Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 75 Naif


__ADS_3

Manusia biasa tidak akan pernah sanggup duduk di sana hanya dengan mengenakan kaus selama berjam-jam, dengan udara yang dingin hingga menusuk ke tulang khayalan selalu muncul sebagai tanda ketidakmampuan tubuh.


Vampire sekali pun setidaknya mengenakan mantel mereka, tapi masalah yang terjadi pada kehidupannya telah merenggut seluruh indra dan mematikannya.


Srek Srek Srek


Suara langkah di atas salju yang sedikit di seret itu tak menarik perhatiannya meski pun terdengar, tapi suara selanjutnya membuat tubuh mungil itu bangkit.


"Bagaimana bisa kau asyik melamun tanpa memperhatikan tuanmu?"


"Chad..." panggilnya memastikan.


"Apa kau membersihkan rumah dengan baik? ingat aku tidak akan mentolelir kesalahan sedikit pun" ujarnya.


Sekian lama akhirnya senyum itu mengembang juga di wajahnya, dengan cepat ia berlari untuk merangkul. Hanya butuh beberapa menit untuk melepaskan kerinduan itu, tentunya dengan sedikit air mata.


"Ku dengar kau terluka parah hingga mengalami lumpuh" ujar Ima menunjukkan kecemasannya.


"Apa kau lupa bahwa aku vampire?" tanya Chad.


"Kau bukan sepenuhnya vampire" tukas Ima kini dengan nada keras seperti biasa.


"Ima...aku sangat merindukan mu tapi kali ini berikan aku waktu untuk menemui Agler" ujarnya dengan wajah serius.


Ima agak terkejut, tapi mengingat apa yang telah ia lakukan demi bertemu Chad tentu ia sadar Agler lebih berhak kali ini. Dengan menganggukkan kepala ia pergi untuk memberitahu Agler bahwa Chad menunggunya di air terjun.


Saat Ima memberi kabar ini dengan cepat Agler mengambil langkah, tak butuh waktu lama ia sudah sampai dan menemukan seorang pria yang sangat mirip dengannya tengah berdiri memandang permukaan air yang membeku.


Bagai bercermin segala yang ada pada tubuhnya begitu mirip dengan Chad, mulai dari wajah hingga postur tubuh. Satu-satunya yang membedakan mereka dari luar hanyalah pakaian yang menunjukkan status.


"Chad....mungkin ini terdengar konyol, tapi kita adalah saudara kembar" ujar Agler pelan.


"Hmm, lalu kenapa? apa aku harus merangkul mu dan mengatakan 'saudaraku' sambil menangis?" tanya Chad dingin.


Whhuuusss...


Tiba-tiba angin bertiup menggoyangkan rambutnya yang sedikit panjang, tapi yang membuatnya kedinginan adalah tatapan itu. Begitu tajam, dingin, dan intens seakan menusuk ke dalam jiwanya hingga bahkan untuk berkedip pun terasa sulit.


"A-aku...maksudku, pulanglah...tempat kita yang sebenarnya adalah di kediaman Hermes" ucapnya terbata.


Ada senyum tipis yang terlihat mengerikan di wajah Chad, seolah sejak lahir dia adalah pemangsa yang sebenarnya.


"Namaku Chad Menhad, keluarga ku bernama Menhad" jawabnya.


"Tidak Chad! kau harus meninggalkan wanita yang bernama Joyi itu! dia adalah penjahat yang sebenarnya, dia yang telah menculik ibu kita dan berniat menyakitinya!" sergahnya.


Whuusss....


Gep


A-ahhh...ah...


Hanya dengan satu gerakan dan satu tangan Chad mencengkram leher Agler hingga membuatnya sulit bernafas, untuk ukuran orang yang baru jatuh dari lantai empat belas ia memilliki kekuatan yang besar hingga mampu mengangkat tubuh Agler di udara.


Sekuat tenaga Agler mencoba melepaskan diri namun cengkraman itu sangatlah kuat, seolah dirasuki iblis Agler yang terbiasa bertarung bahkan tak mampu menandinginya.


"Jangan pernah katakan hal itu lagi, aku tidak akan segan-segan membunuh mu jika kau berani melakukannya lagi" ujar Chad memperingati.


Bruk


Arrgghhh... Uhuk Uhuk Uhuk


Menghirup udara dengan serakah Agler mencoba mengisi paru-parunya yang seakan kosong, tapi tentu ia masih memiliki kekuatan untuk bicara.


"Kau telah di jebaknya, dia sengaja mengasuhmu untuk menjadi senjata. Dia...ingin kau menghancurkan keluarga kita"


"Sudah ku bilang berhenti!" teriak Chad siap untuk peringatan selanjutnya.


