
Ballard terdiam, bingung entah dia harus mulai dari mana untuk mengatakan semua kekacauan ini. Namun satu yang jelas Chad harus mengetahui identitasnya yang telah di sembunyikan oleh Joyi.
"Aku adalah Ballard, salah satu petinggi di istana dan aku juga adalah kakek mu"
"Apa?" tanya Chad.
"Kau bisa tanyakan kepada Joyi, aku adalah ayah dari mendiang ibumu"
"Kau... kenal dengan nenek" ujar Chad pelan.
"Tentu saja, aku yang menitipkan mu kepadanya agar kau selamat"
"Apa maksud mu?" tanya Chad penasaran.
Ballard pun menceritakan kisah di balik pangeran mahkota, seorang raja dengan darah penyihir di dalam tubuhnya berhasil naik tahta dan memimpin istana.
Dia adalah Reinner Hermes, di sampingnya seorang permaisuri cantik bernama Chaterine setia mengabdikan diri. Namun saat kabar kehamilan Chaterine berbagai masalah muncul dari istana, beberapa pemberontakan mulai terjadi hingga perang kecil antar vampire pun terjadi.
Reinner di anggap tidak mampu menjalankan tugas sebagai raja dengan baik, bahkan ia di cap sebagai penyebab dari kerusuhan itu sebab darah penyihir yang mengalir dalam tubuhnya.
Para petinggi telah sepakat untuk menggulingkannya dari tahta, tapi beberapa vampire tak puas dengan hal itu. Dia dan isterinya di buru untuk di habisi, saat itulah Ballard mencoba membantu mereka kabur.
Naas Reinner tak terselamatkan, Chaterine di tangkap dalam keadaan hidup dan siap di jatuhi hukuman mati tapi sempat ia selamatkan juga meski dengan luka di tubuhnya.
Ia melarikan Chaterine ke rumah Joyi, dalam keadaan luka Chaterine melahirkan Chad ke dunia dan meninggal tak lama kemudian.
"Kedatangan ku kemari adalah untuk memberitahu mu bahwa kau adalah seorang pangeran mahkota, tugasmu adalah untuk menggantikan jabatan mendiang ayahmu dan menghukum mereka yang telah membunuhnya" ujar Ballard.
Chad hanya menatap tanpa ekspresi, kemudian ia menatap Jhon seakan mempertanyakan kebenaran dari kisah itu.
"Nenek mu tahu kisah yang sebenarnya, kau bisa menanyakan hal ini kepadanya" ujar Ballard.
"Pergilah Chad" kata Jhon seakan mendukung perintah Ballard.
Chad memutuskan untuk pulang dan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi, tentang identitas yang di katakan oleh Ballard.
Meski hari itu sudah malam tapi ia tahu Joyi masih menikmati teh sambil berbincang dengan Aeda, wajahnya keras saat menemui Joyi dan mengatakan ingin bicara empat mata. Tanpa harus di perintah Aeda pamit meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa Chad? kenapa ekspresi mu seperti itu?" tanya Joyi lembut.
"Seorang vampire menemui ku dan mengaku sebagai kakek ku, namanya Ballard" jawab Chad nampak gusar.
Mata Joyi menatap sendu, ditaruhnya teh itu di atas meja sedang ia bangkit dan menatap keluar jendela.
"Lantas?" tanyanya.
"Katakan apa yang tidak aku ketahui" pinta Chad.
"Sebelum itu, apa kau siap mendengarnya? kisah mu sungguh lebih malang dari seekor anjing yang di buang di jalanan" ujar Joyi sambil membalikkan badan untuk memandang Chad.
"Aku mohon nenek, katakan!" pinta Chad sekali lagi dengan suara yang di tekan.
Hhhhhhhhh
Joyi menghembuskan nafas panjang dan kembali menatap pemandangan luar dari balik jendela.
"Ayahmu adalah Reinner Hermes yang menjadi raja di istana vampire, tapi ia di bunuh karena suatu alasan oleh bangsa vampire. Sedangkan ibumu adalah Chaterine di bunuh oleh Jack Hermes, hanya kau yang berhasil aku selamatkan" ujar Joyi sambil mengingat peristiwa dimana kejadian itu terjadi.
