Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 151 Surat Wasiat


__ADS_3

Cinta, baginya itu merupakan satu wanita yaitu Jessabelle. Betapa hidup adalah kebahagiaan di detik saat gaun putih itu menyapu jalan menuju altar, tempat dimana ia berdiri dengan stelan jas dan sekuntum bunga yang terselip di dadanya.


Wajah cantik itu selalu dapat memukau bahkan sampai seseorang berkata ia telah keriput, senyumnya selalu ia nantikan di setiap malam sebelum ia menutup mata dan pagi sebelum memulai hari.


Tapi cinta yang membutuhkan pengorbanan dan derita di dalamnya hanya memiliki kebahagiaan tanpa kedamaian, untuk itulah ia telah memutuskan akan meraih kedamaian itu sendiri dengan caranya.


Melihat betapa banyak penderitaan yang terjadi akibat dari kecintaannya yang egois, ia sudah tak bisa menahannya lagi.


Whuuuuuussss


Angin bertiup dengan kencang, ini adalah waktu yang tepat.


Syuut...


Bruk.


* * *


Dia adalah gadis muda yang telah mendedikasikan diri kepada keluarga Hermes, seperti yang di katakan para seniornya 'tutup telinga dan matamu saat sedang bekerja, semakin sedikit yang kau ketahui maka semakin baik' maka apa pun yang terjadi di kastil tua itu dia tak perduli.


Masa berkabung masih berlanjut, ia harus sudah bangun lima menit lebih awal dari biasanya untuk mulai bekerja.


Hujan yang mengguyur bumi beberapa malam terakhir membuat taman lebih berantakan dari biasanya, namun baru saja ia tiba di taman sebuah pemandangan mengerikan menyita perhatiannya.


Aaaaaaaa.........


Dalam waktu singkat semua orang telah berkumpul di sana, beberapa pelayan menatap ngeri sambil saling berbisik sementara yang lain sibuk menenangkan anggota Hermes yang syok terlebih Amelia.


Dari semua orang dialah yang paling tak dapat menerima kenyataan, meski sebenarnya di luar sana Chad sama syoknya saat mendengar berita kelam itu.

__ADS_1


Bersama dengan Agler ia pergi ke rumah duka, saat tiba semua mata tertuju pada mereka terlebih pada Chad. Itu membuatnya sedikit merasa risih, seolah dialah yang telah melakukan ini semua.


Langkah pelannya akhirnya berhasil membawanya tepat di hadapan peti mati, dengan mata kepala sendiri ia bisa melihat tubuh kakek tua itu telah kaku tanpa nyawa.


Sungguh akhir yang tidak bisa ia terima, bagaimana bisa musuh terbesarnya pergi begitu saja padahal ia rasa dosanya belum di tebus.


Dengan tangannya sendiri ia memastikan hal itu bukanlah permainan, denyut nadinya benar-benar hilang.


Anehnya berapa kali pun ia memastikan tetap saja Jack benar-benar telah pergi untuk selamanya, semua itu nyata hingga peti matinya di semayamkan.


"Kau kelihatan pucat" ujar Ima menghampirinya yang terdiam di barisan paling belakang.


"Bagaimana bisa hal itu terjadi?" gumamnya.


"Saat di temukan dia sudah dalam keadaan tidak bernyawa, jatuh dari lantai atas dalam cuaca dingin. Meskipun dia adalah penyihir tetap saja itu adalah cara bunuh diri yang ampuh"


"Tapi mengapa?" tanya Chad lagi tak mengerti.


Di hadapan cinta terkadang semuanya memang terlalu konyol, sebagai salah satu pemegang kisah yang luar biasa Chad hanya belum bisa menerima karena semua terjadi dengan cepat dan terlalu mendadak.


Ia memutuskan untuk pulang lebih dulu, sementara Ima akan tetap tinggal untuk menemani Kyra.


