
Tiga puluh menit berlalu tapi penantian Hans berakhir sia-sia, Keenan tidak juga muncul dari lubang itu yang membuatnya bertanya-tanya dengan sedikit khawatir.
"Mungkin dia cukup gugup" gumamnya berfikir logis.
Tapi menunggu bukanlah pekerjaan yang mudah sampai ia merasakan sebuah kejanggalan yang aneh, sebuah firasat yang mengantarnya pada penjelasan Elf kala itu.
"Oh, sial!" gumamnya.
Bergegas ia lari melintasi hutan, mencari tempat dimana selama ini ia bernaung dari segala bahaya dan penat yang cukup menyiksa. Ingatannya masih bagus sehingga tak butuh waktu lama akhirnya ia sampai, namun sayangnya tempat itu tak berpenghuni.
"Elf...." panggilnya.
Perlahan ia masuk dan memeriksa, dari debu yang ada jelas bahwa Elf tak berada di sana dalam waktu yang cukup lama.
"Elf...." teriaknya lagi sambil berjalan keluar.
Hening, bahkan tak ada satu pun suara hewan yang menyahut. Kegelisahan semakin menjadi setiap langkahnnya menyusuri hutan tanpa ada tanda-tanda kehidupan sampai ia sampai di sungai, tempat itu pun sepi.
"Elf....kau dimana?" teriaknya hampir hancur dengan keputusasaan.
Beruntung makhluk kecil bersayap melihatnya, hanya dengan satu pandangan ia dapat mengenali wajah itu yang membuatnya segera terbang menuju rumah.
Bagi makhluk ajaib sepertinya melintasi dimensi untuk mempersingkat perjalanan sangatlah mudah, saat ia sampai hal pertama yang ia datangi tentu saja Elf.
"Elf, bangun!" teriaknya dengan suara kecil yang khas.
"Elf hentikan pertapaan mu, Hans datang mencarimu" ujarnya lagi.
Mata yang sekian lama tertutup itu akhirnya terbuka, menunjukkan mata biru yang dalam. Rambut peraknya yang selama ini tertidur pun ikut bangun dan bergoyang seiring dengan tubuhnya yang mulai bergerak.
"Apa?" tanyanya dengan suara lembut yang pelan.
"Aku melihatnya di sungai, dia mencarimu" ujar Mathilda.
Senyum akhirnya mengembang di wajah yang hampir menjadi patung, mata birunya berbinar dengan sedikit memerah akibat tak kuasa menahan air mata yang siap terurai.
Kakinya yang sekian lama terlipat mulai terbuka dan bangkit meski sedikit susah karena tubuhnya yang tak mendapat nutrisi, meski begitu perasaan bahagia mampu membuatnya bangkit dan berlari.
Memaksakan kaki yang tak sanggup bahkan untuk berdiri tegak susah payah ia berlari keluar, menuju sungai tempat dimana Hans berada. Bersama dengan Mathilda yang menemani langkahnya senyum itu terus bertahan di sana, dengan bantuan pohon-pohon sebagai penopang akhirnya sayup-sayup ia mendengar suara seseorang meneriakkan namanya.
"Mathilda, itukah...dia?" tanya Elf semakin bersemangat.
Kepala kecil itu bergoyang kebawah sebagai jawaban, maka Elf pun mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk bisa sampai.
Pada batang pohon yang lebih besar tempat dimana ia bersandar akhirnya ia melihat punggung seorang pria yang selama ini ia nantikan, dengan jarak yang sudah lebih dekat ia bisa mendengar namanya di sebut dengan jelas dan kencang.
"Hans...." teriak Elf.
Meski tak begitu kencang tapi dalam hutan yang sepi tentu Hans dapat mendengarnya, perlahan ia membalikkan badan dan menatap seorang gadis tengah bersandar pada pohon.
Mata birunya yang selama ini ia rindukan, rambut perak yang berkilaun di bawah sinar rembulan hingga kulit putih yang bersih dengan bibir merah merona.
"Elf..." panggilnya pelan.
