Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 141 Gadis Lancangku


__ADS_3

Peristiwa itu terjadi dengan sangat cepat, saat tersadar supir itu menghilang bak di telan bumi. Dengan gelisah Shigima pulang ke rumah, segera ia pergi ke tempat para pelayan istirahat untuk mencari supir itu.


Anehnya tak ada yang mengetahui bahkan tak mengenal supir yang Shigima jelaskan, berbagai pertanyaan baru muncul dalam benaknya.


Membuat ekspresi bingung yang di pergoki oleh Jack, kini dia jauh lebih baik meski tetap berduka dalam hati.


"Shigima.. kau kemana saja?" tanyanya.


"Ayah, apakah kita memiliki supir dengan perawakan tinggi, berkulit cokelat dan berjanggut rapi?"


"Entahlah, rasanya tidak ada orang seperti itu di kediaman ini"


"Aneh sekali, lalu siapa yang mengantarku ke Chad?" gumamnya.


"Kau pergi menemui Chad? apa yang kau lakukan?" tanya Jack kembali cemas.


Dengan menundukkan kepala Shigima menjawab.


"Aku memintanya untuk memulangkan Jessa dengan selamat, tapi kami malah terlibat pertarungan dan saat itu seorang supir yang mengantar ku menembak Ima"


"A-apa?" gumam Jack langsung syok.


Mendadak matanya kosong hingga menjatuhkan diri ke kursi terdekat, meratapi nasib buruk itu dengan mengurut keningnya yang terasa sakit.


Aaaaaaa.....


Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar nyaring membuat mereka kaget, dengan cepat Shigima dan Jack mencari sumber suara tersebut.


Dalam perjalanan menuju teras mereka berpapasan dengan Amelia dan Hans yang juga sedang mencari sumber suara tersebut, saat sampai semua orang kaget melihat pemandangan yang ada kecuali Shigima.


Chad telah membalaskan dendamnya dengan mengobrak-abrikan terasnya, para penjaga ambruk tanpa bisa bangun dengan luka yang cukup serius.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Amelia panik.


"Berikan padaku bawahan mu itu, jika tidak akan ku hancurkan kastil ini beserta penghuninya" ujar Chad tak memperdulikan pertanyaan Amelia.


"Sekalipun kau menghancurkannya itu hanya sebuah kesia-siaan, orang yang kau cari sudah aku cari sejak tadi namun dia tak ada di rumah ini" sahut Shigima.


"Siapa yang kalian maksud? siapa yang sedang kalian cari?" tanya Amelia bingung sekaligus penasaran.


"Bawahan mu! orang yang telah melukai Ima hingga hampir meregang nyawa" jawab Chad yang membuat Amelia lebih heran lagi.


"Kita sudah cukup saling mengenal, jika bukan karena Anna adalah teman ku maka saat ini kesabaran ku sudah habis. Oleh karena itu tolong jangan membuatnya lebih sulit lagi, tidak ada gunanya melindungi orang itu" ujar Colt tajam.


"Sungguh Colt, dia tiba-tiba menghilang dan aku tidak tahu dimana keberadaannya" sahut Shigima kini dengan suara yang lebih meratap.


"Jangan pikir aku akan percaya begitu saja" ujar Agler yang entah sejak kapan sudah berada di samping mereka.


Berjalan melewati mereka untuk masuk ke dalam rumah, di susul oleh Colt dan Chad mereka mulai memeriksa kastil itu. Amelia hendak memprotes tapi sebelum kata keluar dari mulutnya Shigima sudah lebih memberi isyarat untuk diam.


Mereka mulai berpencar, memeriksa setiap ruangan dengan teliti hingga menghabiskan waktu selama hampir satu jam lebih namun pencarian itu berbuah nihil.


"Sudah ku katakan dia tak ada di sini" ujar Shigima yang menunggu di altar.


"Kau berhutang dua nyawa padaku, aku ingin mereka hidup-hidup dan dalam keadaan selamat saat kau mengantarkannya. Jika tidak... kau tahu konsekuensinya" ujar Chad tajam kepada Jack.


Tak bisa membalas tatapan itu Jack menundukkan pandangannya ke bawah lantai, sementara Hans masih bingung dengan apa yang terjadi.


Tanpa peringatan tambahan mereka memutuskan untuk pergi dan melakukan pencarian ke tempat lain.


* * *


Butuh tempat yang lebih sunyi untuk mengembalikan kesehatan otaknya Reinner berpamitan untuk pergi sebentar, Mina mengijinkan karena masih ada Alisya yang menemaninya.


