Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 129 Pencarian Sekutu


__ADS_3

Di kamar yang tidak pernah mendapat sinar matahari itu Tianna benar-benar mengurung dirinya, merajuk sebab pernikahannya tertunda sampai waktu yang belum di tentukan.


Shishio maklum akan hal itu tapi ia diam, tak mencoba membujuk seperti biasanya. Sementara Alabama sama sekali tidak peduli, baginya mereka punya urusan masing-masing yang tidak perlu saling ikut campur.


Namun Reinner berbeda, setelah menikah dengan Catherine ia menjadi pribadi yang cukup peka terhadap wanita.


Ia bisa mengerti perasaan wanita begitu juga dengan apa yang mereka inginkan, terlebih seorang wanita vampire.


Ia kembali berkunjung ke rumah markas Shishio khusus hanya untuk menemui Tianna, tanpa menunggu ijin ia membuka pintu kamar dimana Tianna berada.


"Yang Mulia... " panggil Tianna sedikit heran.


"Aku perlu mengatakan beberapa hal kepadamu" ujarnya langsung pada inti permasalahan.


Tianna bangkit dari tempat tidurnya, sementara Rei berjalan masuk untuk duduk di hadapan Tianna.


"Aku sudah mengetahui bahwa kau yang telah menyelamatkan Kyra, pertama aku ingin berterimakasih padamu atas kebaikan yang telah kau lakukan" ucapnya.


"Itu tidak perlu, aku melakukan perjanjian sehingga itu adalah hal yang wajar"


"Aku mengerti, karena itulah aku datang kemari. Tianna, ketimbang menikahi Hans aku memiliki tawaran lain sebagai perjanjian mu" balas Reinner.


"Tapi Yang Mulia, aku tidak melakukan perjanjian dengan mu" sahut Tianna tidak yakin akan tawaran itu.


"Hans adalah keponakan ku, tidak ada masalah siapa yang melakukan pertukaran selain itu apa yang aku tawarkan padamu lebih baik dari penawaran yang dia miliki" jelasnya.


Itu cukup benar, awalnya Tianna melakukan perjanjian dengan Jack namun Hans yang melakukan pertukaran jadi akan sama saja jika sekarang Rei yang menggantikannya.


"Apa yang bisa Anda berikan padaku?" tanya Tianna.


Rei tersenyum akan pertanyaan itu, dengan penuh percaya diri dia menjawab.


"Jadilah putri di istana yang akan aku ambil kembali"


"A-apa?" tanya Tianna seolah apa yang dia dengar adalah halusinasinya.


Setelah Keenan pergi ia sudah tidak mengharapkan lagi bangku istana, tentu saja karena tidak ada kandidat yang bisa membawanya ke sana.


Sekali pun saat Shishio mengajaknya bergabung dalam kelompoknya yang sudah ada Rei di dalamnya, itu karena Rei hanya Raja yang sudah di anggap mati.


Ia mau merawat Rei hingga bisa berjalan saat ini itu karena perintah Shishio, bukan karena mengharapkan Rei kembali ke istana dan menjadikannya putri seperti Keenan.


"Apa Yang Mulia yakin? tidak mudah kembali ke istana" tanya Tianna yang tahu betul bagaimana kerasnya persaingan di sana.


"Tentu saja, aku harus membalaskan dendam pada mereka yang membuat istri dan anak-anak ku menderita. Selain itu sudah menjadi tugasku untuk kembali memerintah, aku hanya perlu memulihkan tenaga sambil mengumpulkan Sekutu" sahutnya yakin.


Jika itu orang lain maka Tianna tidak akan mengindahkan ucapannya, tapi yang duduk dihadapannya adalah seorang darah campuran yang berhasil naik tahta dengan usahanya sendiri.


Reinner adalah Raja pertama yang namanya telah di catatat sejarah sebagai pelopor resolusi, lagi pun saat masih menjadi penyihir ia juga dari garis keturunan yang hebat.


Jika Reinner mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan maka hal itu akan terwujud seperti apa yang ia harapkan, maka Tianna pun memilih untuk menguntungkan dirinya sendiri.


"Yang Mulia, ijinkan aku menjadi Sekutu pertama Anda. Berilah satu perintah pertama mu sebagai pengesahan perjanjian ini, akan hamba laksanakan dengan baik" ujarnya sambil memberi hornat.


Reinner tersenyum senang sebab rencananya berhasil, ia melakukan hal ini bukan hanya untuk menyelamatkan Hans semata tapi karena juga tahu potensi yang di miliki Tianna.


Sekilas orang akan melihat Tianna hanya sebatas vampire yang haus akan kekuasaannya sendiri, polos sehingga mudah di manfaatkan.


Tapi di balik itu Tianna memiliki kemampuan mencari informasi yang setara dengan Shishio bahkan bisa lebih baik jika di serius, seperti vampire kebanyakan ia juga memiliki pesona yang bagus dan selalu ia gunakan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Sejauh ini jarang ada yang bisa menolak pesona Tianna, dan dengan pintarnya Tianna memanfaatkan hal itu demi kepentingannya. Inilah alasan mengapa Reinner yakin untuk merekrut Tianna dalam rencananya, sama seperti yang dilakukan Keenan dahulu.


