Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 56 Agam


__ADS_3

Terlalu dini untuk memutuskan, tapi wajah Agler yang terlalu mirip dengan Chad membuatnya kembali mengingat masa lalu itu. Kecemasan yang tak berujung itu membuat Joyi memutuskan untuk mencari tahu latar belakang Agler.


Sebenarnya ia sudah curiga saat Aeda memberinya sebuah ide, ia mengatakan kenal seorang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan Chad. Pemuda itu bisa mereka manfaatkan untuk bersandiwara menjadi Chad dan memenuhi undangan Violet, tidak akan ada yang curiga sebab keluarga Hermes belum pernah bertemu Chad sementara Violet juga bukan orang yang teliti.


Segera ia menyuruh Aeda untuk menjemput pemuda itu, meski awalnya ia mendapat kesulitan karena Agler sudah tidak bekerja lagi di pasar tapi dengan sejumlah uang Giant memberikan alamat rumah barunya.


Bagai sebuah takdir yang sudah di tentukan, Aeda berhasil menemukan Agler dalam perjalanan ke rumahnya di sebuah pertokoan. Rupanya hari itu Agler baru saja selesai mengantar barang, ia cukup kaget saat Aeda mendekatinya dan menawarkan pekerjaan itu.


Meski curiga tapi karena kebutuhan uang yang mendesak untuk biaya kuliahnya akhirnya ia mau, saat mendengar penjelasan Joyi Agler pun cukup kaget mendengar nama Chad sebab nama itu tercantum di kartu sang pengirim paket.


Awalnya ia sempat berfikir mungkin dia adalah orang yang sama, tapi rasanya itu terlalu kebetulan dan tidak mungkin terjadi.


"Nenek belum tidur?" tanya Chad yang membuat jantungnya hampir meloncat keluar.


"Astaga Chad, kau membuat nenek kaget" ujarnya sambil mengusap dada.


"Maafkan aku, apa yang sedang nenek lakukan di sini?" tanyanya sambil menghampiri.


"Tidak ada sayang, nenek hanya tidak bisa tidur"


"Mau ku buatkan susu hangat?"


"Tidak perlu"


"Baiklah, bagaimana dengan undangan Violet?" tanyanya penasaran.


"Semuanya berjalan dengan lancar, kau tidak perlu khawatir soal itu. Lalu bagaimana dengan janji mu dengan Ima?" balas Joyi.


"Semuanya berjalan dengan lancar, sebenarnya aku di undang untuk makan malam di rumahnya"


"Ah, itu menjawab sulitnya kau memenuhi undangan Violet" ujar Joyi seraya tersenyum.


"Ya, aku dan pak Colt bicara banyak hal. Mereka menerima ku dengan baik dan juga menanyakan asal usul ku, aku menjawab sebagai Chad Menhad"


"Itu bagus"


"Pak Colt juga bertanya soal paman Jhon, rupanya mereka saling mengenal dan cukup berteman baik"


"Begitu rupanya, nenek tidak pernah tahu hal ini" komentar Joyi.


Hening tiba-tiba datang diantara mereka, ini karena ada hal yang ingin Chad tanyakan kepada Joyi tapi dia sendiri merasa tidak sanggup bila jawabannya akan cukup menyakitkan.


"Um....nenek ada sesuatu yang ingin aku pastikan" ujarnya akhirnya.


"Apa?"


"Apakah....aku punya saudara kembar?" ucapnya.


Sejenak Joyi terpaku, heran mengapa apa yang sedang ia pikirkan melintas juga dalam benak Chad.


"Kenapa...kau bertanya seperti itu?"


"Ada seseorang yang sangat mirip dengan ku, bahkan beberapa orang mengira aku adalah dia. Tapi dia punya keluarga yang sempurna jadi aku pikir mungkin kami tercipta dengan wajah yang sama saja"


"Siapa dia?" tanya Joyi penasaran


"Agler."


