Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 121 Misteri di Balik Kepindahan Agler


__ADS_3

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Violet kaget.


Lampu kamar itu mati tapi ia bisa melihat seisi kamar berkat cahaya dari luar.


"Ibu... " panggil Kyra panik.


Violet menatap bingung kedua orang itu, sementara Kyra tak bisa memberi alasan apa pun.


"Tadi aku lihat lampu di kamar Kyra masih nyala, karena itu aku memeriksanya. Kyra hanya haus dan butuh sedikit bantuan untuk mengambil air, sekarang dia bersiap untuk kembali tidur" ujar Agler.


"Oh begitu rupanya" sahut Violet.


"Kenapa ibu belum tidur?" tanya Kyra.


"Ibu hanya ingin memeriksa keadaan mu, rupanya insting seorang ibu tidak bisa bohong. Sekarang tidak masalah karena kau sudah mendapatkan airnya"


"Aku hendak pergi setelah mematikan lampu, ini sudah larut jadi sebaiknya anda juga pergi tidur" ujar Agler.


"Mm, ya. Selamat malam sayang" sahut Violet.


"Selamat malam bu" balas Kyra.


Agler sempat melirik sebelum menutup pintu itu, tapi arah pandangannya melewati Kyra. Sedikit lebih rendah dan itu merupakan bawah tempat tidur, dimana Manager bersembunyi di sana.


"Sudah aman" bisik Kyra.


Arghh


Erang Manager San mencoba mengeluarkan tubuhnya dari tempat yang cukup sempit itu, matanya segera menemukan kekhawatiran di wajah Kyra setelah berhasil keluar.


Beberapa saat sebelum peristiwa menegangkan itu terjadi Agler lebih dulu memergoki mereka, tentu itu membuat Kyra hampir mati karena kaget.


Tapi yang lebih mengagetkan adalah saat Agler tidak mengatakan apa pun, seolah sejak awal ia sudah tahu hubungan mereka.


Dan saat mereka tengah diam dalam kebisuan panca indra Agler yang tajam menangkap sebuah suara, itu merupakan langkah kaki Violet yang menuju kamar Kyra.


"Cepat bersembunyi" ujar Agler tiba-tiba.


Tentu itu lebih membingungkan, tapi Agler tak memiliki waktu untuk menjelaskan sehingga tak memberi kesempatan bagi mereka untuk bertanya.


Setelah Violet dan Agler pergi kini barulah mereka mengerti mengapa Agler menyuruh Manager San bersembunyi.


"Aku rasa Agler berada di pihak kita" ujar Kyra.


"Jika benar itu bagus, aku harap memang seperti itu" sahut Manager San.


* * *


Tak ada seorang ibu pun yang bisa tenang saat mengetahui hidup anaknya dalam bahaya, meskipun itu adalah anak asuh.


Seolah jenggotnya terbakar di tengah gurun, bahkan Mina tidak bisa bekerja dengan benar karena terus memikirkan Agler.


"Ahhh... ini akan membunuhku" erangnya melepas jahitan yang belum selesai.


Tak bisa menahan rasa khawatir itu Mina memutuskan untuk pergi menemui Shigima, untuk saat ini hanya dia yang bisa di ajak bicara.


Mendapat pesan dari Mina tentu membuat Shigima sedikit cemas, meski sebenarnya ia sudah menduga akan hal ini. Saat melihat Agler berkunjung tak ada yang ia risaukan, justru ia senang akan kunjungan itu. Namun saat mendengar Agler akan ikut tinggal di kediaman Hermes itu membuat hatinya bercampur aduk, mengingat hubungan antara mereka bisa memburuk akibat kesalahannya pada Ima.


Memilih tempat yang sepi Mina lebih dulu tiba, selang tak berapa lama kemudian barulah Shigima muncul.


"Bagaimana keadaan Agler?" tanya Mina tanpa bertele-tele.


"Ia baik, kami semua menyambutnya dengan senang hati"


"Agler hanya ingin tahu seperti apa keluarganya itu, jadi bersikaplah seperti keluarga normal. Aku akan tetap diam selama Agler hidup damai, ingatlah bahwa aku tidak pernah main-main dalam perkataan ku"


"Tenanglah Mina, Agler di perlakukan sebagaimana keluarga Hermes lainnya"


"Aku tidak ingin itu! seluruh keluarga Hermes terjerat dalam masalah yang penuh resiko, Agler ku tidak boleh menjadi bagian dalam masalah kalian!" bentak Mina.


"Baiklah baik, aku mengerti.. " jawab Shigima cepat.

