Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 136 Curahan Hati Yang Hilang


__ADS_3

Perasaan sakit itu bertahan puluhan tahun lamanya, tetap di sana sebagai rantai yang menutup pintu hatinya. Mungkin jika hal itu di lakukan oleh pelayan lain rasa sakitnya tidak akan separah ini, pengkhianatan Joyi adalah yang terburuk dari segalanya.


Meski begitu rupanya ada perasaan bersalah yang menghantui dirinya kini, pertengkaran yang harusnya tidak terjadi telah memecahkan rantai itu menjadi kepingan tak berguna.


Takut tak ada kesempatan lagi baginya untuk mendekati Chad dan cemas akan hilangnya Joyi bak asap, semua itu melemahkan intuisi seorang mantan jendral penyihir.


Mengurung diri dalam ruang kerja yang suram, tanpa adanya orang yang bisa di ajak bicara tentang masalah pribadi itu Jack memutuskan untuk memberitahu selembar kertas.


Tangannya yang sudah tak berenergi memegang pena dengan gemetar, satu tarikan nafas itu menjadi awal curhatan yang panjang.


'*Harusnya hal itu memang tak pernah terjadi, kini setiap detik dalam hembusan nafasku di penuhi dengan rasa bersalah. Pacu jantungku semakin kencang dan apabila ku dengar namanya rasanya detik itu juga debaran ini semakin meningkat, hingga pada akhirnya akan meledak.


Sekarang apa yang harus aku lakukan? kemanakah perginya kepala pelayan ku dulu yang menjadi pusat hidupku, betapa aku telah ketergantungan kepadanya meski api amarah ini tak pernah padam.


Masih ku harapkan pengertiannya yang dulu semegah samudra, masih ku berangan dalam ruang makan itu ia akan berdiri tepat di sampingku untuk menuangkan air seperti yang telah ia lakukan selama puluhan tahun.


Saat sendirian benak ku akan terus bertanya-tanya apakah ramalan itu benar adanya? kemudian apa yang harus aku lakukan sedang tidak ada kemampuan ku untuk berpisah dengan istri tercinta ku.


Rasanya sungguh menyiksa, mengapa aku harus memilih antara Joyi dan Jessa padahal kami pernah hidup damai dalam satu bangunan yang di sebut rumah.


Saat ini masih ku coba untuk menebus waktu yang hilang kepada Jessa, sementara itu dosa ku semakin menunpuk kepada Joyi.


Joyi... apakah luka yang ku berikan masih sakit? sebagai pria bahkan sebagai manusia betapa pengecutnya aku, betapa hinanya aku yang telah membuat memar di beberapa bagian tubuh mu.


Tak ku sangka belati itu pun sukses merobek kulit tipismu, hingga darah menodai tangan yang sudah keriput ini.


Meski tahu jawabannya tapi aku selalu ingin bertanya, mungkinkah dosa ku ini akan kau ampuni? mungkinkah kau akan kembali ke sisiku sebagai sahabat yang setia? haruskah ku wujudkan sumpah mu kepada mendiang ibuku demi semua itu?.


Kau tahu aku hanyalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik nama besar, sudikah kau memakluminya*?.'


Tok Tok Tok


Kembali pada kenyataan Jack bergeming, segera ia tutup buku itu sebelum berteriak si pengetuk pintu masuk.


Ceklek


Kepala Hans menyembul dari balik pintu, senyumnya tersimpul manis sebelum kemudian seluruh tubuhnya memasuki ruangan itu.


"Ada apa Hans?" tanya Jack.


"Apa yang kakek lakukan?" tanya Hans balik.


"Tidak ada, kakek hanya memeriksa beberapa berkas" sahut Jack namun reflek tangannya menutup buku dimana ia baru mencurahkan masalahnya.


Itu membuat Hans sedikit penasaran dengan melirik buku itu, namun karena Jack menutupinya ia berasumsi sesuatu yang penting itu tidak boleh ia usik.


"Apa kakek punya waktu sebentar?"


"Tentu, duduklah" ujarnya.


Hans mengangguk dan segera duduk tepat di depan kakeknya, wajahnya terlihat bingung menampakkan jelas benak yang sedang di penuhi sesuatu.


"Apa yang mengganggumu?" tanyanya penasaran.


"Um.... sebenarnya aku tidak begitu yakin, tapi... aku pikir aku bisa mendapatkan kesempatan kedua" ujarnya, melirik Jack yang fokus mendengarkan.


