
Pintu terbuka, seorang dokter masuk ke ruangan dan duduk di kursinya. Jack yang sedari tadi menunggu dengan perasaan cemas semakin was-was melihat ekspresi dokter yang datar, ia tak tahu kabar apa yang di akan di berikan dokter itu kepadanya.
"Jadi... bagaimana?" tanyanya.
"Tuan Jack, seperti yang kau ketahui penyakitnya sudah parah. Tubuh bagian kanannya lumpuh total, hanya bagian mulut yang masih ada harapan. Perawatan yang dia lakukan bukan untuk menyembuhkannya tapi agar penyakitnya tidak semakin parah hingga melumpuhkan semua anggota tubuhnya. Ku harap kau tetap mau terus bersabar dan mendukungnya dengan sepenuh hati" ujarnya.
Perlahan Jack menundukkan kepalanya, ia sudah melakukan berbagai cara mulai dari pengobatan medis hingga alternatif. Tapi Jessa masih tak mampu menggerakkan badannya, padahal saat itu ia sudah ada kemajuan. Ia bisa bicara meski kurang di mengerti dan bisa berjalan meski harus menyeret satu kakinya.
"Terimakasih dokter" ujar Jack pelan.
Ia segera mendorong kursi roda dan membawa Jessa pergi dari sana, sepanjang jalan dalam perjalanan pulang ia membisu. Hanya matanya yang mengatakan semua kesedihan, bahkan air mata di sudut cukup mengungkapkan isi hatinya.
Ia menghentikan mobil tepat di depan rumah, mengeluarkan kursi roda dan dengan perlahan menggendong Jessa untuk mendudukkannya di sana.
"Ayah sudah pulang? biar aku bantu mengangkat ibu" ujar Shigima yang keluar rumah sebab mendengar suara mobil.
"Terimakasih nak" ucapnya.
Shigima perlahan membantu Jack hingga Jessa berhasil duduk di sana, ia juga ikut membantu mendorong kursi roda itu sampai masuk ke dalam rumah.
"Apa dokter mengatakan sesuatu?" tanyanya.
"Hanya hal yang seperti biasa."
Dari raut wajahnya Shigima tahu Jack sangat sedih, rasa cinta Jack kepada Jessa sangatlah luar biasa sehingga itu yang membuat Jack ingin Jessa kembali pulih seperti biasa. Namun penyakit stroke tak bisa sembuh apalagi jika sudah parah, hanya keajaiban yang saat ini mereka butuhkan.
Jack tak lupa me-lap tubuh Jessa sebelum tidur dengan air hangat, itu selalu membuat Jessa dapat tidur dengan nyenyak. Hari itu sepulangnya cek-up Jack terus berada di samping Jessa hingga malam tiba, seharusnya ia ikut tidur tapi matanya tak mau terpejam.
Akhirnya Jack memilih pergi berkeliling hutan agar tidak mengganggu tidur Jessa, bagi pria tua sepertinya memang bukan hal baik berjalan-jalan malam. Tapi ia tidak menemukan aktivitas yang bisa ia lakukan, pikirnya sekalian berpatroli sebagai penyihir.
Ssssssshhhhhhhh
Tiba-tiba desiran angin membuat insting penyihirnya bangkit, meski dalam keadaan tegap tapi kakinya berpijak dengan tepat dan siap untuk sebuah serangan.
Whhuuuuussssss...
Trang
"Wow.... kau cukup agresif bagi seorang kakek-kakek" ujar Tianna yang berhasil menghalau belati Jack dengan cakarnya.
"Siapa kau?" tanya Jack waspada.
"Um.... kau bisa memanggilku malaikat mungkin, yah meski sebenarnya itu kurang cocok juga. Baiklah bagaimana kalau dewi penyelamat" jawab Tianna sambil berjalan mengelilingi Jack secara perlahan.
"Aku tidak pernah meminta bantuan vampire, kenapa aku harus memanggilmu dewi penyelamat?"