Entah apa tujuan Tuhan membuat takdir yang serumit ini, dalam satu waktu ia memisahkan sebuah keluarga hingga benar-benar buyar lalu dalam waktu singkat ia pertemukan juga dengan cara yang unik.


Tanpa terasa air mata Joyi seketika, membuat Chad kaget hingga bingung apakah ia telah mengatakan hal yang salah.


"Apakah...kau bertemu dengannya?" tanya Joyi pelan.


"I-itu....tidak, aku hanya mengenal keluarganya saja. Ada apa? kenapa nenek menangis?" tanya Chad cemas.


Sulit bagi Joyi menjawab, ia hanya menangis untuk mencurahkan semua kepedihan itu.


* * *

__ADS_1


Dari dalam lemari Mina mengeluarkan sebuah selimut bayi yang masih harum, meski sudah bertahun-tahun tapi ia tetap menjaga selimut itu dengan sangat baik.


"Wajah itu terlalu mirip dengan Agler, menurut mu apakah Agler memiliki saudara kembar?" tanya Colt.


"Wanita itu tidak mengatakan apa pun, dan lagi Chad jelas memiliki keluarganya sendiri ia bahkan tidak bereaksi seperti menemukan saudara yang hilang"


"Mungkin saja keluarganya menutupi hal ini, terlebih orangtuanya meninggal saat dia masih kecil"


"Aku tidak tahu pasti, tapi yang jelas sebaiknya kita tunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Agler" ujar Mina.


Colt hanya bisa mengikuti keinginan Mina, mau bagaimana pun Mina adalah ibu Agler yang telah mengurusnya sejak masih bayi.


* * *


Habis sudah air mata itu, kini dengan lelah Joyi menceritakan kemalangan apa yang menimpa Chad. Hari dimana kobaran api itu hampir menelan tubuh mungil dengan tulang yang masih lunak, bersama dengan sang ibu yang bahkan tidak sanggup untuk bangkit.


Suatu malam Ballard menemuinya hanya untuk meminta pertolongan, selamatkan putri dan cucunya yang masih dalam kandungan.


Tentu Joyi segera menolong sebab dia adalah istri dari Reinner Hermes, meski dia di buang oleh Jack tapi sumpahnya untuk menjaga keturunan Hermes tidak akan pernah di langgar.


Di sebuah pondok bersama dengan seorang dokter yang sengaja Joyi bawa untuk mengobati Catherine, lahir dua pangeran dalam keadaan sehat.


"Agam, itulah nama yang di berikan oleh ibumu. Artinya sebuah kekuatan, dengan harapan kau akan menjadi pangeran yang kuat dalam menghadapi setiap ujian dan masalah" ujar Joyi memberitahu.


Sedang untuk saudaranya di beri nama Agler, karena mereka lahir di sebuah pondok dengan kondisi seorang ibu vampire Joyi telah memutuskan untuk memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman.


Ia hanya minta waktu beberapa jam untuk menyiapkan tempat yang layak, tapi saat ia kembali pondok itu sudah di lahap si jago merah. Panik tanpa pikir panjang Joyi segera memburu ke dalam, mencoba menyelamatkan Catherine dan bayinya.


Joyi beranjak dari tempat duduknya dan mencari sesuatu dari kotak perhiasannya, dari dalam sana ia mengambil sebuah benda kecil yang terbuat dari kayu.


"Asap pekat masuk ke dalam paru-paruku, memenuhinya hingga terasa sesak. Hampir hilang kesadaran ku saat terdengar tangisan seorang bayi di tengah kobaran api, susah payah aku menerjangnya dan saat berhasil ku temukan dirimu menangis dengan kalung yang tersemat di lehermu" ujarnya sambil menyerahkan benda kecil itu.


Chad melihat sebuah ukiran nama Agam tercetak pada kayu berukuran kecil itu, air mata kini tumpah membasahi kalung dalam genggamannya.


