Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 53 Undangan Makan Malam


__ADS_3

Cairan biru itu mengeluarkan gelembung tanpa henti di dalam botolnya, secara intens mata Shishio mencatat semua perkembangan itu tanpa melewatkan apa pun.


"Menemukan sesuatu yang bagus?" tanya Tianna yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Belum ada yang pasti" jawabnya singkat.


Shishio beranjak pada meja lain dimana buku-buku kusam berjejer rapih di rak, ia mengambil salah satu buku dan membacanya dengan cermat.


"Hei tuan Shishio, boleh aku tanya satu hal padamu?" ujar Tianna.


"Katakanlah" jawab Shishio tanpa memalingkan wajahnya.


"Kenapa kau mau bergabung dengan kami? apa tujuan mu yang sebenarnya? bukankah...dengan ini kau telah menjadi pengkhianat bangsa mu sendiri?"


"Aku tidak mengkhianati siapa pun, sebelum menyetujui penawaran Keenan aku sudah lebih dulu lepas dari Akademi. Bagi ilmuan seperti ku meski tak sehebat guru Guin atau Alabama tetap saja ilmu pengetahuan adalah nikotin yang kuat, aku tidak bisa pura-pura tuli atau buta"


"Benarkah?" tanya Tianna tak percaya.


"Bagaimana dengan mu? apa yang membuat vampire bangsawan seperti mu mau tinggal di rumah kumuh ini?"


"Ah....tentu saja tujuannya, Keenan menjanjikan istana kepadaku setelah ia berhasil membuat tubuhnya menjadi kuat"


"Begitu ya, sepertinya dia terobsesi dengan kekuatan"


"Lebih dari yang kau bayangkan" ujar Tianna.


Ia bergerak mendekati Shishio dan duduk di atas meja tepat di mana buku-buku itu tersimpan, karena tubuhnya menghalangi cahaya lampu Shishio memalingkan wajah untuk melihat vampire cantik yang usianya tentu lebih tua darinya.


"Awalnya dia hanya sepupu yang pendiam, tapi setelah Viktoria mati tiba-tiba muncul ide gila dalam pikirannya" ucapnya.


Tanpa di minta Tianna pun menceritakan kisah Keenan kepada Shishio, sebab kini Shishio menjadi bagian dari mereka ia juga mencurahkan semua perasaan yang ada dalam hatinya.


Segala rasa iri, benci hingga perjalanan hidupnya yang kini berakhir di sana. Mulai tertarik pada kehidupan Tianna, Shishio mulai mengorek infotmasi lain yang lebih berguna. Ia cukup kaget juga mengetahui Keenan adalah saudara Viktoria, melihat kemiripan mereka dalam hal gila kekuatan membuat Shishio tiba-tiba teringat pada Anna.


"Ah...senang rasanya memiliki mu dalam kelompok ini, Keenan dan si vampore tua itu tidak pernah memiliki waktu untuk berbincang. Sungguh menyebalkan!" tukas Tianna.


"Mm, jika kau butuh teman bicara lagi kau bisa menemui ku"


"Sungguh?" tanya Tianna penuh semangat.


"Tentu saja, bukankah kita sudah menjadi satu kelompok?"


"Ah...senangnya...kau membuatku benar-benar bersyukur" ujar Tianna yang membuat Shishio tersenyum.


Sementara itu di belahan bumi yang lain, tempat para makhluk bersayap menggunakan kekuatannya untuk menyeimbangkan harmoni alam seseorang yang masih berdarah peri namun berwujud manusia dengan kesempurnaan yang hampir tidak nyata baru memulai pertapaannya.


Hal ini di maksudkan untuk merayu Bapa peri demi sebuah ijin yang hampir mustahil, saat bahkan Bapa peri tidak mengacuhkannya lain hal dengan peri kecil bernama Mathilda yang sudah lama berkawan.


"Sebaiknya kau hentinkan Elf, tidak ada gunanya melakukan semua ini. Kau tahu takdir mu di sini, meski suci tapi niat mu merupakan dosa" ujarnya mencoba mengingatkan.


