
Memata-matai seorang vampire tidaklah mudah, mereka punya insting yang kuat serta penciuman yang tajam. Tapi ini bukanlah kali pertama bagi Shishio, ia sudah terbiasa karenanya dengan santai ia bisa mengikuti kemana Tianna pergi.
Rasa penasarannya semakin menjadi melihat Tianna pergi ke daerah perkotaan, meski tempat pertemuannya di sebuah gedung yang terbengkalai.
Beberapa menit menunggu akhirnya pertanyaannya terjawab sudah dengan kehadiran seorang pria yang menemui Tianna, tapi melihat wajahnya membuat pertanyaan dalam benak Shishio semakin bertambah.
Ia sangat mengenali Hans, murid kesayangannya yang telah ia anggap sebagai anak sendiri.
Mengetahui ada perjanjian diantara mereka membuat Shishio cukup geram, ia memutuskan untuk pulang lebih dulu dan menunggu Tianna di rumah.
"Kau sudah pulang?" tanya Shishio duduk di sebuah kursi yang tepat menghadap pintu masuk.
Merasakan aura kuat dari diri Shishio membuat Tianna sedikit heran tapi juga waspada.
"Ya" sahutnya melangkah pelan.
"Aku hanya akan bertanya sekali jadi sebaiknya kau jawab dengan jujur" ujar Shishio lebih pada sebuah peringatan.
"Perjanjian apa yang kau buat dengan Hans?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
Itu cukup membuat Tianna tersentak, tekanan sihir yang di buat Shishio begitu kentara bagi vampire rumahan sepertinya.
"Itu bukan urusanmu" ujarnya memilih untuk pergi.
Whuuussss....
Jleb
"Ah" pekik Tianna mendapati sebuah belati perak melayang kearah kepalanya dan menancap tepat di dinding.
Itu sebuah peringatan lain dari Shishio, ia tidak main-main meskipun mereka memutuskan untuk menjadi satu kelompok.
Perlahan Tianna menoleh, susah payah menelan ludah saat melihat Shishio dengan tatapan tajamnya tak bergeming dari kursi meskipun telah meleparkan belati dengan cukup keras.
"Jack meminta obat dariku, sebagai gantinya aku ingin menjadi menantu keluarganya" ucap Tianna akhirnya.
"Kau membuat perjanjian hanya demi status menantu?" tanya Shishio memperjelas.
"Apa salahnya? setidaknya aku memiliki stastus yang jelas"
"Ku harap kau tidak lupa bahwa keluarga Hermes terpandang di kalangan penyihir" tukas Shishio.
"Aku tidak bodoh! kami melakukan perjanjian dengan sah dan adil" teriak Tianna dengan geram.
Melihat raut wajah Shishio yang mulai melunak ia pun pergi meninggalkan tempat itu, sementara Shishio hanya bisa menggelengkan kepala.
jhek hekhekhek
Tawa parau khas kakek-kakek sedikit membuatnya kaget, tapi setelah mendapati bahwa itu Alabama ia pun kembali santai.
"Sifat alami vampire, kau tidak bisa mengatur keinginannya untuk bermain meski itu berbahaya" ujarnya.
"Ya, aku tahu" sahut Shishio.
Seharusnya ia memang tidak ikut campur dalam urusan Tianna meskipun itu menyangkut keluarga Hermes yang ia sanjung, vampire punya cara hidup mereka sendiri yang tak bisa di tebak.
Hanya saja dalam hal ini ia merasa kasihan pada keluarga Hermes yang terjebak dalam permainan vampire, sekali masuk akan sulit untuk melepaskan diri.
* * *
Wajah Hans yang semakin pucat terlihat menyeramkan saat terkena sinar matahari, ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya yang menandakan kurangnya istirahat malam.
Matanya yang kosong menatap hamparan bunga mawar di taman kastil, ikut melirik saat angin menggoyangkan batangnya ke kanan.
"Hans.. " panggil Jack yang membuatnya sedikit kaget.
"Kakek.. " balasnya seraya tersenyum.