"Kenapa kau begitu melindunginya?" balas Agler berteriak.


"Karena dia orang yang merangkul ku saat aku sendirian! dia yang memberikan ku kehidupan dan kebahagiaan, aku tidak bodoh kawan. Kau yang hidup di bawah atap berselimut hangat dengan orangtua yang sempurna tidak akan pernah mengerti, sejak lama aku sudh tahu bahwa dalam darah ku ada DNA Hermes tapi justru itu membuat ku semakin membencinya. Kau tahu kenapa? karena orangtua angkat ku meninggal dan penyebabnya adalah Jack Hermes"


"Apa?" gumam Agler tak percaya.


"Mengetahui bahwa aku hanya anak pungut itu sudah menyakitkan, di tambah dengan kematian orangtua angkat ku saat bahkan aku baru mengenal huruf. Jack yang telah merenggut kebahagiaan ku dan bukan hanya itu, dia yang membakar ibu kandung kita"

__ADS_1


"Tidak Chad, kau salah. Nenek Jessa datang untuk menyelamatkan kita dan ibu dari Joyi, tapi ia di hadang oleh penjaga dan dalam pertarungan itu sebuah lilin terjatuh sampai membakar semuanya. Itu adalah kecelakaan, bukan tindakan Jack" sergah Agler.


"Oh...jadi kau mengetahuinya dari wanita ular itu, pantas saja kau sangat bersikukuh" ucap Chad lebih tenang namun dengan senyum yang mencurigakan.


"Apa kau tahu wanita yang bernama Jane Hermes?"


"Ti-tidak, siapa dia?"


"Nenek kandung kita, dia adalah ibu dari Reinner Hermes yang meninggal jauh saat ayah kita masih kecil dan orang yang telah membunuhnya adalah Jessabelle. Istri pertama dari Jack Hermes"


"Apa?" gumam Agler terkejut.


Tentu saja karena dia tak tahu kalau ternyata kakeknya memiliki istri lebih dari satu, apalagi ternyata istri pertamanya adalah orang yang membunuh nenek kandungnya.


"Menyedihkan! kau terlalu lama hidup dalam sangkar hingga tak tahu dalam hierarki Meerkat sang alpha betina akan membunuh bayi yang baru lahir dan memaksa induknya untuk menjadi 'induk basah' atau hidup dalam pengasingan" ujar Chad seraya menatap Agler yang bersimpuh di atas salju.


Alasan inilah yang membuat Chad menyimpan dendamnya sendiri, sebab meskipun saudara tapi Agler terlalu mentah.


* * *


Melewatkan jam makan malam Agler mengunci diri di kamar, tentu hal ini mengundang tanya orangtua angkatnya namun Ima sendiri tak tahu alasannya. Yang bisa ia pastikan hanyalah itu pasti berhubungan dengan Chad, mungkin ada gesekan yang biasa terjadi antara saudara namun karena mereka masih baru jadi Agler terlalu memikirkannya.


Ima pun sebenarnya tidak ingin ikut campur tapi tak bisa di pungkiri benaknya terus memikirkan hal itu sampai-sampai saat berjalan dengan Chad pun ia melamun.


"Ima..." panggil Chad untuk yang ketiga kalinya.


"Ah maaf, apa yang ku lewatkan?" tanya Ima menepis lamunannya.


Chad memandang mata itu lekat-lekat, ini adalah kali pertama Ima melamun saat mereka sedang berdua. Tentu bukan hal yang biasa di lakukan oleh gadis periang sepertinya.


"Apa yang menganggumu?" tanya Chad.


Setelah lama tak bertemu tentu yang ia inginkan adalah berduaan dengan Ima demi memulihkan energi jiwanya yang seakan habis, untuk itulab ia tak ingin ada apa pun yang menganggu keceriaan Ima.


"Mm, tidak ada" jawab Ima sambil menggelengkan kepala.


"Siapa yang coba kau bodohi?" tanya Chad lagi jelas karena ia tahu saat Ima berbohong.


"Aku...itu...kakak mengunci diri di kamarnya, itu membuat ku sedikit khawatir" jawabnya sambil memalingkan wajah.


Melihat kecemasan yang tergambar jelas di wajah Ima membuatnya sedikit cemburu, apalagi saat ia sadar Ima dan Agler telah menghabiskan waktu seumur hidup dengan selalu bersama


"Apa?"


"Agler terlalu mudah percaya pada orang yang baru dia kenal, saat sesuatu tidak sesuai dengan harapan tentu saja dia akan merasa sangat kecewa"


"Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian?" tanya Ima penasaran.


