
Helaian rambutnya berkibar tersapu angin kencang saat langkahnya semakin cepat, kerutan di keningnya semakin menjadi tatkala bulan semakin meninggi. Deru nafasnya yang memburu hampir tenggelam oleh degup jantung yang teramat kencang, sambil memohon kedatangannya belumlah terlambat.
Tapi sayangnya dia memang cukup terlambat, pedang-pedang itu telah saling bergesekan dan mengiris tubuh-tubuh yang semakin melemah. Pemandangan bak neraka tercipta di depan mata yang selalu melihat kedamaian, dengan sebuah penyesalan matanya cepat melihat biang dari peperangan itu.
Menarik nafas panjang tangannya mengangkat busur hingga sejajar dengan bahunya, saat udara itu di hembuskan lewat mulut bersamaan di luncurkannya anak panah itu.
Syyuuuuutttt....
Jleb
Tepat sasaran, anak panah itu menancap tepat di bawah kaki Keenan. Chad, Agler dan Hans yang siap menyerang tiba-tiba berhenti begitu saja. Melihat anak panah yang tak biasa matanya menatap jauh menembus kerumunan pasukan yang tengah beradu kekuatan dan berakhir pada sosok gadis cantik yang masih dalam posisi siap menyerang.
Rambut peraknya kembali berkibar tertiup angin, mata birunya tajam menatap Keenan seolah menantangnya. Elf telah sampai, sang penjaga hutan yang kekuatannya setara dengan Keenan.
Ia menurunkan busur dan mulai berjalan, saat langkahnya pasti melewati pasukan aura dingin menyebar dengan cepat. Memberi tekanan yang kuat hingga membuat para kaum vampire ambruk tanpa alasan, para penyihir yang melihat itu hanya terpaku kebingungan.
Semakin langkahnya mendekati Keenan tekanan itu semakin kuat, mengingatkan Keenan pada saat ia menemui Sang Dewi.
"Elf... " panggil Hans pelan melihat gadisnya dengan gagah berjalan tanpa hambatan.
Ada yang berbeda, Elf yang Keenan temui memang kuat tapi auranya sangatlah berbeda. Hingga ia tiba tepat di hadapannya Keenan hanya terpaku menganalisis.
"Aku datang, memenuhi keinginan mu" ujar Elf dengan suara yang berwibawa.
Keenan tak menjawab, tapi kemudian sesuatu terjadi. Elf mengangkat tangannya ke depan dan dari balik pakaian Keenan sebuah kertas melayang keluar, perlahan mengambang di udara hingga berakhir di tangan Elf.
Ia membukanya dan nampaklah sebuah lukisan wajah seorang pria, senyum tipis mengembang di wajah cantik itu. Senyum yang terlihat menyedihkan, dari tatapan sendu itu Hans bisa merasakan duka yang teramat dalam.
"Namanya Rocky, kami pertama kali bertemu di sebuah acara fashionshow. Aku masih ingat dengan jelas tangannya terulur padaku dengan senyum yang menyenangkan, tapi saat itu tangannya tidak kusambut. Tanpa di duga ternyata takdir kami begitu menyedihkan, kami terjerat cinta yang mungkin bisa bersatu dengan keegoisan tapi kami memilih untuk berpisah" ujar Elf dengan suara yang lirih.
Di detik selanjutnya Elf tersenyum, kemudian secara perlahan sebuah cahaya muncul dari ujung jarinya. Perlahan cahaya itu menyebar melewati tangannya hingga sampai ke tubuh, pada akhirnya cahaya itu merambat keseluruh bagian tubuh Elf dan menenggelamkannya.
Angin berhembus cukup kencang dalam waktu beberapa detik, saat cahaya itu tiba-tiba menyebar kesegala arah kemudian lenyap tak tersisa tubuh Elf kini telah berubah.
Rambut peraknya hilang dan berganti menjadi hitam pekat yang lembut, mata birunya berganti menjadi cokelat yang hangat namun dengan wajah yang masih sama.
"Anna.... " panggil Jessa tiba-tiba yang membuat semua mata terbelalak kaget.
Meski berpuluh-puluh tahun telah berlalu tapi seorang ibu tidak akan pernah melupakan wajah anaknya sendiri, jelas Keenan pun heran sebab wajah Elf kini begitu mirip dengan Sang Dewi yang berwujud air.
"Elf.... kau... Sang Dewi?" tanya Hans.
"Aku datang memenuhi keinginan mu" ujar Anna lagi tanpa memperdulikan ucapan lain.