Tapi Elf tetap memiliki kekurangan di atas kesempurnaan fisiknya, hatinya teramat rapuh dan mudah goyah hanya karena satu manusia. Demi satu manusia ini ia relakan berapa pun lamanya tanpa makan dan minum, kelemahan di hatinya itu di satu sisi yang lain memberinya kekuatan untuk bertahan.


* * *


"Nenek, aku perlu bicara" ujar Chad tiba-tiba.


Melihat raut wajahnya yang serius Joyi tahu hal itu pasti teramat penting, maka ia suruh Aeda keluar meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Joyi sambil mengeluarkan kakinya dari bak.


"Kenapa nenek menyuruh Manager San untuk mencaritahu tentang Hans?"


"Tentu saja kepentingan urusan kita" jawabnya seolah tak ada rencana lain.


Tapi Chad terlalu pintar, seumur hidupnya ia telah bergumul dengan kebencian yang menimbulkan dendam. Hanya untuk menjatuhkan perusahaan Hermes bahkan ia telah mempelajari perhotelan sejak di bangku SMP, usahanya membuahkan hasil dengan memanfaatkan Hans meski kini perusahaan itu dapat berdiri kokoh lagi.


"Aku berfikir sesuatu yang lain, apakah ini ada hubungannya dengan perubahan Alisya?"


"Oh Chad, wanita memang seperti itu. Dia selalu memotong rambut atau merubah penampilan jika putus cinta, hal itu biasa di sebuat membuang kesialan"


"Lalu mencoba mencoba mendekati pria lain yang lebih kaya?" tukas Chad dengan nada dingin.


Perlahan ia berjalan mendekati Joyi, menyebarkan aura dingin khas vampire yang mencekam.


"Jangan pernah libatkan siapa pun dalam perang kita, ini adalah masalah ku maka akan ku selesaikan sendiri" bisik Chad lebih pada ancaman.


Ada jeda yang cukup panjang setelah ucapan itu, dua mata yang sama dinginnya beradu pandang tanpa ada rasa takut. Tatapan mereka sama sebab luka yang ada di hati mereka pun sama, bedanya kini Chad memiliki caranya sendiri sehingga Joyi pun memilih untuk menyelesaikannya sendiri.


Merasa cukup atas pemberitahuan itu Chad mulai beranjak pergi, namun Joyi menghentikan langkahnya dengan satu kalimat.

__ADS_1


"Nenek melihat ada cinta yang menyibukkan mu sehingga terus menunda rencana kita."


Chad berbalik, menatap heran pada Joyi.


"Kau tidak bisa sembunyikan apa pun dari nenek, termasuk Ima"


"Dari mana nenek tahu tentang dia?" tanya Chad penuh khawatir.


"Nenek kenal baik ibunya, bahkan nenek kenal baik neneknya jadi bagaimana mungkin nenek tidak tahu tentang Ima? nenek tidak akan memaksamu untuk meneruskan balas dendam ini, kau sudah menemukan inti kehidupan mu jadi kau bisa melepaskan tugas ini"


"Lalu melemparnya pada Alisya?" tanya Chad dengan nada tinggi.


"Jangan pernah lupakan insiden saat Alisya di culik, perlu nenek ketahui aku telah bersumpah di atas kepalanya untuk menjaga dan melindungi Alisya. Jika hidup ku bisa bahagia dengan Ima maka Alisya pun akan ada di sana, sebab dia adalah bagian dari keluarga" lanjutnya mengingatkan.


Terlalu fokus pada masa depan hampir saja ia jatuh mengenaskan, ucapan Chad telah mengingatkannya akan bahaya yang hampir mengancam nyawa Alisya.


"Kenapa...kenapa aku bisa lupa bahwa Hans adalah orang yang menculik cucu ku" gumamnya setelah kepergian Chad.


Terlalu syok atas kebodohannya sendiri Joyi duduk tanpa energi di atas kursi, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika ia benar-benar menjalankan rencananya.


* * *


Ia pernah memikirkan hal ini, hidup menjadi manusia setengah vampire cukup logis karena ayahnya memang manusia setengah vampire. Kenyataan itu dapat ia terima dengan mudah, alasan mengapa ia tinggal di kota kecil pun dapat di mengerti.


