Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 100 Lamaran di Perbukitan


__ADS_3

Andai pekerjaan tak menyita waktunya maka sudah sejak kemarin ia akan datang berkunjung, rasanya sangat memalukan hilang begitu saja setelah perjalanan yang dianggap kencan itu.


Dengan satu bucket buka ia harap Kyra akan memaafkannya begitu juga dengan keluarganya, sejak perjalanan itu ia mulai memikirkan Kyra dengan serius dan telah memutuskan untuk terus maju.


Setelah ia sampai seorang pelayan menyanbut kedatangannya begitu juga dengan Amelia yang kebetulan berada di sana.


"Selamat siang" sapanya.


"Siang, ah.. Hakan. Betul?"


"Benar nyonya" jawabnya.


"Lama tidak bertemu dengan mu, silahkan duduk" ujarnya.


Ia menurut, sementara Amelia berpamitan untuk menghidangkan minuman. Tak berapa lama yang datang adalah Jack, senyumnya mengembang senang melihat calon menantu yang ia idam-idamkan.


"Tuan Jack" sapanya.


"Ah... Hakan, senang melihatmu" jawabnya memeluk pemuda itu.


Melihat sikap Jack ia menghembuskan nafas lega sebab masih di terima dengan baik.


"Bagaimana kabar mu?"


"Saya baik-baik saja tuan, banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan jadi... "


"Ah ya ya.. aku mengerti" sambung Jack yang membuat Hakan tersenyum.


"Um... apakah.. nona Kyra ada?" tanyanya sedikit malu.


Tapi pertanyaan menghilangkan senyum di wajah Jack, tentu saja karena ia dan Kyra sedang dalam hubungan yang tidak baik.


"Itu... sayangnya dia sedang keluar, sepertinya dia juga akan lama sebab kalau tidak salah dia pergi belanja. Kau tahu bagaimana seorang wanita jika sudah berbelanja"


"Oh saya mengerti" sahutnya.


"Tuan, ini minumannya" ujar seorang pelayan menyela.


Jack mengangguk dan membiarkan pelayan itu menyimpan dua gelas teh di atas meja, setelah pelayan itu pergi Jack kembali mengajak Hakan bicara.


Mereka cukup asyik mengobrol selama beberapa jam, namun karena Kyra tak kunjung datang maka Hakan hanya menitipkan bunganya dan pamitan pulang.


Jack tak bisa berbuat banyak, kebohongan yang ia lakukan demi nama baik keluarga tidaklah terlalu membantu.


Dengan perasaan bersalah ia mengantar Hakan hingga masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan kediaman Hermes.


Dalam perjalanan Hakan merasa cukup kecewa karena tak berhasil menemui Kyra, tapi rupanya keberuntungan berjalan bersamanya.


Tanpa di duga ia melihat Kyra berjalan di trotoar, segera ia pun menepi. Kyra yang melihat mobil asing berhenti tepat di sampingnya tentu saja heran, tapi setelah Hakan keluar dari mobilnya perasaan itu berganti jadi terkejut.


"Kau... apa yang kau lakukan?" tanyanya.


"Oh Kyra, aku baru saja dari rumah mu dan mengobrol dengan kakekmu selama berjam-jam tapi kau masih di sini" jawabnya.


Kyra hanya bisa membuang muka, jelas masih tidak senang mendengar tentang keluarganya itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hakan.


"Itu.. um... aku baru selesai ujian dan butuh bersantai"


"Begitu ya, lalu dimana barang belanjaan mu?"


"Apa?" tanya Kyra bingung.


"Kakek mu bilang kau pergi belanja"


"Oh itu.. um.. ya, sebenarnya aku tidak jadi belanja jadi sejak tadi aku hanya jalan-jalan saja" jawab Kyra hampir mati kebingungan.


"Ya ampun, kalau begitu ayo ikut aku!" ajak Hakan.


"Kemana?"


"Sudahlah ikut saja" jawab Hakan tak mau menjelaskan.


Tak bisa melepaskan diri dari paksaan Kyra pun akhirnya mau tak mau ikut juga, ia duduk tepat di samping Hakan dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi.


