yang terlepas begitu saja cukup menyesakkan dada. Dan setelah ini, saat aku melihat kereta yang aku ingat adalah kau. Kenangan manis yang membuat ku sulit melepaskan tangan mu" ujaranya.
Entah itu sebuah rayuan lain atau ungkapan dari hati yang mengganggu, Kyra tidak tahu mana yang benar dan tidak mencoba menerkanya.
"Terimakasih untuk hari ini, aku bersyukur karena memutuskan untuk ikut dengan mu" jawab Kyra dengan senyuman yang tulus.
__ADS_1