"Well, belum. Kau belum meminta bantuan ku tapi akan, dan karena aku sangat baik hati maka sebelum kau memintanya aku akan lebih dulu memberikannya."
Tianna berhenti berjalan, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan melemparkannya kepada Jack.
"Apa ini?" tanya Jack curiga.
"Obat untuk menyembuhkan istrimu"
"Dari mana kau tahu istriku sakit?" tanya Jack semakin curiga
"Jack, itulah kenapa kau harus memanggilku dewi penyelamat mu"
"Bagaimana jika yang kau berikan ini racun?"
"Kau bisa mengujinya, di dalamnya ada lima pil. Kau hanya perlu memberikan pil itu satu hari satu kali di malam hari dan paginya kau akan lihat keajaiban telah datang kepadamu, sebagai seorang jenderal kau pasti tahu vampire bangsawan tidak pernah berdusta" ujar Tianna.
Belum sempat Jack bertanya lagi tapi Tianna sudah lebih dulu menghilang, meninggalkan banyak pertanyaan bagi Jack dengan bumbu sedikit keraguan.
Pulang ke rumah tentu Jack semakin tidak bisa tidur, ia tidak tahu siapa Tianna dan mengapa ia melakukan hal ini terhadapnya. Tapi yang lebih menarik lagi adalah lima pil di dalam kotak itu, ia begitu penasaran akan kemanjurannya.
Dari sikap dan auranya Jack tahu Tianna memang vampire bangsawan, sebagai jendral yang bertahun-tahun hidup dengan melawan bangsa vampire ia juga tahu mereka bukan makhluk pendusta.
Perasaannya semakin bercampur aduk tatkala rasa cintanya menginginkan pil itu untuk di berikan kepada Jessa tapi insting penyihirnya menyuruhnya agar jangan percaya 100% pada vampire meski mereka bukan pendusta.
Akhirnya Jack memilih untuk melakukan uji coba sesuai perintah Tianna, diam-diam ia pergi ke salah satu rumah warga yang ia tahu ada seseorang penderita stroke juga.
Sebagai penyihir profesional bukan masalah sulit baginya untuk menyelinap masuk dan memberikan obat kepada penderita stroke itu, jika kenyataannya orang itu keracunan bahkan sampai mati maka ia sudah menyiapkan diri untuk bertanggung jawab.
__ADS_1
* * *
Mina selesai mematikan semua lampu, kini ia siap pergi tidur namun kamar Agler yang masih terang menarik perhatiannya. Pintu kamar itu tidak di kunci, meski begitu Mina tetap mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok Tok Tok
"Agler.. kau belum tidur?" tanyanya.
"Belum bu."
Mina masuk ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang, ia melihat wajah Agler yang nampak cukup murung.
"Kau ada masalah?"
"Tidak"
"Apakah ini masalah tentang seorang gadis?"
"Ibu?" tanya Agler kaget sebab ia tidak menceritakan tentang Alisya kepada siapa pun kecuali Nick.
"Nak, hanya ada satu alasan yang bisa membuat seorang pemuda seperti mu terlihat rapi dan wangi setiap hari lalu tiba-tiba murung tanpa alasan"
Hhhhhhh
"Apa aku terlalu mudah di tebak?" tanya Agler.
Mina mengangguk yang membuat Agler mengerang sambil menutup wajah.
"Jadi... apa yang terjadi?"
"Um.... ini hanya masalah percintaan biasa, ibu tidak perlu khawatir"
"Tapi menurut ibu kau harus tetap menceritakannya agar perasaan mu lebih baik"
"Ini... ini hanya masalah hatiku"
"Kenapa?" desak Mina yang bersikukuh ingin tahu.
Mina cukup mengerti perasaan Agler, bagi anak-anaknya tidaklah mudah hidup di dunia yang tidak adil ini. Dan ini adalah salah satu alasan mengapa ia selalu menyalahkan diri sendiri.