"Ba-bagaimana bisa... " ucap Keenan terbata.
Whhuusss..
Zzhhaasss...
Ah...
Saat angin berhembus sebuah tekanan yang teramat kuat memaksa tubuh Keenan untuk menunduk, sekuat tenaga ia mencoba melawan namun sia-sia tekanan itu tak mampu ia lawan.
"Keenan, kau telah merusak keseimbangan dengan hasratmu. Kau membuat kerusakan dimana-mana hingga menyebabkan pertumpahan darah yang tidak perlu, kedatangan ku bukan untuk memenuhi keinginan mu tapi menjemput mu" ujar Anna.
Hehehehe
"Ka-kau... me-memang.. sekuat.. yang di kabarkan" ucap Keenan sekuat tenaga dengan senyum bahagia.
Zzhhaasss...
Argh...
Tekanan itu semakin kuat hingga membuat tubuh Keenan benar-benar menghantam tanah, kini bahkan tersenyum pun ia tak bisa.
Membiarkan Keenan dalam posisi itu Anna berjalan mendekati Hans, menatap keponakan yang selama ini sudah begitu dekat dengannya.
Hari dimana Hans mengatakan bahwa dia adalah seorang Hermes kepada Sang Dewi yang berwujud Air saat itu hati Anna senang sekaligus sedih.
Hari dimana ia menghilang sebagai Anna adalah hari dimana ia kembali ke dunia peri, karena tubuhnya yang merupakan perwujudan segala kekuatan bapa peri pun membuatnya terlahir kembali dan menamainya Elf.
Sejak saat itu ia di beri tugas menjaga hutan ajaib dan di larang pergi keluar demi keseimbangan dunia, kekuatan Anna yang tak terkira dapat menyebabkan dunia hancur karena kehilangan keseimbangan.
Menerima takdirnya sebagai Elf ia membuat perwujudan Sang Dewi untuk menyimpan semua kenangan selama ia menjadi Anna, bertahun-tahun hidup menjadi Elf rupanya takdir masih mengijinkannya bertemu dengan keluarganya.
"Maaf, aku menyembunyikan semua ini darimu" ujar Anna kepada Hans.
__ADS_1
Terkadang takdir memang teramat kejam, selama ini rupanya Hans memendam cinta kepada bibinya sendiri. Merasa dunia tidak adil padanya tak ada kata yang bisa Hans ucapkan, sebagai bentuk protesnya diam adalah cara terbaik.
"Ada alasan mengapa aku tidak bisa mengatakannya" ujar Anna lagi.
Tangannya yang dingin bak es mengelus lembut rambut Hans yang berantakan, senyum pedih mengembang di wajahnya.
"Kau sudah tumbuh dengan sangat baik dan juga tampan, teruslah berjalan tanpa ragu" ujarnya pelan.
"Yang Mulia... " panggil Ima tiba-tiba.
Anna menoleh, menatap gadis dengan keyakinan kuat di matanya.
"Namaku Ima, aku sangat mengagumi anda" ujarnya sambil berjalan mendekat.
"Terimakasih"
"A-aku adalah putri dari Colt dan Mina, orangtuaku bilang anda adalah teman mereka" ujarnya lagi.
Anna menatap mata Ima lekat-lekat menyadari kemiripan pada Colt, kecantikan wajahnya pun dengan tulang rahang kuat yang sama seperti Mina. Rupanya dua insan itu telah mengabadikan cinta mereka pada upacara yang sakral hingga memiliki buah hati yang tak hanya cantik tapi juga bertekad kuat seperti Mina, hampir keras kepala.
"Kau memiliki garis takdir yang kuat, begitu juga dengan keyakinan mu" ujarnya.
Ima tersenyum mendengar ucapan itu meski sebenarnya ia tak benar-benar mengerti maksudnya.
Mata Anna kini beralih pada sisi yang lain, dimana Jack, Amelia dan Kyra berdiri. Dengan senyum hangat ia berjalan mendekati Amelia, sementara Kyra hanya bengong melihat betapa cantiknya Anna bak bidadari.
"Kau telah berjuang dengan keras, terimakasih karena telah menjadi ibu yang baik. Andai kita punya waktu sedikit lebih lama, aku masih ingin menikmati segelas teh dengan mu" ujar Anna.
"Kau pergi begitu saja, apakah sekarang pun kau akan meninggalkan kami lagi?" tanya Amelia.
"Tempatku bukan di sini, aku sudah bukan lagi bagian dari dunia ini. Aku tidak boleh ikut campur tentang apa pun yang terjadi di sini, itu melanggar aturan dunia" jawabnya.
