
Pesta selesai di gelar, kini keluarga Hermes berkumpul untuk menikmati masa-masa kebersamaan mereka.
"Melihat semua penerus ku hadir membuat hatiku sangat senang, sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini sejak lama. Tapi aku belum memberitahu kalian sebab aku masih menunggu keadaan perusahaan stabil" ujar Jack.
"Ryu, bagaimana kondisi keluarga mu di luar negeri?" tanyanya.
"Kami baik ayah, semuanya baik-baik saja"
"Di dunia ini sekarang aku hanya punya kalian berdua, Shigima dan Ryu kalian adalah penerus keluarga Hermes. Aku sudah banyak kehilangan dan tidak ingin hal itu terjadi lagi di usiaku yang sudah renta, karena itu aku ingin kau mengambil nama Hermes dan ikut tinggal bersama kami di sini"
"Aku mengerti perasaan ayah, tapi aku harus berfikir dulu tentang hal itu"
"Kenapa ayah? aku senang jika kita bisa tinggal di sini, rumah kita kecil ayah. Sedang di sini aku bisa mendapatkan kamar yang lebih luas dan aku juga bisa bersama kakek sepanjang waktu" ujar Kyra yang setuju akan saran Jack.
"Terimakasih anak manis, kau memang samudra ku" ujar Jack sambil mencubit dagu Kyra.
"Blue... ada banyak yang harus kita urus jika ingin tinggal di sini, apa kau tidak masalah berpisah dengan teman-teman mu di sana?" tanya Ryu.
"Itu tidak masalah, aku bisa mendapatkan teman baru di sini"
"Sudahlah, lagi pula dengan gaji mu yang hanya seorang dokter hidup kita pas-pasan di sana. Kau juga sering ada urusan di sini kan? jadi lebih baik kita ikuti keinginan ayah" ucap pula Violet.
"Hmmm, baiklah aku akan ikut tinggal dengan ayah lagi" ujar Ryu yang kalah suara.
"Itu bagus, sekarang keadaan perusahaan sudah baik. Lusa nanti kita akan kembali ke kastil Hermes, jadi Ryu mulailah urus kepindahan kalian"
"Baik ayah"
Yeeeeyy.....
Sorak Kyra yang senang.
* * *
"Aku pulang... " teriak Ima sambil membuka pintu.
"Selamat datang, kau ingin kacang?" tawar Mina.
"Mau... " ujarnya segera mengambil tempat duduk di samping Mina.
"Kakak, aku ada tugas matematika bisakah kau membantu ku?"
"Hmmm" jawab Agler tanpa memalingkan matanya dari TV.
'Kakak kenapa?' bisik Ima kepada ibunya sebab jelas raut wajah Agler nampak berantakan, Mina hanya mengangkat bahunya tanda ia pun tidak tahu.
'Ibu rasa kakak mu terkena flu cinta, kemarin tiba-tiba dia menanyakan masa lalu ibu dan ayah' balas Mina berbisik.
'Benarkah? dia sedang jatuh cinta?'
'Kemungkinan besar seperti itu'
"Berhentilah saling berbisik, aku dapat mendengar jelas apa yang kalian katakan!" ujar Agler yang membuat ke dua orang itu kaget.
"E-ehm, jika kakak mengalami kesulitan aku siap membantumu" kata Ima menawarkan diri.
"Tidak perlu.. aku baik-baik saja"
"Apa kau masih ragu pada hatimu?" tanya Mina penasaran.
"Aku tidak ragu pada hatiku, hanya saja... ah sudahlah tidak perlu membahas hal itu" jawab Agler yang mulai tak nyaman.
"Kalau begitu bersemangatlah, kenapa kau murung hanya karena satu wanita? kau ini tampan, jika satu gadis meninggalkan mu maka carilah yang lain"
"Dia tidak meninggalkan ku" sergah Agler.
