
Sebagai ibu yang pengertian Mina cukup heran melihat Ima ada di rumah untuk makan malam bersama mereka, tentu karena ia tahu tentang kabar menghilangnya Joyi.
"Kau tidak menemani Alisya lagi?" tanyanya.
"Dia sudah lebih baik, lagi pula kakak berada di sana untuk menemaninya"
"Syukurlah kalau begitu" ujarnya sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Mereka makan dengan santai, menikmati hidangan yang telah di masak Mina seperti biasa. Hingga sesi makan malam itu berakhir tak ada yang mengobrol, hanya beberapa ucapan singkat.
Ima memilih pergi ke kamarnya dan segera beristirahat, sementara Mina dan Colt memilih menonton televisi sampai kantuk menyerang.
"Hei, apa menurut mu Agler akan baik-baik saja?" tanya Mina tiba-tiba.
"Tentu saja, apa yang kau khawatirkan?"
"Kau tahu Reinner punya rencana untuk kembali ke istana, sebagai seorang anak Agler pasti ingin berbakti padanya"
"Nick mengajarinya dengan baik, lagi pula dia tidak sendirian jadi kau tidak perlu khawatir" sahut Colt.
Mina terdiam akan alasan itu, ia tak mencoba bertanya lagi sebaliknya meyakinkan hatinya agar lebih tenang.
Esok harinya Mina melakukan aktivitas seperti biasa, berkutat dalam pekerjaannya setelah semua pekerjaan rumah telah selesai.
"Aku pulang.. " teriak Agler sambil membuka pintu.
Mina yang satu-satunya berada di rumah segera meninggalkan pekerjaannya demi menyambut sang putra tercinta, saat mata mereka bertemu senyum mengembang di kedua orang itu.
"Hai bu, aku lapar... kau punya makanan?" tanya Agler.
"Tentu saja, akan ibu siapkan" sahut Mina senang.
Ia segera pergi ke dapur di susul oleh Agler, di keluarganya kotak sereal dan menuangnya ke dalam mangkuk sementara Agler mencuci tangannya dulu.
"Kau tidak ke kantor?"
"Ini hari sabtu bu, aku libur"
"Oh iya, ibu lupa" ujar Mina sambil menepuk jidatnya.
Agler hanya tersenyum dan duduk menghadapi makanannya.
"Astaga... jaketmu kotor begini kenapa tidak di cuci?" omel Mina menatap jaket yang menggantung sembarangan.
"Aku lupa, bisakah ibu mencucinya untuk ku?" tanya Agler sambil nyengir.
Mina hanya menggelengkan kepalanya tapi kemudian ia pergi sambil tersenyum, rasanya sangat menyenangkan melihat sikap Agler yang tidak berubah. Ia tetap menjadi putranya yang kadang menyebalkan tapi selalu bisa di andalkan, dengan perasaan bahagia Mina menuju mesin cuci.
Seperti biasa dia akan memeriksa setiap saku dari jaket itu, takut kalau-kalau ada uang yang terselip atau barang apa pun yang tidak boleh kena air.
Insting seorang ibu tidak pernah salah, dalam saku jaket itu ia menemukan sebuah amplop cokelat. Tanpa rasa penasaran atau curiga Mina menaruh amplop itu di atas meja, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Oh kau pulang.. " sahut Ima yang baru datang.
Agler mengangguk sebagai jawaban sebab mulutnya penuh dengan sereal, tanpa mengatakan apa pun lagi Ima langsung lurus menuju lemari es untuk mengambil air minum.
Tapi perhatiannya teralihkan oleh sebuah amplop cokelat yang ada di atas meja, sambil membawa botol minum ia pergi melihat isi amplop apa itu.
"Ima!" panggil Agler tiba-tiba.
Tangannya yang sudah terulur ia tarik kembali, dengan wajah cemas Agler segera menghampiri untuk meraih amplop itu.
"Ini milik ku" ujarnya.
"Apa itu?" tanya Ima penasaran.
"Bukan apa-apa" sahutnya tapi dengan ekspresi yang mencurigakan.
Tanpa kata lainnya Agler pergi membawa amplop itu, ia bergegas ke kamarnya untuk bersembunyi.
"Aahh... untung aku segera mengambilnya sebelum Ima melihat apa isinya" gumamnya.
Perlahan Agler mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop itu, kembali ia baca setiap kata yang ada di atas selembar kertasnya. Ini bukanlah sembarang surat, isinya merupakan bom yang bisa membunuh semua orang dalam waktu singkat.
Entah sebuah keberuntungan atau takdir lainnya, rasa penasaran yang begitu hebat mendorong Agler untuk memilikinya meski ia tahu benda itu sangatlah berbahaya.
__ADS_1
Di malam saat ia menyerahkan berkas kepada Jack perhatiannya benar-benar tertuju pada buku yang selalu Jack lindungi, mengingat kacaunya keadaan instingnya mengatakan buku itu menyimpan rahasia.
Setelah berpamitan susah payah ia kembali hanya untuk melihat isi dari buku itu, dan saat ia menemukan sebuah catatan yang dapat menjadi bukti ia memutuskan untuk menyimpan kertas itu.
