
Sekian lama terkurung dalam rasa sakit di kamarnya kini Kyra kembali dapat mengenakan pakaian-pakaiannya yang indah, wajah yang telah pucat pun kini merona dengan sedikit riasan.
Senandung kecil mengakhiri persiapannya dengan mengikat rambut, tersenyum puas melihat pantulan penampilannya yang sempurna di cermin.
"Kau mau kemana?" tanya Violet heran.
"Hanya jalan-jalan" sahut Kyra masih menilai penampilannya.
"Tidak, kau belum boleh keluar" ujar Violet yang merasa curiga.
"Kenapa? aku sudah sembuh total"
"Sekali ibu bilang tidak maka artinya tidak" ucap Violet bersikeras.
Kyra mendengus dengan keras, tak terima akan perlakukan ibunya yang masih saja suka mengatur. Merasa muak tanpa berkata Kyra tetap mengambil langkah, tentu hal itu membuat Violet geram.
"Sudah ibu bilang tidak!" teriaknya.
"Ibu tidak berhak mengatur hidupku!" balas Kyra.
Tatapan tajam itu jelas tertuju untuknya, tatapan yang penuh dengan rasa kesal. Melihatnya membuat hati Violet semakin geram, ia tak bisa terima sikap anaknya yang mulai memberontak.
"Ibu wajib melakukan semua hal demi keselamatan mu, dunia luar itu tidaklah aman bagimu" ujarnya dengan nada yang sedikit melembut.
"Aku bukan anak berumur sepuluh tahun, aku bahkan pernah memiliki keluarga ku sendiri"
"Itulah kenapa ibu melarangmu, kau adalah seorang janda dan tidak seharusnya kau keluar sembarangan apalagi dengan pakaian seperti ini"
"Pikiran ibu terlalu kolot" ujar Kyra sambil menggelengkan kepala.
Ia kembali berjalan melewati Violet begitu saja.
"Ibu tahu kau hendak menemui Manager San" ujar Violet yang membuat langkah Kyra terhenti.
"Ibu sudah peringatkan kau untuk menjauhinya"
"Tidak ada yang salah dengannya" balas Kyra.
"Terlalu banyak sayang, terlalu banyak hal yang salah dalam dirinya sehingga tidak seharusnya kau berhubungan dengannya" ujar Violet sambil berjalan mendekati Kyra.
"Sejak awal pertemuan mu dengannya nasibmu selalu buruk, pertama kau di tipu sepupu mu sendiri hingga kecelakaan mobil itu. Jika kau terus menemuinya entah tragedi buruk apalagi yang akan menimpamu" jelasnya berharap pengertian dari Kyra.
Tapi tatapan mata itu tidaklah menunjukkan tanda-tanda berubah pikiran, matanya tetap tajam menatap Violet bahkan dengan tegas ia berkata.
"Aku sudah muak terombang-ambing dalam kapal tanpa nakhoda, andai sejak awal ibu bisa menerima San tanpa tergiur kedudukan Chad yang lebih tinggi maka semua ini tidak mungkin terjadi."
Violet tercengang mendengar pernyataan itu, untuk pertama kalinya ia menerima pemberontakan secara nyata.
"Oh dan satu hal lagi, bayi yang sempat ku kandung bukanlah anak dari Hakan melainkan buah hati ku dan San" ujar Kyra sebelum benar-benar melangkah pergi.
Itu merupakan satu pukulan knockout yang keras, tepat mengenai hati Violet hingga membuatnya tak bisa bernafas karena sesak.
* * *
Ima telah mengetahui bahwa Reinner ayah dari kakak dan pacarnya masih hidup, meski belum bertemu secara langsung tapi ia senang karena saudara kembar itu kini tengah berbahagia.
Ia juga di beritahu akan rencana Reinner yang ingin mengambil kembali tahtanya, sebagai anak yang harus berbakti maka waktu Chad kini semakin terbatas untuk Ima.
Biasanya mereka akan menghabiskan waktu seharian seminggu sekali di akhir pekan, tapi kini mereka hanya akan bertemu selama beberapa jam yang lebih singkat.
