Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 76 Pertukaran Berharga


__ADS_3

Ia telah memikirkan segala cara untuk membuat pnawaran baru, Tianna dan Shishio juga ikut sibuk mencari sesuatu itu hingga pada akhirnya Tianna mengungkapkan idenya.


"Bukankah Snng Dewi adalah seseorang yang dulunya bermarga Hermes? kenapa kita tidak cari sesuatu yang menyangkut keluarga Hermes saja? jika kita mendapatkan sesuatu yang menarik bisa kau buat penawaran dengan baik"


"Itu menakjubkan Tianna, tapi apa yang bisa kita ambil dari keluarga itu?"


"Untuk itu kita harus menemui empunyanya" jawab Tianna sambil tersenyum.


"Apa maksud mu?" tanya Shishio penasaran.


"Tenanglah Keenan, Jack Hermes berada dalam genggaman ku jadi aku bisa minta apa pun darinya.


Shishio sedikit bingung ungkapan itu, ia tak yakin Tianna memiliki kekuatan untuk mengintimidasi seseorang. Tapi mengingat dia adalah vampire bangsawan yang penuh rasa iri maka apa saja bisa ia lakukan demi kesenangannya yang tak masuk akal.


Malam itu Tianna segera pergi menuju tempat dimana ia biasa melakukan pertemuan dengan Jack, seperti biasa akan muncul di tengah bayangan dan membuat Jack terkejut.


"Ah kau datang cepat sekali, tidak seperti biasanya" ujar Jack.


"Yah sebenarnya karena ada sesuatu yang ingin aku katakan" ujar Tianna.


"Apa?"


"Selama ini aku sudah menolongmu, tentu kau tahu betapa mahalnya pil ini karena tak ada yang bisa membuatnya selain aku" ungkapnya.


Jelas Jack pun tahu tengtang ini, diam-diam dia menemui Guin untuk meneliti pil itu dengan maksud agar tak bergantung pada vampire tapi sayang Guin tak bisamenemukan bahannya di mana pun.


"Untuk itulah aku berterimakasih padamu" sahutnya.


"Sayangnya ucapan terimakasih saja kali ini tidaklah cukup, aku ingin sesuatu yang lebih dari sekedar itu"


"Apa?" tanya Jack cemas.


"Sebuah benda yang sangat berarti bagi Anna Hermes" jawab Tianna yang membuat Jack terkejut.


"Ke-kenapa kau menginginkan hal itu?"


"Ups! tidak menerima pertanyaan lagi. Kau harus membawa barang itu besok dan kita akan bertemu di sini dengan jam yang sama, ingat jika kau tidak membawanya maka pil ini tidak akan pernah kau dapatkan"


"Tunggu!" sergah Jack sebelum Tianna menghilang.


"Bi-bisakah kau beri aku satu pil saja? pil itu sudah benar-benar habis, jika....jika Jesaa tidak meminumnya malam ini maka..."


Xixixixixixi


"Kau sangat menyedihkan jendral" ujar Tianna sambil tertawa cekikikan.


Jack hanya bisa bersimpuh memandang Tianna yang menghilang begitu saja dalam kegelapan malam, tak ada pilihan.


Setelah kembali ke rumah ia segera menuju kamar Anna dan mencari apa pun itu, tapi tentu saja kamar itu telah kosong sebab mereka sudah melakukan pembersihan.


Untuk pertama kalinya ia merasa bodoh atas tindakannya sendiri, kini kesehatan Jessa benar-benar di pertaruhkan.


Tak mau patah semangat ia mencoba mencari lagi sambil memikirkan sesuatu yang paling di sukai Anna, ia pun teringat akan bajak laut.


Tentu saja di dunia ini tak ada lagi yang Anna sukai selain bajak laut, ia selalu mengoleksi apa pun yang berkaitan dengan hal itu. Mungkin ia bisa mencari patung bajak laut di toko mainan, tapi kembali ia merenung.


"Anna memang menyukainya tapi terakhir kali aku memberinya hadiah itu ia tak mau menerimanya, itu tidaklah berharga" ujarnya.