Sejenak Chad terdiam, berfikir bagaimana caranya menjelaskan situasi yang sulit itu. Tapi pemikiran itu malah membuatnya takut akan ada kebencian yang di berikan Ima terhadapnya.


"Ima...jika...kau memiliki perahu kecil yang hanya muat dua orang di tengah lautan, antara aku dan Agler yang meminta pertolongan mu. Siapa yang akan kau korbankan dan selamatkan agar perahu bisa berlayar dengan baik?" tanya Chad tiba-tiba.


Ima cukup kaget dengan pertanyaan itu, tapi kemudian dengan wajah ceria ia menjawab.


"Aku akan mengulurkan tangan ku kepada kak Agler dan membantunya naik ke dalam perahu."


Chad tertegun, rupanya Ima memang lebih memilih Agler dari dirinya.


"Begitu...ya" gumamnya pelan.


"Setelah itu aku akan terjun ke air dan membantumu naik ke atas kapal, kak Agler juga pasti akan mengulurkan tangannya untuk mu. Jika di kedua sisi ada orang yang menolongmu aku yakin kau pasti akan selamat" lanjut Ima yang membuat Chad lebih kaget.


Tapi kini dengan penuh kesadaran ia mengerti maksud perkataan Ima, perasaan haru menyelimuti hatinya hingga terasa hangat.


"Bukankah kau tidak bisa berenang?" tanya Chad.


"Justru karena itu aku biarkan kalian yang naik kapal, selain agar kalian memiliki banyak waktu untuk bersama penderitaan ku pun juga tidak akan lama karena tubuhku akan langsung tenggelam" jawabnya.


Entah mengapa ucapan itu tiba-tiba membuat Chad ngeri, padahal dia yang membuat pertanyaan tapi jawaban seperti itu membuatnya membayangkan pengorbanan Ima yang besar.


Di peluknya Ima dengan erat seakan gadis itu akan pergi jauh darinya, sementara Ima hanya bengong tanpa tahu kekhawatiran yang di rasakan Chad akibat ucapannya.


Lagi-lagi kebersamaan itu terlihat oleh Kyra secara kebetulan, kali ini pemandangan itu membuatnya cukup sakit hati. Seolah tangan yang di berikan Chad waktu hanyalah kebetulan semata yang tak berarti, bahkan rasanya dia telah di khianati begitu saja.


Dengan tajam Kyra menatap perawakan Ima yang tak lebih baim darinya, bahkan pakaian yang Ima kenakan jauh dari kata bagus atau rapi.

__ADS_1


Hal itu lebih membuat Kyra sakit hati lagi sebab rasanya ia telah kalah saing oleh gadis kampungan yang tidak tahu cara berpenampilan, ujung kepalanya yang kian memanas membuat keegoisannya berjalan cepat menghampiri mereka.


"Chad..." panggilnya.


Mendengar suara yang familiar membuat Chad melepaskan pelukannya, ia tak mengira dari sekian banyak tempat mereka dapat bertemu di sana.


"Kyra.." jawabnya.


"Kau bilang sedang sibuk bekerja sampai tak ada waktu untuk menemui ku, apakah kau baru menemui klien mu di sekitar sini?" tanyanya.


Chad agak bingung dengan tingkah Kyra sebab setelah peristiwa itu inilah kali pertama mereka bertemu lagi, tapi Kyra bertingkah seolah mereka sudah sering bertemu.


"Apa kau sibuk malam ini? bisakah kau menemaniku ke toko kue? saat pertunangan kita aku ingin sebuah kue yang bagus" ujarnya.


Chad cukup kaget mendengarnya tapi Ima lebih dari sekedar syok, ia tak mengira di belakangnya Chad memang telah berhubungan dengan seorang gadis seperti perkataan Agler.


"Apa yang kau bicarakan? pertunangan siapa yang kau maksud?" tanya Chad dingin yang membuat kedua gadis itu diam karena kaget.


"Te-tentu saja pertunangan kita" jawab Kyra pelan.


"Kapan aku mengatakan pertunangan itu akan tetap berlangsung?"


"Me-meski begitu ini adalah rencana kita, kau yang datang dan melamarku. Aku tahu setelah kecelakaan itu kau butuh waktu tapi jangan jadikan pekerjaan sebegai alasan mu terus" jawabnya tergagap.


"Sepertinya ada yang harus ku perjelas" ucap Chad.


Tiba-tiba satu tangannya merangkul Ima untuk mendekat ke tubuhnya dan dengan tegas ia berkata.