* * *


Nikmatnya berjalan kini kembali di rasakan oleh Kyra, sepanjang hari ia tak bisa diam dengan terus berjalan-jalan meski dengan pengawasan.

__ADS_1


Itu cukup menyebalkan memang, tapi kali ini ia tidak protes dan membiarkan seorang penjaga tetap berada di belakangnya untuk mengawasi.


Saat malam menjelang di tengah lelapnya tidur orang-orang barulah ia beraksi, secara diam-diam ia menyelinap keluar. Melewati pagar dan berlari menuju tempat dimana kekasihnya tinggal, ini akan jadi kejutan yang menggembirakan.


Ting Tong


Bel itu ia tekan dengan perasaan tak sabar, meski tahu kekasihnya sedang tidur tapi ia tak bisa menunggu lagi untuk memberi kabar baik.


Ting Tong


Sekali lagi ia menekannya kemudian menunggu, setelah beberapa menit barulah kenop pintu bergerak memutar yang memberi arti bahwa Manager San sudah bangun.


Ceklek


Saat pintu itu terbuka nampaklah Manager San dengan rambut berantakan dan bertelanjang dada, matanya yang sayu karena masih mengantuk tiba-tiba terbuka lebar saat menatap Kyra yang berdiri tepat di hadapannya.


Ia pun menggosok matanya untuk memastikan apa yang ia lihat bukanlah bagian dari bunga tidur, dengan wajah berseri Kyra berkata.


"San... aku sudah bisa berjalan normal"


"Kyra... kau... sembuh?" tanya Manager San akhirnya.


Kyra mengangguk dengan keras, sedikit tertegun sebab otaknya belum sepenuhnya siap mencerna beberapa detik kemudian di rangkulnya Kyra dengan erat.


"O-oh San... pelan-pelan" pekik Kyra sebab pelukannya terlalu erat hingga membuatnya sesak.


"Maafkan aku... aku benar-benar tak menyangka keajaiban itu terjadi" ujarnya melepaskan Kyra.


Tentu Kyra memakluminya, saling tersenyum akhirnya Kyra memutuskan diam di rumah Manager San beberapa saat.


Hanya untuk meluapkan kebahagiaannya dalam rangkulan sang kekasih dengan santai.


"Sekarang aku sudah sembuh, tapi bukan berarti kita bisa hidup tenang" ujar Kyra tiba-tiba memasang wajah muram.


"Ibu tidak akan membiarkan kita bersama, dia akan memberiku pengawal untuk mengawasi setiap gerak gerik ku sehingga kita tetap tidak bisa bebas bertemu"


"San! bagaimana jika kita pergi saja dari sini? memulai hidup baru di tempat yang satu orang pun tidak mengenal kita?" usul Kyra tiba-tiba.


"Kau siap meninggalkan keluarga mu?" tanya Manager San cukup kaget.


"Kenapa tidak? semua hanya memikirkan kebahagiaan masing-masing, aku sudah terlalu menderita berada di rumah itu" sahutnya.


Mengingat bagaimana perjalanan hidup Kyra ia mengerti perasaan muaknya, karena kadang ia pun merasakan hal yang sama kepada keluarganya.


"Tidak Kyra, aku tidak akan merenggut mu dari keluarga mu" sahutnya.


"Apa maksud mu?" tanya Kyra heran sebab ia tak menyangka Manager San akan bicara demikian.


"Seburuk apa pun orangtuamu mereka tetaplah orang yang telah memberimu kehidupan, mereka telah banyak berkorban untukmu dan memberikan cinta yang besar meski terkadang cara penyampaian mereka salah. Percayalah di balik ke egois ibumu yang tidak merestui hubungan kita ada rasa kekhawatiran akan masa depan mu" jelasnya.


Kyra cukup kaget sebab yang di katakan Manager San adalah benar, Violet sering kali memarahinya dan mengatur hidupnya bahkan lingkungan pergaulannya.


Semua itu di lakukan semata karena Violet ingin Kyra mendapatkan hidup yang layak, tidak seperti dirinya yang sempat mengecap kerasnya hidup.


"Tapi San... itu tetaplah sikap egois, aku tidak bahagia dengan semuanya" ujar Kyra pelan.


"Aku mengerti, karena itu aku akan mencari cara agar ibumu merestui kita"


"Tapi bagaimana caranya?"


"Mencari tahu apa yang membuatnya tidak merestui kita, setelah mengetahuinya barulah kita akan mendapatkan jalan keluarnya" jawabnya.


Kyra menatap mata Manager San yang berbinar, ada kesungguhan di mata itu yang membuatnya percaya bahwa kali ini Manager San tidak akan mengecewakannya.


"Aku akan mencaritahunya" ujarnya.

