Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 135 Penculikan


__ADS_3

Sebagai orang terdekat Jhon tentu datang menjenguk, tanpa meminta ijin dari siapa pun ia masuk untuk melihat sejauh mana luka yang di alami Joyi. Cukup lama ia berada di dalam dan keluar dengan raut wajah bingung, Agler yang sadar mengajak Jhon keluar dan bicara.


"Apakah ada yang tidak beres? atau... tidak ada harapan untuknya" tanyanya.


"Keduanya" jawab Jhon membuat Agler bingung.


"Aku hanya akan mengatakan ini padamu dan ingat untuk menyimpannya sendiri" ujar Jhon yang kemudian di jawab dengan anggukan.


"Vampire telah ikut campur dalam insiden ini"


"Apa maksud paman?" tanya Agler tak mengerti.


"Ada bekas kuku yang cukup dalam di tangan Joyi, jelas itu bukan ulah binatang atau manusia. Selain itu aku juga menemukan bekas luka yang berbeda, aku menduga Joyi bertaruang dengan lebih satu orang yang artinya pelaku penusukan itu... "


"Ada lebih dari satu" ujar Agler menuntaskan kalimatnya.


Sejenak ia tertegun, mencoba mengingat setiap kesaksian yang ada dan menghubungkannya menjadi satu cerita yang utuh.


"Mengingat bagaimana hubungan nenek Joyi dengan keluarga Hermes semua saksi itu bisa jadi pelaku, hanya saja... jika vampire juga ikut andil maka siapa orangnya? sebab satu-satunya vampire yang ada saat itu hanya Chad" ujarnya.


"Apakah.... Chad... "


"Tidak mungkin" sahut Jhon yang sudah tahu apa yang ada di pikiran Agler.


"Meskipun Chad tahu bahwa Joyi salah dia tidak akan pernah bisa melukai Joyi, sebesar apa pun kesalahan Joyi ia pasti di maafkan"


"Lalu siapa vampire yang terlibat dalam hal ini?" tanya Agler bingung.


"Ada satu... dan dia adalah musuh dalam selimut" ujar Jhon yang sudah mengantongi satu nama.


"Tolong awasi Joyi, aku punya firasat buruk tentang hal ini" ucapnya sebelum kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


Entah apa yang ada di pikiran Jhon, memang Agler penasaran tapi ia yakin jawabannya akan ia temukan nanti.


Di malam ke empat selama Joyi di rawat tak ada perubahan yang membuat kabar baik, kondisi Joyi masih kritis seperti sebelumnya.


Hal ini membuat Alisya banyak berfikir negatif hingga berimbas pada kesehatannya, garis hitam mulai muncul di sekitar matanya dengan wajah putih pucat seperti panda.


Berkali-kali Ima membujuknya untuk istirahat di rumah agar kesehatannya terjaga tapi tak pernah dia indahkan, barang sebentar pun ia tak mau pergi meninggalkan tempat itu.


Perubahan Alisya yang semakin tidak baik sampai menyita perhatian perawat yang bertugas, ia bahkan di sarankan untuk memeriksakan diri ke dokter tapi lagi-lagi ia menolak.


Perawat itu pun tak bisa membujuk lebih lama lagi dan kembali pada tugasnya, ia berjalan masuk ke ruang rawat Joyi untuk mengecek seperti biasanya.


Tapi baru saja ia masuk lika detik kemudian ia berlari keluar sambil berteriak memanggil dokter dan penjaga, tentu hal ini membuat mereka panik.


Tanpa menunggu yang lain Chad segera berlari untuk memeriksanya sendiri, tapi apa yang ia lihat bukanlah Joyi yang harusnya terbaring lemah melainkan ranjang kosong yang berantakan.


"Nenek...kemana... perginya... " gumam Chad bingung.


Alisya yang baru menyusul ikut kaget melihat ranjang yang berantakan tanpa kehadiran Joyi, dalam keadaan kalut ia berteriak memanggil namun tak ada yang menyahut.


"Chad.. kemana nenek pergi?" tanyanya panik.


"Entahlah.. " sahutnya setengah bengong.


"Chad! coba cari di setiap ruang rumah sakit, aku akan mencari keluar" teriak Agler menyadarkannya.


Bersama dengan penjaga, perawat dan yang lainnya mereka berpencar mencari Joyi. Dengan kondisi kritis tidak mungkin Joyi bisa hilang begitu saja, kalau pun sudah sembuh mereka pasti melihat Joyi berjalan keluar.


Satu-satunya yang terpikir adalah seseorang telah menculik Joyi, entah dengan tujuan apa.


Berjam-jam waktu telah habis namun tak ada juga yang berhasil menemukan Joyi, bahkan Jhon yang telah di beritahu dan cepat menyusul untuk mencarinya pun tak menemukan satu petunjuk saja.


Penculikan itu benar-benar di lakukan oleh profesional hingga tak ada yang jejak yang tersisa, hal ini membuat Chad dan yang lain cukup frustasi.


