
Pencarian Reah berbuah manis, ia mengetahui Nick tinggal di kota Ooty baru-baru ini. Bersama dengan Hans ia pergi dan sampai saat matahari sudah terbenam, bukan masalah besar karena jika tidak ada hotel mereka bisa tidur dimana pun selama tempat itu aman dari bahaya.
Tapi Hans memutuskan untuk terus mencari Nick tanpa istirahat, tak boleh ada waktu yang terbuang percuma demi kesuksesan misinya. Meski Reah sedikit jengkel tapi ia ikut juga sebab tak mau di tinggal begitu saja, berbekal ilmu pengetahuan yang di dapat dari Akademi mereka berhasil menemukan Nick di hutan tengah berburu.
"Bukankah...kalian murid Shishio?" tanya Nick yang tak lupa akan wajah itu.
"Benar, kami sengaja datang kemari karena ada hal yang ingin kami sampaikan" ujar Hans tak sabar.
Melihat seriusnya ekspresi kedua orang itu Nick pun mengajak mereka ke rumahnya, sebenarnya itu hanya rumah tak berpenghuni yang sudah bobrok. Setelah keluarga Colt pindah ke rumah barunya mereka tidak punya kamar atau pun atap untuk tempat tinggal Nick.
Oleh karena itu Nick mencari tempat tinggal sendiri asal tempat itu cukup aman untuk ia tidur di siang hari, lokasinya yang tak jauh dari kediaman Colt pun membuatnya cukup strategis.
"Maaf tempatnya sangat berdebu, kalian boleh duduk di mana saja" ujar Nick.
Hans menempatkan tubuhnya di atas sofa meskipun berdebu, setelah melewati berbagai macam rintangan demi menemui Sang Dewi dan Ramuan Ajaib debu tidaklah ada artinya.
Tanpa bisa menunggu lagi secara blak-blakan ia menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi Nick, tentu Nick sedikit terkejut akan permintaan itu. Ia tak menyangka seorang penyihir muda dapat memiliki ide gila seperti itu, saat kebanyakan vampire mencoba melepaskan diri dari istana Hans malah ingin pergi ke sana.
"Aku mengerti kegelisahan mu, bukan hanya kaum penyihir saja terkena dampak buruk dari perang ini tapi kami para prajurit vampire juga kena imbasnya. Tapi meski begitu aku tidak bisa ikut campur dalam rencana mu ini" ujar Nick.
"Kenapa? jika perang berakhir maka kau juga di untungkan bukan? kau tidak perlu lagi khawatir saat mencari makanan"
Huft hahahaha hahahaha
Hans tidak merasa sedang bercanda, dari kerutan di dahinya jelas bahwa ia sangat serius dalam masalah ini. Tapi tawa Nick begitu lepas seakan dia di ajak bergurau, tentu dengan bingung ia hanya bisa saling menatap dengan Reah.
"Kau benar-benar mentah nak" ujar Nick setelah lelah tertawa.
"Maksud mu?" tanya Hans tersinggung.
"Sekali pun kedua kubu membuat kesepakatan itu tidak akan berpengaruh kepada makanan ku, meskipun kata damai telah tiba jika aku sembrono dalam memangsa manusia tetap saja kalian tidak akan melindunginku. Sebaliknya kalian akan memburuku bak monster yang harus di basmi, belum lagi ancaman dari manusia itu sendiri" jelas Nick.
Baik Reah maupun Hans sama-sama tidak berfikir sejauh itu, ia kira jika perang usai maka semua masalah pun akan usai.
"Darah manusia bagi ku sama saja seperti air bagi kalian, satu dua minggu kalian bisa hidup tanpa makan tapi tidak dengan air. Jika kalian tidak mendapatkan minum maka tubuh kalian akan lemah tak berdaya, kebalikannya saat aku tidak mendapatkan darah maka isnting berburu ku akan semakin liar hingga tidak berakal. Rasa haus itu sangatlah menyiksa, seperti tenggorokan mu terbakar hingga kering kemudian di sayat secara perlahan."