Lagi-lagi Hakan membawanya keluar dari daerah perkotaan, mobil itu melaju melewati hutan hingga masuk ke sebuah pedesaan.


Beberapa menit kemudian ia memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parkir yang cukup luas, Kyra bertanya-tanya dimana ia sekarang sebab pemandangan yang ada di dominasi perbukitan.


"Ayo!" ajak Hakan sambil membukakan pintu untuknya.


Kyra melangkah keluar, lanjut mengikuti Hakan masuk ke dalam sebuah gedung.


"Oh Hakan!" teriak seseorang yang sedang berjalan tepat di depan mereka.


"Apa Sumu baik-baik saja?" tanya Hakan sambil membalas lambaian tangan itu.

__ADS_1


"Ya, kau ingin menemuinya?" tanya orang itu.


Hakan mengangguk, tak lupa ia mengenalkan Kyra sebab mata orang itu tertuju padanya.


"Perkenalkan dia Tio, dia teman sekolah ku dulu"


"Salam kenal, namaku Kyra" ujar Kyra menyodorkan tangannya.


Tio menyambutnya dengan senang hati, bahkan senyumnya begitu ceria sampai membuat Kyra sedikit malu. Tak banyak yang mereka obrolkan, Hakan segera mengajak Kyra masuk kedalam gedung itu dan terus berjalan sampai mereka berada keluar dari sebuah pintu.


Ternyata di balik gedung itu ada sebuah lapangan yang luas dengan pagar kayu yang kokoh, kuda-kuda berlari pelan dengan lincahnya membawa penunggang mereka merasakan hembusan angin yang segar.


"Ini... kandang kuda?" tanya Kyra yang tak menutupi keterkejutannya.


"Tio sudah menyukai kuda sejak ia kecil, karena itulah saat memiliki kesempatan ia memiliki untuk menjadi peternak kuda. Pada akhirnya ia membuka bisnis sendiri, menyewakan kudanya untuk mereka yang ingin berolahraga atau sekedar pamer" jawabnya menceritakan dengan rinci.


"Ayo!" ajaknya kemudian.


Mereka pergi ke sisi lain dari lapangan, terus berjalan hingga masuk ke kandang kuda yang sebenarnya. Kyra terus berjalan mengikuti Hakan masuk ke kadang itu sambil melihat kiri kanan dimana kuda-kuda menyambut mereka dengan hembusan nafas yang kasar.


"Hai Sumu! kau terlihat cantik hari ini" ujar Hakan membuka sebuah pintu kandang.


Kkhhhhhiiiiirrrrhhhh


Seolah mengerti bahasa manusia kuda itu menjawab dengan ringkihannya, Hakan tersenyum dan mengusap bagian perut kuda itu.


"Dia kuda betina?" tanya Kyra.


"Apa dia terlihat seperti kuda betina?" ujar Hakan balik bertanya.


"Kau memanggilnya cantik"


Hahahahahaha


"Apakah di dunia ini semua jenis kelamin jantan harus di bilang tampan?" balas Hakan tak tahan untuk tidak tertawa.


Kyra hanya mendengus kasar, merasa dirinya benar tapi juga salah secara bersamaan.


"Rambut Sumu sangat indah, meski dia pejantan tapi dimataku dia terlihat cantik" sahut Hakan.


Kyra memperhatikan bulu lebat yang menjuntai di leher kuda itu, jika di perhatian kuda itu memang terlihat cantik untuk ukuran kuda.


Hakan mengeluarkan kudanya dari kandang, di ikuti Kyra dari belakang sambil menjaga jarak sebab ia cukup takut kuda itu akan menendangnya.


Dengan terampil Hakan memasangkan satu set perlengkapan berkuda seperti pelana, tali kekang dan sebagainya.


"Apa?" tanya Kyra kaget.


"Naik! kau tidak mau mencobanya?"


"I-itu... aku tak yakin" sahut Kyra yang memang marasa takut.


Bagi orang awam memang ada rasa takut untuk melakukannya, Hakan mengerti itu tapi ia tak mau menyerah.