Ia kembali menatap sekeliling, memperhatikan satu persatu orang yang ada di sana. Waktunya semakin menipis yang artinya ia harus segera pergi.
"Aku akan membawa Keenan, sekarang semua tergantung pada kalian semua" jawabnya.
"Elf... " panggil Hans yang kini mau bicara.
"Apakah aku masih bisa menemuimu?" tanyanya dengan hati yang terluka.
Anna tersenyum tapi kepalanya menggeleng, artinya ini adalah kesempatan terakhir mereka bertemu. Satu sayatan lagi menggores hati Hans dan membuat luka itu semakin melebar, berbagai kenangan yang telah tercipta bersama tiba-tiba hancur begitu saja.
"Kau tahu, aku mencintaimu sebagai keluarga sebelum kau lahir kedunia" balas Anna.
Hans membuang muka, menahan air mata agar tak jatuh. Melihat hal itu Anna mulai melangkah meninggalkan tempat itu, urusannya telah selesai.
"Anna....... " teriak seseorang.
Sebuah suara yang sudah lama sekali tidak ia dengar, suara yang biasanya selalu mengisi hari-harinya. Anna membalikkan badan dan tiba-tiba sebuah tubuh merangkulnya dengan cukup erat, pelukan hangat yang memiliki rasa cinta yang hebat.
"Anna.... " panggilnya lagi kini dengan suara yang lirih.
Beberapa waktu yang lalu melihat Hans yang penuh percaya diri membuat Shishio lega untuk melepaskannya, tapi saat langkahnya semakin jauh meninggalkan medan perang hatinya kembali meragu.
Ia pun memutuskan untuk kembali dan menemukan Hans tengah bertarung melawan Keenan bersama Agler dan Chad, melihat muridnya kewalahan tentu ia sangat ingin membantu namun tak bisa melakukannya.
Pada akhirnya yang ia lakukan hanya menonton sampai Elf datang mrmbantu, saat Elf berubah menjadi Anna kakinya seolah terpaku di tanah sehingga tak bisa bergerak.
Mulutnya yang tiba-tiba terkunci membuat air mata mengalir begitu saja, kerinduan yang telah menjadi samudra mulai tumpah ke daratan.
Saat Anna mulai mengambil langkah untuk pergi dengan segenap kekuatan di paksanya kaki itu untuk bergerak, seketika bersama deraian air mata mulutnya meneriakkan nama yang telah lama terpatri.
"Shishio... " panggil Anna.
Perlahan Shishio melepas rangkulannya, memperlihatkan wajah menangis yang paling Anna rindukan. Sejak dulu kekasih ini memang terlalu lemah hingga tak mampu menyembunyikan air mata, tapi itu yang membuat Anna mampu bertahan di sampingnya.
"Kali ini... apa yang membuat mu menangis?" gurau Anna sambil menghapus air matanya.
"Maaf... aku... aku... merindukan mu" jawabnya lirih.
Kini Anna yang merangkul, mengelus pundak itu hingga Shishio dapat meredakan tangisannya.
"Kau tidak berubah sama sekali" ujarnya.
Shishio melepaskan diri, menghapus air mata itu dan menggantinya dengan sebuah senyuman.
"Aku mulai menua, kini usiaku sudah mencapai empat puluh. Bagaimana bisa aku tidak berubah?"
__ADS_1
"Kau masih tampan, dan hanya lebih tinggi" jawab Anna sambil tersenyum.
Itu memang benar, di usianya yang sudah tak lagi muda Shishio masih memiliki ketampanan yang membuat para murid perempuan menggemarinya.
"Kau juga tidak berubah, masih cantik dan kuat seperti dulu" sahutnya.
"Shishio... maaf aku tak bisa memenuhi janjiku, kau... sudah menunggu terlalu lama" ujar Anna merasa bersalah.
"Aku mengerti pada takdir kita, di kehidupan yang selanjutnya pun mungkin aku akan tetap menjadi pemain pendukung antara kalian" ucapnya ikhlas.
Memang berat melupakan cinta pertama yang selalu berjuang bersama, bahkan alasan Shishio belum memiliki pasangan hingga saat ini adalah sulitnya melupakan Anna.
Secara sadar ia paham betul takdir mereka bukan untuk di persatukan, setidaknya dalam kehidupan ini pun Rocky tidak memiliki raga Anna seperti yang pernah ia bayangkan sehingga rasa sakit itu tak terlalu parah.
Meski begitu pada akhirnya ia betah melajang, entah sampai kurun waktu kapan.