Hans menelan ludah, tentu ia tahu bagaiman rasanya kehausan saat di padang pasir hendak menemui Sang Dewi.
"Padahal aku hanya mencoba memenuhi kebutuhan ku saja, aku tidak pernah merenggut nyawa siapa pun demi melepaskan dahaga ini tapi setiap saat keselamatan ku terancam oleh kalian yang menganggap ku monster. Hidup mandiri dengan mencari mangsa sendiri, di tambah tugas dari Istana untuk menjaga para bangsawan aku melewati hari bagai di neraka selama ratusan tahun maka perang atau berdamai sudah bukan urusan ku lagi."
Selama ini Reah menganggap vampire memanglah monster yang harus di basmi, ia tak mengira ternyata kehidupan vampire seperti Nick jauh lebih tragis dari dirinya.
"Lagi pula sekarang aku sudah memiliki tuan, alasan ku berpindah-pindah pun karena mengikuti tuan ku. Dari pada mencoba mewujudkan harapan mu aku memiliki tugas yang lebih nyata di mataku, itu adalah menjaga murid-murid ku atau anak-anak dari tuan ku tetap aman" lanjut Nick.
Jika seperti ini Hans tak bisa memaksa, ia tahu kesulitan Nick dan tidak boleh egois dengan memaksakan kehendaknya. Pada akhirnya mereka pulang tanpa hasil.
* * *
Ruang keluarga itu nampak seram tanpa ada yang berani bicara ataupun bergerak sembarangan, selama ini Colt adalah ayah yang manis dan suka memanjakan putrinya. Tapi begitu ia tahu anak gadisnya tengah dekat dengan seorang pria maka saat itulah sifat seorang ayah yang sesungguhnya muncul ke permukaaan.
Melihat betapa banyak hadiah yang di kirimkan Chad sudah menjelaskan status yang di miliki olehnya, namun alasan pemberian hadiah itu akan menjadi alasan sikap Colt selanjutnya.
"Jadi...sudah berapa lama kalian saling kenal hingga mengirim banyak hadiah untuk mu?" tanya Colt.
"Itu...sudah cukup lama" jawab Ima berhati-hati memilih kata.
"Benarkah? dan kau tidak mengenalkannya pada ayah?"
"Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya jadi jarang memiliki waktu luang"
"Begitu ya, lalu mengapa dia mengirim banyak hadiah untuk mu?"
"Aku...tidak tahu ayah..." kenyataannya memang seperti itu, bahkan ia sendiri kaget akan hal ini.
__ADS_1
Colt menatap tajam putrinya seolah meneliti apakah Ima berkata jujur, melihat kejernihan mata putrinya itu dan bahasa tubuhnya rasanya memang Ima berkata jujur.
"Jadi siapa pria bernama Chad ini? dan hubungan apa yang kalian miliki?"
Pertanyaan yang cukup sulit di jawab, tidak mungkin Ima membeberkan masalah hutangnya dan pekerjaannya sebagai pelayan karena itu akan membuat drama keluarga ini semakin heboh.
"Itu...aku bertemu dengan Chad pertama kali saat kita masih tinggal di rumah yang dulu, saat itu dia pun sedang berburu kelinci"
"Apa maksud mu berburu?" potong Colt.
"Dia juga vampire sama seperti kita"
"Ahh...lalu?" tanya Colt semakin penasaran.
"Kedua kali kami bertemu itu di kota, dia menyelamatkan ku dari para preman. Sejak saat itulah kami menjadi saling mengenal" ujar Ima melewatkan bagian hutang piutang.
"Astaga! kau mengalami kejadian seperti itu? mengapa kau tidak pernah bilang kepadaku?" teriak Agler yang segera panik.
"Aku baik-baik saja, kakak lihat sendiri aku tidak terluka sedikit pun"
"Sepertinya dia pria yang sangat baik" komentar Mina terlepas dari kecelakaan yang menimpa putrinya.
