Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 24 Pertemuan Ke Dua


__ADS_3

Manager San memberikan informasi terkait perkembangan perusahaan Hermes, saat ini hotel Sanwa memang yang terbaik tapi jika di biarkan Hermes akan kembali mengejarnya.


Chad mengakui bahwa Shigima memang seorang pengusaha yang handal, dengan mudah ia bisa menstabilkan keuangan perusahaan hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Ia juga tak menyangka teror yang ia berikan justru menguntungkan Hermes, jika di pikir lagi sebenarnya otak Shigima yang memang cerdas karena dapat melihat peluang di balik bencana.


"Chad... kau belum tidur?" tanya Joyi yang masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Ah belum, aku masih punya beberapa pekerjaan"


"Kau sudah bekerja sangat keras, wajah mu kini lebih pucat dari rembulan di malam hari bahkan nenek bisa menaruh kacang di dalam kantung matamu"


"Aku baik-baik saja, nenek tidak perlu khawatir"


"Apa kau makan dengan baik?"


"Tentu saja, aku makan dengan teratur"


"Besok kau tidak perlu ke kantor, pergilah jernihkan pikiranmu. Percuma kau bekerja jika badan mu tidak fit"


"Tapi nek... ujar Chad hendak memprotes.


" Chad... nenek tidak akan mengulangi ucapan nenek" ucap Joyi tegas.


Jika sudah begitu maka Chad tidak bisa membantah, meski ia merasa baik-baik saja tapi ia harus tetap menurut.


* * *


Hari berlalu dengan duka yang masih menyelimuti hati Mina, tapi ia tak mau berlarut demi kedua anaknya. Sebisa mungkin ia tampil ceria meski jelas terlihat di paksakan, baik Ima atau pun Agler pu bersikap seperti biasa meski mereka juga masih sedih.


Ima pergi ke sekolah seperti biasa, sekarang ia sudah punya teman baru tentunya ia menjadi lebih betah. Ia juga tidak terlalu larut dalam kesedihan sebab temannya itu selalu mengajaknya bercanda, dia adalah gadis biasa dari keluarga sederhana.


"Apa? kau kerja sampingan?" tanya Ima kaget.


"Mm, aku ingin membatu perekonomian keluarga ku. Aku hanya kerja di hari sabtu dan minggu saja, jadi tidak menganggu waktu belajar" jawab Rona.


"Kau bekerja di mana?"


"Aku jadi pelayan di sebuah rumah besar, sabtu nanti adalah hari pertama aku kerja"


"Kau sangat bekerja keras, semoga pekerjaan mu lancar" ujar Ima mendoakan.


"Terimakasih" jawabnya senang.


Tapi pada hari sabtu pagi tiba-tiba Rona menelpon dan mengajaknya bertemu, dari suaranya terdengar seolah ada sesuatu yang genting. Ima cepat berangkat menemui Rona di stasiun kereta, ia melihat wajah Rona yang merah seperti habis menangis.


"Rona ada apa?" tanya Ima khawatir.


"To-tolong aku... " jawabnya pelan tanpa bergerak sedikit pun.


"Ada apa? kenapa?" tanya Ima lagi semakin cemas.


"Aku... tidak bisa menceritakannya sekarang, tapi aku ingin minta tolong padamu"


"Minta tolong apa?"


"Bisakah... kau gantikan aku bekerja di rumah besar itu?"


"Apa? kenapa?"


"Akan ku jelaskan nanti, yang penting sekarang tolong gantikan aku" ujar Rona hampir menangis.


Ima tidak tahu apa yang terjadi, ia pun cukup penasaran tapi Rona tetap tidak mau mengatakannya. Tentu ia tak tega melihat temannya kesusahan, ia pun percaya Rona punya alasan jelas atas semua ini.


"Baiklah, aku akan menggantikan mu"


"Terimakasih, nanti sore kita bertemu lagi di sini" ujar Rona sambil memegang tangan Ima.