Semalaman berfikir dan terus mencari membuat Jack tak sengaja tertidur di kamar itu, paginya tanpa sengaja Shigima yang lewat melihat. Penasaran Shigima masuk dan memergoki Jack tengah tidur sambil memeluk selimut, dari matanya yang sembab ia menerka Jack telah menangis semalaman.


"Ayah..." panggilnya sambil menggoyangkan bahu Jack.


Mmmm...


Jack mulai menggeliat, saat ia membuka mata nampak Shigima memandangnya dengan perasaan khawatir.


"Kenapa ayah tidur di sini? apa ayah baik-baik saja?" tanyanya.


Jack bangkit dan segera duduk, dari jendela yang terbuka ia bisa melihat cahaya matahari menyorot cukup tajam. Melirik jam barulah ia sadar hari sudah siang dan ia masih di sana dengan penuh kebingungan.


"Ayah...ada apa?" tanya Shigima lagi.


"Ah tidak ada nak, tidak apa-apa"


"Pasti sesuatu telah terjadi, katakan padaku" paksa Shigima.

__ADS_1


Sejenak Jack terdiam, tapi kemudian dengan air mata yang kembali mengalir ia berkata.


"Aku sungguh menyesal, seharusnya kita biarkan kamar ini begitu saja. Aku semakin tua dan ingatan ku semaki rapuh, sekarang aku tidur di kamar yang kosong dengan bayang-bayang yang mengerikan"


"Ayah..." panggilnya lembut.


Shigima menerka Jack sedang di landa rindu yang tak tertahankan, mungkin karena cucu perempuannya sedang membuat jarak dengannya seperti yang pernah Anna lakukan.


"Ayah ayo ikut aku"


"Kemana?" tanya Jack.


"Sudahlah, nanti ayah akan tahu" jawabnya.


Beruntung ia melakukan tindakan yang tepat dengan menyimpan beberapa barang Anna tanpa sepengetahuan siapa pun, di ruangan yang pernah ia tunjukkan kepada Hans ke sanalah ia membawa Jack.


Baru masuk saja Jack sudah kageg setengah mati melihat barang-barang yang begitu familiar, sudah sekian lama ia tak melihat semua barang yang berhubungan dengan Anna. Bukan hanya itu saja, bahkan ada beberapa pakaian dan foto Anna yang tersimpan dengan baik.


"Maaf karena aku menyimpan semua barang ini tanpa sepengetahuan ayah, aku benar-benar tidak bisa membuanh semua ini" ujarnya.


Tapi Jack tak menjawab, ia terlalu fokus pada semua barang itu sehingga membuat Shigima sadar bahwa ia harus membiarkan Jack sendiri dulu.


Selema beberapa menit Jack habiskan waktunya untuk mengenang segala hal tentang Anna, seperti saat ia mengenakan kausnya atau gaun yang membuatnya terlihat cantik.


Air mata haru tercurah dari kerinduan yang tak terbendung, sampai akhirnya ia ingat permintaan Tianna. Hari masih siang sehingga ia masih memiliki waktu untuk berfikir, di lihatnya satu-persatu barang itu dengan penuh pertimbangan.


Saat ia membuka salah satu laci tak di sangka ia menemukan sesuatu yang di luar nalar, itu merupakan sebuah kertas dengan lukisan wajah seseorang.


Hal itu cukup membuat Jack bingung sebab ia mengenali wajah itu, yang membuatnya bertanya-tanya adalah mengapa benda itu ada diantara barang-barang milik Anna.


Mencoba mengingat kehidupan pribadi putrinya yang ia tahu Anna hanya memiliki hubungan deegan Shishio, tapi tak ada yang tahu pasti sebab Anna memang cukup tertutup pada masalah itu.


Entah mengapa ia merasa yakin bahwa itulah benda yang paling berharga, setelah berfikir cukup keras ia pun memutuskan untuk memberikan benda itu kepada Tianna.