Saat ia bertemu Chad sempat terpikir juga sebuah kemungkinan jika Chad adalah kakaknya, mungkin saja orangtuanya memisahkan Chad dan Agler karena suatu alasan.


Ini cukup mengganggu karena setelah sekian lama berhubungan dengan Chad ia baru tertarik pada kehidupan pribadinya, rasa cinta itu menjadi kekhawatiran tak berujung tatkala sebuah kemungkinan muncul dalam benaknya.


Tok Tok Tok


Ceklek


"Belum tidur?" tanya Mina yang menengok dari balik pintu.


Ima menggeleng sembari tersenyum, maka Mina pun masuk dan duduk tepat di samping putrinya itu.


"Biar ibu tebak, kau memikirkan pemuda bernama Chad itu"


"Dari man ibu tahu?" tanya Ima.


"Kita baru membicarakannya beberapa saat, kau pasti khawatir karena ayah mengundangnya untuk makan malam"


Mina tersenyum dan menggosok lengan Ima.


"Dia pemuda yang baik, mengingat dia pun satu ras dengan mu membuat ibu tidak terlalu khawatir. Yah setidaknya ibu yakin dia mampu menjaga mu"


"O-how... apa ibu baru saja memberi lampu hijau?" goda Ima dengan senyumnya yang nakal.


"Masih lampu kuning sayang, setelah ibu melihatnya baru ibu akan memberitahumu lampu apa yang akan ibu berikan selanjutnya" jawab Mina seraya tersenyum.


Hahahaha


Mereka tertawa untuk gurauan ringan yang memang akan terjadi, untuk setiap anak gadis dalam satu keluarga baik sang ayah maupun sang ibu takkan begitu saja membiarkan seorang pemuda menjalin hubungan dengan putrinya tanpa melihat asal usulnya.


Dilihat dari statusnya ia yakin kedua orangtuanya tidak akan mempermasalahkan hal tersebut, tapi dalam karakter itu beda lagi. Apalagi setelah melihat betapa miripnya Chad dengan Agler ia menjadi tak yakin.


"Ibu, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu, katakanlah!" ujar Mina.


Ada satu jeda saat Ima masih berfikir haruskah ia benar-benar bertanya akan hal ini, tapi mau bagaimana pun rasa penasaran itu harus terjawabkan.


"Dimana kakak lahir?"


"Apa? kenapa kau bertanya hal itu?" ujar Mina balik bertanya.


"Aku hanya ingin tahu saja, ayah dan ibu adalah orang kota tapi demi keselamatan kita harus berpindah-pindah terus. Bahkan aku lahir di sebuah desa, karena itu aku penasaran apakah kakak juga lahir di desa"


"Oh itu...kakak mu juga lahir di desa, kau tahu setelah menikah kami memutuskan untuk pergi ke tempat terpencil"


"Orang bilang mengandung anak laki-laki dan perempuan berbeda, apakah ibu merasakan perbedaan saat mengandung kami?"


"Um...tidak juga, ibu tidak merasakan hal yang berbeda"


"Begitu ya" ujar Ima pelan.


"Ibu...apakah aku punya saudara lain selain kakak?" tanya Ima tiba-tiba.


"A-apa maksud mu?" tanya Mina kaget.

__ADS_1


Mereka saling menatap satu sama lain, mencoba saling membaca isi pikiran masing-masing meski hal itu tidak membuahkan hasil.


"Lupakan, aku baru membaca sebuah novel dan terbawa suasana. Ku pikir kakak memiliki kembaran yang sengaja di pisahkan" ujar Ima tersenyum kembali.


"Ah sayang kau ada-ada saja, baiklah ini sudah malam jadi sebaiknya kau tidur" ucap Mina sambil mulai menarik selimut.


Ima berbaring dan membiarkan ibunya menyelimutinya, mereka saling mengucapkan selamat malam baru kemudian Mina mematikan lampu sebelum pergi menutup pintu.


Ia kembali ke kamarnya dan menamui Colt dengan kegelisahan yang tidak bisa di tutup-tutupi.


"Ada apa?" tanya Colt khawatir.


"Mina, dia....bertanya tentang Agler" jawab Mina pelan.