Lelah dalam pencarian mereka berkumpul di rumah untuk membahasnya, sementara pihak rumah sakit meminta bantuan polisi untuk menyelidiki kasus ini secara transparan.


"Kira-kira siapa yang telah menculik nenek dan apa tujuannya?" tanya Alisya semakin resah setiap detiknya.

__ADS_1


Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu sebab memang tak ada yang tahu.


"Apakah... keluarga Hermes terlibat lagi?" tanyanya hati-hati.


"Mereka tidak memiliki kemampuan untuk hal ini, aku pasti bisa mengetahui jika salah satu diantara anggota keluarga itu berani macam-macam" sahut Chad serius.


Itu memang benar, sehebat apa pun keluarga Hermes mereka akan mudah di ketahui oleh Chad yang memiliki telinga sensitif.


"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kalian istirahat dulu dan mulai pencarian lagi besok" saran Ima.


"Itu benar, aku akan meminta bantuan guru Nick agar nenek Joyi cepat ketemu" tambah Agler setuju.


Kali ini Alisya mengalah, tubuhnya sudah terlalu lemah hingga tak memiliki tenaga untuk berkeliaran. Di temani oleh Ima ia pun segera pergi ke kamarnya untuk istirahat, di ikuti oleh Chad yang butuh waktu untuk memenangkan pikirannya.


"Aku akan coba mencari jejak lagi" ujar Jhon berpamitan.


"Aku ikut, ayah tolong tinggallah sebentar untuk menemani yang lain" ucap Agler.


"Serahkan padaku" jawab Reinner.


Jhon dan Agler pun segera pergi keluar, dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka kembali membahas yang sempat di singgung oleh Jhon.


"Apakah ini ulah vampire?" tanya Agler.


"Kemungkinan besar ya, kalau pun penyihir yang melakukannya aku yakin ilmu sihirnya setara dengan Anna" jawab Jhon yang tiba-tiba teringat kekuatan dahsyat milik Sang Dewi.


"Tapi kenapa dia menculik nenek Joyi? apa yang ia inginkan?"


"Tidak ada yang tahu sampai kita berhasil menemukannya" sahut Jhon.


* * *


Kabar hilangnya Joyi tentu sampai di telinga keluarga Hermes, Jack yang pertama kali mendengar berita itu seketika syok hingga tak bisa berkomentar.


Mereka ikut bingung dengan apa yang terjadi hingga berbagai persepsi muncul, Jessa memulai pendapatnya dengan mengatakan bahwa semua ini sudah di seting sedemikian rupa agar dirinya di persalahkan.


Di belakang Jack dan Shigima kembali membahas masalah ini, mencoba mencaritahu demi memuaskan rasa penasaran mereka.


"Sepertinya ada orang lain yang terlibat dalam masalah ini" ujar Shigima.


"Itu pasti, mengingat Joyi adalah pendiri Sanwa mungkin saja hal ini di lakukan oleh saingan bisnisnya yang lain"


"Apa.. kita coba cari tahu juga?"


"Harus, jika kita diam saja maka Chad bisa menyalahkan kita lagi" ujar Jack yakin.


"Baiklah kalau begitu, aku akan segera mencaritahu" sahut Shigima.


Ia mulai mencaritahu saingan bisnis Sanwa yang berpotensi melakukan tindakan itu, bukan hal mudah memang tapi ia akan terus mencoba.


Sementara itu Jack juga menyuruh anak buahnya untuk mencari jejak hilangnya Joyi, berharap Joyi segera ketemu agar masalah itu cepat selesai.


* * *


Meneliti TKP untuk mencari jejak bukanlah hal yang mudah, terlebih polisi berjaga di sana sehingga Jhon harus hati-hati agar tidak ketahuan. Sementara Agler menunggu di luar untuk memastikan keadaan aman, butuh waktu yang lebih lama sampai ia menemukan sebuah jejak kecil.


"Ayo kita pergi!" sahut Jhon tanpa menghentikan langkahnya.


"Kau menemukan sesuatu?" tanya Agler penasaran.


"Aku harus menemui ayahmu" sahutnya.


Mereka bergegas pulang dan sesampai di rumah Jhon segera meminta Rei untuk bicara empat mata, meski Agler sedikit tersinggung tapi dia membiarkan mereka bicara.


"Dia ikut terlibat dalam penculikan Joyi" ujar Jhon serius.


"Kau yakin?"


"Aku menemukan bukti terkuatnya" jawabnya.

__ADS_1


Wajah Rei menegang, kekhawatiran menyeruak menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Benaknya mulai berfikir keras hingga kerutan nampak jelas di dahinya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Jhon.


"Sebaiknya kita tunggu dulu, jika dia berniat membunuh bibi Joy maka pasti sudah dia lakukan sejak kemarin"


"Kau benar, tapi ini membuatku lebih khawatir. Dengan menculik Joyi kita tahu motifnya, targetnya adalah pangeran kembar" sahut Jhon.