Jack duduk tepat di sampingnya, menatap cucu yang selama ini ia beri ketumpuk harapan. Sama seperti yang ia lakukan kepada Shigima, sayangnya meski mereka adalah ayah dan anak tapi kepiawaian Shigima tidak menurun kepada Hans.
"Kau terlihat pucat, apa kau baik-baik saja?" tanya Jack.
"Ya, aku hanya kurang istirahat saja"
"Begitu ya, minumlah vitamin agar kesehatan mu tidak menurun"
"Aku mengerti"
"Um... bagaimana pekerjaanmu di Akademi?" tanya Jack merasa sedikit kaku.
"Berjalan dengan baik" sahut Hans.
"Um.... Hans, kau tahu Agler adalah sepupumu. Jadi... kau tahu bagaimana hak dia sebagai bagian keluarga Hermes" ujar Jack ragu.
Hans hanya terdiam, membiarkan Jack mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
"Setiap generasi akan di beri tanggungjawab mengelola perusahaan, ayahmu berhasil menanggung beban itu. Kini karena Agler adalah bagian dari Hermes jadi dia... kakek pikir dia berhak mendapatkan kesempatan"
"Bicarakan itu dengannya, dia mungkin menolak karena merasa tak enak padaku tapi aku yakin dia jauh lebih baik darimu" ujar Hans yang tahu kemana arah pembicaraan itu.
"Apa kau tidak keberatan? kau tahu awalnya kau adalah satu-satunya cucu laki-laki di keluarga ini" tanya Jack merasa tak enak hati.
"Sebenarnya kakek memiliki tiga cucu laki-laki, Chad pun termasuk dalam keluarga Hermes dan berhak atas perusahaan juga" ujar Hans mengingatkan.
Itu adalah sebuah kebenaran, andai Chad pun berada di pihaknya maka Jack punya tiga pewaris utama yang bisa ia pilih sebagai penerus Shigima.
Sayangnya Chad berada di tempat yang berlogo musuh sehingga yang bisa ia harapkan hanya Agler.
Dalam makan malam dikediaman Hermes Jack telah memutuskan untuk mengumumkan hal itu.
"Ada satu hal yang ingin aku umumkan kepada kalian" ujarnya.
Semua anggota keluarga menghentikan aktifkan makan mereka sejenak untuk mendengarkan.
"Seperti yang kita tahu Agler adalah bagian dari keluarga Hermes, sebagai anak sah dari Rei maka dia berhak mendapatkan fasilitas yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Mengingat Agler adalah cucu laki-laki sama seperti Hans maka sebagai kepala keluarga aku telah memutuskan untuk memberikan hal yang sama kepadanya" umumnya.
Semua mata tentu tertuju pada Agler, sementara ia hanya balas melirik mereka sejenak sebelum kembali menatap Jack.
"Mulai besok Agler akan bekerja di kantor sebagai Direktur Utama" ujarnya sambil tersenyum.
Tentu pengangkatan ini atas persetujuan Agler sendiri, ia menyanggupinya meski belum memiliki pengalaman.
"Selamat bung" sahut Hans mengangkat gelasnya.
"Terimakasih" jawab Agler.
Tring
Gelas mereka beradu tepat di hadapan Amelia yang kurang senang akan berita itu, sejak awal kedatangan Agler entah mengapa ia sudah merasa tidak nyaman.
Seolah kedatangan Agler telah di atur sedemikian rupa, dan kini posisinya telah menyanggantikan putranya yang bagai orang asing.
Tak berani membantah Jack Amelia memutuskan untuk bicara dengan Shigima setelah selesai makan malam.
"Menurut mu tidak apa membiarkan Agler menduduki jabatan penting seperti itu?" tanyanya.
"Kenapa? di berhak memilikinya"
"Tapi dia masih baru, bagaimana jika dia tidak sanggup?"
"Apa? kau lebih bangga terhadap keponakan dari pada putramu sendiri?" tukas Amelia seolah dia yang di rendahkan.
"Tidak begitu sayang, kita tahu kelebihan dan kekurangan Hans. Sejak awal dia sendiri yang bilang tidak sanggup bekerja di kantor, justru kita yang terlalu memaksanya karena dia adalah penerus satu-satunya. Tapi kini berbeda, Hermes juga memiliki Agler yang perlu kita uji" jelasnya sambil mengelus pundak istrinya itu.