Reinner memilih kembali ke markasnya, di sana ia menemukan Tianna sedang merebahkan diri di atas kursi dengan kaki yang terangkat.


Asap putih mengepul dari cerutu yang sedang ia isap, dari puntung yang berserakan di lantai Rei bisa tahu bahwa sejak tadi Tianna sudah merokok. Di dekatnya Jhon terdiam sambil menyilangkan tangannya, dari raut wajah mereka ada sebuah informasi yang siap untuk di sampaikan.


"Selamat datang" sambut Tianna sambil melirik.


"Sejak kapan kau merokok?"


"Beberapa jam yang lalu, dan aku ketagihan" sahutnya.


"Kau dari mana?" tanya Jhon.


"Sebuah insiden baru saja terjadi, Ima anak Colt tertembak dan saat ini keadaannya masih kritis di rumah sakit"


"Apa? bagaimana bisa?" tanya Jhon kaget.


"Agam menculik Jessa dan itu membuat Shigima datang dengan marah, mereka terlibat perkelahian dan dalam satu momen anak buah Shigima menembak Ima yang melindungi Agam" jelas Rei dengan ringkas.


"Chad menculik Jessa? untuk apa?" tanya Jhon lebih kaget pada berita itu.


"Aku tidak tahu pasti, tapi kalau tidak salah Agam meminta pertukaran dengan bibi Joy. Saat ini mereka benar-benar kacau, hampir saja mereka hendak membalas dendam kepada Shigima setelah Mina mengatakan bahwa Shigima pernah menyerang Ima"


"Hidup manusia selalu seperti itu, lumpur sekalipun masih berharap bisa menumbuhkan bunga" ujar Tianna pelan.


"Aku yakin masalah Shigima menyerang Ima itu adalah sebuah kesalahpahaman, tapi insiden penembakan Ima tak bisa ditolerir" ucap Reinner mengacuhkan komentar Tianna.

__ADS_1


Sejenak merema terdiam, merenungi kekacauan yang meluluhlantahkan segalanya.


"Aku rasa 'Dia' ada hubungannya dengan ini" gumam Jhon.


Mengetahui 'Dia' yang Jhon maksud Reinner mendengarkan dengan cermat.


"Pekan nanti sebanyak lima bangsawan sudah mencatatkan diri untuk mengikuti ujian seleksi dan Clarkson ikut di dalamnya, aku mendapatkan bukti Clarkson menyogok petugas agar lulus dalam ujian ini" ujar Jhon.


"Pekan nanti, berarti kita memiliki waktu tujuh hari lagi"


"Kita harus bergerak dengan cepat, jangan sampai Clarkson mencapai tujuannya lebih dulu" ujar Jhon sambil menganggukan kepala.


"Kalian tenang saja, dia akan gagal dalam ujian itu" sahut Tianna sambil mematikan cerutunya yang sudah pendek.


Mereka memperhatikan Tianna merubah posisinya menjadi duduk dan saat melihat matanya yang menyorot penuh rasa percaya diri Rei tahu Tianna memegang kartu As.


"Aku yang akan menggagalkan ujiannya" ujar Tianna.


"Kau bisa melakukannya?" tanya Jhon.


"Tenang saja, dia baru saja masuk ke dalam genggaman tangan ku" sahut Tianna.


Ia pun menceritakan bagaimana keberuntungan begitu memihaknya, hanya berkeringat di atas dipan ia sudah menghemat waktu untuk mengumpulkan informasi.


Ia sendiri sedikit terkejut mengetahui Clarkson sudah tertarik padanya sejak dulu, hal inilah yang akan ia manfaatkan.


"Aku akan masuk ke dalam timnya, mulai saat ini tugas ku hanya menggagalkan ujiannya agar tidak berhasil mencapai tahta. Sisanya aku serahkan kepada kalian, aku mohon Yang Mulia dapat mengerti situasi ku" ujarnya.


"Kau belajar dengan cepat, sekarang kau sudah bisa memutuskan hal yang benar dengan sendiri. Setelah semua ini selesai ijinkan aku untuk melantik mu secara resmi" ujar Reinner tersenyum puas.


"Yang Mulia... terimalah ucapan syukur ku" sahut Tianna segera bersimpuh di bawah kaki Reinner.