* * *


Ia tahu Chad akan datang menemuinya, meski mereka tidak pernah membuat janji tapi saat ingin bertemu mereka pasti akan bertemu bagaimana pun caranya.


Terlebih setelah kiriman paket itu sudah pasti Chad akan datang, benar saja. Bertepatan dengan desiran angin tubuh tegap itu berdiri tepat di belakangnya, meski gemuruh air terjun cukup berisik tapi Ima bisa mendengar langkah kaki itu mendekatinya.


"Kau sibuk?" tanya Ima sambil membalikkan badan.


"Tidak terlalu, kenapa? kau ingin merampok ku lagi?"


"Heh, aku tidak memintamu mengirimkan barang-barang itu" tukas Ima mulai emosi.


Chad berjalan lebih dekat lagi, membuat jantung Ima pada posisi yang tidak aman.


"Kemarin kau memintanya sambil mengomel, sekarang kau menampiknya begitu saja" ujar Chad pelan.


Ima merenung sampai ia ingat kencannya yang gagal, barulah ia sadar bahwa ia memang mengatakan berbagai macam hal.


"Aku hanya mengomel, aku tidak menyuruhmu untuk memberiku semua itu. Gara-gara kau sekarang aku mendapat kesulitan besar"


"Kesulitan apa yang bisa kau dapat dengan semua kemewahan itu?"


"Ayah ku mengundang mu untuk makan malam di rumah kami, begitu mendengar kau yang menyelamatkannya dan kenal baik dengan paman Jhon dia begitu bersemangat ingin bertemu dengan mu" jawab Ima.


Chad terdiam, kini ia sadar bahwa mereka dalam masalah besar. Ia sangat tahu undangan makan malam itu akan berujung kemana, meski belum mengalaminya tapi ia cukup tahu makan malam hanyalah sebuah alasan.


Meski memang ia mencintai Ima tapi hal ini terlalu cepat, mengingat bahkan mereka tidak memiliki hubungan yang resmi.


"Aku..."


"Tidak!" ujar Ima memotong.


"Aku akan katakan kau sangat sibuk" lanjutnya.


"Tapi aku tidak bisa menolaknya, kau tahu seorang vampire di larang menolak sebuah undangan"


"Tapi....aku tidak yakin" ujar Ima pelan.


"Ada apa? kenapa kau kelihatan gusar?"


"Ah tidak, aku hanya...kau tahu ini adalah untuk pertama kalinya bagiku" jawab Ima beralasan


"Begitu ya, meski begitu kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang bisa membuat orangtua mu marah" ujar Chad menenangkan.


Ima hanya bisa mengangguk, untuk menenangkan hati mereka berhenti membicarakan acara makan malam itu. Beralih pada topik lain yang lebih ringan dan bercanda Ima memutuskan untuk mulai mengoreksi informasi pribadi dari Chad.


"Apa kau punya saudara?"


"Satu-satunya saudara yang ku punya hanya Alisya, dia sepupu ku. Kenapa kau bertanya hal itu?"


"Ah tidak apa-apa, aku sudah lama mengenalmu tapi bahkan tidak tahu tentang keluarga mu" jawab Ima sambil memikirkan nama yang di sebutkan Chad, entah mengapa ia merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat.


"Bagaimana dengan keluarga mu? melihat betapa sibuknya dirimu aku jadi berfikir apa kau sering menghabiskan waktu dengan orang tuamu?" tanyanya lagi.


Chad terdiam mendengar pertanyaan itu, selama ini ia selalu menyembunyikan identitas aslinya bahkan kepada Alisya sekali pun.


"Mereka...sudah tidak ada" jawab Chad pelan.


"Apa? ma-maafkan aku" ujar Ima merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku tidak terlalu sedih karena mereka meninggal saat aku masih bayi. Meski yah...memang terkadang rasanya sakit juga, tapi rasa benci ku lebih besar kepada mereja yang telah membunuh orangtua ku"


"Apa? orangtuamu...di bunuh?" tanya Ima kaget.


"Ayah ku, dia adalah Raja vampire yang khianati" jawab Chad yang membuat Ima lebih terkejut lagi.

__ADS_1


__ADS_2