"Setidaknya... untuk saat ini" ralatnya sebab memang kenyataannya Alisya pernah lari darinya,
"Ah.... aku mengerti, jadi dia manusia biasa ya. Tapi ibu bisa menerima ayah meski tahu siapa ayah, jadi aku yakin wanita yang kau cintai itu juga pasti akan menerima mu apa adanya"
"Memang tidak mudah, ibu juga cukup sulit menyesuaikan diri dengan keadaan ayah mu tapi bukan berarti tidak bisa"
"Tiba-tiba aku jadi penasaran, bagaimana kisah ibu dengan ayah dulu?" tanya Ima.
__ADS_1
"Kau sudah dengar cerita cinta kami ribuan kali, apa yang membuatmu masih penasaran?" balas Mina.
"Sosok teman yang selalu ibu bilang pahlawan itu, bukankah dia berperan besar dalam kisah asmara ibu? bagaimana keadaannya sekarang? apa ibu tahu dia tinggal di mana sekarang?"
Mina menatap kedua mata putrinya, ia sedikit ragu tentang haruskah mereka tahu tentang wanita itu.
"Dia adalah seseorang yang puja tapi juga di anggap aib, dia adalah pahlawan sekaligus pengkhianat. Setahu ibu bahkan bangsa penyihir menghapus segala sesuatu yang berkaitan dengannya, hanya di bangsa vampire saja yang masih mau mengangkat kisahnya itu pun mereka yang kagum akan kekuatan dahsyatnya. Dia adalah sesuatu yang terlarang"
"Apa maksud ibu?" tanya Agler penasaran.
"Berjanjilah kalian tidak akan mengungkit namanya atau menanyakan tentang dirinya lagi setelah ibu menceritakan tentang dirinya"
"Kenapa seperti itu?"
"Ini masalah sensitif, jika kalian menyebut namanya dan terdengar baik oleh vampire atau penyihir maka kalian bisa dalam masalah. Seperti yang sudah ibu katakan ada yang menyebutnya pengkhianat karena itu baik vampire atau penyihir ada yang membencinya"
"Kami mengerti" ujar Ima.
"Dia... adalah dewi keabadian atau... Anna"
"Anna... rasanya aku pernah mendengar namanya" gumam Agler.
"Apakah... dia Anna yang membunuh Ratu Viktoria?" tanya Ima.
"Dari mana kau tahu?" tanya Mina kaget.
"Ah aku baru ingat, guru Nick pernah menceritakan tentang dia kepada kami" ujar Agler.
"Begitu rupanya, yah... bagi sebagian vampire memang dia di kagumi karena kekuatannya"
"Tapi ibu, guru Nick bahkan tidak tahu sebenarnya dia siapa. Waktu pertama kali datang ke istana dia seorang penyihir, lalu dia menghilang entah kemana dan kembali lagi sebagai vampire bangsawan jadi sebenarnya siapa dia?" tanya Ima semakin penasaran.
"Ibu juga tidak tahu, tapi yang jelas dia adalah Dewi keabadian. Saat pertama kali bertemu ibu hanya melihat dia seorang gadis kaya yang tampil sederhana, dia sedikit tomboi tapi sangat cantik dan baik"
"Lalu?" tanya Ima semakin penasaran.
Mina tersenyum, ia pun menceritakan kisah masa lalu dimana dirinya adalah gadis muda yang memiliki mimpi. Ia menceritakan bagaimana persahabatan yang ia jalin dengan Anna, lalu saat dimana Anna hadirnya kerenggangan diantara mereka sebab ia lebih memilih percaya pada Colt meski akhirnya di khianati.
Kisah yang panjang itu menghabiskan waktu yang cukup lama sampai tanpa terasa mereka duduk di sana selama berjam-jam hingga tiba waktunya makan malam.
"Menurut ibu... Kira-kira kemana dia hilang?" tanya Ima.
"Selama jasadnya atau kuburannya tidak ada kami semua percaya dia masih hidup, tapi mungkin dia tidak hidup du dunia kita. Mungkin sekarang dia berada di tempatnya yang seharusnya, tempat dimana para dewi sepertinya tinggal, tempat yang tidak seorang pun tahu."