__ADS_1


Meski tidak sepenuhnya yakin tapi Mina menganggukkan kepala, mencoba menghentikan gemetar di tangannya karena cemas dengan cara memikirkan hal-hal positif.


* * *


Ada yang aneh di ruang makan di kediaman Joyi, pagi itu hanya ada Chad dan Alisya yang hadir tanpa kepala keluarga mereka.


"Dimana nenek? apa dia belum bangun? " tanya Chad.


"Nyonya sudah pergi keluar tadi pagi" jawab Aeda sang kepala pelayan.


"Pergi kemana sepagi ini?"


"Saya tidak tahu tuan, nyonya tidak memberitahu"


"Oh baiklah" sahut Chad dan kembali menghadapi sarapannya.


Tapi perhatiannya teralihkan oleh ekspresi Alisya yang murung, sadar akan ada yang tak beres ia mulai bertanya.


"Kau baik?"


"Hmm? oh ya.. "


"Wajah mu terlihat pucat, apa tidurmu nyenyak?"


"Ah, sebenarnya tidak" jawab Alisya mengakui.


"Ada apa?" tanya Chad penasaran.


Sejenak Alisya menatap Chad, menimbang apakah ia harus mengatakannya atau tidak. Tapi karena sudah terbiasa terbuka pada Chad maka tak ada hal yang bisa ia sembunyikan dari Chad.


"Sebenarnya aku dan nenek bersitegang"


"Apa maksudmu bersitegang?" tanya Chad kurang paham.


"Entah apa yang terjadi aku juga tidak mengerti, tapi tiba-tiba nenek melarangku bertemu dengan Agler"


"Apa?"


Chad hanya bisa terdiam, ia yang sangat kenal Joyi mulai mencium adanya hal yang tak beres. Mungkin ini bersangkutan dengan dendam mereka yang belum mencapai tujuannya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan bicara dengan nenek" janji Chad.


Menyelesaikan sarapannya dengan cepat Chad segera pergi begitu Manager San datang, berharap Joyi berada di kantor sehingga mereka bisa bicara.


Tapi sebuah pesan dari Ima membuatnya beralih tujuan, menyimpan niatnya sampai urusannya selesai dengan Ima.


Di tempat biasa mereka bertemu Ima sudah menunggu, tengah melamun seorang diri.


"Ada apa?" tanya Chad tanpa sebuah sapaan.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan, ini tentang kak Agler"


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Chad cukup kaget sebab ia mengetahui masalah Agler.


"Entah ini baik atau buruk tapi yang jelas ini membuatku tidak tenang, kakak... dia memilih tinggal bersama keluarga Hermes"


"Apa?" satu lagi berita heboh di pagi hari membuatnya seakan tuli.


"Apa maksudmu?" ulang Chad.


"Kakak memberitahu kami bahwa dia ingin mengenal keluarga Hermes lebih jauh, mau bagaimana pun karena dia adalah salah satu keturunan Hermes jadi ia memutuskan untuk mencoba tinggal dengan mereka" ujar Ima.


"Sebenarnya ini cukup membuatku tak nyaman sebab cara kakak bicara seolah ia sedang menutupi sesuatu dariku, terlebih awalnya kakak sangat menentang keluarga itu. Bahkan dia sering kali menekankan bahwa baginya kamilah keluarganya yang sesungguhnya, karena itu... aku mencemaskannya" jelasnya.


Meski masih menjadi misteri tapi rasanya Chad mulai mengerti masalah yang terjadi pada Agler, ia menduga ini ada hubungannya dengan Joyi.


Untuk sementara Chad hanya bisa menyimpan prasangkanya seorang diri, terlebih di takutkan jika mengatakannya itu akan membuat Ima semakin cemas.


"Mungkin Agler memang penasaran, dia benar-benar tidak tahu tentang keluarga itu sampai mengetahui bahwa dia adalah anak adopsi orangtuamu" ujar Chad mencoba menenangkan.


"Menurut mu begitu?"

__ADS_1


"Itu sangat wajar, kau tidak perlu cemas" sahut Chad dengan senyum sumringah sebisa mungkin.


"Semoga memang seperti itu" balas Ima yang tak bisa menutupi kekhawatirannya.


Sementara itu di kediaman Hermes sarapan berlangsung seperti biasa, ruang makan terlihat lebih ramai dengan bertambahnya satu anggota.


Jack tak bisa berhenti tersenyum melihat anak serta cucunya yang berkumpul di meja makan, mengingatkannya akan masa dimana ke lima anaknya masih utuh.