"Sekarang masalah lainnya adalah 'Dia', Chad bukan orang pengecut yang akan menculik wanita tua jadi yakin 'Dia terlibat dalam hal ini. Mungkin juga penembakan Ima di lakukan oleh anak buah-Nya bukan Shigima, 'Dia' sengaja memprovokasi kalian" ujar Jhon.


"Sepertinya begitu"


"Apakah serumnya sudah selesai?" tanya Jhon.


"Sedikit lagi"


"Baiklah, kita akan terus mengikuti kemauannya hingga serum itu selesai di buat" ujarnya.


* * *


Mereka mencoba menyisir sekitar area kastil untuk mencari petunjuk, karena tak menemukan apa pun maka mereka kembali ke rumah untuk mulai penyelidikan dari sana.


Ada satu fakta yang berhasil mereka ketahui adalah sang pelaku merupakan penyihir dan peluru yang di gunakan terbuat dari perak, itulah mengapa Ima menderita luka yang sangat parah hingga kehilangan banyak darah.


Chad menurut, meski ia merasa tak enak hati karena pulang dengan tangan kosong.


"Chad..." panggil Alisya melihat sepupunya itu datang kembali.


"Mana Agler dan Colt?" tanya Mina.


"Orang itu hilang, sekarang mereka masih mencarinya"


"Oh tentu saja, dia pasti sudah kabur" tukas Mina dengan kesal yang membuat Chad merasa gagal.


"Ima sudah baikan, dia sudah di pindahkan ke ruang rawat jadi kau bisa menjenguknya sekarang" ujar Alisya mencoba mencairkan suasana yang begitu panas.


"Sungguh? aku akan melihatnya" ucap Chad kembali bersemangat.


Alisya mengangguk sambil tersenyum, membiarkan Chad pergi untuk melihat Ima.


Perlahan ia membuka pintu itu, berusaha tak menimbulkan suara agar Ima tak terbangun. Tapi tetap saja saat ia duduk di sampingnya dan menyingkirkan rambut Ima yang menghalangi wajahnya sebab posisinya yang telungkup mata Ima perlahan terbuka.


"Mmmm... Chad... " panggilnya pelan.


"Ssshhhhh... kau masih lemah, jangan banyak bergerak" ujarnya.


"Bagaimana luka mu? apa sudah baikan?" tanya Ima dengan suara yang sangat pelan.


Chad tersenyum untuk menahan air matanya yang siap jatuh, betapa kekasihnya ini sangatlah cerewet dan menyebalkan hingga membuat hidupnya tak tenang.


"Pikirkan dirimu dulu, kau hampir kehilangan nyawa karena peluru itu" ujarnya dengan nada kesal.


"Heh,, siapa yang bisa melukai ku seperti itu? ini hanya luka kecil saja"


"Kenapa kau sangat keras kepala? ibumu bahkan harus mendonorkan darahnya untuk mu"


"Benarkah?" tanya Ima melirik dengan mata yang setengah terbuka.


"Ohhh... ****! kali ini aku akan benar-benar mati" erang Ima membayangkan bagaimana amarah Mina yang lebih merepotkan dari perjuangan cintanya.


Chad hanya tersenyum mendengar umpatan itu, sangat khas dengan kenakalan Ima yang awalnya ia anggap sebagai pengganggu.


"Istirahatlah kembali, aku ada di luar jika kau butuh aku" ujar Chad.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Apa" tanya balik Chad tak mengerti.


"Kau tidak mau menemaniku di sini?"


"Bukan begitu, kau harus banyak istirahat agar cepat pulih"


"Aku hanya butuh menghisap lehermu saja itu obat paling ampuh yang bisa membuatku bertenaga"


Blushh...


"Ja-jangan bicara macam-macam!" tukas Chad dengan wajah semerah jambu.


"Kenapa?" tanya Ima sambil tersenyum nakal.


"Aku benar-benar tidak mengerti anak jaman sekarang, kau ini masih SMU kenapa sudah membicarakan hal seperti itu" ujar Chad yang merasakan wajahnya semakin memanas karena malu.


"Aku belajar dari wanita yang kau bawa pulang malam itu"


"Wanita mana yang kau maksud?" tanya Chad terperanjat kaget.


"Jangan pura-pura lupa, kau bahkan menyuruhku untuk melayaninya dengan baik setelah kalian menghabiskan waktu malam yang panjang di ranjang" jawab Ima dengan mata yang menuduh.


Chad menepuk jidatnya setelah ia berhasil mengingat wanita yang ia kenal di bar, ia tak menyangka Ima akan terus mengingat wanita itu padahal peristiwanya sudah lama sekali.