"Tapi... vampire itu bilang ibu meninggal setelah melahirkan ku" ujar Chad.
"Dia adalah kakek mu, ayah dari mendiang ibumu. Jika aku katakan bahwa putrinya di bunuh oleh besannya sendiri apakah dia bisa menerima kehadiran mu sedang dalam darahmu mengalir DNA Hermes, padahal kau juga dendam atas kekejaman Jack"
"Jadi... kedua orang tuaku di bunuh dengan tragis, jadi... maksud nenek ayah meninggal dalam perang adalah untuk melawan para vampire yang ingin membunuhnya, kenapa nenek tidak beritahu ku sejak dulu?" teriak Chad kecewa.
"Nenek sudah berniat untuk mengatakannya, tapi nenek menunggu waktu yang tepat agar kau bisa menerima kenyataan itu. Kau sudah cukup menderita dengan kekejaman keluarga mu sendiri, nenek tidak ingin melihat mu lebih hancur" jawab Joyi dengan suara lembut.
__ADS_1
"Chad.... " panggil Joyi menyesal sambil mencoba memegang tangannya.
Tapi Chad menepis tangan itu dan mundur beberapa langkah, matanya merah dan berkaca-kaca jelas memperlihatkan luka yang semakin melebar di dadanya.
"Atur pertemuan dengan Violet, aku akan mulai memberikan pelajaran kepada Jack" ujarnya.
Joyi hanya bisa mengangguk dan membiarkan Chad pergi, membawa pergi kesedihan itu ke rumah istirahat untuk dia luapkan di sana. Menit-menit berlalu dengan deraian air mata dan teriakan amarah dari jiwanya yang sakit, semakin ia keluarkan dadanya semakin sesak hingga ia tak mampu untuk menahannya lagi.
"Chad..." panggil Ima yang tiba-tiba datang.
Perlahan Ima berjalan menghampiri, menatap Chad dalam kegelapan dengan bingung. Erangan yang keluar dari kerongkongan Chad cukup menakutkan tapi begitu ia dekat Ima sadar bahwa itu merupakan erangan pilu.
"Chad.... ada apa?" tanya Ima pelan.
Chad mengangkat kepala, menatap Ima dan tiba-tiba merangkulnya.
"Cha-chad! kau baik-baik saja?" tanya Ima kaget.
Tapi Chad tak menjawab, ia terus menangis di pelukan Ima sampai membuat hati Ima ikut merasakan kepedihannya. Secara reflek ia menggerakkan tangan untuk merangkul Chad, memeluknya erat dan membiarkannya menangis sepuasnya.
"A... ku.. tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahku... hari ini... aku baru mengetahui.. bahwa bahkan sebelum aku lahir.. dia sudah di bunuh oleh para penjahat itu.. " ujar Chad dalam isak tangisnya.
Ima hanya bisa mengelus lembut pundak Chad saat mendengar berita yang ternyata memilukan itu, hari ini ia tahu bahwa di balik sifat dingin Chad ada seorang anak yang kehilangan ayahnya dalam keadaan tragis.
* * *
Chad bangun saat pagi telah menjelang dan mendapati dirinya berada di atas ranjang, tentu hal itu cukup membuatnya kaget. Namun yang membuat Chad lebih kaget adalah kehadiran Ima yang tertidur di lantai dengan setengah badan di atas ranjang tepat di sampingnya.
Ia pun ingat semalam telah menangis dalam pelukan Ima sampai tertidur, perlahan ia pun bangun dan menggendong Ima untuk membaringkannya di atas tempat tidur.
Melihat wajah Ima yang polos membuat hatinya sedikit damai, tapi kemudian perasaan itu masuk kembali ke dalam sarangnya.
Chad meminta Aeda untuk melarang semua pelayan bekerja hari itu sebab ia tak mau ada seorang pun yang mengganggu tidur Ima, sedang ia sendiri meminta Joyi mengatur pertemuan dengan Violet.
