Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 105 Bukti


__ADS_3

Ia tak bisa membohongi perasaannya, rasa penasaran itu terlalu menganggu seperti lalat yang terbang di atas mayat. Mungkin karena hal itu bersangkutan dengan mendiang orangtuanya, setelah berfikir keras akhirnya ia pun memutuskan untuk menemui satu-satunya saudara yang ia kenal.


Menarik nafas panjang Agler berjalan mendekati gerbang itu, saat ia sampai terlihat seperti penjaga yang acuh.


"E-hmm... " kegugupan itu membuatnya sulit berkata, dengan malas si penjaga menengok ke arahnya dan begitu ia melihat.


"Tuan muda! maafkan saya, saya pikir anda pemulung" ujarnya panik.


"E-eh itu... " gumam Agler bingung.


"Maaf tuan muda, biasanya anda datang dengan mobil jadi saya sedikit kaget" ujarnya lagi membenarkan ucapannya yang di sadarinya sangatlah kasar sambil membukakan pintu.


Ia melangkah masuk sambil masih sedikit bingung bercampur kaget, tapi kemudian ia sadar bahwa wajahnya sangatlah mirip Chad sehingga pastilah penjaga itu mengira dirinya Chad.


Melupakan sang penjaga ia terus berjalan ke arah pintu, memutuskan untuk tidak mengetuk pintu ia langsung membukanya.


"Tuan muda!" panggil seorang pelayan yang pertama melihatnya.


Agler meliriknya dan seketika pelayan itu menundukkan kepala, nampak jelas ketakutan di wajahnya seakan Agler adalah monster mengerikan.


"Maaf atas ketidaksopananku, aku hanya merasa bingung sebab tadi tuan di ruang baca dan menyuruh ku membuatkan kopi" ujarnya.


"Bisakah kau tunjukkan aku jalan ke ruang baca?" tanya Agler tanpa menghiraukan kesalahpahaman itu.


"Ba-baik tuan" sahut pelayan itu bingung namun tak berani bertanya macam-macam.


Ia pun mulai berjalan di ikuti Agler tepat di belakangnya, begitu sampai di ruangan itu alangkah kagetnya ia melihat Chad yang masih di sana sedang membaca buku.


Tak ada yang dapat ia katakan, hanya diam sambil menatap Chad dan Agler secara bergantian.


"Aku ingin bicara dengan mu" ujar Agler.


Tentu kedatangan Agler cukup membuat Chad terkejut, tapi kemudian ia berkata.


"Tinggalkan kami berdua"


"Ah, ya.. tu-tuan" sahut pelayan itu masih bingung.


Blam


Pintu di tutup, Agler pun melangkah lebih dekat lagi. Selama beberapa detik saudara kembar itu hanya saling menatap, tapi kemudian Agler memulai percakapan.


"Ceritakan padaku lebih banyak mengenai keluarga Hermes"


"Jika itu versi ku kau tidak akan menyukainya, isinya hanya akan ada kebencian" sahut Chad.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin mendengar tentang keluarga itu dari semua orang" tukasnya.


Jika itu merupakan keinginan Agler maka dengan senang hati Chad pun bercerita tentang keluarga Hermes menurut versinya, dalam kesempatan ini ia juga mengingatkan Agler akan satu hal yang penting.


"Kau tahu Hans Hermes?" tanyanya.


"Ya, kita pernah bekerjasama dengannya untuk mengalahkan Keenan" jawab Agler.


"Aku pernah menyinggung bahwa kebencianku padanya teramat dalam itu karena ia menculik dan melecehkan sepupuku, apa kau ingat? sepupu yang ku maksud adalah Alisya" ujarnya.


"Apa?" gumam Agler tak menyangka.


"Satu keluarga itu membuat dosa yang tak termaafkan bagiku, terserah kau akan percaya atau tidak yang jelas jika kau bertanya pada mereka ceritanya pasti akan berubah" ucapnya.


Tentu itu cerita yang tak bisa di terima, tapi cerita itu juga cukup logis untuk menjelaskan dendam yang di pendam Chad.


Dengan langkah gontai kakinya menyeret tubuh itu keluar dari ruang baca, menatap lantai mengilap yang terasa kosong padahal itu adalah pandangan dari matanya.


"Agler... kau... kenapa ada di sini?" tanya Alisya yang tak sengaja berpapasan.


Ia mengangkat wajahnya, menatap kecintaannya yang menunjukkan ekspresi bingung. Bukannya menjawab Agler justru berlari dan memeluk Alisya secara tiba-tiba, tentu hal ini membuat Alisya semakin kebingungan.


"Agler... ada apa?" tanyanya.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Agler untuk menenangkan diri, setelah mereka pindah ke tempat lain disanalah pikiran Agler muali terbuka kembali.


Ia menatap lekat Alisya dengan sedih, membayangkan kengerian yang sempat di alami Alisya.

__ADS_1


"Kau sudah merasa baikan?" tanya Alisya.


Agler mengangguk pelan, saat ini ia sadar Alisya menantikan jawaban darinya. Tapi tentu ia tak memiliki kemampuan untuk menceritakan kesedihan hatinya yang berhubungan dengan Alisya, akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu satu kenyataan.