Ima segera pergi ke alamat yang telah di berikan, begitu sampai ia cukup kagum melihat rumah yang lebih besar dari rumahnya dan nampak indah. Penjaga gerbang mengijinkannya masuk setelah melihat sebuah surat lamaran yang ia bawa, dengan identitas Rona hal itu cukup berhasil karena tidak menggunakan foto.


Penjaga itu menyuruhnya untuk pergi ke sisi lain dari rumah dan bergabung dengan orang-orang yang juga berniat kerja, Ima menghitung setidaknya ada lima belas orang termasuk dirinya di tempat itu. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita dengan pakaian rapih dan rambut yang di sanggul rapi menyuruh mereka untuk berbaris.


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama ku Aeda. Kalian bisa memanggilku ibu Aeda, aku adalah kepala pelayan di sini" ujar Aeda memperkenalkan diri.


"Aku sudah menerima surat lamaran kalian, dan bisa ku katakan kalian yang telah datang ke sini berarti telah resmi menjadi pelayan di rumah ini. Aku akan menjelaskan bagaimana cara kerja kalian dan hal-hal lain yang perlu kalian ketahui" lanjutnya.


Peraturan pertama yang paling harus mereka ingat sebagai pelayan adalah jangan banyak bicara, mengerjakan tugas dengan serius adalah kunci utama agar dapat terus bekerja di sana.

__ADS_1


Kedua adalah jangan melakukan kesalahan, hal ini berlaku setelah Aeda menjelaskan poin-poin penting yang harus mereka ingat dalam mengerjakan tugas seperti jangan memecahkan barang.


Ketiga, rumah itu jarang di huni oleh sang pemilik dan sekali pun datang ia hanya akan datang di malam hari. Untuk itu mereka bekerja dari pagi sampai sore karena pemilik rumah tidak ingin ada siapa pun saat ia pulang, hal ini cukup membuat Ima heran karena untuk apa sebuah rumah di beli tapi jarang di huni.


Satu-satunya tugas mereka sebagai pelayan hanyalah membersihkan rumah tersebut, untuk bayarannya sendiri setelah mereka selesai bekerja hari itu juga mereka di bayar. Inilah alasan Rona mau bekerja menjadi pelayan di rumah itu.


Aeda memberikan mereka baju pelayan khusus untuk di gunakan selama bekerja, setelah ia menjelaskan semuanya mereka langsung mulai bekerja.


Mereka di bagi menjadi beberapa grup agar lebih efisien, sebanyak dua grup bertugas membersihkan lantai atas dan dua grup sisanya mengurus bagian bawah.


Ima yang mendapat bagian di lantai atas bertugas membersihkan area kamar, baginya yang sudah biasa hidup di desa tidaklah sulit jika hanya sekedar bersih-bersih saja.


Tanpa terasa akhirnya sore pun tiba, Ima dan pelayan yang lain kembali mengganti pakaian mereka dan menerima upah mereka hari itu.


Sesuai rencana di awal Ima kembali menemui Rona di stasiun, namun saat ia sampai Rona tidak ada dimana pun. Ia mencoba menunggu beberapa menit tapi Rona tak kunjung kelihatan juga, saat ia berniat untuk mencarinya barulah Rona datang sambil berlari.


"Hhhhh maaf.... aku.... terlambat" ujar Rona dengan nafas yang putus-putus.


"Tidak masalah, atur saja dulu nafasmu" ucap Ima.


Rona jongkok beberapa saat sebelum kemudian secara perlahan ia bisa mengatur nafasnya menjadi lebih baik.


"Kau sudah mendapatkan upahnya?" tanya Rona.


"Oh ya" jawab Ima yang segera menyerahkan uang itu kepada Rona.


Rona segera menghitung jumlah uang yang Ima dapat, tapi setelah selesai menghitung wajahnya nampak tidak senang.


"Ada apa?" tanya Ima.


"Ini... masih kurang"


"Apa?" tanya Ima tak mengerti.


Rona menatap Ima dengan mata yang memerah dan siap untuk menangis.


"Ibuku.... dia terlilit hutang pada lintah darat, besok kami harus melunasi hutang itu semuanya... jika tidak... mereka akan membawaku sebagai jaminannya, karena itu... aku bekerja... " ujar Rona di tengah isak tangisnya.