"Bisakah... aku kembali mencoba bekerja? aku tidak mengharapkan posisi bagus, tidak masalah bagiku untuk memulainya dari nol" lanjutnya.


"Oh Hans, tentu saja. Kau memiliki hal untuk itu, kau tahu? kakek senang mendengarnya. Tentu... tentu kau akan dapatkan kembali pekerjaan mu, kakek akan segera bicara dengan ayah mu untuk mengaturnya" ujar Jack menghembuskan nafas lega.


"Terimakasih, ini sangat berarti bagiku" sahut Hans tersenyum lebar.


Ini memang cukup mengejutkan, mengingat bagaimana kapoknya Hans hingga memilih kembali ke akademi ia tak pernah menyangka Hans akan memintanya.


Di balik permintaan mendadak ini ada sebuah alasan sederhana yang tidak Hans ungkapkan, itu menyangkut ketenangannya.


Sejak dunia mencapai kedamaian dan pekerjaannya menjadi santai semuanya mulai membosankan, terlebih masalah keluarganya yang cukup membuat penat sehingga ia butuh sesuatu sebagai pengalihan.


Andai Reah tak pernah menyatakan perasaannya maka pekerjaannya di perbatasan akan tetap menyenangkan, mereka akan berbagi cerita lucu setiap harinya hingga penatnya hilang.


Tapi satu-satunya teman yang ia miliki itu justru membuat peraturan agar mereka tak pernah bertemu lagi, sekalipun berpapasan Reah akan bersikap acuh dan menghindarinya.


Karena itu ia pikir mungkin ia bisa mencoba lagi bekerja di kantor, ia harap tidak akan di berikan pekerjaan yang membutuhkan nyali besar sebab ia tahu kemampuannya tak sampai ke sana.


Selesai berbincang Hans pamit pergi, malam itu sudah cukup larut sehingga matanya mulai mengantuk.


"Apa kakek ada di dalam?" tanya Agler yang berpapasan di luar ruangan.

__ADS_1


"Ya, kau ingin bertemu dengannya?"


"Mm, ada beberapa berkas yang harus aku serahkan langsung padanya"


"Oh, begitu rupanya" sahut Hans sambil menganggukkan kepala.


"Kau tidak bertugas?" tanya Agler sebab Hans memang jarang ada di rumah karena hantu bertugas di luar kota.


"Tidak, aku baru bicara dengan kakek untuk membahas pekerjaan. Aku berniat kembali ke kantor, mungkin lusa aku sudah bisa bekerja di kantor lagi"


"Sungguh?" tanya Agler cukup tak percaya.


"Ya, aku ingin mencobanya lagi"


"Itu bagus, kita bisa bekerja sama nanti" ujar Agler senang.


"Aku akan menantikannya"


"Aku juga, kalau begitu sampai nanti" ucap Agler berpamitan.


Hans mengangkat satu tangan sambil tersenyum kecil, membiarkan Agler pergi melewatinya untuk masuk ke ruang kerja Jack.


* * *


Meski tak ada kabar baru yang ia bawa tapi Jhon tetap datang menemui Reinner, itu karena mereka harus kembali membahas rencana pengambilan tahta agar tak ada kesalahan.


Reinner yang kini memilih tinggal bersama Chad untuk sementara waktu sengaja membuka jendela kamarnya meski malam sudah larut, itu karena Jhon memiliki kebiasaan masuk lewat jendela jika datang ke rumah Joyi.


Bersama hembusan angin yang halus kakinya melangkah masuk, menyadari kehadirannya Reinner berbalik untuk melihat bekas tuannya itu.


"Kau datang" ujarnya.


"Apa Tianna sudah memberi kabar terbaru?" tanyanya yang di jawab dengan sebuah gelengan kepala.


"Rei kau tahu aku tidak meragukanmu, tapi yang akan kita lawan adalah prajurit istana yang terlatih. Meski setiap anggota kelompok kita kuat tapi aku tetap khawatir, apa tidak sebaiknya kau minta bantuan Nyonya untuk berberapa pasukan?"


"Aku tidak mungkin melakukannya, tidak boleh ada penyihir yang terlibat dalam hal ini apalagi menjadi korban sekalipun itu relawan"


"Jadi kau yakin akan bertempur tanpa pasukan?" tanya Jhon.