"Ayah mu yang membuatnya, tak pernah ada yang memperhatikannya tapi aku tahu dia pandai mengukir. Setelah kalian lahir ibumu memberi kalung itu satu persatu, rupanya nama itu telah lama di siapkan olehnya"


"Lalu bagaimana dengan Agler? kenapa nenek memisahkan kami?" tanya Chad dalam isakannya


Chad cukup mengerti, kini dia hanya terdiam merenungi nasibnya yang teramat buruk.


"Satu lagi yang ku temukan adalah Jack, saat aku tiba dia baru saja kabur setelah membakar pondok. Demi menyelamatkan mu ku ubah nama mu menjadi Chad, lalu ku berikan kepada anak dan menantu tiriku. Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi, Jack menabrak kedua orangtua mu hingga mereka tewas" ujarnya lagi.


Genggaman tangan Chad semakin keras hingga kulit telapak tangannya memutih, dendam kepada Jack berawal dari matinya kedua orangtua angkatnya yang ia kira adalah kandung.


Kini dendam itu semakin besar dan kian besar sebab ternyata Jack tidak hanya membunuh orangtua angkatnya tapi juga ibu kandungnya, setelah kenyataan ini terungkap tentu ia tak akan tinggal diam.


* * *


Sedari tadi angin menyapa dengan lembut, memberi rasa dingin yang membekukan hati. Daun terakhir telah gugur dan sampai pada tanah yang keras, entah esok atau malam ini mungkin salju pertama akan turun.


Mewarnai bumi dengan warna putih yang bersih, memaksa sebagian untuk tidur dalam jangka yang cukup panjang.


"Apa yang begitu menarik perhatian mu?" tanya Ima yang baru datang.


"Tidak ada" jawab Chad meski jelas yang ia lihat adalah batu yang terkena hantaman air terjun.


"Ada apa?" tanya Ima lagi.


Ia sudah cukup mengenal pria itu, setiap ekspresinya yang datar selalu menampilkan isi hatinya melalui sorot mata yang tajam itu.


Tentu saja ada hal yang mengganjal di hatinya, tentang saudara kembarnya yang kemungkinan kini menjadi kakak Ima. Entah bagaimana kisah yang terjadi pada Agler hingga bisa hidup damai tanpa pernah merasakan kehilangan, tidak sepertinya yang bahkan sejak dini telah memendam kembencian pada dunia.


Perlahan ia berjalan mendekati Ima, mulutnya tersenyum tapi ada air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku hanya merasa lelah pada takdirku" ujarnya pelan.


Sejenak Ima terpaku tapi secepat mungkin dia bergerak dan memeluk tubuh yang kini tengah merasa penat, Ima tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tahu Chad butuh tempat untuk beristirahat.


Setelah beberapa saat yang cukup lama akhirnya Chad melepaskan diri, meski kini ia merasa lebih baik tapi Ima tetap menatapnya dengan cemas. Sisa air mata itu Ima hapus dengan jarinya, menunggu hingga ada senyum di wajah yang nampak kusam.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" tanya Ima.


Chad tersenyum dan menganggukan kepala, melihat wajah cantik yang selalu membuatnya merasa hidup. Ia bersyukur di saat hatinya hampir jatuh ke dalam lautan kegelapan ada tangan yang meraih dan memeluknya erat, itu adalah tangan bidadari kecil yang bahkan belum cukup umur untuk segelas wine tapi sudah dewasa untuk menjalani hidup mandiri.


Melihat betapa sempurnanya kehidupan Ima seketika ia berfikir hal ini tak lepas dari peran orangtua yang selalu ada mendampinginya, hal itu tentunya berlaku bagi Agler.


Di bandingkan dengan tangannya yang telah berlumuran darah ia yakin tangan Agler hanya memegang kasih sayang orangtua angkatnya, jika begitu maka tak ada gunanya memberitahu kebenaran kepadanya.


Sepertinya tugas balas dendam ini memang harus dia sendiri yang menyelesaikannya tanpa campur tangan siapa pun, lagi pula sejak awal dia memang sudah sendirian.


