Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 63 Perjanjian Lain Antar Pemimpin


__ADS_3

Di atas salju yang masih tipis itu terdapat jejak-jejak kaki seorang pria yang berjalan dengan terburu-buru, hingga sampai di sebuah tembok yang menjadi pagar rumah jejak itu hilang begitu saja.


Tubuh seorang pria yang masih bugar kembali berjalan hingga tiba di kolam renang, matanya menatap ke atas dimana Chad berdiri di sana menikmati segelas anggur.


Sadar akan kehadiran tamu yang tak di undang ia segera turun untuk menyambutnya.


"Ada apa?" tanya Chad.


"Seseorang telah datang ke istana dan mengklaim dirinya sebagai raja yang baru" jawab Ballard.


"Apa? bagaimana bisa?"


"Para tetua bukanlah tandingannya apalagi kau, jika kau ingin membalaskan dendam ayahmu maka kau harus naik tahta dan untuk itu kau harus menyingkirkannya dengan cara apa pun" ujarnya.


Chad telah memikirkan ini matang-matang, ia berniat akan mengurus keluarga Hermes terlebih dahulu baru kemudian pada tahta di istana. Bukan hal mudah mengurus para vampire karena mereka makhluk yang berkekuatan besar dengan tingkat kecerdasan yang tinggi.


Selama ini ia hanya bermain taktik dengan mengoyak tubuh manusia yang lemah, jangankan Raja vampire bahkan ia tidak bisa bertarung melawan vampire biasa.


"Ini bukan akhir segalanya, aku akan mengumpulkan kekuatan sebelum masuk ke dalam istana" ujar Chad pelan.


"Sebaiknya kau cepat sebab para tetua masih berharap akan adanya kandidat lain, Raja baru ini tidaklah terlalu bersahabat dan hanya memikirkan keuntungan sendiri"


"Aku tidak perduli pada apa pun yang akan dia hancurkan, meski aku seorang pangeran tapi bahkan aku sudah dianggap mati" ujar Chad yang membuat Ballard terdiam.


"Itulah mengapa kau harus datang dan mengambil hak mu" sahut Ballard pelan sebelum ia akhirnya pergi dari sana.


"Chad!" panggil Ima tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


"Ka-kau, sejak kapan kau datang?" tanya Chad teegagap.


"Aku baru tiba" jawabnya.


Chad mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri dalam kekacauan yang terbangun oleh takdir. Sentuhan yang tak biasa kemudian ia rasakan pada pundaknya, sebuah belaian lembut yang penuh kasih sayang.


"Chad, aku melihat beban seluruh dunia ada pada pundak mu" ujar Ima pelan.


Mereka sudah bersama dalam waktu yang intens, hingga saat ini Chad mungkin tidak mengatakan berbagai kata manis atau pernyataan cinta. Tapi tanpa hal itu Ima tahu mereka punya perasaan yang sama, Ima bukanlah sosok gadis yang mengindahkan kata-kata sebab perilaku adalah yang paling utama.


Bahkan ia sudah pernah melihat Chad bersama wanita malam, maka yang penting adalah perhatian Chad untuk dirinya yang tidak berkurang. Untuk itulah Ima cukup peka pada kondisi Chad meski tak ada kata yang terucap.


"Aku...lelah, bisakah kau masakan sesuatu yang manis?" tanya Chad.


"Ya, mari masuk ke dalam" jawab Ima.


* * *


Sepandai apa pun kau menyembunyikan bangkai bau busuknya pasti akan tercium juga, terlebih Nyonya adalah orang yang tidak pandai berbohong. Kedatangan Jack yang kedua kalinya membuat Hans kini bersembunyi di balik pintu untuk mendengar apa yang sebenarnya membuat kakeknya itu datang.


"Aku sudah mengirim pasukan khusus tapi kita bisa berharap banyak" ujar Nyonya samar-samar dari balik pintu namun Hans masih bisa mendengarnya.


"Sebelum dia aku adalah orang pertama yang tidak menyerah untuk mencarinya, bagaimana pun dia adalah jantungku" jawab Jack.


"Kita hanya punya waktu tujuh hari terhitung kemarin, semakin banyak waktu terbuang maka semakin besar kemungkinan kiamat terjadi" ujar Nyonya gelisah.


"Ini sama dengan masa itu, saat kita mencari batu keabadaian. Karena itu harapan ku hanya padamu, pasti ada sebuah petunjuk yang tertinggal" ucapnya lagi.


"Percayalah aku tidak berniat menyembunyikannya" sahut Jack.


Hening yang tiba-tiba itu membuat Hans sedikit khawatir sekaligus curiga, tapi kemudian terdengar Jack berpamitan yang membuatnya segera bergerak untuk bersembunyi.


Setelah melihat Jack keluar dari pintu itu ia pun berlari untuk menghampirinya.


