
Dengan wajah serius alabama menuangkan sebuah cairan hitam ke sebuah botol berisi darah, perlahan dan penuh kehati-hatian hingga seluruh cairan itu habis.
Awalnya tak ada yang berubah, namun semakin lama cairan itu bergejolak seperti mendidih di atas bara api yang panas.
Memuntahkan cairan hitam yang kental, itu membuat Alabama sedikit khawatir. Tapi setelah beberapa saat cairan itu berubah warna menjadi hijau, maka pekerjaannya telah selesai.
Ia tuang cairan hijau itu ke beberapa botol dengan ukuran yang lebih kecil, saat semuanya telah selesai maka ia siap memberitahu Reinner.
"Efeknya tidak bertahan lama, hanya sekitar dua jam saja karena itu gunakan di saat yang lebih genting" ujar Alabama.
"Aku mengerti" sahut Reinner.
Ia memasukkan semua botol kecil itu ke dalam satu wadah dan membawanya ke atas, mengumpulkan semua orang yang akan terlibat misi ini.
"Bagaimana dengan semua bukti?" tanya Reinner.
"Semuanya sudah siap, kita hanya tinggal menunggu konfirmasi dari Tianna" jawab Jhon.
"Itu bagus, aku akan jelaskan rincian rencananya sekali lagi" ujarnya.
Semua orang mendengarkan dengan baik, memahaminya agar tak ada kesalahan yang dapat terjadi. Beberapa usulan dan pertanyaan hadir, saling bertukar pikiran yang membuat pertemuan itu berlangsung dengan cukup lama.
Hari sudah gelap saat pertemuan itu berakhir, Chad dan Agler berpamitan untuk pulang sementara yang lain tetap tinggal di sana.
"Hei Chad! boleh aku menumpang? aku ingin bertemu Alisya sebentar"
"Tentu saja" sahut Chad sambil membuka pintu mobil.
Agler segera berlari ke sisi yang lain, duduk dengan tenang sementara Chad menyupir di sampingnya.
"Apakah Ima tahu tentang ini?" tanya Agler memulai obrolan.
"Maksudmu?"
"Rencana ayah"
"Oh, tidak secara spesifik. Kau tahu dia akan nekat jika mengetahuinya"
"Bagaimana dengan Alisya?"
"Kau pacarnya... " sahut Chad dengan sedikit tersenyum.
"Tapi kau sepupunya" balas Agler.
"Dan Ima adalah adik mu" tukas Chad yang membuat mereka tersenyum.
"Ya, kau benar. Sejak kecil kami sangat dekat, dia selalu menceritakan segala hal padaku tapi saat kau hadir dalam hidupnya tiba-tiba kami kehilangan topik" ujar Agler dengan nada tuduhan.
"Kau pun menjadi magnet sepupuku, aku masih ingat bagaimana Alisya merajuk di kamarnya seharian hanya karena kau mencampakkannya. Tolong jangan lakukan hal itu lagi, dia sudah tidak punya siapa pun di dunia ini" sahut Chad.
Agler terdiam, cukup merasa bersalah namun nasi telah menjadi bubur.
"Alisya hanya manusia biasa, monster seperti ku tidaklah baik untuknya" ujar Agler pelan.
"Tapi kau juga menderita tanpanya."
Sebuah kebenaran yang di ucapkan Chad mengandung bawang yang banyak, Agler tak bisa menahan perasaannya hingga mereka tiba di rumah.
Alisya yang masih terjaga menyambut kedatangan mereka dengan senang, membiarkan Chad beristirahat Alisya mengajak ke ruangan lain.
"Apa?" tanya Alisya sebab sejak tadi Agler tidak melepaskan pandangannya.
"Kau sangat cantik" jawab Agler pelan yang membuat Alisya tersenyum.
"Pelajaran lain dari Ima? tidak terlalu buruk" guraunya.
Mereka tertawa kecil namun tak berapa lama kemudian Alisya menampilkan wajah serius yang di barengi ekspresi penasaran.
"Kau ingat kau masih memiliki banyak hutang kepadaku?" tanyanya.
Agler terdiam, jelas ia ingat apa yang di maksud Alisya.