Saat ini ia masih belum tahu apa yang akan ia lakukan pada catatan itu, sebab tidak mungkin ia serahkan kepada Chad karena akan menyebabkan masalah yang lebih besar.
Bukan maksudnya menyembunyikan dosa Jack, hanya saja ia belum bisa membuka semua rahasia Jack karena menghormati ayahnya dan ingin lebih fokus dulu pada rencana Reinner.
* * *
Empat hari absen sudah terlalu lama bagi Chad, ia yang biasanya tidak pernah melepaskan pekerjaannya kini benar-benar hanya terfokus pada pencarian Joyi.
Meski Manager San dapat menggantikannya dengan baik tapi tetap saja untuk beberapa urusan Chad tak bisa di gantikan, perlahan akhirnya Chad bisa kembali tenang dan berpikir logis.
Ia sudah merencakan akan pergi ke kantor lagi senin nanti dan bekerja seperti biasa, tentu saja sambil tetap melakukan pencarian.
Seperti yang saat ini sedang ia lakukan, ia kembali mengisir sekitaran rumah sakit untuk mencari petunjuk walau pun hasilnya selalu nihil.
Di cuaca yang terik setelah lelah berkeliaran Chad memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia bersantai di bawah pohon untuk meneduh sambil menikmati kopi es yang sejuk.
Benaknya yang masih berkeliaran membuat pandangan mata itu hanya tertuju pada ranting pohon yang kecil, saat angin menggoyangkannya secara reflek matanya mengikuti arah dahan itu bergerak.
Tiba-tiba seekor burung hinggap tepat di bawah kakinya, paruhnya yang kecil mematuk sisa remahan roti lalu terbang dengan tinggi dan hilang di balik pepohonan.
Awalnya Chad tak terusik karena burung itu, tapi saat burung itu datang lagi perhatiannya tertuju pada kaki burung yang mungil dan ramping.
Saat ia hinggap di tanah kakinya nampak hampir tidak menyentuh tanah, hal itu membuat Chad menyadari sesuatu. Ia segera bergegas pergi ke ruangan tempat Joyi di rawat, memerikaa jendela dengan cermat.
"Jadi seperti ini" gumamnya.
Mendapatkan satu petunjuk Chad pergi menemui Jhon yang sedang berkumpul di markas rahasia, di sana sudah ada Tianna dan yang lain tengah membahas tugas mereka masing-masing.
"Vampire yang kau ceritakan kemarin, namanya Yulia bukan?" tanya Chad.
"Ya, kenapa?"
"Aku yakin dia yang menculik nenek Joyi" ujarnya.
Jhon saling bertatap mata dengan Reinner, sebelum kemudian ia berkata.
"Oh.., begitu ya... " sahut Chad dengan semangat yang kembali surut.
"Akhir-akhir ini kau tidak fokus, bahkan kau menjadi tempramen sehingga aku tidak bisa memberitahumu agar kau tidak terpancing emosi"
"Aku mengerti" ujarnya sambil beringsut ke kursi.
Melihat betapa kecewanya Chad membuat Reinner tidak tega, ia pun menghampirinya untuk memberi semangat.
"Bibi Joy pasti kembali, kita akan berusaha menemukannya"
"Terimakasih ayah.. " sahutnya sebisa mungkin mencoba tersenyum.
Merasa tak nyaman Chad memutuskan untuk pulang beberapa menit kemudian, tapi ia tak kembali ke kediaman Joyi melainkan ke rumah istirahatnya.
Di sana ia menghabiskan waktu dengan minum wine hingga tanpa sadar terlelap sendirinya, saat terbangun hari sudah gelap.
"Ah astaga.. aku ketiduran ya, uh.. aku harus cepat pulang" gumamnya sambil menahan pening di kepala.
"Chad... " panggil Ballard yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Untuk pertama kalinya Chad kaget akan kunjungan itu sebab ia sedang dalam keadaan yang tidak waspada, terlebih pening akibat kebanyakan minum membuatnya susah bangun.
"Aku baru mendengar kabar tentang Joyi, apakah... kau sudah menemukannya?"
"Itu... belum" sahutnya.
"Cucuku yang malang, ini pasti perbuatan Jack" tukas Ballard emosi.
Chad tak menanggapi ucapan itu sebab ia adalah salah satu saksi yang melihat Jessa melukai neneknya, marah pun kini tak akan mengubah apa pun.
"Jack pasti sudah membayar seseorang untuk menculik Joyi, jika kita tidak cepat menyelamatkannya aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya"
"Dia tidak melakukannya, ini ulah vampire" sahut Chad pelan.
"Vampire?" tanya Ballard heran.
__ADS_1
"Ya, dia ingin menyingkirkanku karena aku di anggap sebagai penghalang baginya"
"Bagaimana mungkin?"