Ima segera memeluk Rona begitu tahu musibah yang sedang melanda temannya itu, ia tak menyangka Rona dapat terjerat dengan orang-orang jahat.


"Aku sudah mencari uang ke sana sini, aku sudah meminjam dari beberapa teman ayah dan... dan juga bekerja sejak tadi tapi.... uangnya masih belum cukup" lanjut Rona yang tak bisa berhenti menangis.


"Tapi... hutang ibu sangatlah banyak, ditambah dengan bunganya kita tidak akan sanggup membayarnya"


"Jika kita punya setengah saja itu sudah lebih dari cukup agar mereka tidak membawamu pergi, aku juga pasti akan mencari cara lain untuk mendapatkan uangnya"


"Ima.... terimakasih... " teriak Rona penuh syukur.


Tak ada cara yang bisa ia pikirkan selain bekerja, untuk menambah uang itu ia bisa membongkar celananya meski jumlahnya tetaplah tidak cukup. Ia juga meminjam uang kepada Agler namun tidak memberikan alasan jelas sebab baginya itu merupakan keputusannya untuk membatu Rona dan tidak ada yang boleh berkomentar akan hal itu.


Ima kembali bekerja esok harinya, ia datang tepat waktu dan segera mengganti pakaian. Ia sangat bekerja keras agar dapat penilaian bagus dari Aeda sehingga mungkin saja Aeda memberinya uang lebih untuk itu.


Tapi harapannya tidak membuahkan hasil yang bagus, Aeda hanya terkesan dan memintanya untuk terus bekerja seperti itu tanpa ada uang tambahan. Ima ingin mencoba meminjam tapi pasti tidak akan di beri karena ia hanyalah pelayan baru dengan gaji harian.


Dengan berat hati ia pulang dan menemui Rona di tempat biasa, mereka menghitung uang yang berhasil mereka kumpulan. Ternyata bahkan uang itu tidak mencapai setengahnya dari jumlah hutang yang ada, tapi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.


Meski takut tapi Ima meyakinkan Rona untuk tetap pergi menemui para lintah darat itu, sebisa mungkin Ima akan mencoba bernegosiasi dengan mereka. Sebagai seorang vampire sebenarnya ia tidak takut, tapi masalahnya Rona tidak boleh tahu identitas aslinya dan karena itulah ia tidak bisa bertarung.


"Me-mereka di sana" ujar Rona menunjuk sebuah bar yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah.. ayo pergi!" ucap Ima yakin.


Ima berjalan memimpin di depan sedang Rona tepat di belakangnya, mereka masuk ke dalam bar dan segera mendapat perhatian dari semua pengunjung sebab hanya mereka gadis yang ada di sana.


"Oh... kau Rona!" teriak seorang pria yang duduk di meja pojok.


"Wah... kau mengantarkan tubuhmu dengan suka rela rupanya, bahkan kau juga membawa teman" ujar pria lainnya.


"I-ima, itu mereka" bisik Rona semakin menyembunyikan diri di balik tubuh Ima.


"Kami datang kemari untuk membayar hutang" ujar Ima tanpa rasa takut.


"Begitu rupanya, jadi kau berhasil mendapatkan uangnya."


Ima berjalan mendekati para pria itu dan menaruh kotak uang tepat di hadapan mereka, salah satu dari pria itu segera membukanya dan menghitung jumlah uang yang ada di sana.

__ADS_1


"Hei, jumlah hutang mu lebih besar dari uang yang kau berikan ini" ujar pria itu setelah selesai menghitung.


"Itu uang untuk membayar jaminan Rona, dengan uang itu kalian harus membebaskan Rona"


"Dasar gadis tengik! kau tidak tahu bagaimana perjanjiannya" balas pria itu.


"Mau bagaimana pun kalian tidak rugi, jika kalian membiarkan Rona pergi ia bisa mencari uang untuk melunasi hutangnya"


"Hehe jika dia tidak bisa membayarnya akan lebih menguntungkan dengan menjualnya ke rumah bordir"


Hahaha


Ima mengepalkan tangannya untuk menahan emosi agar tidak meledak, mereka hanya manusia biasa meski bertubuh kekar dan Ima yakin mampu mengalahkan mereka dengan kekuatannya. Tapi sekali lagi ia harus ingat bahwa ada Rona yang bisa mengetahui identitasnya.