"Ajukan pertanyaan mu" sahutnya.
"Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya atau dari mana asal mu, tapi katakan padaku hal-hal mengenai kalian"
"Seperti cara kami meminum darah?" tanya Agler lebih spesifik dan di ikuti anggukan oleh Alisya.
"Sebelum itu kau harus tahu bahwa aku, Chad, Ima, ayah kandung ku dan ayah angkat ku kami semua berdarah campuran. Kami berbeda dari vampire aslinya, ini karena gen yang ada di tubuh kami tidak 100% darah vampire"
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Ibu ku seorang vampire bangsawan sementara ayah adalah penyihir yang berubah menjadi vampire, intinya aku adalah lumpur"
__ADS_1
"Oke, lalu?"
"Kami tidak harus minum darah manusia, kami juga bisa minum darah hewan hanya saja bagi lumpur dan vampire asli ada perbedaannya"
"Apa itu?" tanya Alisya semakin penasaran.
"Aku bisa bertahan tanpa darah manusia lebih dari satu bulan, tapi vampire asli tidak"
"Kenapa?"
"Darah manusia adalah makanan pokok kami, saat kami berhenti minum darah manusia yang awalnya terjadi adalah melemahnya semua indra dan fisik. Perasaan dahaga akan menyiksa kerongkongan hingga menimbulkan halusinasi dan lepas lendali, pada akhirnya itu akan mengubah kami menjadi monster sesungguhnya yang tidak berakal" jelas Agler.
Itu mengingatkan Alisya pada malam di mana ia melihat Agler kehilangan kendali atas dirinya, saat-saat dimana ia mematung karena syok hingga berakhir dengan hilang ingatan.
"Dengar Alisya, kau tahu aku mencintaimu tapi... aku berfikir sepertinya hubungan kita tidak mungkin bertahan" ujar Agler tiba-tiba.
"Apa maksud mu?"
"Mungkin kau menerima ku apa adanya, tapi jika kita terus bersama kemana akan kita bawa hubungan ini?"
"Kau meragukan ku atau apa?" tanya Alisya tersinggung.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya... aku ingin menikahimu" ujar Agler yang membuat Alisya terdiam.
"Setelah Joyi di temukan aku berencana untuk meminang mu, aku ingin habiskan sisa waktuku hanya dengan mu" lanjutnya pelan.
Tak bisa berkata-kata Alisya hanya bisa mengungkapkan kebahagiaannya lewat air mata yang bening, jatuh mengalir di punggung Agler saat ia memeluknya.
"Kau mau menikah dengan ku?" bisik Agler.
"Yah... tentu" jawab Alisya sambil menganggukkan kepalanya.
* * *
Tianna sudah terbiasa menghidangkan makanan untuk manusia, bahkan ia bisa memberikan makanan sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Inilah alasan dari kesembuhan Joyi yang terbilang cepat, selain dari ramuan Tianna yang telah habis di serap tubuhnya.
"Aku yakin tidak sulit bagimu untuk berjalan, kita harus segera meninggalkan tempat ini" ujar Yulia.
"Kita akan pergi kemana?"
"Markas baru, jaraknya lebih dekat dari istana" sahutnya.
Tianna menganggukkan kepalanya, segera membantu Joyi untuk bersiap meningkatkan tempat itu. Tak ada barang pribadi yang bisa di bawa jadi mereka bisa meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Tianna kembali mengangguk, berjalan mendampingi Joyi bersama dengan Clarkson sementara Yulia justru masuk ke dalam rumah itu.
"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Tianna.
"Tidak ada, Yulia hanya sedang membersihkan bau kita. Dia adalah yang terbaik dalam menghilangkan jejak, aku cukup mengagumi bakatnya namun tentu kau jauh lebih baik dari dia" sahut Clarkson.
"Aku tidak lebih baik dari dia, kecuali kami memiliki bakat yang sama"
"Kau bisa mempelajarinya, bakat itu dia dapat dari hasil belajar jadi jika kau sungguh-sungguh maka kau bisa melampauinya"
"Sungguh? bagaimana dengan mu? apa yang kau harapkan dariku?" tanya Tianna.