"Sebentar lagi musim salju, saat natal nanti apa yang kau inginkan?" tanya Chad.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" ujar Ima balas bertanya.


"Terakhir kali aku mengirimkan hadiah berakhir pada undangan makan malam, karena itu aku bertanya"


Ima tertawa kecil, kemudian ia menjawab.


"Syal, aku ingin syal berwarna putih seperti hatimu yang bersih."


Entah bagaimana cara Ima memandangnya, selama ini dia selalu dianggap tuan muda yang kejam dan dingin. Meski ia cukup populer di kalangan wanita tapi begitu Chad menatapnya mereka akan menggosipkannya dengan hal buruk, tapi saat pertama kali ia bertemu Ima tatapan yang di berikan adalah sebuah pertemanan yang hangat bukan kagum.


Saat Chad memperlihatkan kekejamannya tanpa ragu Ima membalas tatapan tajam itu dengan berani, meski di perlakukan buruk tapi Ima justru betah berdiri di sampingnya hingga menyatakan cinta tanpa ragu.


"Baiklah, aku akan memberikan mu syal" ujarnya.


Ima bersorak riang, tak sabar akan hadiah itu.


"Bagimana dengan mu? apa yang kau inginkan sebagai jadiah natal?" tanya Ima balik.


Chad tiba-tiba menyodorkan pipinya dan berkata.


"Aku ingin sebuah kecupan."


Ima terperanjat mendengar permintaan itu, ia tak pernah menyangka tuan muda yang kejam akan bertingkah nakal seperti itu. Tapi ia juga senang sebab perlahan Chad berubah menjadi pria yang manis dan lebih terbuka, maka dia pun berjinjit agar bisa menyamai tingginya tubuh Chad.


"Sudahlah kau tidak perlu..." ujar Chad sambil menoleh.


Cup


Baik Chad maupun Ima sama-sama kaget saat bibir mereka saling bersentuhan, sebab saat Chad menoleh saat itulah Ima hendak memberikan apa yang dia minta.


"Bukankah...tadi kau memintanya di pipi?" tanya Ima pelan masih sambil bengong.


"A-aku...tidak tahu kau akan memberikannya" jawab Chad.


Blus...


Mereka seketika saling membelakangi, terlalu malu untuk memperlihatkan wajah masing-masing yang merona. Itu bukanlah ciuman pertama mereka, tapi yang lalu juga tidak bisa di sebut ciuman karena kondisi yang berbeda.


Bingung harus berbuat apa, saking malunya mereka nampak lucu seperti pasangan bodoh.


"Aku.." " Aku..."


Kini tiba-tiba mereka bicara secara berbarengan, menambah rasa yang berujung pada kebingungan.


"Kau dulu" ujar Ima kikuk.


"Ah, aku...masih ada pekerjaan jadi aku harus pergi"


"Begitu ya, aku juga harus kembali"


"Kalau begitu sampai nanti" ujar Chad pamit.


"Ya, sampai jumpa" jawab Ima melambaikan tangan.


Chad segera pergi meninggalkan tempat itu, namun ia juga sempat berhenti sejenak hanya untuk melihat Ima yang juga pergi. Ada senyum kecil yang terlukis di bibirnya mengingat betapa manis hubungan mereka yang bahkan belum memiliki status resmi, sebenarnya itu tidak jadi masalah karena ia yakin Ima juga sudah tahu isi hatinya.


Kini yang perlu ia perhatikan hanyalah Kyra, sepupu yang akan menjadi jembatan untuk dirinya ke keluarga Hermes. Ada satu rencana yang kini tengah ia susun dengan rapih, tinggal menunggu waktu untuk memperlihatkan hasil yang terbaik.

__ADS_1


Ia telah mengambil keputusan, meski mendiang ibunya memberi nama Agam tapi dalam kehidupan ini ia adalah Chad Menhad.


__ADS_2