Mereka saling tersenyum untuk kemudian bergerak dan berlari secara bersamaan tapi.
Bruk
"Elf!" teriak Hans kaget.
Kakinya sudah melampaui batas, tak seharunya ia berlari sejauh itu setelah sekian lama berlutut dalam pertapaannya. Dengan sigap Hans meraih tubuh lemah itu dan mendekapnya dalam pelukan, meski dalam kondisi yang sangat lemah tapi Elf masih mampu mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Hans memastikan ini bukanlah mimpi.
"Elf, apa yang terjadi padamu?" tanya Hans khawatir.
"Dia kelelahan, setelah kepergian mu dia melakukan pertapaan demi mendapat restu Bapa agar bisa menemuimu di dunia luar" ujar Mathilda memberitahu.
"Apa? Elf..." gumam Hans terkejut.
Merasa bersalah dengan sedih ia pun mengangkat tubuh Elf dan menggendongnya untuk kemudian membawanya pulang, di atas tempat tidur perlahan di baringkannya Elf.
__ADS_1
"Hans selama ini dia tidak makan dan minum, berilah dia sesuatu untuk memulihkan tubuh" ujar Mathilda.
Sayangnya tak ada makanan di sana, hari pun sudah terlalu malam untuk mencari makanan. Beruntung ia ingat akan oleh-oleh yang dia bawa untuk menpati janji, dari dalam saku ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
"Kau ingat janji ku sebelum aku pergi? aku membawakan mu permen dengan berbagai macam rasa, ini adalah rasa buah stoberi yang aku suka" ujarnya mengambil satu permen dan menaruhnya di mulut Elf.
"Ini...manis" ujar Elf pelan setelah lidahnya mulai mengecap.
Meski seyum mengembang di wajah Hans untuk membalas Elf tapi hatinya hancur melihat tubuh seorang gadis yang ia cintai begitu kurus dan tak berdaya, hal itu membuatnya menyalahkan diri dan mengutuknya tanpa henti.
"Beristirahatlah" ujar Hans.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Elf memegang tangan Hans sedikit lebih kuat dengan sisa tenaga yang ada.
"Tidak, aku tidak akan pergi kemana pun" jawab Hans tegas.
Dengan penuh cinta ia membelai lembut rambut perak yang halus itu, mengirimkan sulur-sulur kenyamanan yang perlahan membuat mata Elf terasa berat. Dalam beberapa menit kemudian Elf pun tertidur dengan pulas, di sampingnya Hans berjaga sampai kantuk menyerang dan membuatnya ikut beristirahat.
Esok harinya Elf merasakan tubuhnya lebih bertenaga, Hans yang bangun lebih dulu sudah menyiapkan sarapan agar Elf bisa mengisi perutnya yang kosong.
"Rasanya enak" ujar Elf setelah menelan satu sendok sup.
"Maaf" ujar Hans tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Elf bingung.
"Aku sudah membuat mu menderita" jawabnya dengan perasaan bersalah, tapi Elf menggenggam tangannya dengan lembut sambil tersenyum dan berkata.
"Ini bukan salah mu, ini adalah keinginan ku sendiri. Aku dan tempat ini adalah satu kesatuan yang tak bisa di pisahkan, bagai kutukan yang indah bila aku pergi meninggalkan hutan maka tubuhku akan melemah dan tak memiliki kekuatan apa pun. Dan lagi rambut perak ku terlalu mencolok dengan telinga yang runcing ini, jika aku keluar mungkin aku akan di anggap sebagai monster"
"Monster tidak memiliki wajah yang cantik, mungkin kau justru akan di jadikan dewi karena hal ini" gurau Hans yang membuat Elf tertawa.
"Aku pikir...dengan pertapaan Bapa akan memberiku kekuatan untuk keluar dari hutan dengan selamat, aku berharap lebih dengan kekuatan Bapa yang bisa menyihir ku menjadi manusia normal" akuinya.
Pengakuan itu tentu membuat hati Hans lebih teriris lagi, dengan lembut ia memegang tangan Elf.