Ima cukup pengertian akan kesibukan yang dimiliki Chad, tapi rasa cinta terkadang membuat keegoisan muncul dengan merubahnya menjadi kesepian.
Terkadang ia akan merajuk karena keterbatasan waktu Chad, namun karena pengertiannya juga maka sikap Ima akan berakhir dengan diam tanpa senyum sedikit pun.
Seperti yang terjadi malam itu, baru saja mereka bertemu tapi Chad sudah mengatakan akan pergi menemui Reinner.
Selama lima belas menit di habiskan dengan pertanyaan 'Ada apa? kau kenapa?' dari Chad atas sikap Ima yang diam seperti patung.
Ima hanya menggelengkan kepala, menyuruh Chad segera pergi khawatir akan Reinner yang menunggu dengan suara pelan. Tentu Chad tak bisa pergi begitu saja sementara kekasihnya bermuka masam, ia tetap tinggal dalam kebingungan dengan hati yang mengutuk diri sendiri.
"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan jika kau diam seperti ini" ujar Chad yang mulai lelah.
"Sudah ku bilang aku tidak mau apa-apa"
"Lalu apa yang membuatmu seperti ini?"
"Seperti apa? aku tidak apa-apa"
__ADS_1
"Nah seperti itu!" teriak Chad sambil menunjuk.
Jelas yang di maksud Chad adalah sikap dingin dan diam dari Ima yang tak biasa, hingga kesabarannya telah mencapai puncak maka Chad memutuskan bertindak.
"Kau mau apa?" teriak Ima yang kaget sebab tiba-tiba Chad menarik tangannya.
"Sebaiknya kau ikut aku" ujarnya.
Kini Chad yang diam selama perjalanan sementara Ima terus saja bertannya akan tujuan mereka, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah besar yang nampak tak layak huni.
"Ini adalah markas kami, di sini ayah mengatur semuanya" ujar Chad.
"Maksud mu kita akan bertemu ayahmu?" tanya Ima kaget.
Chad mengangguk yang membuat Ima tiba-tiba tambah merengut.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal! astaga... penampilan ku berantakan begini bagaimana bisa aku bertemu dengannya" omel Ima sambil mencoba merapikan rambut dan pakaiannya.
"Tenanglah.. kau sudah keliatan cantik"
"Cantik apanya? penampilan ku sangat tidak pantas untuk bertemu seorang Raja" balasnya dengan kesal.
Chad sedikit kaget karena kepanikan Ima yang menurutnya sangat tidak penting, tapi hal itu menunjukkan kepedulian Ima yang membuatnya semakin menyukai gadis itu.
"Raja akan menyukaimu, dia tidak melihat dari segi penampilan jadi kau tidak perlu khawatir. Lagi pula pakaian mu tertutup dengan benar, ini sudah cukup sopan untuknya" ujar Chad menenangkan.
"Kau yakin?" tanya Ima masih khawatir.
"Tentu saja" sahutnya.
Maka mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah itu, awalnya hanya nampak ruangan berantakan yang di penuhi debu. Tapi Ima mengerti kalau ruangan itu sengaja di biarkan seperti itu agar terkesan benar-benar rumah kosong, masuk ke ruangan lainnya barulah mereka menemukan Reinner tengah mengobrol dengan Tianna dan Agler.
"Sepertinya kita kedatangan tamu" ujar Tianna yang lebih dulu melihat.
Reinner berbalik dan menatap Chad yang baru datang, senyum mengembang di wajahnya saat melirik Ima yang berdiri tepat di samping Chad.
"Oh kau ikut ke sini" ujar Agler.
Reinner berbalik heran menatap Agler yang tentu terlihat sangat mengenali Ima, sementara Ima hanya tersenyum canggung.
"Ayah.. kenalkan ini Ima" ujar Chad memperkenalkan.
"Aku juga, duduklah" balas Reinner.
Mereka saling tersenyum sebelum Ima berjalan melewatinya dan menuju Agler untuk duduk tepat di sampingnya.
"Hai kak!" sapa Ima mengulurkan kepalan tangannya.