"Agler, dulu.... saat ibu tahu ayahmu membuat perjanjian dengan Viktoria ibu sangatlah marah kepadanya. Sebab ibu tahu dunia kami jadi berbeda karenanya, tapi perasaan cinta telah mengalahkan segalanya. Ibu rela masuk ke istana vampire demi membatalkan pernikahan ayahmu dengan salah satu putri bangsawan vampire, padahal ayahmu sengaja meninggalkan ibu demi keselamatan ibu" ujar Mina menceritakan perjuangan cintanya.
"Ibu melakukan itu?"
"Yeah... ayah mu bahkan pernah kehilangan kontrol dan hampir menyakiti ibu, tapi ibu masih berdiri di sampingnya hingga kini. Cinta membuat kami bersama meski dengan dunia yang berbeda, ibu pernah menawarkan diri untuk mengikuti jejak ayahmu menjadi seorang vampire tapi dia tidak mengijinkan"
"Kenapa?"
"Karena ibu dapat menerima ayahmu apa adanya, jadi dia tidak ingin ibu berubah hanya karena agar kami sama. Meski dengan perbedaan itu nyatanya kami bisa hidup bahagia hingga memiliki dua anak, jika gadis itu benar-benar mencintaimu dia pasti tidak akan takut untuk berdiri di samping mu."
Sayangnya waktu itu Alisya berdiri di depannya dengan wajah ketakutan, meski kini ia sudah lupa tapi suatu saat ketika Agler memperlihatkan sosok vampire di hadapannya ia takut Alisya akan lari lagi darinya.
"Ini sudah malam, lekas lah tidur dan jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu" ujar Mina.
"Baik bu" jawab Agler.
Mina sempat tersenyum sebelum Agler mematikan lampu dan mengucapkan selamat malam, setelah ia menutup pintu tak lupa ia juga pergi ke kamar Ima hanya untuk memastikan anak gadisnya telah tidur.
Melihat selimut yang menutupi seluruh tubuh Ima perasaan Mina pun lega dan barulah ia pergi ke kamarnya.
"Anak-anak sudah tidur?" tanya Colt.
"Yah... Agler baru saja menutup matanya" jawab Mina sambil naik ke atas ranjang.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Agler, dia punya sedikit masalah dalam hubungan percintaannya. Dia terlihat sangat cemas dan ragu"
"Ah... sayang, dulu pun kita mengalami hal yang sama. Berkali-kali kita memutuskan untuk berpisah tapi lihat! sekarang kita memiliki dua anak yang telah dewasa. Aku yakin Agler dapat mengatasinya"
"Ku harap begitu, tapi aku tidak melihat Ima kesulitan dalam hal ini padahal aku yakin dia pun sedang jatuh cinta" ujarnya.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya, dia selalu memakai riasan dan tampil cantik setiap saat. Bahkan beberapa waktu lalu dia tiba-tiba hilang entah kemana dan pulang seperti orang gila, meracau sendiri, tersenyum sendiri, tertawa sendiri"
Hahahaha
"Ima masih sangat muda, mungkin dia hanya mengalami cinta monyet jadi belum serius memikirkannya" ujar Colt yang tak bisa menahan ketawa.
"Sepertinya begitu"
"Baiklah ini sudah malam, biarkan tubuh orang tua ini beristirahat."
* * *
Jack benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak bahkan setelah pagi menjelang, meninggalkan waktu sarapan dia berdalih ada berkas yang harus ia lihat di kantor karena itu dia pergi dengan cepat.
Tapi ia berbelok arah dengan diam-diam pergi ke rumah seorang warga yang semalam ia kunjungi, pagi itu dari luar rumahnya masih nampak sepi.
Mencoba bersabar Jack sembunyi di balik semak-semak hingga seorang anak muda keluar dari rumah, dengan menggunakan sepatu boots pemuda itu pergi ke kandang kuda yang tak jauh dari rumahnya.