Elf mengangguk tanpa mengucapkan kata janji, tapi Hans tak memaksanya. Setelah kekuatan Elf mulai pulih barulah Hans menceritkan keadaan genting yang sedang terjadi di luar sana.
Mulai dari kegagalannya menghidupkan Lord hingga Keenan yang ikut bersamanya demi menemui Sang Dewi, anehnya Keenan tidak juga datang menyusul meski telah di tunggu dalam waktu yang cukup lama.
Mengingat penjelasan Elf waktu itu tentang lubang di pohon yang menjadi pintu masuk antar dua dunia membuat Hans berspekulasi bahwa Keenan telah jatuh di tempat yang berbeda, hal ini di karenakan mereka adalah makhluk yang berbeda.
Hans adalah penyihir sedang Keenan adalah vampire, sementara lubang itu merupakan lorong dimensi dimana seseorang dengan kekuatan tertentu dalam melewatinya dan berakhir di tempat yang sesuai dengan kekuatannya.
"Itu benar, aku menduga dia berakhir di daerah yang lebih gelap dengan pencahayaan yang kurang meski di siang hari" ujar Elf.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Hans.
"Kita harus menjemputnya, bukankah ramuan itu ada padanya? lagi pula aku takut kehadirannya yang asing akan membuat kekacauan di dunia ini"
"Aku mengerti, tapi sebaiknya kita lakukan besok saat kau sudah jauh lebih baik" ujar Hans yang masih mengkhawatirkan Elf.
Percuma untuk berdebat sebab Elf pun sadar diri bahwa ia memang butuh waktu sedikit lagi untuk memulihkan diri.
* * *
Saat ini salju turun dengan cukup intens hingga pemandangan hutan pun di dominasi warna putih, tapi yang di lihat Keenan justru sebuah musim hujan dengan udara lembab dan tanah yang becek.
Ia telah menghabiskan waktu selama berjam-jam dengan berjalan sendirian menyusuri hutan, menggerutu beberapa kali dan berjanji akan menghabisi Hans karena telah meninggalkannya.
Tapi sebelum itu terjadi ia harus lebih dulu mencari tempat untuk istirahat sebab sebentar lagi fajar akan tiba, jangankan membalas dendam untuk keselamatannya sendiri pun ia harus berjuang.
Keenan lahir dan besar di sebuah kastil yang terlindung dari sinar matahari, meski ia pernah melewati masa-masa sulit tapi sekali pun ia tidak pernah tahu cara berburu. Mungkin ia sudah bertambah kuat tapi sejak kecil hingga sekarang ia tidak pernah minum darah dari leher manusia secara langsung, ia membaca banyak buku yang menambah ilmu pengetahuannya tapi tidak dengan praktik yang menambah wawasan.
"Ah akhirnya" gumamnya lega saat menemukan sebuah gua.
Tidak terlalu dalam tapi cukup untuk berlindung, beruntung ia juga membawa perbekalan seperti darah yang ia taruh di dalam botol sehingga bisa ia minum kapan saja.
Saat matahari telah terbit matanya mulai terpejam dengan badan yang letih, namun rupanya ia tak bisa tidur dengan nyenyak hingga terbangun beberapa jam kemudian.
__ADS_1
Ia yakin itu adalah tepat siang hari dimana seharusnya langit berwarna cerah dengan awan putih yang berarak melintasi bumi, tapi hutan itu terlihat cukup gelap untuk ukuran siang hari.
Ia pun berjalan keluar dan melihat rimbunnya daun-daun pohon yang menjadi penyebab terhalangnya matahari masuk, sadar ia akan baik-baik saja maka berlanjutlah perjalanan itu.
Selama seharian penuh tak ada hal aneh yang dapat ia temukan kecuali musim yang benar-benar berbeda, sisanya hutan itu sama saja dengan hutan yang selama ini ia ketahui.
Barulah pada esok harinya ia menemukan Hans bersama dengan seorang gadis berambut perak yang aneh.
"Akhirnya aku menemukan mu, apa kau ingin memastikan kematian ku di tempat asing ini?" tanya Keenan.