"Dia memang sangat baik, saat ayah di culik dia yang meminta bantuan paman Jhon untuk menyelamatkan ayah. Aku rasa mereka masih berkeluarga"
"Jhon? maksud mu...Jhon menyelamatkan ku karena permintaan pria bernama Chad itu?" tanya Colt memperjelas.
Ima mengangguk.
"Aahh....kenapa kau tidak cerita dari dulu? ah...pemuda itu pasti berfikir ayah sangat tidak tahu malu karena pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih" erang Colt yang membuat Ima cukup kaget.
"Tolong sampaikan permintaan maaf ayah dan undanglah dia datang ke rumah kita untuk makan malam"
"Apa?" tanya Ima tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.
"Ibu setuju, kau sudah cukup lama mengenalnya jadi sudah sewajarnya kau kenalkan kepada kami" ujar Mina mendukung.
Ima hanya bisa tersenyum sambil mengangguk tak yakin, ia mulai membayangkan kehebohan yang terjadi bila orangtuanya mendapati Chad sangat mirip dengan Agler.
* * *
Sisa malam yang harusnya ia pakai untuk istirahat terbuang begitu saja dengan melamun di bawah sinar rembulan, benaknya penuh dengan berbagai macam hal sampai kepalanya terasa pening.
Lelah namun tak bisa menutup mata Hans mengerang sekeras mungkin, mencoba menyusun setiap masalah dari yang paling darurat sebab tak bisa ia singkirkan.
"Tidak mungkin aku meyerah begitu saja, jika aku menyerah maka perjuangan ku untuk mendapatkan ramuan ini akan sia-sia. Lagi pula...aku yakin Elf pun akan sedih jika tahu aku menyerah pada keadaan" ujarnya bicara sendiri.
Tanpa memberitahu Reah pergi sendirian menemui Nick untuk membujuknya lagi, melihat Hans berdiri tepat di balik pintu rumahnya Nick hanya mendengus dengan kasar.
"Rupanya kau orang yang cukup keras kepala" komentarnya.
"Aku tidak bisa menyerah begitu saja, walau pun mungkin perang itu tidak benar-benar berakhir tapi setidaknya aku menepati janji ku kepada guru Shishio" ujar Hans serius.
"Cih! merepotkan!" tukas Nick sambil berjalan ke arah jendela.
"Jika kau tidak mau ikut maka aku tidak akan memaksa, tapi tolong buatkan denah istana agar aku bisa pergi sendiri."
Nick tak menjawan seolah ia memang tidak perduli dan tidak mau ikut campur tangan, melihat sikap dingin itu tentu membuat Hans kesal hingga tanpa di duga ia melakukan sesuatu yang membuat Nick terkejut.
Duk
"Aku mohon!" teriaknya.
Lututnya menghantam lantai dengan keras saat ia menjatuhkan diri, kepalanya yang menunduk dengan sungguh-sungguh tak akan ia angkat sebelum Nick setuju.
__ADS_1
"Ka-kau....kenapa kalian para manusia selalu bersikeras?" tanya Nick masih dengan wajah terkejut.
"Karena....ada seseorang yang ingin ku ajak ke dunia ini, jika....aku memperlihatkan dunia yang penuh pertumpahan darah bagaimana bisa dia memiliki kesan yang bagus."
Ia baru memikirkan hal ini, meski Elf memiliki alasan pribadi untuk tidak keluar dari teritorinya tapi ia yakin suatu saat Elf bisa ikut bersamanya melihat dunia yang menakjubkan.
"Aarrggghh....kau memang merepotkan, baiklah akan ku buatkan" ujar Nick menyerah.
"Sungguh?" tanya Hans mengangkat kepala.
Nick menganggukkan kepala yang membuat Hans bersorak dan mengucapkan terimakasih tanpa henti, itu cukup mengganggu tapi diam-diam Nick senang.