Agler mengangguk dan membalas kepalan tangan itu.
"Kak?" tanya Reinner sedikit heran menatap keakraban mereka.
"Oh itu..
"Ima adalah anak kandung Colt, artinya ia adik sambung Agler" sahut Tianna menjawabkan.
"Kau tahu hal itu?" tanya Chad cukup heran.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui tentang keluarga kalian" balas Tianna dengan senyum bangga.
"Begitu rupanya, pantas auramu sangat mirip dengan Colt" ujar Reinner yang membuat Ima sedikit tertunduk malu.
Kembali pada topik yang sedang mereka bahas Reinner kembali mengungkapkan rencananya, ia bermaksud untuk memata-matai para tetua di istana namun tak menemukan orang yang tepat.
Tianna sudah di beri tugas untuk menggali informasi lain terkait para pengkhianatnya, sementara kini yang belum terlalu sibuk hanya Nick yang sudah tidak bisa memasuki istana.
"Bagaimana dengan Shishio?" tanya Chad.
"Memata-matai para tetua tidaklah mudah, kita harus berada dekat dengan mereka tanpa menimbulkan kecurigaan. Karena itu lebih baik tugas ini di berikan kepada vampire yang berpengalaman di istana, sehebat apa pun Shishio tapi ia tidak bisa menyelinap setiap saat ke istana" ujarnya.
Semua orang terdiam, mencari vampire yang bisa menjadi kandidat. Setelah memakan waktu beberapa menit tiba-tiba Chad berpamitan tanpa mengatakan tujuannya, semua cukup heran tapi tidak mencoba mencari tahu.
Sementara kepergian Chad yang entah kemana Reinner pun mengganti topik pada perkembangan rencananya, di luar dugaan Ima banyak membantu dengan memberikan pendapat yang menjadi nasihat.
Reinner di buat kagum akan cara berfikir Ima yang luas dan berani, pujian pun terlontar yang membuat Ima kembali malu.
"Yah dalam hal membuat strategi Ima memang jago, dulu pun saat insiden penculikan Kyra dan dirinya oleh Keenan dia membuat rencana yang menyelamatkan nyawa kami semua" ujar Agler.
__ADS_1
"Benarkah? hal seperti itu pernah terjadi?" tanya Reinner yang tak menyangka akan insiden itu.
"Saat itu atas usul Ima bahkan Hans dapat memanggil Sang Dewi yang tak lain adalah Anna"
"Anna siapa yang kau maksud?" tanya Reinner.
"Vampire berdarah bangsawan yang membunuh Viktoria, tokoh yang di puja Keenan hingga membuatnya gila" jawab Tianna.
Rasanya Reinner tidak dapat mempercayai apa yang baru saja ia dengar, saudari yang telah memberikan anugrahnya dan hilang begitu saja muncul bagai mitos.
Tapi melihat reaksi wajah mereka membuat Reinner yakin itu bukanlah bualan semata, yang bisa ia lakukan hanya percaya dan bersyukur atas kehadiran Anna saat itu.
Hari semakin menjelang malam sejak Chad pergi, berbagai aktivitas telah mereka lakukan bahkan Agler sudah berniat untuk pulang sebab malam semakin larut dan dia butuh tidur agar besok dapat bekerja dengan baik.
Saat itulah Chad baru kembali, dengan senyum yang merekah di bibirnya ia mengawali dengan sapaan selamat malam. Reinner menjawab salam itu seolah mereka baru bertemu, kemudian Chad pun berkata.
"Kau tahu kami tidak setuju atas rencanamu yang ingin kembali ke istana, tapi bukan berarti kami membiarkan mu begitu saja. Aku sudah sepakat dengan Agler dan kami akan membantu ayah menjalankan rencananya"
"Terimakasih nak" sahut Reinner.
"Untuk itu aku membawa satu bala bantuan lagi" ujar Chad.
Ia berbalik menatap kegelapan, bersama dengan semua orang yang hadir di sana. Sebuah kaki kemudian muncul yang membuat semua orang penasaran, saat tubuhnya ikut muncul di bawah sinar lampu yang temaram Reinner tersenyum sebab ia sudah bisa melihat wajahnya.