__ADS_1


* * *


Sesuai janji Agler membawa Reinner menemui ayah angkatnya yaitu Colt, setelah lama tak bertemu dua teman itu asik mengobrol untuk saling bertanya keadaan selama ini.


Tak lupa Rei juga mengucapakan rasa terimakasihnya kepada pasangan suami istri itu yang telah membesarkan putranya dengan sangat baik.


"Aku tak pernah menganggap Agler sebagai orang lain, di mataku dia adalah putra sulung ku" ujar Mina.


"Aku bersyukur dia mendapatkan ibu seperti mu, entah apa yang bisa ku berikan sebagai hadiah kepadamu" balas Rei.


"Jika tak keberatan aku ingin Agler sebagai hadiahnya" jawab Mina yang membuat Reinner terpaku.


"Tolong jangan biarkan dia memanggilku dengan panggilan selain ibu, kemana pun ia pergi ini akan menjadi rumah baginya" lanjutnya.


Reinner tersenyum untuk menyembunyikan tangis harunya, betapa besar kasih sayang Mina kepada Agler yang membuatnya tak bisa berkata-kata lagi.


Ia hanya mengangguk dan meskipun begitu ia berniat sekalipun Catherine masih hidup Mina tetap memiliki hak atas Agler.


Meninggalkan momen haru itu topik beralih pada rencana yang akan di lakukan Reinner, sebagai mantan asisten Viktoria tentu Colt paham bagaimana posisi Reinner.


"Kau akan kembali?" tanya Colt.


Reinner mengangguk yakin, ia pun menjelaskan rencananya yang akan mengambil tahta kembali.


"Aku sudah lama bersembunyi demi anak dan istriku, tapi jika kau butuh bantuan jangan sungkan untuk mengatakannya padaku" ujar Colt.


"Terimakasih, saat ini yang paling aku butuhkan adalah informan yang hebat. Aku sudah memiliki Shishio dan Tianna tapi tentu itu tidak cukup, aku juga butuh prajurit dengan skil mumpuni"


"Bagaimana dengan Nick?" tanya Mina.


"Ah benar! dia adalah guru Agler, seorang mantan prajurit yang kini menjadi vampire pengelana. Dia hebat dalam hal bertarung, pasti dia bisa di andalkan"


"Agler memiliki guru?" tanya Reinner yang lebih tertarik akan hal itu.


"Nick tahu kalau aku adalah asisten Viktoria, karena membuat kesalahan di wilayah ku dia pun menebus dosanya dengan menjadi bawahan ku. Kebetulan aku sibuk mencari nafkah dan tidak banyak juga yang ku ketahui tentang hidup menjadi vampire, karena itu aku serahkan pengetahuan ini kepadanya untuk mengajari anak-anak" jelasnya.


"Begitu rupanya, terkadang menjadi vampire ada baiknya juga meski sekecil kotoran kuku" ujar Reinner.


Selesai pada perbincangan itu Colt segera mengajak Reinner bertemu dengan Nick, tentu pertemuan itu membuat Nick kaget.


Siapa pun tak ada yang menyangka sang Raja masih hidup dan dalam keadaan selamat, meski kini Nick hanya vampire pengelana tapi ka tetap memberi hormat layaknya seorang prajurit.


Sebagai budak Colt apa yang di minta tuannya tanpa pikir panjang Nick menyanggupi, kini ia berada di bawah perintah Reinner meski bertuan Colt.


Dengan ikut bergabungnya Nick menbuat Reinner positif mengambil tahtanya, ia tidak membutuhkan prajurit yang banyak untuk menyerang istana tak berpemimpin, cukup sekelompok vampire namun dengan skil yang hebat.


Tugas demi tugas mulai ia bagikan kepada Nick, Tianna dan Shishio. Bahkan kini dengan rayuan Tianna sang vampire tua abadi yaitu Alabama juga ikut serta, pengetahuan Alabama yang bagai perpustakaan kaisar membuat Reinner mematangkan rencananya.


Di rumah markas Shishio itulah ia memimpin jalannya kelompok, Nick dan Agler juga turut hadir sebagai pendukungnya.


"Malam ayah" sapa Chad yang baru datang.


"Malam nak" balas Reinner.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu"


"Apa itu?" tanya Reinner penasaran.


"Kau tahu kami tidak setuju atas rencanamu yang ingin kembali ke istana, tapi bukan berarti kami membiarkan mu begitu saja. Aku sudah sepakat dengan Agler dan kami akan membantu ayah menjalankan rencananya"


"Terimakasih nak" sahut Reinner.


"Untuk itu aku membawa satu bala bantuan lagi" ujar Chad.


Ia berbalik menatap kegelapan, bersama dengan semua orang yang hadir di sana. Sebuah kaki kemudian muncul yang membuat semua orang penasaran, saat tubuhnya ikut muncul di bawah sinar lampu yang temaram Reinner tersenyum sebab ia sudah bisa melihat wajahnya.

__ADS_1


"Lama tidak berjumpa, tuan... " sapa Reinner sambil memberi hormat dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2