Sejujurnya ia tersentuh pada keseriusan Hans, tekad dan keras kepalanya mengingatkan Nick pada Ima. Ia kadang kewalahan menghadapi sifat keras itu tapi di sisi lain ia juga menyukainya.
* * *
Biasanya Joyi akan mempertanyakan senyum itu, tapi kini dia ikut senang sebab telah mengetahui alasannya. Rumah yang megah itu kini benar-benar mewah karena tumbuhnya bunga di setiap tangkai dan hati seseorang, membuatnya indah dan hangat.
"Kau cepat kembali, nenek pikir akan butuh waktu beberapa hari lagi"
"Aku hanya pulang untuk mengurus beberapa hal saja, besok aku akan pergi lagi" jawab Chad.
Joyi mengangguk dan meneruskan sesi makannya, seperti biasa akan ada obrolan seputar pekerjaan untuk menghilangkan sepi dalam ruangan itu. Sebenarnya Alisya berharap akan ada topik lain yang lebih ringan seperti acara TV, tapi kedua orang itu terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tak mengetahui acara populer di TV.
"Ah...entah ini karena usia atau terlalu lelah rasanya kaki ku sakit sekali" erang Joyi setelah selesai makan.
"Apa nenek baik-baik saja? perlu aku panggilkan dokter?" tawar Chad.
"Tidak perlu, nenek akan merendamnya dengan air hangat saja. Aeda, tolong siapkan!"
"Baik nyonya" jawab kepala pelayan itu.
"Biar aku bantu" ujar Alisya bangkit untuk menemani Joyi pergi ke kamarnya.
Sementara itu Chad pergi ke luar untuk menikmati suasana malam yang tenang di taman rumahnya, biasanya ia akan menghabiskan waktu di perpustakan dengan buku-bukunya namun malam itu pantulan rembulan di kolam terlalu indah untuk di lewatkan.
Selang berapa lama Manager San datang menghampirinya sambil membawa berkas di tangan, dengan ramah ia menyapa Chad seperti biasa.
"Apa yang kau bawa?" tanya Chad lebih penasaran pada benda itu.
"Oh ini berkas yang di minta nyonya Joyi, saya hendak menyerahkan ini kepada beliau"
"Begitu rupanya, nenek sedang istirahat. Dia bilang kakinya sakit jadi biar aku yang serahkan padanya, kau bisa pulang setelah ini"
"Sakit? apa mungkin karena sering bepergian?" gumam Manager San.
"Bepergian? kemana?" tanya Chad penasaran sebab Joyi tidak bilang apa pun padanya.
"Ah itu...sebenarnya hanya ke mall, namun akhir-akhir ini nona dan nyonya memang sering pergi hanya untuk berbelanja atau ke salon kecantikan"
"Begitu ya" sahut Chad.
Agak aneh memang, ia tahu Joyi selalu menjaga penampilan agar selalu terlihat bugar. Namun tidak sesering seperti ini, ia menduga Joyi tengah merencakan sesuatu tanpa persetujuannya.
"Baiklah tuan, ini sudah malam jadi saya permisi dulu" ujar Manager San pamit.
"Oh ya, silahkan" jawabnya.
Setelah kepergian Manager San ia meneruskan lamunannya, memikirkan kejanggalan yang terjadi pada Joyi. Ia cukup teliti dan peka jika ada sesuatu yang berbeda pada Joyi maka hal itu tak boleh di abaikan, pemikiran itu mengantarkan rasa penasaran pada berkas yang ada di tangannya.
Dengan tak sabar ia membukanya untuk melihat berkas apa yang di minta Joyi pada malam itu, awalnya ia membaca dengan biasa namun saat ia mengerti isi dari berkas itu hatinya langsung berkecamuk.
"Nenek...rencana apa yang sedang kau susun?" gumamnya.
__ADS_1
Tak bisa tinggal diam Chad memilih untuk bertanya langsung, apa pun rencana itu ia memiliki firasat bahwa hal itu merupakan sesuatu yang buruk.