"kedatangan ku ke sini adalah untuk menemui Chad" ujarnya.


Alisya diam tak menyahut, wajahnya sarat akan rasa penasaran dari kelanjutan ucapan Agler.


"Ternyata... Chad dan aku adalah saudara kembar, kami terpisah sejak lahir" lanjutnya.


Awalnya Alisya memberi ekspresi terkejut, tapi ekspresi itu lenyap dengan mudah dalam beberapa saat saja.


"Aku sudah menduganya, saat pertama kali bertemu Chad aku pikir dia adalah kau. Tapi ternyata kalian berbeda orang, aku juga sempat memikirkan hal ini tapi karena aku mengenal mu cukup lama bagiku rasanya terlalu drama jika kalian bersaudara" ungkapnya.


"Aku hanya anak angkat dari orangtuaku, kami terus berpindah tempat bahkan saat aku masih bayi jadi tidak ada yang mengetahui hal ini" jelas Agler.


Itu dapat di mengerti, Alisya pun tak banyak bertanya dan memutuskan untuk bersikap seperti biasa namun tentu dengan perhatian lebih.


Sementara Agler merasa cukup bicara memutuskan untuk pulang dan berpamitan, walau sebenarnya dia tidak benar-benar pulang.


Hatinya yang di penuhi amarah membawa langkah kakinya menuju kediaman Hermes, dia adalah orang paling sabar di dunia yang selalu mengalah tapi jika orang tersayangnya di sakiti maka tidak ada lagi yang bisa menghentikan amarahnya.


Tangannya terkepal keras hingga memutih namun warna di wajahnya adalah merah padam, urat di sisi keningnya nampak jelas memperlihatkan ketidaksabarannya menemui si pelaku.


"Aku ingin bertemu Hans Hermes" sahutnya pada seorang penjaga di gerbang.


Ia di suruh menunggu sementara sang penjaga berlari ke rumah untuk memberitahu orang yang di maksud, namun Jack yang pertama mendapatkan pesan itu bergegas ke gerbang untuk menemuinya.


Dari cara berpakaian saja Jack sudah menebak bahwa itu Agler, tapi ekspresinya yang keras lebih mengerikan dari Chad dan itu mengundang banyak tanya.


"Akhirnya kau datang berkunjung" ujar Jack mencoba terlihat gembira meski sebenarnya ia sedikit cemas.


"Aku ingin bertemu Hans" ucapnya dingin.


Sebenrnya Jack ingin bertanya mengapa Agler ingin bertemu Hans, tapi ia tahu jawaban takkan pernah ada. Maka ia pun membawa Agler masuk ke dalam, sementara di suruhnya Agler menunggu segera di panggilnya Hans.


Dengan heran Hans berjalan ke ruang tamu, namun baru saja kakinya masuk ke ruangan itu pandangan mereka saling beradu dan.


Buk


Satu pukulan yang cepat mendarat tepat di pelipis Hans hingga membuatnya jatuh tersungkur, tak bisa lagi menahan amarah Agler sudah bersiap untuk serangan yang ke dua.


Zzzzzhhhaaass...


Ah


"Tunggu!" teriak Hans segera membuat perisai yang mengakibatkan Agler tak bisa menyentuhnya.


"Kenapa kau tiba-tiba memukulku?" tanyanya bingung.


Agler hanya menatapnya tajam sementara Jack juga hanya bisa menatap bingung kedua cucunya itu.


Beberapa detik kemudian Hans melenyapkan perisainya, saat itulah anggota keluarga Hans yang lain muncul karena mendengar kegaduhan itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Amelia.


Tak ada yang menjawab, semua orang jelas memperhatikan Agler dan Hans yang saling beradu pandang dengan tajam.


"Aku tidak akan pernah memafkan perbuatan kotormu, hari ini juga kau harus membayarnya" ujar Agler dingin.


"Apa maksud mu?" tanya Hans yang masih saja tak mengerti.


"Cih, memang benar apa yang di katakan Chad. Kau tidak akan pernah mengakui tindakan keji yang telah melukai Alisya" sahut Agler.


Akhirnya mereka paham akan situasinya, ini menyangkut fitnah yang terjadi beberapa waktu lalu.


"Agler kau salah paham, Hans tidak melakukan apa pun pada gadis itu. Ini semua karangan Joyi agar Chad semakin membenci kami, kau harus percaya itu!" ungkap Jack yang tak ingin melihat pertengkaran itu lagi.


"Apa gunanya terus mengelak? jika benar kau tidak melakukannya maka buktikan bahwa kau tidak bersalah!" teriak Agler murka.


Hans tak menjawab, ia sudah lelah terus di tuduh akan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.


Semua orang yang ada di sana juga terdiam, tak ada yang berani bicara atau bertindak apa pun. Untuk beberapa saat pun Agler hanya menatap tajam sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Setelah kepergian Agler wajah Jack dan Amelia nampak lebih cemas, tentu karena masalah ini dapat membahayakan nyawa Hans.