Dengan gusar ia tak sabar menunggu malam, kepada Shigima ia mengatakan untun mengurus pekerjaan seorang diri.


"Jack, kau mau teh?" tawar Jessa sambil menghampiri.


"Kau nampak tegang, ada apa?" tanyanya.


"Baiklah tunggu sebentar, aku akan membawakannya untukmu" jawab Jessa.


Ia segera pergi menuju dapur dan kembali tak berapa lama kemudian, dari jauh ia menatap Jack sambil tersenyum dengan nampan di tangan.


Sret


Prang....


"Jessa!" teriak Jack saat di lihatnya Jessa yang tiba-tiba terjatuh.


Ia dan beberapa pelayan terdekat segera bergegas menghampiri, sambil membantunya bangkit dengan cemas Jack memeriksa keadaan istri tercintanya itu.


"Kau tidak apa-apa? apa ada yang sakit?"


"Ah tidak...aku baik-baik saja"


"Ayo bangun, pelan-pelan saja" ujarnya sementara para pelayan membersihka pecahan gelas itu.


"Kenapa kau bisa terjatuh?" tanya Jack sambil membantu Jessa duduk.


"Entahlah, aku merasa tiba-tiba kaki ku mati rasa hingga tak bisa di gerakkan" jawabnya sambil memijit bagian kaki.


Tentu hal itu membuat Jack semakin cemas, harusnya semalam Jessa minum pil itu tapi Tianna tak mau memberikannya. Kini penyakit Jessa mulai muncul lagi dan jika tidak segera di beri pil maka ia akan kembali seperti dulu, kengerian itu membuat Jack segera pergi ke tempat pertemuannya dengan Tianna meski hari belum gelap.


Berjam-jam ia menunggu dalam cuaca yang bisa membekukan tubuhnya, ia semakin tak sabar lagi setelah matahari terbenam dan malam telah datang.


Sambil menghitung dalam hati ia terus berjalan mondar-mandir agar tidak kedinginan.


"Wah wah...cepat sekali kau datang" sapa Tianna yang datang secara tiba-tiba seperti biasa.


"Tolong berikan aku pilnya, penyakit istriku mulai kambuh lagi"


"Wow...sabar dulu, tunjukkan dulu benda yang ju minta" ucap Tianna.


Dai dalam sakunya Jack mengambil apa yang di inginkan Tianna, ia membuka kertas itu dan menunjukkannya.

__ADS_1


"Kau yakin soal ini?" tanya Tianna.


"Tentu, kau bisa percaya padaku" jawab Jack.


Meski Tianna sedikit ragu tapi akhirnya ia melakukan barter itu, di ambilnya kertas itu dari Jack.


"Jika benda ini tidak berharga maka aku tidak akan memberikan pil itu lagi padamu" ancam Tianna.


"Kau tidak perlu khawatir, itu adalah benda yang kau cari" jawab Jack sebenarnya ia juga tak yakin.


Untuk saat ini mereka hanya bisa berharap saja, berhasil mendapatkan barangnya Tianna segera melapor pada Keenan dan memberikannya.


"Kerja bagus Tianna, kau memang selalu bisa di andalkan" puji Keenan.


* * *


Dengan perencanaan yang matang malam itu juga kakinya melewati makan berlubang, ia masih ingat kemana ia harus masuk dan dimana ia akan berakhir.


Menjadikan pengalaman pertama sebagai guru tanpa ragu Keenan masuk ke dalam lubang di dalam pohon itu, beberapa menit kemudian yang singkat ia telah berada di dunia yang berbeda.


Seperti biasa hutan itu begitu rindang dan sunyi, ia mulai melangkah sambil mengingat arah yang telah ia tempuh untuk menuju rumah Elf.


Entah sebuah keberuntungan atau memang secara naluri ia tahu kemana tujuannya, hanya dalam waktu setengah jam saja ia sudah sampai di tempat itu.


Namun saat ia masuk tak ada siapa pun di sana, ia juga berteriak memanggil nama Elf tapi hewan malam yang menjawab. Terus mencari ia berjalan hingga sampai di sungai, di sanalah ia melihat Elf tengah menari di bawah cahaya bulan.