"Syukurlah kau tidak membuat kekacauan yang membuat kami repot" sahutnya.
"Cih!" tukas Keenan kesal.
"Jadi kau adalah Raja baru vampire" ujar Elf yang sedari tadi memperhatikan.
"Makhluk apa kau?" tanya Keenan jelas karena ia tidak merasakan hawa manusia dari Elf, dengan rambut dan bentuk telinga yang runcing bahkan Keenan tidak bisa mendeskripsikan Elf dengan benar.
"Aku Elf, penjaga hutan dan kau ada dalam wilayahku" jawabnya.
"Lalu?"
"Hans telah menceritakan semuanya, kenapa kau ingin bertemu dengan Sang Dewi?" tanyanya.
"Sang Dewi?" ujar Keenan yang tidak mengetahui panggilan untuk Anna.
"Anna, di sini beliau di panggil Sang Dewi sesuai dengan jabatannya"
"Ahh....begitu rupanya, menarik! sepertinya ia memang kuat" gumam Keenan.
Dengan mata birunya Elf memperhatikan dengan lebih seksama, mencaritahu bagaimana karakter Keenan sebagai vampire yang tentu jauh lebih muda dari bangsa vampanences yang selama ini ia temui.
"Aku...ingin berduel dengannya" jawab Keenan.
"Apa maksud mu?" tanya Hans.
"Bukankah dia yang paling kuat diantara yang terkuat? bahkan dia bisa menghentikan perang dengan caranya dan menbunuh saudariku dengan mudah. Jika dalam duel ini dia kalah maka dia harus ikut dengan ku dan menjadi budak ku"
"Bagaimana jika kau yang kalah?" tanya Elf.
"Aku belum memikirkannya, yah tapi dia boleh meminta apa pun dari ku"
"Aku adalah penjaga hutan ini, Sang Dewi berada di wilayah ku jadi sebelum kau menemuinya maka kau harus mendapatkan ijin ku terlebih dahulu" ujar Elf.
"Elf!" panggil Hans cemas.
Tentu mereka tahu maksud dari ucapan Elf, meski Hans belum pernah bertarung dengan Keenan tapi seseorang yang di angkat menjadi Raja tentu bukanlah orang sembarangan terlebih Elf pun masih dalam tahap pemulihan.
"Heh, menarik" sahut Keenan.
Mata mereka saling beradu pandang dengan tajam, Keenan mengangkat tangan untuk menunjukkan cakarnya yang tajam tapi beberapa detik kemudian tiba-tiba ia merasakan sakit di pinggangnya.
Perlahan matanya menunduk dan menemukan sebilah belati telah tertancap di sana dengan cukup dalam, Hans yang melihat itu hanya keheranan sebab benda itu awalnya tidak ada di sana.
"Itu adalah perak, tentu kau akan merasakan sakit" ujar Elf.
Ada senyum tipis di wajah Elf yang ingin terlihat baik-baik saja, tapi tubuhnya terlalu lemah dengan kepala yang mulai terasa pening dalam satu detik saja ia akan ambruk.
"Elf!" panggil Hans yang berhasil menangkap tubuhnya tepat waktu.
"Lehermu.." ujarnya melihat sebuah bekas cakaran di sana.
"Ba-bagaimana bisa...kau...mengimbangi kecepatan ku?" tanya Keenan berusaha untuk mencabut belati itu.
"Kalau begitu kita seri bukan?" sahut Elf lemah.
Sebuah kenyataan yang membuat Hans merinding, hanya dalam satu kedipan matanya itu kedua makhluk yang seolah tak bergerak itu rupanya telah melakukan pertarungan. Keenan mendapat luka yang cukup berat dengan sebilah belati perak yang berhasil Elf tancapkan di pinggangnya, sementara itu Keenan juga berhasil menorek luka di leher Elf dengan cakarnya.
Pertarungan yang membuat Hans sadar bahwa dia hadir diantara dua makhluk dengan kekuatan yang tak bisa ia tandingi.
__ADS_1