"Jika kau memiliki bakat seperti dia mungkin aku akan memasukkan mu dalam list calon permaisuri ku" sahutnya.
Tianna senang mendengarnya, Clarkson jelas tertarik padanya lebih dari pasangan tubuh sehingga ucapan itu bisa di artikan sebuah janji.
Setelah memakan waktu hampir semalaman akhirnya mereka tiba juga di markas baru, jika saja mereka pergi berdua tentu akan lebih cepat sampai.
"Ayo masuk" ajak Clarkson.
Sambil memapah Joyi yang hampir kehabisan tenaga Tianna pun mengikuti langkah Clarkson, mereka masuk ke dalam bangunan tua yang mirip seperti tempat beribadah.
Ada dua aroma yang Tianna cium begitu memasuki tempat itu, satu bau manusia dan satu lagi bau tetua yang sudah ia kenali.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya sebuah suara dari balik kegelapan.
Indra Tianna segera aktif mengawasi, menatap sumber suara itu sampai sebuah sosok menampilkan wujudnya.
"Joyi..... keliahatannya kau jauh lebih bugar"
"Ballard.. mengapa aku tidak terkejut?" tanya Tianna menatap tetua agung itu.
"Aku sudah dengar dari Yulia bahwa kau memilih untuk bergabung dengan kami, awalnya aku cukup meragukan mu tapi setelah melihat Joyi aku yakin kau akan sangat berguna" ujarnya.
"Aku tinggal cukup lama dengan Alabama, bisa di bilang aku murid tidak tetapnya"
"Baguslah, kalau begitu tolong antarkan Joyi kepada kawannya. Aku yakin dia sudah tak sabar untuk bernostalgia" sahutnya sambil menatap mata Joyi yang kosong.
Tianna agak bingung dengan ucapan itu tapi ia tak mau peduli, justru yang ia perhatikan adalah sikap Joyi yang seolah tak mengenali Ballard. Dari sana ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Joyi benar-benar berada di satu tempat terasing, meninggalkan raganya entah sampai kapan.
__ADS_1
"Aku mengerti" sahutnya yang kemudian membawa Joyi ke tempat yang lain setelah menerima sebuah kunci dari Ballard.
Mereka berjalan terus ke sisi ruangan yang lain hingga menemukan sebuah pintu dengan gembok besar terpasang di sana, segera ia buka gembok itu dengan kunci pemberian Ballard.
Begitu pintu selesai ia buka terkuaklah sudah dari mana bau manusia satunya lagi, dalam ruangan yang di isi dua ranjang salah satunya di tempati oleh Jessa.
"Ayo masuk" ajak Tianna kepada Joyi.
Meski tubuh Joyi menolak tapi Tianna tetap menarik tangannya agar mau masuk, perlahan ia bimbing untuk duduk di ranjang yang lainnya.
Suara langkah mereka yang meskipun tidak kencang rupanya tetap berisik hingga membangunkan Jessa, saat melihat mereka reaksi pertama Jessa sudah pasti terkejut.
"Joyi?" tanyanya heran.
Tapi Joyi malah beringsut dan berlindung di balik Tianna, seolah takut menghadapi Jessa.
"A-apa yang terjadi padam?" tanya semakin bingung.
"Dia sakit, sesuatu yang buruk terlah terjadi hingga kesehatan mentalnya terganggu" jawab Tianna.
"Apa? bagaimana bisa?"
"Bagaimana dengan mu?" tanya Tianna tak memperdulikan pertanyaan itu.
"Ballard menculik ku, entah apa yang dia rencanakan tapi seingat ku saat sadar dia langsung membawaku kemari" jawabnya.
"Baiklah, untuk sementara tolong jaga dia baik-baik" ujar Tianna.
Ia hendak meninggalkan Joyi dan kembali pada Clarkson namun sebelum sempat mengunci pintu Ballard datang.
"Biarkan, aku akan bicara dengan mereka" sahutnya.
"Baiklah" sahut Tianna melepaskan gembok itu.
Dari senyum yang di tampilkan Ballard jelas ia sedang menikmatinya, senyum itulah yang membuat Tianna tetap berada di sana untuk menguping.