"Cobalah salad ini, rasanya lebih enak dari penampakannya" ujar Jessa menyodorkan semangkuk salad.


"Terimakasih" sahut Agler.


"Um... bagaimana dengan sarapan Kyra?" tanyanya.


"Jam makan Kyra sedikit berbeda dari kita, setelah selesai sarapan aku akan membawakan sarapannya" jawab Violet.


"Bolehkah aku menawarkan diri untuk mengantarkannya?" tanya Agler yang membuat Violet membeku sejenak.


"Tentu saja, akan kusiapkan nanti" jawabnya akhirnya.


Agler tersenyum senang, ia pun kembali melanjutkan sarapannya meski terkadang matanya akan melirik seluruh anggota keluarga Hermes yang hadir.


Ia menilai Jack sebagai kepala keluarga yang terhormat dan bijak melihat tempat duduknya yang telat di tengah, cukup berbeda saat ia berkunjung ke rumahnya saat itu.


Di lanjut dengan Jessa yang layaknya seorang istri pengusaha, tapi diam-diam ia merasakan aura penyihir yang kuat dari dalamnya.


Sementara itu baginya Violet dan Amelia hanyalah menantu biasa dengan sifat yang berbeda, tidak menonjol tapi juga cukup di perhitungkan.


Yang cukup menarik perhatiannya adalah Hans, karena pernah bertarung itu membuat Agler lebih dapat menilai Hans secara luas. Ia yakin saat ini Hans sedang tidak sehat sebab meski wajahnya terlihat segar tapi ia merasakan aura sihir Hans cukup lemah, konsentrasinya juga nampak turun seperti orang yang kurang istirahat.


Selesai sarapan sesuai permintaan Agler pergi ke kemar Kyra untuk memberikan sarapannya, saat ia masuk rupanya Kyra sudah bangun dan terlihat lebih segar dari kemarin.


"Sepertinya tidur mu nyenyak" komentar Agler.


"Yah, aku tidur dengan baik" jawabnya.


"Setelah sarapan apa kegiatan mu?"


"Apalagi jika bukan terapi, meski dokter bilang aku tidak bisa berjalan normal tapi ada harapan setidaknya aku bisa berdiri dengan bantuan tongkat. Artinya aku tidak akan menghabiskan sisa hidupku di atas ranjang atau roda" jawab Kyra.


"Itu bagus, semoga harapan itu menjadi kenyataan" sahut Agler.


Mereka tersenyum sejenak, tapi kemudian Kyra menampilkan wajah serius dan bertanya.


"Agler... sebenarnya apa tujuan mu datang kemari? kenapa kau menyelamatkan ku dan San?."


Itu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk di jawab, jika ia berikan alasan yang sama dengan yang dia berikan kepada Mina itu akan jelas terlihat aneh sebab Kyra cukup sensitif.


Menyunggingkan senyum kecil Agler menjawab.


"Hanya karena kalian berbeda kasta atau keturunan bukan berarti cinta kalian terlarang, dalam dunia ini ada beberapa kasus dimana vampire jatuh cinta pada mangsanya sendiri."


Itu adalah sebuah jawaban yang merujuk pada kondisi mereka berdua, Kyra terlahir sebagai penyihir meski ia tidak mempelajari sihir sepenuhnya.


Sebagai keturunan Hermes ia tahu bahwa mereka berbeda dan kadang jatuh cinta menjadi hal yang cukup rumit.


* * *


Selesai menenangkan Ima Chad segera pergi ke kantor, berharap menemukan Joyi tapi ia tak ada di sana. Ia mencoba mencari ke tempat-tempat yang biasa di datangi Joyi tapi tetap tak ada jejak akan keberadaannya, bahkan supir pribadinya juga tak bisa di hubungi.


Ini membuat Chad cukup prustasi, ia merasakan firasat buruk sehingga satu-satunya yang bisa ia mintai tolong hanyalah Jhon.


Chad pergi seorang diri menemui Jhon di rumahnya, segera mengatakan tentang kepergian Joyi yang tiba-tiba.


"Aku merasakan sesuatu yang aneh, tidak biasanya nenek menghilang seperti ini" ujar Chad jelas cemas.


"Aku akan segera mencarinya dan jika sudah ku temukan aku akan segera memberitahumu" sahut Jhon.


"Maaf telah merepotkan"


"Tidak masalah, aku mengerti perasaan mu" sahut Jhon.

__ADS_1


Ia pun segera berpamitan untuk memulai pencarian, sementara Chad meski sedang gelisah tapi memutuskan untuk kembali ke kantor untuk bekerja seperti biasa.


__ADS_2