Tentu Violet dengan senang hati akan datang memenuhi undangan itu, bahkan ia sudah datang di tempat pertemuan setengah jam lebih cepat.
"Maaf telah membuat nyonya menunggu lama" ujar Chad menghampiri.
"Ah tidak, aku pun baru datang" jawab Violet sambil berdiri menyambut kedatangan Chad.
Mereka memesan kopi untuk menemani obrolan santai itu, awalnya tentu Chad basa basi dengan menanyakan hobi atau hal lain yang di sukai Violet sampai ia merasa sudah waktunya melempar umpan.
"Jika anda ijinkan aku ingin mengajak Kyra keluar malam ini, aku akan datang menjemputnya nanti malam" ujarnya.
"Tentu saja, datanglah ke kediaman kami" jawab Violet dengan senang hati.
Mungkin ini cukup beresiko sebab Jack pernah bertemu dengannya di hutan waktu itu, mungkin Jack juga sudah sadar bahwa itu perbuatannya. Tapi dalam permainan ini ia harus berani melangkah untuk mengambil resiko, sebab bertaruh dengan keberhasilan 50% lebih baik dari pada tidak bertaruh sama sekali dengan kegagalan 100%.
Ia menyampaikan niatnya kepada Joyi dan minta di siapkan pakaian terbaik serta seikat bunga untuk Violet, Aeda yang mengurus semua hal itu dengan cepat menyiapkannya.
"Kau mau kemana?" tanya Alisya melihat sepupunya yang seakan-akan berkencan.
"Aku akan pergi sebentar, ada urusan yang harus aku kerjakan"
"Bagaimana dengan janjimu? apa kau sudah dapat petunjuk?" tanya Alisya penuh harap.
Pertanyaan itu tentu membuat Chad sedikit merasa bersalah, meski awalnya ia berniat baik untuk membuat Alisya melupakan pemuda bodoh itu.
"Maaf, aku masih mencarinya" jawab Chad pelan.
Alisya menundukkan kepala dengan lesu, tapi senyum Chad tetap ia balas meski tanpa gairah.
Chad pergi diantar Manager San menuju kediaman Hermes, dimana keluarga besar itu tinggal di sebuah kastil tua yang masih terlihat elegan.
Melihat sebuah mobil mewah dan pemuda tampan yang turun di depan gerbang para penjaga itu membukakan pintu, Violet yang sudah menunggu sejak tadi segera menyambut kedatangan Chad dengan bergembira.
__ADS_1
"Selamat datang tuan Chad"
"Terimakasih, ini bunga untuk anda" ujarnya sambil menyerahkan bunga itu.
"Kenapa kau repot-repot?" jawab Violet namun dalam hati ia sungguh senang menerimanya.
"Silahkan masuk, aku akan memberitahu Kyra kalau anda sudah datang. Dia sudah menunggu mu sejak tadi sampai berulang kali berkaca hahaha... kau tahu gadis seperti apa" gurau Violet.
Chad hanya tersenyum kemudian masuk dan duduk di ruang tamu, seorang pelayan tak lama kemudian menyuguhkan minuman sementara Chad melihat sekeliling ruangan itu.
Kastil itu nampak sepi sehingga ia bertaruh Jack dan Shigima belum pulang dari kantor, itu agak sedikit menjengkelkan karena tak ada drama yang terjadi tapi cukup melegakan juga karena ia tidak perlu berakting bodoh.
"Maaf telah membuatmu menunggu lama" ujar Violet yang datang bersama dengan dengan Kyra.
Chad berdiri dan mengancingkan jasnya, menatap Kyra yang berdiri di samping ibunya. Pesonanya semakin terpancar dengan gaun putih yang ia kenakan dan riasan tipis namun terlihat cukup mencolok, Chad akui kecantikan yang di miliki Kyra jauh lebih besar namun anehnya hatinya tak bergetar seperti saat ia menatap Ima di hutan.
"Selamat malam nona... Kyra" ujar Chad mengecup punggung tangan Kyra.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini" lanjutnya setelah Kyra menarik tangannya.