"Lama tidak berjumpa, tuan... " sapa Reinner sambil memberi hormat dengan sungguh-sungguh.
"Ya... begitu lama hingga uban pertama ku muncul di ubun-ubun, bagaimana kebarmu?" jawab Jhon.
"Cukup baik" jawab Reinner sambil menjabat tangan Jhon dan merangkulnya.
Momen itu cukup membuat mereka bingung tapi tidak dengan Tianna, ia sudah lebih dulu tahu bahwa Reinner sempat menjadi asisten Jhon sebelum kemudian berhasil naik ke puncak dan menjadi Raja.
"Chad sudah menjelaskan semuanya, sebenarnya aku sudah curiga bahwa seseorang telah menjebak mu karena itu aku putuskan untuk ikut bergabung dalam tim mu" ujar Jhon.
"Terimakasih atas bantuanmu, hutang budi ku sudah terlalu banyak tapi aku sangat berharap padamu"
"Jangan sungkan, putramu Chad sudah menjadi muridku sebagai mana dulu kau menjadi asisten ku. Apa yang ia minta tidak mungkin ku tolak sebab selama ini hidup ku juga banyak tergantung padanya" ujar Jhon.
Reinner benar-benar bersyukur atas kehadiran Jhon dalam timnya, Jhon memiliki semua yang ia butuhkan sehingga bisa menjadi senjata mematikan.
Mereka adalah teman seperjuangan yang telah merasakan pahitnya menjadi darah campuran di tengah kelompok vampire, berjuang bersama demi tujuan masing-masing tapi saling membantu.
Saking berartinya Reinner bagi Jhon bahkan ia dengan ikhlas menjadi guru Chad sekaligus paman, kini saat teman lama itu kembali membutuhkannya tentu saja ia akan ada untuk kembali mengangkat pedang bersama.
* * *
Tanpa ada kata yang menjelaskan Ryu sudah mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan istrinya, itu jelas terlihat di raut wajah Violet yang masam.
Dengan lambaian tangannya yang lembut menyisir rambut Violet, Ryu bertanya sepelan mungkin.
"Sesuatu terjadi pada Blue?"
"Entah apa yang di pikirkan anak itu, dia benar-benar membuat ku setengah gila" sahut Violet.
Ucapan Kyra tadi siang yang memberitahunya perihal janin yang sudah gugur itu kembali membuat kepalanya pening, meski ia sudah meminun obat dan memijitnya tapi tetap saja rasa pusing itu tidak hilang.
Bahkan Violet kehilangan selera makan malamnya dan hanya memasukkan beberapa suap saja ke dalam mulutnya.
"Jangan terlalu keras padanya, semakin kau bersikap keras maka dia akan semakin memberontak" ujar Ryu yang kini lebih memahaminya.
"Tapi dia tidak pernah mendengarkan ku, jika aku bersikap lembut yang ada dia tidak akan mendengarkan ku lagi"
"Belum tentu, kau belum mencobanya kan?"
"Oh Ryu... kau tidak tahu betapa susahnya aku mengurusnya, hanya satu anak tapi dia benar-benar membuatku sakit. Jika begini maka lebih baik melahirkan seorang anak laki-laki saja, jelas dia akan punya peluang di perusahaan keluarga kita"
"Jangan bicara seperti itu, Blue sudah baik meskipun dia seorang wanita"
"Apanya yang baik? dia terus berontak seperti kuda pemabuk"
Sssshhhhh
"Sudahlah sebaiknya kau istirahat saja, hari sudah terlalu malam dan kau bisa sakit jika terus terjaga" ujar Ryu mencoba menenangkan.
Memang mata Violet sudah terasa perih dan kering, ia mulai menguap dan hendak merebahkan diri di atas ranjang yang empuk.
Tapi saat kepalanya menyentuh bantal tiba-tiba tenggorokannya terasa mual hingga ia tak bisa menahannya.
__ADS_1
Hooooeeekkk...
Ryu terperanjat mendengar suara itu, dengan panik ia segera menyusul Violet yang bergegas lari ke kamar mandi.