Selang tak berapa lama seorang anak kecil keluar sambil berlari dan berteriak memanggilnya, pemuda itu nampak kaget dan segera menghampirinya.
Tiba-tiba seorang pria keluar dengan berjalan kaki, Jack sampai melotot saat melihat pria itu sebab ia ingat itu adalah pria yang dia beri pil semalam.
Pemuda dan anak itu bergegas berlari menghampiri pria itu, mereka memastikan keadaannya dan yang lebih mengejutkan pria itu tak hanya mampu berjalan tapi juga menggendong anak kecil itu dan tersenyum senang.
"Di-dia... benar" gumam Jack menatap kebenarannya.
Butuh waktu beberapa saat bagi Jack untuk tenang, berfikir logis dan kembali menatap keluarga yang bahagia itu. Beberapa kali ia juga menampar diri sendiri hanya untuk membuktikan bahwa semua ini bukanlah mimpi.
"Oohh... Jessa.... aku menemukan obatnya" ujarnya lirih menatap haru.
Ia hendak bergegas pulang ke rumah untuk memberikan obat itu kepada Jessa, tapi tiba-tiba ia ingat ucapan Tianna yang mengatakan bahwa pil itu di berikan saat malam hari.
Ia menjadi bingung sebab Tianna tidak mengatakannya secara detail, apakah pil nya memang harus di berikan saat malam hari atau tidak. Di tengah kebingungan itu akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sampai malam saja, sebab dari uji coba yang ia lakukan pil itu berhasil dengan sukses.
Menunggu seharian penuh memang bukanlah pekerjaan yang mudah, Jack sudah mencoba menyibukkan diri dengan berbagai hal tapi hatinya tetap tak tenang menunggu malam.
Setiap saat ia melirik jam sampai tiba waktunya matahari tenggelam di ufuk barat, dengan cepat ia tancap gas untuk pulang ke rumah.
Kali ini ia kembali melewatkan waktu makannya kembali, bergegas ia masuk ke dalam kamar. Dengan penuh harap diberikannya pil itu kepada Jessa sebelum tidur.
"Sayang... semoga nanti pagi keajaiban ini benar-benar datang" ujarnya.
Meski kemarin malam ia tidak bisa tidur dan kurang istirahat tapi malam itu Jack kembali tidak bisa tidur, ia terlalu resah dan cemas menunggu efek obat yang akan menyembuhkan istrinya.
Kembali ia melihat jam secara terus menerus dan bergantian menatap Jessa yang sedang tertidur lelap, hatinya mengatakan untuk tetap terjaga tapi rupanya lama kelamaan tubuh tuanya sudah tidak sanggup bergadang lagi. Jack tertidur tepat di samping Jessa.
Saat pagi menjelang cahaya matahari yang semakin terik menyilaukan pandangan Jack, ia mengerutkan dahi karenanya.
Perlahan ia membuka mata dan mulai bangkit.
"Jessa!" panggilnya saat melihat tempat tidur itu kosong.
Tubuh Jessa yang seharusnya terbaring di sampingnya hilang entah kemana.
"Jessa!" panggil Jack sambil berlari keluar kamar.
"Ayah... ada apa?" tanya Amelia kaget karena teriakan itu.
"Nak, apa kau lihat Jessa?" tanya Jack cemas.
"Apa? bukankah ibu Jessa ada di kamar bersama ayah?"
"Tidak nak, dia tidak ada"
"Ayah ada apa ini? kenapa pagi-pagi begini ayah sudah berteriak?" tanya Shigima menghampiri.
"Shigima... Jessa hilang"
"Apa?" tanya Shigima kaget.
Ia dan Amelia segera pergi ke dalam kamar untuk memastikan, ternyata kamar itu kosong tanpa tubuh Jessa yang seharusnya ada di sana. Dengan panik mereka pun mulai mencari ke seluruh ruangan, bahkan keluar rumah juga.
Tapi Jessa tidak ada dimana pun.
__ADS_1