"Entahlah, aku tidak yakin" ucap Amelia pelan.
* * *
Awal pekerjaannya sebagai Direktur Utama lebih pada pengenalan, tentu ia harus tahu orang-orang penting di perusahaan selain Shigima dan Jack.
Selesai pada perkenalan yang cukup singkat itu Agler mulai di beri beberapa laporan yang mengharuskannya paham visi misi dari perusahaan yang di kelola Hermes grup.
Di hari pertama kerja ia merasa cukup santai, hingga tiba waktunya pulang ia meminta Shigima pulang sendiri tanpa dirinya.
Itu di karenakan ia harus pergi ke suatu tempat, sebuah bangunan yang Joyi sebut sebagai rumah hangat.
Tok Tok Tok
"Ya... sebentar" teriak seorang wanita dari dalam.
Agler menunggu hingga pintu akhirnya terbuka, Mina terpaku di depan pintu menatap putra tercintanya berkunjung dengan stelan jas seperti Chad.
"Hai bu, apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum manis seperti biasa.
"Masuklah" sahut Mina tanpa menjawab pertanyaan itu.
Senyum Agler menghilang melihat raut wajah Mina yang kusam, merasa bersalah ia menundukkan kepala saat berjalan melewati Mina untuk masuk ke dalam rumah.
"Kakak?" teriak Ima sambil mengerutkan kening.
"Apa kabar?" tanya Agler segera memeluk adik tersayangnya itu.
"Baik... ah astaga... aku pikir tadi Chad"
"Hai nak! kau benar-benar terlihat seperti Chad, tentu jika kau potong rambutmu aku sudah tidak bisa membedakan kalian" sahut Colt yang juga kaget melihat Agler dengan stelan jas.
"Kakek memberikan tugas kepadaku sebagai Direktur di perusahaan, tentu aku harus berpakaian rapih" ujarnya.
"Benarkah? kalau begitu selamat" ucap Ima sambil menyalami kakaknya itu.
"Itu bagus, sekarang kau sudah resmi menjadi keluarga Hermes hingga saat kau berkunjung kemari kau perlu mengetuk pintu seperti tamu kebanyakan" ujar Mina sambil berjalan melewati mereka.
__ADS_1
Mereka terdiam, itu adalah ucapan dari bentuk kekecewaan seorang ibu yang merasa terbuang.
"Ah... sudah waktunya makan malam, ayo nak! kita makan bersama" ujar Colt mencoba mencairkan suasana.
Agler dan Ima mengangguk, segera pergi dan duduk di tempat biasa mereka duduk.
Meski tak ada senyum di wajah Mina tapi ia tetap melayani Agler seperti biasa, Agler pun mulai bersikap seperti biasa sebagaimana putra sulung dalam keluarga itu.
Selesai makan malam mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga, menonton televisi dan mendebatkan hal-hal kecil seperti biasa. Rumah itu kembali ramai dengan teriakan Ima yang tak mau kalah dari Colt dan tawa Agler yang sesekali melerai perkelahian antara ayah dan putrinya.
Namun di sudut ruangan itu Mina nampak murung seolah yang ia lihat adalah kilas balik dalam hidupnya, Agler yang peka segera mengelus tangan Mina untuk memberikan senyum yang menenangkan.
"Aku akan buat kopi, kalian mau?" tawar Mina sambil berdiri.
"Oh ya, buatkan untuk ku" sahut Colt.
"Aku ingin coklat panas bu" tambah Ima.
Sementara Agler segera pergi menyusul ke dapur, mendapati ibunya tengah menangis diam-diam sambil memasak air.
Ia tahu dari mana asal air mata itu, jelas kesedihan yang dirasakan Mina adalah perbuatan dirinya.
"Maaf karena aku baru berkunjung" ujarnya pelan penuh rasa bersalah.
"Sudah cukup dengan jaga dirimu, ibu tahu kau akan sibuk dengan berbagai aktivitas di keluarga itu" ucap Mina yang semakin membuat Agler semakin bersalah.