"Dialah satu-satunya gadis yang ku cintai, sekali pun di dunia ini hanya kau satu-satunya gadis yang ada aku tidak akan pernah memilihmu. Jadi berhentilah mengusik dengan bualan mu."


Prraaangggg....


Ada suara pecah yang begitu nyaring, ia kira seseorang telah menjatuhkan barangnya. Tapi saat dadanya terasa sesak barulah ia sadar bahwa itu adalah hatinya, hancur begitu saja.


"Jangan bercanda, itu tidaklah lucu" ujarnya pelan.


Tapi Chad tetap diam dengan ekspresi seriusnya, membuat air mata jatuh begitu saja di pipi mulusnya.


"Kau bilang ingin menikahi ku, kau datang dengan banyak kebaikan dan hadiah bahkan bahkan kau menyelamatkan nyawaku. Apa artinya semua itu? kenapa sekarang kau tiba-tiba berubah pikiran?" tanyanya dengan jantung yang berdebar kencang.


"Bukankah sejak awal kau tidak menyukaiku? kau terus menghindar dan membuat berbagai alasan untuk menolak, jangan bersikap seolah kau adalah korban! aku tahu selama ini kau menyukai pria lain" ungkap Chad yang membuat Kyra tertegun.


Jarang berinteraksi dengan orang lain bukan berarti Chad adalah orang yang bodoh, justru karena ia tak banyak bicara ia lebih senang memperhatikan orang lain sampai ia tahu saat seseorang sedang berbohong atau tidak nyaman.


Selama ini ia dapat melihat Kyra dan Manager San yang selalu saling curi pandang, bahkan mata mereka mengisyaratkan sesuatu yang intens. Hanya untuk memastikan dengan sengaja ia memata-matai Manager San dan terbuktilah telah terjadi sesuatu diantara mereka.


Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Manager San dan Kyra menghadiri sebuah acara fashionshow, esoknya ia mencoba meminta saran kepada Manager san untuk mengirim hadiah kepada Kyra.


Tak di sangka Manager San memberikan hadiah gaun yang ada pada acara itu, setelah peristiwa itu Chad melihat sebuah tembok yang menjadi pembatas diantara mereka.


Itu sedikit melegakkan karena kini ia tahu Manager San sangatlah setia kepadanya, di sisi lain rupanya Kyra malah jadi menerima kehadirannya yang membuat masalah semakin rumit.


"Ayo kita pergi" ajak Chad.


"Tapi Chad" sergah Ima yang melihat kehancuran di mata Kyra.


"Jangan menghiraukannya, ini perintah!" tegas Chad.


Tak dapat berbuat banyak Ima memilih patuh, ia bergerak mengikuti langkah Chad pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah berada cukup jauh dari tempat dimana Kyra berada tiba-tiba Ima menghentikan langkahnya, dari raut wajahnya Chad tahu apa yang akan Ima katakan.


"Sudah ku bilang jangan hiraukan gadis itu"


"Tapi kau sudah keterlaluan! kau mempermainkan hati seorang gadis!" bantah Ima.


"Apa yang kau harapkan dariku? meneruskan sandiwara dengan mengikuti perkataannya?"


"Kenapa kau lakukan ini? sandiwara apa yang sedang kau mainkan?" tanya Ima lebih penasaran lagi, tapi Chad masih membungkam mulutnya.


"Dengar, suatu saat nanti aku akan jelaskan semuanya kepadamu. Ini adalah masalah yang sedikit rumit jadi aku butuh waktu, aku hanya ingin kau tetap berada di sampingku dan mendukungku" ucap Chad sambil memegang kedua bahu Ima.


Tatapan mereka saling beradu, mencari kepercayaan yang telah terjalin dan menjadi kekuatan untuk mereka. Pada akhirnya Ima memberikan dukungannya dengan menganggukkan kepala, membuat Chad tersenyum lega.


"Ah satu lagi, jika kau bertemu lagi dengannya jangan dengarkan apa pun yang dia katakan dan jika dia mengusik mu laporkan padaku"

__ADS_1


"Kenapa? kau takut aku sakit hati atau terluka? tenang saja tuan berhati beku, aku pernah melayani wanita malam yang kau bawa pulang ke rumah dan tidur di ranjang mu" sahut Ima mengingatkan.


Itu cukup membuat Chad terkejut, tentu saja karena ia baru tersadar kembali bahwa yang ia cintai adalah sosok gadis tangguh yang tak mudah di patahkan. Mengingat perbuatan buruknya itu membuat ada rasa bersalah namun lega karena ia yakin Ima dapat mengatasinya dengan baik.


__ADS_2