"Aku harus pergi" ujar Anna kehabisan waktu.
Dengan susah payah Shishio menelan ludah, terlalu sedih menyadari perpisahan yang akan terjadi.
"Apa yang akan kau lakukan pada Keenan?" tanyanya.
"Itu akan menjadi keputusan leluhurnya, aku hanya datang untuk menjemput"
"Begitu ya" sahut Shishio.
Sekali lagi Anna menatap berkeliling, melihat semua orang yang ia cintai dengan segenap hati. Setiap wajah baru menatap heran dengan sedikit kekaguman sementara yang lain membuang muda dengan air mata yang mengalir.
Keenan masih terpaku di tanah, mendengarkan semua ucapan perpisahan itu hingga Anna membuatnya bangkit tanpa repot menyentuh. Sebelum ia benar-benar melangkah pergi sekali lagi ada senyuman di wajahnya, di detik selanjutnya cahaya kembali datang dari ujung jarinya.
Perlahan merambat ke tubuh hingga menutupi seluruh badannya dan merubahnya kembali menjadi Elf, cahaya itu juga menyelimuti Keenan yang tak bisa menggerakkan badannya.
Semua orang menatap kepergiannya yang terus berjalan meninggalkan mereka, masuk ke dalam hutan hingga hilang entah kemana.
* * *
Hilangnya raja mereka membuat istana vampire mengalami masa genting kembali, beberapa prajurit keluar dari istana dan menjadi pengelana. Beberapa tetua memaksa untuk segera mengangkat seorang Raja baru dari salah satu kandidat yang dulu pernah ada, tapi tentu hal itu sulit untuk di laksanakan.
Terpecahnya para tetua membuat mereka yang berada di kasta bawah merasakan dampaknya, pada akhirnya mereka kembali ke masa sulit seperti saat Reinner tidak ada.
Kepergian Keenan bukan hanya berdampak pada tatanan pemerintahan istana saja, tapi Tianna yang sejak awal mengikuti jejaknya kini kehilangan arah dalam hidupnya.
Tanpa adanya Keenan tidak ada yang memperhatikannya atau menganggapnya sebagai putri istana lagi, dengan mata yang kosong ia berdiri di pinggir jendela menatap bulan yang masih sempurna.
Saat itulah Shishio datang kepadanya untuk berpamitan, namun Tianna tak menjawab apa pun. Melihatnya membuat Shishio merasa iba, terlebih ia tahu betul bagaimana sifat Tianna yang hanya ingin di akui seperti anak umur sepuluh tahun.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" tanya Shishio.
"Sampai kapan?....itulah yang aku tak tahu.. " jawabnya pelan.
"Tianna" panggil Shishio.
Perlahan Tianna menoleh, saat melihat Shishio mata kosongnya tiba-tiba hidup dengan ekspresi kaget.
"Kita masih satu kelompok, meski Keenan sudah tidak ada tapi kau masih memiliki aku dan Alabama" ujarnya sambil mengulurkan tangan.
"Shi.. shio... " panggil Tianna tak percaya pada apa yang dia lihat.
Shishio tersenyum, kemudian dengan tegas ia berkata.
"Jika kau bersedia kini akulah pemimpin kelompok ini, jadi kau harus patuh pada apa yang akan ku perintahkan kepadamu"
Senyum mulai mengembang di wajah itu, ternyata ia tak benar-benar sendiri. Masih ada seseorang yang mau menampungnya, memberikan satu tempat di sebut rumah.
"Apa kau bisa menjadikan ku seorang putri seperti yang Keenan lakukan?" tanyanya.
"Aku bukan orang kaya, statusku juga tidaklah tinggi. Apalagi sekarang aku tidak terikat pada apa pun, tapi aku bisa menjadikan mu seorang adik"
"Adik?... " tanya Tianna heran.
"Kita bisa menjadi keluarga" jawab Shishio sambil mengangguk.
"Keluarga lebih baik dari segalanya, keluarga tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan apa pun" ujar Alabama yang entah sejak kapan ada di sana.
"Jika kau ingin ikut maka cepatlah, kita tidak bisa tinggal lebih lama di istana ini" ucapnya lagi.
Tianna tidak pernah tahu apa itu keluarga, sebab dimana pun ia berada persaingan selalu ada. Entah keluarga macam apa yang terdiri dari dua vampire dan satu penyihir ini, tapi Tianna yakin setiap cerita yang ia sampaikan akan di dengar dengan baik.
__ADS_1
"Apa boleh buat" ujarnya sambil tersenyum dan menggapai tangan itu.