"Kau sudah bangun?" sapa Ballard memasuki kamar itu.
"Ballard, apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Jessa tanpa ada keraguan di matanya.
Berbanding terbalik dengan Joyi yang semakin menyembunyikan diri di balik selimut, melihatnya membuat hati Ballard senang dan tertawa.
"Mau ku ceritakan sebuah kisah?" tanyanya.
Jessa menatap waspada, tapi ia juga melebarkan telinga untuk mendengarkan.
"Vampire... adalah makhluk yang paling suci, kami menjunjung tinggi hukum dan tidak seharusnya orang-orang seperti mu memasuki teritorial kami" ujarnya.
Kisah itu memang cukup panjang, tapi pada intinya semua ini berkaitan dengan sifat vampire. Sebagai salah satu tetua yang agung Ballard melarang keras adanya percampuran darah lumpur dalam istana, itulah kali pertama ia menentang Ratu sebab mengijinkan Jhon menduduki posisi di istana.
Kebencian yang terus menggerogoti dari dalam hingga membuatnya memutuskan berada di pihak Viktoria, dia setuju pada perjodohan putrinya sebab sudah berangan menjadi pimpinan klan dengan bertokoh di balik layar.
Tapi semuanya berjalan tak sesuai dengan rencana, Reinner justru menjadi Raja tanpa mengindahkan siapa pun. Inilah yang membuatnya benci sehingga memilih untuk bersekutu dengan Clarkson, mendukung keinginannya menjadi seorang Raja dengan memfitnah menantunya sendiri.
"Aku... menginginkan salah satu cucuku menjadi Raja, dengan begitu rencana awalku dapat terwujud. Tapi baik Chad maupun Agler mereka benar-benar tidak tertarik sehingga tidak ada lagi jalan selain menghancurkannya" sahut Ballard.
"Kau benar-benar keji, darah mu sendiri kau lukai" tukas Jessa.
"Apa gunanya barang cacat?" balas Ballard tanpa rasa bersalah.
Selama ini Ballard memang bertindak seolah mencintai Chad, mencoba melindunginya dari Jack tapi yang sebenarnya terjadi adalah dia membayar beberapa penyihir untuk memprovokasi mereka.
Termasuk pelaku penembakan Ima adalah rencana terbaiknya dalam menghancurkan keluarga itu, ia sengaja menaruh seseorang untuk mengawasi kediaman Hermes.
Dan ketika ada kesempatan orang itu akan menembak siapa saja karena pada akhirnya semuanya sama, setelah berhasil menembak Ima tentu saja sang pelaku kabur agar terlihat seperti Shigima melindunginya.
Berlagak bak pahlawan ia membawa kembali orang itu untuk di hukum setelah sebelumnya di ancam agar berdusta, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Meski kali ini dia agak kesal kepada Ima yang murah hati, pada akhirnya semua berakhir dengan cukup baik.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau harus memprovokasi kami? bukankah kau sudah mendapatkan pengganti untuk menjadi raja?" tanya Jessa.
"Itu semua karena dia" jawab Ballard sambil menunjuk kepada Joyi.
"Aku memberikan putri dan cucu ku untuk dia rawat dan besarkan, setelah siap aku akan membawanya ke istana sebagai Raja. Tapi dia malah memanfaatkan Chad untuk kepentingannya sendiri, karena itu tidak ada jalan lain selain menghancurkan keluarga Hermes dan semua orang yang terlibat di dalamnya " jelasnya.
Jessa terdiam, sungguh sebuah tali kebencian itu terlalu berantakan untuk di luruskan satu persatu.
Ia sudah tak bisa berfikir lagi bagaimana caranya agar hidup damai tanpa adanya balas dendam, setiap hati kini memiliki dengki yang terlalu kuat untuk di luluhkan.
Tapi penjelasan Ballard hingga saat ini telah membuka sekian pertanyaan yang ganjil, setidaknya di beberapa kasus yang tak masuk akal ada dalang yang telah terungkap.
Ini membuat Jessa mengingat insiden di perbukitan, dimana ia di tuduh telah menusuk Joyi.
"Ballard... mungkinkah?" tanyanya.
__ADS_1