"Apa yang kakek lakukan di ruangan Nyonya?" tanyanya.

__ADS_1


"Ah...tidak ada apa-apa"


"Kakek aku mendengar percakapan kalian" ujar Hans menghentikan langkah Jack.


"Sebaiknya kakek cerita sekarang sebab dari yang aku dengar kalian tidak punya banyak waktu" ancamnya.


Jack menghembuskan nafas panjang, memang percuma merahasiakan sesuatu dari Hans sebab ia pasti tidak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Ceritanya sangat panjang" ujar Jack.


"Percayalah aku punya banyak waktu luang" jawab Hans tegas.


Hhhhhhhhh


"Ini...tentang anggota keluarga Hermes yang lain, sebenarnya kakek punya satu anak lagi"


"Maksud kakek Anna?" tanya Hans.


"Kau...tau dari mana tentangnya?" ujar Jack balik bertanya.


"Sudah ku bilang sebaiknya jangan rahasiakan apa pun dariku, aku bahkan pernah bertemu dengannya"


"Benarkah? kapan itu terjadi?" tanya Jack lebih terkejut lagi.


"Akan ku jawab setelah kakek menceritakan apa yang terjadi" balas Hans.


Tak ada pilihan lain, lagi pula hal ini memang menyangkut dengan Anna. Melirik sekitar Jack pun mengajaknya bicara di tempat yang lebih aman sebab apa yang akan ia ceritakan adalah sebuah rahasia.


Hari itu, malam dimana Nyonya di undang ke istana vampire ada hal lain yang di bicarakan oleh kedua pemimpin itu. Dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua Keenan menunjukkan sesuatu yang sangat mengerikan, dia adalah sebuah monster genetik buatan Alabama yang haus akan darah dan daging.


Makhluk yang tidak memiliki akal atau rasa sakit, jangankan manusia vampire pun menjadi salah satu hidangan yang ia sukai. Makhluk yang memiliki kulit tebal sehingga senjata apa pun tidak akan mampu menembusnya, dengan mata ungu yang menyala dan gerakannya yang cepat maka dia adalah kiamat yang di ciptakan sebagai senjata penghancur.


Dalam kengerian itu Nyonya sudah bisa merasakan niat buruk dalam diri Keenan, dan saat ia berpaling Keenan menginginkan sesuatu yang mustahil sebagai ganti keselamatan umat manusia. Kemustahilan itu adalah objek yang selama ini menjadi obsesinya, dia merupakan Sang Dewi yang tak lain adalah Anna.


Hans mulai berfikir keras, ia tahu dimana Anna berada dan tidak mungkin membawanya kemari. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membawa Keenan ke tempat Sang Dewi tapi ia pun tak yakin akan hal itu sebab ada Elf yang ia takutkan akan terancam oleh kedatangan Keenan.


"Jika kau tahu dimana dia berada bisakah kau membawanya kemari?" tanya Jack berharap.


"Dia tiadk beranjak dari tempatnya, percayalah sebelum Raja baru itu memintanya aku sudah lebih dulu memohon kepadanya untuk datang tapi dia menolak. Bahkan setelah aku katakan keadaan dunia yang hancur atau identatasku yang merupakan keponakannya"


"Ta-tapi kenapa?" tanya Jack.


Hans menggeleng untuk menjawab, benaknya kini sedang berfikir keras tentang mencari jalan keluar yang aman.


"Tak ada cara lain, aku akan menemui Raja baru dan mengantarnya kepada Sang Dewi sementara itu ada hal yang harus kakek lakukan" ujarnya akhirnya.


"Apa itu?" tanya Jack penasaran.


Maka Hans pun menjelaskan rencananya, rencana awal yang telah ia buat bersama Elf. Ini adalah kesempatan yang harus di manfaatkan sebaik mungkin sebelum semuanya kembali kacau.


* * *


Ia sudah menyusun rencana dengan sangat matang meski dalam waktu yang singkat, ditemani Jack dengan berani ia datang ke istana vampire untuk bertemu Keenan Raja vampire yang baru.


Tentu saja awalnya mereka di tahan sebab tak ada undangan atas kehadiran mereka, tapi setelah Hans menyuruh prajurit itu menyampaikan pesan berupa 'apa yang tuan cari saya dapat menunjukkan jalannya' kepada Keenan barulah mereka di ijinkan masuk.


Bahkan Keenan sendiri yang menyambut kedatangannya, dengan penasaran ia mengajak mereka bicara di ruangannya.


"Seperti pesan yang telah bawahan mu sampaikan, itu adalah kebenaran yang bisa kau buktikan" ujar Hans.


"Bagaimana bisa aku percaya pada kata-kata mu?" tanya Keenan.


"Kau memegang buktinya" jawab Hans singkat.

__ADS_1


Awalnya Keenan tidak mengerti apa yang di maksud Hans sampai ia ingat pada botol emas yang isinya tidak pernah di ketahui, maka kini dengan rasa pensaran yang lebih ia berkata.