Esoknya ia mendapat undangan dari seseorang untuk datang ke kediaman Hermes, ini agak aneh karena dia tidak mengenali pria yang mengundangnya namun ia tetap hadir.


Di sebuah ruangan seluruh anggota Hermes duduk untuk memenuhi panggilan, termasuk cucu dan menantu.


"Sebelumnya saya minta maaf karena telah memanggil kalian secara mendadak, perkenalkan nama saya Damian pengacara pribadi tuan Jack Hermes" ujarnya.


Para anak dan menantu Jack saling bertatapan, tentu karena mereka tidak pernah tahu bahwa Jack memiliki pengacara pribadi.

__ADS_1


"Tujuan saya memanggil anda semua adalah karena ada hal yang perlu saya beritahukan, ini merupakan surat wasiat yang tuan Jack tulis sebelum kepergiannya" lanjutnya yang membuat semua orang semakin kaget.


"Segala pertanyaan bisa kalian simpan dahulu, setelah saya selesai membacakan surat wasiat ini akan saya jawab semua pertanyaan yang bisa di jawab. Apakah kalian paham?" tanyanya yang segera di susul oleh anggukan kepala dari semua orang.


Maka dia pun mengeluarkan sebuah kertas, itu merupakan kertas yang Jack berikan di malam saat langit masih memuntahkan air secara intens.


Dengan suara yang lantang agar semua orang dapat mendengarnya dan intonasi yang tepat agar terdengar jelas, Damian membacakan surat wasiat Jack kata demi kata hingga akhir dimana Jack membubuhkan tanda tangannya.


Isi dari surat wasiat itu sangatlah normal, sama seperti wasiat pada umumnya yang menyatakan pembagian harta warisa. Hanya satu yang menjadi pertanyaan semua orang, mengapa Jack memanggil kembali Joyi untuk menjadi kepala pelayan di kediaman itu.


Tak percaya pada apa yang di dengar Chad minta ijin untuk melihat surat itu, Damian memberikannya agar Chad bisa melihat bahwa tulisan itu benar milik Jack.


"Saya sudah pastikan tuan Jack menulisnya dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan siapa pun, karena itu surat wasiat ini bersifat permanen sehingga semua nama yang ada di dalamnya berhak atas pemberian tuan Jack"


"Tapi kenapa ayah ingin Joyi kembali ke rumah ini? dia bukanlah orang baik" tanya Amelia gusar.


"Sekali lagi saya tekankan, semua nama yang tertulis di surat ini berhak mendapatkan pemberian tuan Jack" jawabnya.


Semua terdiam, tak ada yang bisa membantahnya. Hanya saja jelas Amelia keberatan dalam hal ini, sehingga yang bisa ia lakukan hanya menatap Chad dengan sinis.


Pertemuan itu cepat berakhir karena semuanya cukup jelas sehingga tak ada yang perlu di pertanyakan, Chad sendiri yang masih bingung memilih diam di ruang baca sambil mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Terlalu tidak masuk akal bukan?" tanya Agler yang entah sejak kapan berada di sana.


Chad hanya bergerak sedikit tanpa mengatakan apa pun, maka Agler pun duduk tepat di dekatnya dan menyerahkan sebuah kertas.


"Apa itu?" tanyanya.


"Surat wasiat yang lain, pengacara itu memberikannya padaku" jawabnya.

__ADS_1


Dengan penasaran Chad membuka lipatan kertas itu, membaca apa yang tertulis di sana. Semakin lama ia membaca semakin dalam pemahamannya akan isi dari surat itu, hingga selesai ia membaca matanya tertuju pada Agler dengan tak percaya.


"Ibu kita.... hal mengerikan yang terjadi pada dirinya adalah sebuah kecelakaan, itu bukan salah Jack, Jessa atau pun Joyi. Tidak ada satu pun dari mereka yang salah meskipun mereka saling menyalahkan, itu semua adalah kesalahpahaman" ujar Agler yang telah memecahkan misteri kematian Catherine.


__ADS_2