Jhon diam patuh, menunggu Reinner menjelaskan rencananya yang belum ia ketahui.


"Aku meminta Alabama untuk membuat ramuan yang bisa membuat kita kuat, seperti yang ia berikan kepada Keenan namun dengan dosis yang lebih kecil"


"Sungguh?" tanya Jhon kaget.


"Hanya ini satu-satunya cara yang kita punya, dengan ini kita memanalisir korban yang ada"


"Baiklah.. aku menantikannya" ujar Jhon tak bisa berkata lagi sebab ia pun tak memiliki jalan keluar.


* * *


Hari berganti dengan datangnya sebuah kabar dari Jack, bersama dengan Shigima mereka sepakat untuk memberi kesempatan kepada Hans dengan jabatan yang setara dengan Agler.


Keputusan ini telah melewati berbagai pertimbangan, mengukir dari segi kemampuan dan hak yang dimiliki Hans.


Meski sedikit tak percaya diri tapi menyanggupinya dengan mengatakan akan mengerahkan segenap kemampuannya, semua orang senang mendengar hal ini bagai kecambah di tengah padang.


Terlebih Amelia yang sudah menantikan kebangkitan putranya itu sebagai bagian dari keluarga Hermes, ada rasa bangga yang bisa ia sombongkan kepada yang lain terlebih Violet.


Karena keputusan telah di ambil Hans pun meminta ijin untuk mulai bekerja besok, ia ingin berpamitan dulu dengan beberapa rekan di perbatasan sebab mulai esok ia tidak akan bertugas lagi.


Tentu mereka mengijinkan, setelah makan malam Hans segera pergi. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dan ia pun telah sampai di perbatasan, langit gelap dengan udara dingin menjadi pemandangan yang ia rindukan meski matanya telah lama menatap.


Dari tempat ia berdiri matanya bisa segera menangkap sosok rekan yang ingin ia kunjungi, segera ia pun berlari menghampiri.


"Reah... " panggilnya lembut.


Mata gadis itu melotot kaget sesaat setelah namanya di panggil, seketika ototnya menegang. Dengan perlahan ia membalikkan badan, hingga matanya beradu pandang dengan pria yang sempat menjadi pelabuhan.


Hans tersenyum meski wajah Reah cukup dingin, bahkan ia bisa melihat genangan mulai terbentuk di bawah mata yang bening.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Reah pelan lebih pada sebuah tuduhan.


"A-aku... ingin bertemu denganmu"


"Apa kau sudah gila? apa kepalamu terbentur dengan keras hingga kau lupa ingatan?" bentak Reah dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah menjelaskannya? haruskah aku kembali menjelaskannya?" tanyanya tanpa memberi kesempatan kepada Agler untuk bicara.


"Aku hanya... "


"Sudahlah... aku tidak mau mendengarnya" sela Reah.


Tanpa memperdulikan Hans ia berjalan menjauh, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang teramat kencang hingga memekakkan gendang telinga.


"Tunggu dulu... aku hanya ingin bicara padamu" sergah Hans sambil berlari mendekat.


"Aku sudah muak!" teriak Reah tiba-tiba yang membuat Hans mematung.


Wajahnya sarat akan kekecewaan yang tak pernah habis, saat matanya mulai memerah genangan itu jatuh membuat aliran deras di pipi.


"Reah... " panggil Hans pelan merasa bersalah meskipun ia sendiri juga tak yakin telah melakukan kesalahan.


"Padahal kau pun berada di posisiku... padahal nasib kita sama tapi kenapa kau terus menyiksaku? setiap hari aku harus meminum obat tidur agar nyenyak sebab bahkan dalam mimpi pun kau tidak biarkan aku tenang, saat terbangun aku harus segera menghirup sampah sebab aroma mu selalu menusuk paru-paru ku. Bukankah itu yang kau rasakan saat cintamu tidak sampai pada tujuannya?" tanya Reah dengan tumpahan air mata yang tak mau berhenti.


Hans tersentak akan pengakuan itu, ia tak mengira tanpa sadar ia telah menjadi seseorang yang kejam dengan diam.


Whuuuuussss....


Padahal angin itu berhembus dengan pelan, tapi Reah ikut hanyut hingga diamnya bagai patung. Tak bernyawa dengan pandangan kosong namun air mata itu tetap mengalir seperti sungai, seakan tak memiliki batasnya.


"Maafkan aku... " ujar Hans akhirnya.