"Hans... " panggil Kyra yang sedari tadi jadi penonton.


Hans menengok, menatap Kyra yang berjalan ke arahnya.


"Kau punya waktu selama dua minggu sebelum kita sibuk dengan pernikahan ku, cepat selesaikan masalah ini karena aku tidak mau Hakan ikut terlibat" ujarnya tajam.


Ini adalah kali pertama Hans mendengar nada tajam yang di ucapkan Kyra kepadanya, tentu hal ini membuatnya cukup kaget dan merenungkan banyak hal.


Padahal rencananya ia akan menyelidiki tentang pil yang menghubungkan Jack dengan Tianna, tapi jika keadaannya begini maka ia harus benar-benar menyelesaikan masalahnya.


Hans memilih untuk pergi menemui Reah, tentu karena dia adalah satu-satunya saksi yang mengetahui peristiwa tentang malam itu.


Hans menceritakan masalahnya dan meminta Reah untuk hadir sebagai saksi, kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang.


"Tidak semudah itu Hans" sahut Reah.


"Apa maksud mu?" tanya Hans bingung.


"Saksi bukanlah bukti yang kuat, mereka akan berfikir kau menyewaku untuk melakukan kebohongan. Satu hal lagi, gadis itu lupa akan apa yang menimpa dirinya sehingga ia juga tidak mungkin mengingatku" jelas Reah.


"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" tanya Hans.


Reah berfikir sejenak, menimbang sebelum kemudian ia berkata.


"Sebenarnya kita memiliki satu kesempatan, ada satu hal yang bisa menjadi bukti terkuat untuk membersihkan nama mu"


"Apa itu?"


"Hans, kita dengan sengaja melenyapkan ingatan gadis itu agar ia tak ingat telah melihat vampire. Maka yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan ingatannya, dengan begitu dia adalah bukti nyata bahwa sebenarnya kau justru telah menyelamatkannya"


"Tapi... Reah, jika kita mengembalikan ingatannya maka dia juga pasti ingat telah melihat vampire malam itu. Apa itu tidak masalah? aku masih ingat dia begitu ketakutan malam itu" tanya Hans yang tak tega.


"Ya, mungkin saja ia akan kembali trauma. Tapi kita tidak memiliki cara lain" sahut Reah.


Itu ada benarnya juga, satu-satunya kunci yang bisa membersihkan namanya ialah Alisya. Namun rasa tak tega membuat Hans begitu bingung hingga ia butuh seharian penuh untuk berfikir sebelum akhirnya memutuskan.


"Baiklah, kita gunakan cara itu" ujarnya.


Reah mengangguk, ia pun segera pergi untuk menyiapkan bahan-bahan karena untuk mengembalikan ingatan Alisya mereka perlu membuat sebuah ramuan.


Selama berjam-jam setelah semua bahan terkumpul mereka sibuk meracik, bukan hal mudah karena ada beberapa bahan yang baunya sangat menyengat hingga menyiksa hidung.


Setelah perjuangan yang begitu melelahkan akhirnya mereka berhasil membuat ramuan itu, Reah memasukkan cairan merah itu ke dalam botol kecil dan di berikannya kepada Hans.


"Ingat! pastikan dia benar-benar meminumnya" ujar Reah.


Hans mengangguk, mencoba menelan ludah diambilnya botol itu dari tangan Reah.


* * *


Dari matanya saja Ima tahu sesuatu telah terjadi, meski tak ada kata yang terucap tapi hati mereka telah menyatu sehingga dapat mengerti satu sama lain.


"Ada apa?" tanya Ima tanpa mengharapkan jawaban langsung.


"Agler datang ke rumah" jawab Chad yang membuat Ima kaget, bukan karena berita tentang kakaknya tapi karena Chad yang langsung menjawab pertanyaannya.


"Dia memintaku untuk menceritakan tentang keluarga Hermes padanya, aku sudah mengatakan bahwa jika ia mendengarnya dariku maka yang ia dengar hanya semua sifat jahat mereka. Agler nampak tidak peduli akan hal itu, tapi saat aku menyinggung masalah Hans ia bereaksi " jelasnya.


"Maksudnya masalah Hans yang melecehkan Alisya?" tanya Ima memperjelas.


Chad mengangguk.


"Astaga... kakak pasti akan membunuh Hans" gumam Ima cemas.


Chad terhitung masih baru mengenal Agler, tapi jika Ima mengatakan sesuatu tentang Agler maka ia akan percaya sepenuhnya.


"Aku belum melihat kakak sejak dia pergi dari rumah, pasti sekarang dia sedang menuju kediaman Hermes untuk menemui Hans. Kita harus menyusulnya, aku takut sesuatu akan terjadi padanya" ujarnya.


Tanpa mengatakan apa pun mereka bergegas pergi, namun baru setengah jalan mereka berpapasan dengan Agler.


Dengan panik Ima segera menghampiri Agler, memeriksa tubuhnya hanya untuk memastikan tidak ada yang terluka.

__ADS_1


"Kau menemuinya?" tanya Chad.


Agler mengangguk, tapi tak ada kata yang terucap dari mulut itu.


__ADS_2