"Aku sudah menyiapkan rencananya, untuk sementara biarkan ini menjadi rahasia kita. Setelah semuanya siap aku pasti akan memberitahu Agam dan Agler sebab mereka berperan besar dalam hal ini" ujarnya.


Obrolan mereka pun berhenti sampai di sana, Jhon pamit pulang sementara Reinner akan tetap di sana bersama kedua putranya.


* * *


Di bawah langit yang gelap sesosok makhluk malam bergerak searah mata angin, jubahnya berkibar seperti daun yang bergoyang. Sepatunya berlumpur menekan tanah meninggalkan jejak yang akan terhapus hujan, meski begitu ia tetap melangkah dengan cukup hati-hati.


Hingga sampai di sebuah lubang gua, sejenak ia menatap dengan mata merahnya. Menunggu, untuk beberapa saat sampai seorang gadis cantik keluar dari sana.


Ia tersenyum, menebar pesonanya yang anggun. Saat ia berjalan mendekat pinggulnya ikut bergoyang, siapa pun yang melihatnya tidak akan mampu berpaling.


"Kau kembali dengan cepat, Clarkson... " ujarnya.


"Yulia.. apa dia di dalam?" tanya Clarkson.


Yulia mengangguk, tanpa mengatakan apa pun lagi Clarkson masuk ke dalam gua yang lembab dan gelap itu. Satu-satunya cahaya yang ada hanya obor yang ia nyalakan saat masuk ke dalam gua itu, semakin dalam udaranya semakin pengap dan bau apek.


Sebagai vampire yang memiliki penciuman sensitif ia di buat tak betah dengan keadaan gua itu, tapi tentu ia tak punya pilihan lain.


"Aku membawakan barang yang kau inginkan" ujar Clarkson.


Ia menyimpan sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari kain putih, seseorang mengambil bungkusan itu dan mengucapkan terimakasih.


"Bagaimana keadannya? haruskah kita memindahkannya ke tempat lain? bukan aku kasian padanya, tapi aku juga tak tahan jika harus ke sini setiap waktu"


"Tentu, kita akan memindahkannya" sahut orang itu.


"Baiklah" ujar Clarkson yang kemudian cepat pergi keluar untuk menghirup udara yang lebih bersih.


"Bagaimana keadaan istana?" tanya Yulia sambil memperhatikan kukunya yang di jaga dengan rapih.


"Mereka belum mencurigai kita, tapi tetap saja kita harus hati-hati sebab jumlah budak saat ini cukup banyak sehingga butuh lebih banyak dana untuk menghidupi mereka"


"Ish... rasa mereka sudah payah, aku benar-benar tidak tahan harus meneguknya tanpa ekspresi kecut" ujar Yulia sambil memuntahkan angin.


"Tidak mudah mengganti para budak, kau tahu setelah Jhon tidak ada kita kesulitan mencarinya"


"Jika kau berhasil naik tahta kita tidak membutuhkan budak belian lagi, semua domba melimpah di segala tempat" ujar Yulia sambil menjilat bibirnya.


Clarkson menyeringai, sudah lama ia mengidamkan tahta itu semenjak kepergian Viktoria. Tapi tentu bukan hal mudah untuk mewujudkannya, ada banyak gangguan mulai dari Reinner hingga Keenan yang tiba-tiba muncul bak pahlawan.


Sebagai vampire manja yang menghabiskan sisa umurnya di kastil tak ada yang ia pelajari selain politik, ia benar-benar payah dalam hal bertarung sehingga menggapai singgasana merupakan kemustahilan.


Tapi saat ia bersekutu benih-benih mulai tumbuh menguncup, meski memakan waktu lama tapi ia yakin pada akhirnya akan mekar dan menebar aroma ke segala penjuru.


"Kita akan memindahkan wanita tua itu, aku tidak tahu kapan tapi mulailah bersiap" ujar Clarkson kembali pada kenyataan.


"Aku mengerti"


"Ingat kau harus tetap hati-hati, tubuh manusia sangatlah lemah apalagi yang renta dan koma. Dia harus tetap hidup demi kelancaran rencana kita"


"Kau tidak perlu mengatakannya berulang kali, itu membuatku muak" tukas Yulia dengan wajah cemberut.


Kecantikannya seketika redup saat senyum itu berubah menjadi umpatan yang tak pantas, Clarkson agak menyayangkan sikap Yulia yang mudah berubah dan emosian.


Itu membuatnya teringat pada Tianna, meski Yulia lebih cantik tapi pesona Tianna lebih hebat. Pada saat-saat tertentu ia suka menyesal tidak mengajak Tianna untuk bersekutu, sayangnya takdir mengenalkannya pada Tianna saat Keenan membawanya ke istana sebagai putri.


Jika saja sebelum itu mereka sudah bertemu mungkin saat ini yang mendukungnya adalah Tianna bukan Yulia, tapi nasi sudah menjadi bubur.


"Tianna, mungkin aku bisa memilikimu setelah singgasana berhasil aku dapatkan" gumamnya diam-diam di belakang Yulia.

__ADS_1


__ADS_2