"Ceritakan padaku"


"Aku menemuinya di sebuah tempat yang mustahil, aku berniat mengajaknya kembali dan menduduki tahta agar perdamaian tercipta tapi dia menolaknya. Sebagai gantinya ia memberiku hadiah itu untuk membuat kedaulatan resmi atas namanya, hanya orang-orang yang pernah bertemu dan berinteraksi dengannya yang akan memahami hal ini."


Keenan terdiam, jelas matanya binarnya menunjukkan ketertarikan yang amat sangat.


"Kau akan membawaku padanya?" tanyanya.


"Dengan dua syarat, pertama kau harus kembalikan botol itu dan yang kedua hanya kau sendiri yang boleh ikut"


"Setuju!" jawab Keenan tanpa pikir panjang.


"Silahkan tunggu sebentar sementara aku akan bersiap" lanjutnya.


Bergegas ia pergi hanya untuk menemui Tianna, di hadapan para tetua ia berkata selama kepergiannya Tiannalah yang menjadi wali atas dirinya. Artinya Tianna mengambil alih tugas Keenan sebagai Raja selama kepergiannya, tentu saja Tianna senang akan hal ini tapi ia juga khawatir Keenan akan mengalami kesulitan yang cukup buruk jika pergi sendirian.


Dengan janji-janji yang manis akhirnya Keenan dapat meyakinkan Tianna bahwa ia akan baik-baik saja, saat ia kembali menemui Hans dan Jack dengan botol ramuan jiwa di tangannya sayangnya Keenan tidak benar-benar menepati janji.


"Benda ini akan ku bawa serta, jika kau bilang ini adalah bukti nyata maka harus ku pastikan dengan diriku sendiri" ujarnya.


Hans tak bisa berkutik, meski kini semua rencananya gagal akibat ramuan jiwa yang tak berhasil ia dapatkan kembali tapi tak ada alasan lain yang bisa membuatnya mendapatkan benda itu tanpa di curigai.


Akhirnya ia memilih menuruti keinginan Keenan, toh sementara kepergiannya perjanjian awal dalam memerangi monster penghisap darah masihlah berlaku.


Setelah berpamitan mereka pun pergi menuju lembah suram dimana tempat Hans menemukan jejak sihir yang membawanya pada dunia ajaib, dengan kecepatan kuda yang sengaja mereka berdua pakai untuk transportasi hanya butuh beberapa jam saja yang tak sampai matahari terbit untuk sampai.


Lubang yang menganga di pemakaman itu masih sama seperti saat Hans datang dan pergi, perlahan ia berjalan mengikuti ingatan yang terekam jelas dalam memorinya hingga sampai pada sebuah pohon dengan lubang yang cukup lebar.


"Ini adalah pintu menuju dunia itu" ujar Hans.


"Kalau begitu kita harus masuk" jawab Keenan.


Sepintas Hans menatap vampire muda itu yang membuatnya teringat pada vampanences, mungkin di sana saat mereka bertemu vampanences mereka tidak akan di serang sebab ada Keenan yang merupakan garis keturunan mereka.


"Apa kau tahu sejarah tentang kaum mu sendiri?" tanya Hans tiba-tiba.


"Apa?" tanya Keenan heran.


"Di sana, ada sekelompok makhkuk pernghisap darah yang mirip dengan monster yang selama ini menyebabkan masalah. Mereka adalah makhluk abadi yang suci meski tidak memiliki akal untuk menutup kulit pucat mereka dengan kain, mereka adalah vampanences" jelas Hans.


Bagi Keenan yang selalu bergelut dengan buku nama vampanences tidaklah asing di telinganya, tapi ia lupa makhluk seperti apa itu. Meski begitu ia bersikap seolah semuanya ada dalam genggaman tangannya yang terkendali.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku bisa mengatasinya" ujarnya memilih kata yang aman untuk bisa di pahami dalam hal apa pun.


"Baiklah ayo kita masuk" ujar Hans.


Hans berjalan lebih dekat lagi pada lubang itu baru kemudian masuk ke dalamnya, beberapa detik kemudian Keenan mengikutinya setelah menyiapkan diri.


Aaahhh....


Tak ada pijakan tepat di dalam lubang itu yang membuat tubuh Keenan meluncur, sementara jantungnya berdegup dengan kencang tanpa ada yang bisa di lihat ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.


Bruk


Arghh


Pendaratan yang tidak mulus itu membuatnya merasakan sakit di bagian pinggang, sambil mengernyit ia bangkit dan membersihkan diri dari daun-daun yang menempel.


"Sial, setidaknya beritahu aku tentang hal itu" gerutunya.


Tapi tak ada jawaban, beberapa saat kemudian ia sadar di hutan yang asing itu ia sendirian.

__ADS_1


__ADS_2