Ia sendiri bahkan sudah melupakannya, lagi pula malam itu mereka tidak tidur bersama karena memang Chad tak menginginkannya.


"Apa yang kau pelajari darinya?" tanya Chad.


Ima tersenyum penuh misteri membuat Chad sedikit ragu untuk mendengarkan.


"Buat kau puas dengan begitu aku akan di perlakukan dengan baik"


"A-apa itu? kenapa kau belajar hal yang tidak senonoh seperti itu?" tanya Chad marah.


Hahaha


"Bukankah itu benar? aku berhasil mendapatkan hatimu dan karena itu aku terbebas dari hutang yang menggunung" ujar Ima tertawa geli.


"Aish.... aku sudah tidak mau bicarakan hal ini lagi dengan mu, aku akan pergi!" tukas Chad kesal.


"Chad... " panggil Ima menghentikan langkahnya.


"Jangan tenggelam dalam amarah lagi, Shigima pasti tidak sengaja melakukannya" ujarnya yang mengira pelaku penembakan dirinya adalah Shigima.


Itu membuat Chad terdiam, bahkan setelah hampir mati sia-sia Ima masih memikirkan dirinya dan takut Chad akan semakin tenggelam ke dasar dendam.


"Kau tidak perlu khawatir, kami sedang mengurusnya dengan baik" sahut Chad pelan.


Ia pun kembali berjalan dan menutup pintu, membiarkan Ima beristirahat sedang dirinya harus pergi ke atap untuk melepaskan emosi yang mengganjal di hatinya.


Itu sangatlah mengganggu, sifat Ima yang arogan, nakal, cerewet, keras kepala tapi begitu mudah mengorbankan diri demi dirinya bahkan hatinya yang sangat murni tidak mengijinkan Chad membalas dendam dan dengan mudah mengubur tujuan hidupnya begitu saja.


Mengganti harinya yang awalnya ia habiskan untuk menyusun strategi menjadi cara untuk menjauhkan dirinya dari Ima, pada akhirnya ia benar-benar kalah telak.


Oleh karena itu, andai hari ini ia kehilangan gadis lancangnya maka ia akan kembali menjadi pangeran dingin.


* * *


Manager San berniat memberikan beberapa laporan kepada Chad tapi kedatangannya di sambut oleh gerbang yang hancur dan noda darah Ima yang sedang di bersihkan, pemandangan mengerikan itu tentu mengundang tanya yang hebat.


Dari pelayan ia berhasil mengetahui apa yang telah terjadi dan segera menyusul ke rumah sakit, di sana ia bertemu dengan Alisya dan mendapatkan informasi yang lebih akurat.


"Untuk beberapa hari ini tolong handle urusan kantor dulu, aku yakin Chad tidak bisa bekerja dengan baik" pinta Alisya.


"Aku mengerti, pasti akan aku kerjakan dengan baik" sahutnya.


Tiba-tiba Manager San teringat bahwa Ima adalah teman dekat Kyra, mengingat Shigima adalah pamannya ada rasa khawatir Kyra akan terlibat masalah ini maka ia pun memutuskan untuk menelpon.


"Halo, dengan Kyra di sini"


"Ini aku" sahut Manager San.


"San? ada apa? sudah ku bilangkan jangan menghubungiku dulu" ujar Kyra dengan berbisik.


"Aku hanya ingin memastikan keadaan mu baik-baik saja, aku sudah dengar tuan muda pergi ke kediaman Hermes untuk membuat perhitungan dengan Shigima jadi aku takut kau kena imbas juga"


"Apa? kenapa dengan mereka? ada masalah apa lagi?" tanya Kyra tanpa menutupi kemuakannya.


"Apa kau belum mengetahuinya? salah satu anak buah keluarga Hermes menembak Ima, itu membuat tuan Chad dan yang lain marah besar"


"Sungguh? aku tidak tahu, aku memutuskan untuk pindah demi ibuku jadi aku tidak tahu apa pun yang terjadi dengan keluarga ku" jawabnya.


"Begitu rupanya" sahut Manager San menghembuskan nafas lega sebab ia tahu Kyra baik-baik saja.


"Lalu bagaimana keadaan Ima sekarang?"


"Dia sudah di pindahkan ke ruang rawat"


"Ah syukurlah, aku akan pergi menjenguknya sekarang"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu" jawab Manager San dan telepon pun berakhir.


__ADS_2