"Sudahlah manis, kau tidak perlu repot mencari uang untuk membayar hutang ibumu. Di rumah bordir kau bisa mendapatkan segalanya asal mau patuh"


"Hei!" teriak Ima menepis tangan pria yang mencoba menyentuh Rona.


"Ku peringatkan kau! sebaiknya ambil saja uang itu, kami akan pergi dan kembali dengan melunasinya" ujar Ima yang tak bisa menahan emosi.


"Dasar bandel! kau tidak bisa memerintahku!" teriak pria itu hendak menangkap Rona namun.


Prang...


Aaarrhhh...


"Rona! lari... " teriak Ima setelah memukul kepala pria itu dengan botol minuman.


"Sialan! kejar mereka!" teriak pria itu murka.


Mereka segera berlari meski tahu akan di kejar, Rona yang sudah ketakutan setengah mati hanya bisa diam dengan wajah pucat sambil ikut kemana pun Ima pergi.


"Lewat sini!" ujar Ima menarik tangan Rona agar ikut masuk ke jalan kecil.


Mereka tak berhenti berlari sebab para pria itu sudah semakin dekat, sayang di ujung jalan itu terhalang pagar terali besi yang membuat mereka susah untuk lewat. Ima memutuskan untuk bersembunyi di belakang dus-dus yang tak terpakai, dengan menutup mulut dan mencoba untuk tidak bergerak mereka berharap dapat menipu para pria itu.


"Sial! cepat sekali mereka larinya" teriak salah satu dari pria itu.


Mereka berhenti tepat di depan Ima dan Rona, nampaknya mereka juga kelelahan habis berlari dan diam sejenak untuk beristirahat. Saat itulah Rona tak bisa menahan rasa takutnya ketika salah satu dari pria itu tak sengaja menatap ke arahnya, ia bergerak mundur begitu pria itu mencoba mendekat.


Bruk


"Kena kalian!" teriak pria itu yang melihat Rona bergerak di bawah kardus.


Aaaaaahhh.....


"Lepaskan aku!" teriak Rona mecoba melepaskan diri dari cengkraman pria itu.


'Sial! haruskah aku tetap diam?' batin Ima bimbang.


Hahahahaha


"Kalian tidak bisa kemana-mana lagi" ujar salah satu di antara mereka.


Pria yang lain mencoba mendekati Ima dan siap menyergap nya, namun Ima sangatlah lincah sehingga ia jatuh terjerembap di atas kardus. Kesal karena merasa di permainkan pria itu cepat bangkit dan mencoba memukul Ima tapi lagi-lagi meleset, ingin rasanya Ima membalas tapi kekhawatiran membuatnya terus ragu.


"Kurang ajar, akan ku bunuh kau!" teriak pria itu mengeluarkan sebuah pisau.


"Tidaaaaaa..... kk" teriak Rona melihat pisau itu terhunus ke arah Ima dan.


Prang....


Buk Buk


Bruk


Dalam satu kedipan mata sebuah tangan di belakang Ima terulur untuk menghalau pisau itu, kemudian sesosok tubuh maju ke depan dan memukul pria itu hingga ambruk. Ima terpaku saat orang itu berbalik ke arahnya, mereka saling bertatapan yang membuat Ima sadar bahwa ia mengenal orang itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Chad.


"Tidak..." jawab Ima pelan.


"Sialan! siapa kau? jangan ikut campur dalam urusan kami" perintah pria yang masih memegang tangan Rona.


"Lepaskan gadis itu atau aku akan melepaskan tanganmu dari tubuhnya" ujar Chad.

__ADS_1


"Heh, kau pikir aku takut? silahkan maju jika kau berani, sebelum kau sempat melakukannya akan ku bunuh gadis ini duluan"


"Tidaaaaaaaaaaakk."


__ADS_2