...----------------...
Tanpa daya seekor tupai berbaring di atas dedaunan kering, nafasnya tak beraturan sampai sebuah sentuhan membuatnya lebih nyaman. Dari botol kayu yang kecil tupai itu menelan dua tetes air, perlahan nafasnya membaik dan secara tiba-tiba ia melompat ke depan.
Ah hahaha
"Begitu sehat kau langsung menjadi agresif lagi ya.. " ujar seorang gadis yang tidak bisa menahan rasa gelinya.
Tupai itu mulai berlari ke atas pohon dan tiba-tiba ia menjatuhkan biji ek tepat di depan wanita itu.
"Apa ini hadiah untuk ku?" tanya wanita itu sambil memungutnya.
"Hmm, baiklah.. terimakasih" ujarnya.
Ia pun berjalan kembali, gaunnya yang panjang menyapu dedaunan hingga beberapa lembar ikut dengan langkahnya. Seolah tak mau kalah angin pun berdesir menyapa rambutnya yang panjang, dan matahari tiba-tiba menyinarinya. Memantulkan cahaya dari rambut peraknya, seluruh alam kini ikut bersenandung dengannya.
* * *
Jack lebih dulu pergi bersama yang lain sebab Shigima masih harus mengurus beberapa berkas, kakinya lah yang pertama kali turun di depan gerbang kastil.
Matanya yang mulai rabun menatap gerbang yang begitu megah dengan tembok tinggi mengelilingi kastil seratus lebih itu, ada rasa haru ketika tiba-tiba ia ingat saat pertama kali di depan gerbang itu seorang gadis kecil berdiri menatapnya.
Perlahan ia berjalan mendekatinya, dengan tangannya yang masih kecil saat itu Jack menggenggam tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam.
Orangtuanya berkata dia adalah orang yang akan setia pada nama Hermes, dia adalah pelayan setia yang sudah dia anggap sebagai bagian dari keluarga. Gadis kecil itu adalah Joyi, beberapa hari kemudian dengan sigap Joyi membantu segala kebutuhannya padahal ia sama-sama masih kecil.
Bahkan keuletan Joyi selalu mendapat pujian dari kedua orang tua Jack, meski tidak pernah duduk di bangku sekolah tapi Joyi mendapat pelajaran bagus dari guru yang sengaja di datangkan untuknya.
Kreeett.....
__ADS_1
Dengan kedua tangannya ia membuka gerbang itu, satu langkah kakinya yang memasuki area pekarangan kastil mengingatkannya pada langkah-langkah kecil yang diambil Ken, Ryu dan Reinner.
Mereka adalah anak-anak Hermes pertama yang masuk ke dalam kastil sebelum menginjak usia lima belas tahun, kemudian Shigima bergabung dan menjalankan tugasnya sebagai abang sulung dengan baik.
Yang terakhir dan yang paling dia nantikan adalah kedatangan Anna, putri bungsunya yang ternyata adalah anak sulung.
Ceklek
Ada sebuah spanduk besar bertuliskan 'Selamat Datang' tepat di hadapan pintu dengan hiasan balon-balon dan lantai yang berantakan, itu adalah salah satu kehebohan yang terjadi untuk menyambut kedatangan Anna.
Ia tersenyum sendiri, mengingat bagaimana Anna memarahi keempat kakaknya karena menghias kamarnya tanpa persetujuan darinya. Ia juga masih ingat Anna menolak hadiah yang ia berikan karena tidak mau ikut tinggal di kastil.
Ada banyak kebahagiaan yang ia rasakan dulu di dalam kastil itu, kebersamaan dan kehangatan sebagai keluarga yang utuh. Sayang di penghujung usianya kini dari kelima anak yang ia miliki hanya tertinggal dua yang masih ada untuknya, ia tak menyangka mereka pergi di usia yang sangat muda.
"Jack... " panggil Jessa.