"Ibu... Aku janji akan sering berkunjung, tolong jangan terlalu mengkhawatirkan aku" pintanya.
"Keluarga itu sangatlah asing bagimu meski darahnya ada dalam DNA mu, ibu yang lebih tahu bagaimana mereka" tukas Mina dengan suara yang lebih tinggi.
"Baiklah aku mengerti, tapi sejauh ini mereka baik dan tak ada masalah apa pun jadi ibu tidak perlu cemas"
"Bagaimana ibu tidak cemas? begitu cepat kau mendapatkan kedudukanmu dan percayalah pada ibu itu bukan hal yang baik, akan selalu ada persaingan"
"Ibu.. aku hanya mencobanya, jika aku tidak sanggup aku bisa mengundurkan diri" ujar Agler.
Masih ada banyak kata dalam benak Mina yang siap di keluarkan, tapi ia memilih untuk bungkan dan tak meneruskannya karena ia tahu semua itu percuma.
"Ibu hanya... itu mengingatkan ibu pada Anna, dia banyak menderita meski terlahir sebagai gadis dalam keluarga itu" ujar Mina kini lebih tenang.
Agler meraih tangan ibunya, meremasnya dengan pelan.
"Maafkan ibu.. " ucap Mina lemah.
"Tidak apa, aku mengerti" sahut Agler merangkul.
Memberikan rasa nyaman dan aman agar Mina berhenti cemas, sejak dulu Mina memang punya masalah dengan kecemasan berlebih jika menyangkut anak-anaknya.
Hal ini kadang begitu mengganggu tapi Colt sudah sangat mengerti begitu juga dengan Agler, berbagai masalah serius yang pernah Mina lewati dulu memang berdampak menjadi trauma yang cukup serius.
* * *
Di ketinggian itu tanpa ada apa pun ia bisa melihat jelas pemandangan kota, begitu menawan dengan lampu yang bersinar terang. Seperti bintang dengan jumlah yang banyak, hingga terkadang menyilaukan.
Whuuuusssss...
Angin mencoba menyapa mantelnya, berharap ia akan ikut terbang namun rupanya hanya bergoyang sedikit saja.
Tap Tap Tap
Joyi menutup mata, mengenali langkah kaki yang datang menghampirinya.
"Bukankah udara malam ini terasa sejuk?" tanyanya tanpa berbalik.
"Ya, tapi untuk seusia ku. Seharusnya kau berada di depan perapian menikmati teh hangat atau merajut untuk calon cucumu" jawab Agler yang berhenti lima langkah dari Joyi.
"Aku bukan wanita tua yang suka merajut" balas Joyi sambil membalikkan badan.
"Kau harus belajar karena aku sudah mengambil keputusan untuk meminang Alisya" ujar Agler seraya tersenyum.
Wajah Joyi mendadak serius mendengar ucapan itu, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan sombong ia berkata.
"Seorang anak tukang jahit tidak pantas bersanding dengan cucuku"
"Aku berdiri sebagai Agler Hermes, jika boleh ku katakan status ku adalah Direktur Utama. Saat ini bahkan aku bisa mengambil beberapa proyek yang sedang Chad persiapkan"
"Kau mungkin saudaranya, tapi Chad tidak akan memberikan proyeknya dengan cuma-cuma" ujar Joyi memperingati.
"Apa perkataan ku kurang jelas? aku berkata untuk mengambilnya bukan memintanya, sebaiknya kau mulai bersiap sebagai seorang presdir" ucap Agler penuh percaya diri.
Dia berdiri dengan begitu tegak dengan mata tajam yang terpaku pada Joyi begitu pun sebaliknya, saat angin berhembus diantara mereka ia hanya berhasil menggerakkan pakaian yang mereka kenakan.
Bukan tubuh apalagi menggoyahkan pendirian yang telah di bentuk kedua belah pihak, pertarungan baru saja di mulai.
Tanpa peringatan lainnya Agler membalikkan badan, berjalan meninggalkan tempat itu untuk mempersiapkan senjata perangnya.
__ADS_1