"Kau bisa pakai ini untuk melindungi kepalamu" ujar Hakan sambil menyerahkan sebuah helm berwarna hitam.


"Tapi... tetap saja.. " ucap Kyra ragu.


"Percayalah padaku, Sumu adalah peliharaan ku" potong Hakan meyakinkan.


Lagi, mata Hakan penuh dengan kepercayaan diri yang tidak pernah Kyra temukan dimana pun. Sorot mata yang akhirnya membuatnya memakai helm itu, dengan bantuan Hakan ia naik ke punggung kuda itu.


Woah...


Pekik Kyra saat ia belum duduk dengan benar tapi kuda itu sudah mau berjalan, Hakan hanya tersenyum sambil mengusap-ngusap kuda itu.


Berbeda dengan Kyra yang butuh waktu, dengan satu pijakan saja Hakan berhasil naik tanpa kesulitan.


"Berpeganganlah" ujar Hakan tepat di telinga Kyra.


Bersiap Kyra pun berpegangan pada pelana.


Hiyyaaa...


Syyuuutt...


Dengan satu hentakan di tali kekang Hakan membuat kuda itu bergerak, berjalan masuk ke lapangan dan mulai berlari-lari kecil.


Angin yang berhembus mengibarkan rambut Kyra hingga mengenai Hakan, sedikit mengganggu tapi ia suka sebab aroma tubuh Kyra tercium menggodanya.


"Tidak burukkan?" tanya Hakan.


"Ya" jawab Kyra mulai menikmatinya.


Kini Hakan membawa kudanya keluar lapangan menuju perbukitan, menikmati udara bebas sambil menatap pemandangan yang asri.


Hal itu membuat Kyra santai dan lupa pada rasa takutnya, bahkan beberapa menit kemudian ia bisa mengobrol dengan Hakan hingga bercanda.

__ADS_1


Lelah berkuda mereka turun dan berjalan santai masih sambil mengobrol, kini Kyra banyak tersenyum bahkan tertawa atas setiap candaan yang Hakan berikan.


Melihatnya membuat Hakan tak tahan pada keinginannya, dengan serius ditatapnya Kyra kemudian berkata.


"Kau terlihat lebih cantik jika tersenyum, mungkin ini memang terlalu cepat tapi aku ingin melihat senyum itu di pagi hari saat aku baru saja bangun dari tempat tidur ku."


Mendadak Kyra jadi mematung karena ucapan itu.


"Kyra.. apa kau mau menikah dengan ku?" tanya Hakan tanpa sekuntum bunga atau cincin.


Hanya ketulusan hatinya dan keseriusan yang nampak jelas di wajahnya, sejenak ada jeda sebab ini memang terlalu cepat bagi Kyra.


* * *


Seminggu telah berlalu tanpa adanya penyerangan lagi, meski begitu Chad masih resah dan mencaritahu siapa dalangnya.


Keresahan inilah yang membuatnya mematung di bawah sinar rembulan, membiarkan gelas berisi wine itu tetap utuh.


"Sesuatu pasti telah mengganggumu" ujar Ballard yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


"Hanya masalah kecil" jawab Chad tanpa melirik.


"Tidak, jika itu masalah kecil tidak mungkin kau begitu serius menatap langit yang bahkan tidak ada bintangnya" sahut Ballard sambil berjalan mendekatinya.


Chad membalas, sementara Ballard yang sudah biasa di acuhkan langsung bicara pada inti permasalahan yang membawanya pada Chad malam itu.


"Beberapa hari lalu sekelompok Penyihir menyerangku, tentu hal mudah bagiku untuk melawan tapi salah satu dari mereka sebelum ku habisi sempat mengatakan bahwa sekelompok Penyihir lain akan menyerang keluarga ku. Di dunia ini tak ada lagi yang menjadi keluarga ku kecuali kau... "


"Apa maksudnya itu?" tanya Chad mulai tertarik.


"Sayangnya dia mati sebelum aku bisa menginterogasinya lebih lanjut, tak ada yang mengetahui kau cucuku selain keluarga Hermes, Joyi dan Jhon. Aku masih mencaritahu siapa mereka, kedatangan ku kemari hanga untuk memperingati mu dan juga Agler" jawabnya.