"Oh... tempatnya sudah bersihkan kemarin, kau bisa langsung ke kamar dan menaruh barang-barang mu" ujarnya.
Dengan tangannya yang penuh keriput Jessa menghapus air mata yang mengalir di pipi Jack, kesedihan yang meradang di hatinya pun ikut Jessa rasakan.
"Tak apa...." ujarnya pelan.
"Maafkan aku... tiba-tiba aku sangat merindukan anak-anak ku, kastil ini dulu begitu ramai terlebih saat Rei dan..... putri kita sering berkelahi. Terkadang itu mengganggu tapi cukup menyenangkan" ujarnya.
"Kita masih ada Shigima dan Ryu, dari mereka berdua kita memiliki Hans dan Blue"
"Kau benar, ayo masuk! udara di luar cukup dingin" ajaknya.
Di bantu oleh beberapa pelayan yang baru tiba mereka mulai membereskan barang-barang, tiba saat makan malam barulah Shigima datang untuk bergabung.
Dia melaporkan tentang pekerjaan di mana mereka punya kesempatan untuk membeli saham, hal itu tentu membuat Jack senang karena perlahan mereka bisa memiliki kembali aset-aset yang telah mereka jual.
"Besok Ryu dan keluarganya akan datang, perlukah kita menambah jumlah pelayan?" tanya Shigima.
"Jika memang di butuhkan kenapa tidak?" ujar Jack.
"Sayang sekali besok aku tidak bisa ikut bergabung" ucap Hans tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Amelia.
"Aku harus kembali bertugas, akhir-akhir ini semakin banyak vampire ganas berkeliaran. Baru saja aku mendapat kabar salah satu ksatria di regu ku terpaksa harus istirahat karena mengalami cedera saat bertugas"
"Astaga... kasian sekali teman mu"
"Untuk itulah aku tidak bisa berleha-leha, tolong sampaikan permintaan maaf ku pada paman dan yang lain"
"Tentu saja, kau juga berhati-hatilah!"
"Baik ibu, aku mengerti" jawab Hans.
Esok harinya pagi-pagi sekali Hans sudah pergi, sedang Violet dan Blue masih baru saja sampai di bandara.
"Blue... kita pergi naik taksi, ayah mu ada urusan mendadak sehingga tidak bisa menjemput kita" ujar Violet.
"Ah menyebalkan! kenapa ayah selalu saja ada urusan mendadak saat kita membutuhkannya?" ujarnya kesal.
"Jangan mengeluh Blue, bagaimana kalau kita istirahat dulu di hotel beberapa jam sebelum pulang? kau pasti lelah karena perjalanan jauh"
"Ide yang bagus, kita tidak perlu buru-buru lagi pula kita pulang ke rumah bukan mau bisnis" jawabnya.
Violet segera mencari hotel terdekat, sebagai wanita yang tak lagi muda ia memang mudah lelah sehingga memilih untuk tidur di kamar. Tapi tidak dengan Kyra, dia masih menyimpan banyak energi karena itulah ia memilih pergi jalan-jalan sendiri.
Sudah lama ia tidak datang ke kota itu, terakhir kali yang ia ingat adalah saat usianya tiga belas tahun. Ia cukup rindu pada kota itu karena memang ia menyukai tempatnya, di negara ini ia memiliki nama Hermes yang tersohor dan di pandang sebagai putri.
"Wah... eskrim!" ujarnya menatap kedai yang buka tepat di depan mata.
Dengan penuh semangat ia segera berlari namun sepatu haknya menginjak kerikil sehingga mengakibatkan tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Aaahh...
Srek...
Sesosok tubuh menangkapnya tepat waktu, beberapa detik Kyra masih terdiam karena kaget tapi kemudian perlahan ia bangkit dan menatap wajah orang yang telah menyelamatkannya.
__ADS_1
Manager San tak mampu melepas pandangannya dari wajah cantik yang memiliki mata sebiru langit, kesempurnaan yang tiada banding membuatnya terpana hingga tanpa sadar ia menahan nafas.