"Tidak perlu" sahut Reah kini lebih tenang.


"Bukan salah mu, ini hanya ketidakpuasan ku hingga bayanganmu terus bergelayut di mata. Bukan salah mu, sebab dari awal aku yang memilih untuk jatuh dalam galian lubang yang ku buat sendiri"


"Aku mohon Reah... " ujar Hans yang sudah tak tahan akan ratapan itu.


Fu fufufu...


Tangan Hans yang hendak mengelus kepala Reah dengan lembut mengambang di udara tatkala suara tawa kecil itu ia dengar, kepala Reah yang menunduk mulai terangkat seiring dengan gemetar tubuhnya yang semakin hebat.


Hahahahhahaha


Dengan heran Hans menarik tangannya kembali, menatap bingung pada Reah yang kini tertawa dengan keras. Semakin lama semakin keras hingga membuatnya tak nyaman, terlebih ekspresi tawanya tidak mencerminkan orang yang bahagia.


"Bukankah ini lucu? gadis berdarah dingin ini, yang tangannya selalu berlumuran darah monster mengemis cinta pada pria yang tidak setara dengannya" ujar Reah di tengah tawanya itu.


"Ya... itu memalukan" sahut Agler yang membuat tawa Reah terhenti.


Ia menatap dingin pada Hans yang berekspresi lembut, tatapannya penuh kehangatan seperti pohon yang memberikan dahannya untuk naungan.


"Kau cantik, kau kuat, kau hebat dan kau tangguh. Kenapa menghabiskan waktumu hanya untuk meratapi ku yang justru menyiksamu, aku ini pengecut jadi tidak pantas untuk mu" ungkapnya.


Dengan susah payah Reah menelan ludah, air matanya kembali mengalir setelah tadi sempat berhenti karena tawa.


"Demi cinta kau bahkan siap memeluk duri, lalu apa artinya luka itu jika bukan bahagia yang akan kau dapatkan?" tanyanya.


Reah masih terdiam, membiarkan Hans meraih tangannya dan memegangnya dengan lembut.


"Aku datang ke sini sebagai teman dan junior mu, mulai hari ini aku keluar dari tugas dan tidak akan muncul lagi di hadapanmu. Tapi jika suatu hari kita berpapasan di jalan tanpa sengaja maka saat itu aku akan tersenyum dan menyapamu, sebab sulit bagiku bermusuhan dengan mu hanya karena hatimu yang tak bisa ku balas" ujarnya.


Entah mengapa mendengar kata perpisahan itu membuat hati Reah semakin sakit, rasanya berbeda dengan saat ia yang memutuskan untuk menjauh.


"Senior Reah, tolong jaga perbatasan kita agar tetap aman. Aku percaya sebagai ketua kau akan selalu bisa di andalkan, juga jaga dirimu baik-baik" ucap Hans yang kemudian melepaskan genggaman tangannya.


Ada senyum yang ia persembahkan untuk terakhir kalinya, juga lambaian tangan bersamaan dengan langkahnya yang mulai menjauh.


Tak ada balasan yang di berikan Reah, itu karena ia tak sanggup menerima perpisahan damai yang di berikan Hans.


* * *


Shigima belum juga memberikan kabar mengenai hilangnya Joyi begitu juga dengan anak buahnya yang ia kirim untuk mencari jejak, ini membuatnya semakin tidak tenang.


Bergelut dengan diri sendiri dalam benaknya mengakibatkan Jack menderita pusing setiap hari, ia sudah mencoba minum obat untuk mengatasi penyakit itu tapi rasa peningnya tak juga hilang.


Bagai helaian daun yang tersapu arus sungai, ia tak memiliki kekuatan untuk menepi bahkan tak punya cara untuk menyelamatkan diri sehingga tubuhnya hanya bisa menahan terjangan arus yang kuat.


Malam dimana harusnya ia merebahkan diri di atas ranjang yang empuk Jack malah pergi ke ruang kerjanya, mencoba melihat berkas-berkas untuk menyibukkan diri.


Ia berfikir mungkin hal itu dapat membuatnya lupa pada masalah, tapi saat ia melihat-lihat sesuatu membuatnya sadar akan barang yang hilang.


Buku yang ia gunakan untuk menulis curhatan hatinya telah cacat, selembar kertas yang berisi tulisan masalahnya lenyap dengan meninggalkan bekas yang tidak rapi.

__ADS_1


__ADS_2