Chad terdiam, berfikir mungkin saja Jhon benar akan ucapannya yang mengatakan bahwa penyerangan itu di tunjukkan kepadanya bukan Ima.


"Jika kau sudah menemukan jawabannya tolong segera beritahu aku" ujar Chad.


Ballard sedikit terkejut mengetahui Chad tertarik pada kasus itu, tapi baginya itu merupakan hal baik maka dia pun mengangguk sebelum pergi.


* * *


Mungkin dia anak yang baik, tapi ternyata sebagai seorang pria dia bukan suami dan ayah yang baik. Dengan lapang dada Violet mau menemuinya dan memberikan kesempatan kedua, bahkan Violet menegaskan bahwa ia tak perlu memilih.


Menatap bantal yang selama ini Violet gunakan untuk tidur membuatnya membayangkan masa-masa indah yang pernah mereka lalui, perlahan hatinya mulai terbentuk kembali menjadi satu kesatuan yang utuh.


Dengan tekad yang sudah membulat segera ia memutar kenop pintu dan pergi keluar, meski badannya terasa lemah namun bukan saatnya bermanja.


"Ryu.. kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Jack yang tanpa sengaja melihat.


"Ayah... aku harus pergi, tolong jangan anggap aku anak yang tak berbakti" sahut Ryu dengan wajah memelas.


Mendengarnya saja sudah membuat Jack merasa terpukul, tentu ia paham bahwa Ryu mencoba menyelamatkan rumah tangganya. Perlahan ia pun berjalan untuk merangkul putranya itu, menumpahkan air mata yang tak mungkin di bendung.


"Kau adalah anak ayah yang paling baik, sekali pun kau tidak pernah menentang ayah. Kelembutan mu membuat ayah merasa bersyukur telah memilikimu, tidak mungkin ayah marah seban kau tidak pernah melakukan kesalahan" ujar Jack.


"Ayah... " panggil Ryu lirih.


Dalam beberapa menit ayah dan anak itu menangis dalam rangkulan masing-masing, hingga kering air mata mereka dan lelah.


Sebelum pergi tak lupa Ryu berpamitan, melepaskan rangkulannya demi istri yang ia cintai.


Perjalanannya tidaklah jauh, hanya dengan satu kali naik bis saja ia sudah sampai di rumah tempat Violet tinggal.


Hhhhhhhhhhhh


Hembusan nafas yang ia perlukan untuk membuat tangannya berhenti bergetar, keluar dengan keras hingga seakan nafasnya habis.


Rumah itu terlihat lebih kecil bahkan jika di bandingkan dengan rumah mereka di luar negri, melihatnya membuat jantungnya kembali berdegup dengan kencang.


Perasaan bersalah kembali menyeruak saat membayangkan kesulitan yang Violet alami karena dirinya, kini tangannya kembali bergetar. Membuat Ryu berusaha keras hanya untuk memencet sebuah bel, hingga butiran keringat muncul di keningnya.


Ting Tong


Ia menunggu beberapa menit namun tak ada jawaban, tentu saja karena hari sudah malam dan ia yakin Violet sudah tertidur.


Ting Tong


Kali ia dengan harapan Violet tidak akan marah karena ia mengganggu di tengah malam buta.


Ting Tong


Untuk yang ketiga kalinya membuat harapannya sirna, hampir ia membalikkan badan untuk pulang. Tapi sebuah suara pintu yang terbuka membuatnya menatap lurus pada rumah itu, perlahan gagang pintu bergerak hingga pintu pun terbuka.


Violet keluar dengan pakaian tidurnya yang biasa, Ryu tersenyum senang melihatnya. Saat Violet berjalan mendekatinya dalam hati ia sudah menyiapkan berbagai kata yang di susun menjadi sebuah kalimat, tapi Violet lebih dulu bicara.


"Aku sudah mengantuk, bisakah kita tidur saja dan bicara besok?"


"Hah... apa?" tanya Ryu seakan ia sudah salah dengar.

__ADS_1


__ADS_2