Gerakannya begitu lambat namun gemulai, terlihat sangat indah sampai sulit untuk menolak tak melihatnya. Tanpa adanya musik seolah alam adalah irama murni yang paling pantas mengiringi tarian itu, rambut peraknya berkibar dan berkilauan saat tertiup angin membuat mata Keenan silau di buatnya, pada akhir gerakan Elf membuat dirinya menundukkan kepala dengan anggunnya.


Pertunjukkan selesai, Elf membenahi diri dengan melepas selendang yang ia gunakan. Saat itulah Keenan menampakkan wujudnya.


"Tarian yang indah" komentarnya.


"Terimakasih karena tidak mengganggu" jawab Elf yang rupanya sadar akan kehadiran Keenan.


"Sama-sama, kenapa kau melakukan tarian itu?"


"Apa yang membuatmu begitu percaya diri hingga berani kembali?" tanya Elf tanpa basa basi.


"Ah kenapa kau sangat dingin kepadaku?" tanya Keenan.


Dengan satu gerakan yang cepat kini Keenan telah berada di belakang Elf, membelai rambut peraknya yang berkilau karena sinar bulan.


"Kau akan mengatakannya atau tidak?" tanya Elf lagi.


"Mm, sebenarnya ini tidak ada urusannya dengan mu. Ada sesuatu yang ingin ku berikan kepada Sang Dewi, karena kau adalah penjaganya maka tugas mu hanya mengantarkannya"


"Kalau begitu serahkan bendanya"


"Aih...aku harus memberikanya secara langsung" ujar Keenan.


Elf memandang lekat-lekat mata Keenan seolah menembuh hatinya, tentu niat Keenan adalah bertemu Sang Dewi karena itulah ia berada di sana. Karena ia juga penasaran pada apa yang akan di tunjukkan Keenan maka ia pun menganggukkan kepala.


"Kau...setuju..." ujarnya yang tak menyangka ternyata itu sangatlah mudah.


"Jika kau berani membahayakan Sang Dewi aku tidak akan segan membunuhmu" ucapnya yang bukan sebuah ancaman biasa.


"Kau tenang saja, aku tidak mungkin melakukan hal bodoh"


"Baiklah, ayo pergi"


"Kita pergi sekarang?" tanya Keenan kaget.


"Besok jika kau ingin matahari membakar tubuhmu" jawab Elf dingin.


"Tentu saja sekarang, lebih cepat lebih baik" ujar Keenan cepat sambil mengimbangi langkah Elf yang berjalan lebih dulu.


Karena Keenan adalah seorang vampire maka jalur yang mereka tempuh sangatlah berbeda dengan Hans, Elf membawanya pada sebuah portal dimana mereka langsung sampai ke tempat tujuan hanya dalam waktu singkat.


Bagi Elf lebih cepat Keenan menemui Sang Dewi maka ia akan semakin cepat pergi, ambisi Keenan terhadap Sang Dewi tak akan ada yang mampu menghapusnya kecuali hasrat itu telah terpenuhi.


Mereka masuk ke dalam sebuah gua tempat dimana baru itu berada, sementara Keenan di buat takjub oleh tempat itu Elf menyiapkan air untuk melakukan pemanggilan.


"Ingatlah untuk memberi hormat dan jangan lakukan hal yang bodoh" ujar Elf memperingati.


Setelah Keenan menganggukkan kepala maka Elf pun mulai menuangkan air ke atas lantai dimana air itu mengalir melewati celah diantaranya, seperti saat Hans mencoba menemuinya air itu berakhir lad sebuah batu yang terletak di tengahnya dan kembali mengalir keluar dengan jumlah yang banyan.

__ADS_1


Dari air itulah Sang Dewi menampakkan wujudnya, Elf segera menundukkan kepala memberi hormat sementara Keenan memandang takjub pada Sang Dewi yang terlihat begitu megah.


__ADS_2