Jelas Kyra tak nyaman akan hal itu, berkali-kali ia menatap ibunya sambil mengerutkan kening dan Violet menjawab dengan isyarat matanya.
"Ah... kenapa berdiri di sini, pergilah dan nikmati makan malam kalian" ujar Violet sembari mendorong Kyra untuk mulai melangkah.
"Kalau begitu kami permisi dulu" jawab Chad.
Ia berjalan keluar rumah diikuti oleh Kyra dan Violet, Manager San yang sudah siap berdiri di samping mobil untuk membukakan pintu. Begitu matanya beradu pandang dengan Kyra tanpa sadar Manager San telah terpesona kembali, apalagi saat Kyra melempar senyum manis.
"Manager San!" panggil Chad sebab ia mematung.
"Ah, iya tuan" jawabnya tersadar.
Segera ia membukakan pintu belakang agar tuannya dapat masuk ke dalam mobil bersama dengan Kyra, setelah mereka berpamitan mobil pun meluncur menuju restoran yang telah Chad pesan sebelumnya.
Saat mereka sampai seorang pelayan dengan sigap memimpin jalan menuju meja makan mereka, untuk Chad ia di beri segelas wine sedang Kyra hanya jus sebab ia masih di bawah umur.
Makan malam itu harusnya berlangsung dengan romantis namun apa pun pertanyaan yang di ajukan Chad Kyra selalu menjawab dengan singkat dan dingin, membuat Chad tak betah berlama-lama bersamanya.
Ini adalah kali pertama seorang gadis tidak tertarik padanya, bukan menjadi penasaran tapi Chad malah muak. Mungkin karena ia tahu mereka memiliki darah yang sama, darah yang membuatnya ingin menjadi pendonor setiap saat.
"Jika kau punya waktu luang aku ingin mengajak mu makan malam lagi" ujar Chad untuk mengakhiri percakapan buruk itu.
"Aku sedang sibuk, aku tidak yakin bisa memenuhi undangan mu" jawab Kyra ketus.
"Aku mengerti" balas Chad.
Chad memberi isyarat kepada pelayan bahwa mereka telah selesai, maka seorang pelayan pun datang untuk memberikan bill. Setelah selesai membayar mereka pergi keluar dimana Manager San sudah siap membukakan pintu untuk mereka.
Selama perjalanan pulang untuk mengantar Kyra pulang tak ada percakapan yang hadir diantara mereka sehingga membuat Manager San sadar bahwa makan malam itu tidak berjalan dengan mulus, anehnya ia merasa senang akan hal itu sehingga ada senyum yang tersungging di sana.
"Terimakasih" ujar Kyra pelan setelah mereka sampai di kastil tua itu.
Violet tentu menghampiri untuk menyambut kepulangan anak gadisnya, begitu pun dengan Ryu dan Shigima. Saat melihat Chad hal pertama yang di rasakan Shigima adalah curiga tanpa alasan, sebagai penyihir sedikitnya ia bisa merasakan aura mencekam dari Chad.
"Masuklah, biar aku menjamu mu dengan segelas kopi" tawar Violet.
"Maaf nyonya andai saya punya waktu luang, sayangnya waktu itu telah saya gunakan untuk nona Kyra" jawab Chad seraya tersenyum.
"Tidak perlu memaksa Violet, lagi pula ini sudah malam. Biarkan dia pergi untuk istirahat" ujar Ryu jelas tidak suka.
Violet mencoba membujuk lagi agar Chad mau masuk tapi di sisi lain Ryu terus mencoba mengusir secara halus, tentu Chad lebih memilih pergi karena ia pun tak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi saat melihat keluarga Hermes yang nampak sempurna itu.
"Manager San, tolong berhenti di depan" ujar Chad dalam perjalanan pulang mereka.
"Oh, baik tuan" jawab Manager San sedikit heran sebab Chad meminta di turunkan di dekat bar.
__ADS_1
Ia menyuruh Manager San untuk pulang lebih dulu sedang ia sendiri mencoba menutup hari yang menyedihkan itu dengan segelas anggur.