"Aku seorang pangeran, aku punya tiket besar untuk mencapai singgasana dan itulah yang membuat mereka membenci ku hingga memgusik kehidupan ku"
"Oh Chad... meskipun kau seorang pangeran dan berkesempatan menjadi Raja tapi bukan berarti kau adalah penghalang, siapa pun bisa menjadi Raja asal dia lulus dalam ujian seleksi. Proses pengangkatan Raja kita tidak terpaku pada darah keturunan, itulah mengapa ayahmu dulu bisa menjadi Raja meskipun ia seorang lumpur" jelas Ballard.
Mendengar penjelasan itu Chad terdiam, itu cukup masuk akal terlebih karena ia baru di usik saat ini bukan sejak kecil.
"Satu-satunya yang menginginkan penderitaan mu hanya Jack, jika dia bisa membunuh orangtua mu maka dia juga bisa menyuruh vampire mana pun untuk menculik Joyi" ujarnya.
"Tapi.. aku tidak memiliki bukti atas tuduhan itu"
"Kau tidak perlu bukti, aku akan membantumu dengan caraku" sahut Ballard yakin.
* * *
Penyesalan yang bertambah membuat Jack semakin tidak bisa tidur, satu masalah yang belum selesai kini bertambah satu lagi dan akan menjadi bencana dalam satu waktu andai ia tidak berhasil menyelesaikannya.
Memikirkan siapa yang mencuri catatannya saja membuat otaknya mendidih dan siap meledak, ia ingat betul yang datang ke kantornya hari itu hanya Hans dan Agler jadi kecurigaannya hanya kepada kedua orang itu.
Yang paling mencurigakan tentu adalah Agler, meski ia cucunya tapi mereka tidak bersama sejak kecil sehingga Jack ada rasa kurang yakin pada Agler.
Tapi menuduh tanpa bukti adalah tindakan kriminal, ia tak bisa begitu saja bertanya atau melemparkan kesalahan.
Dalam balutan kecemasan Jack sudah menghabiskan dua cangkir kopi yang berefek pada degup jantungnya yang semakin meningkat, kakinya bergerak-gerak sambil berfikir keras tanpa bisa tenang.
"Jack... " panggil Jessa tiba-tiba.
"Ah ya.. " jawab Jack gugup sebab ia kaget akan panggilan itu meskipun suara Jessa lembut.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah tidak, aku hanya tak bisa tidur dan memutuskan untuk minum kopi di sini"
"Seharusnya kau minum susu hangat bukan kopi" ujar Jessa sambil duduk tepat di samping suaminya itu.
"Aku sedang tidak ingin minum susu" sahut Jack pelan.
Mereka saling terdiam, hanyut dalam keheningan yang terasa suram di bawah lampu temaram.
"Kau masih memikirkan masalah itu?" tanya Jessa.
"Tidak mungkin aku melupakan masalah besar begitu saja"
"Kau percaya padaku kan?" tanya Jessa tiba-tiba dengan mata yang menyorot penuh harap.
"Apa maksud mu? tentu saja aku percaya" ujar Jack sambil memegang tangan Jessa.
Tindakan itu membuat Jessa merasa senang hingga ia tersenyum lega, sementara Jack berusaha menyembunyikan ekspresi bersalahnya. Meski tersenyum tapi dalam hati ia menangis dan meminta maaf karena telah menjadikan Jessa sebagai kambing hitam, sebagai pria sekaligus suami ia merasa malu karena tak bisa menjaga Jessa dengan baik.
"Sejak dulu kau selalu ada di pihak ku, itu membuat ku merasa bahagia. Walau pun kita mengalami penderitaan yang berat, meskipun penderitaan itu tak pernah berhenti namun perasaan saling memiliki dengan mu sudah lebih dari cukup" ujar Jessa bersyukur.
Entah mengapa ungkapan itu membuat Jack teringat pada ucapan Joyi yang menyinggung penderitaan keturunannya akibat kedatangan Jessa yang membawa sial, ia merasa kini ucapan Joyi adalah benar.
"Ini sudah malam, mari kita pergi tidur" ajak Jack yang tak mau memikirkan hal-hal lain.
"Kau pergilah lebih dulu, aku mau mengambil air minum"
"Baiklah" sahut Jack yang kemudian berjalan meninggalkan Jessa.
Setelah kepergian suaminya Jessa mengambil cangkir bekas kopi dan pergi ke dapur, ia menuangkan air dan segera membasahi tenggorokannya yang sedari tadi terasa kering.
Whuuuuussss...
Tiba-tiba dorongan angin yang mengibarkan gorden membuatnya terkejut, melihat jendela yang terbuka seketika tengkuknya merinding akibat dingin yang merasuk.
Tak mau berlama-lama ia segera menutup jendela itu dan menarik gordennya sampai menutupi semua area jendela dengan rapi, kini ia pun bersiap pergi ke kamarnya untuk kembali tidur.
"Jessa" panggil seseorang di belakangnya.
Seketika ia pun berbalik untuk melihat siapa yang memanggil, tapi sebelum ia sempat melihatnya sesuatu memukul kepalanya dengan keras.
Ah..
__ADS_1
Pekikan pelan itu menjadi hal terakhir yang Jessa lakukan sebelum kehilangan kesadaran.