Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 25 Pangeran Dingin


__ADS_3

Peristiwa itu kembali terjadi, saat semua kata saling berebut di tenggorokan tapi tak ada yang berhasil keluar. Seakan waktu berhenti berputar namun angin masih mampu berhembus menerbangkan helaian rambutnya, ia mematung.


"Kau baik-baik saja?" tanya Chad.


"A.... um, ya" jawab Rona yang masih syok.


Ima tahu kedua pria itu tidak mati, mereka hanya di buat pingsan dengan luka yang cukup fatal. Setidaknya butuh waktu beberapa minggu bagi mereka agar bisa sembuh total, itu pun jika mereka berobat dengan benar.


"Terimakasih... " ujar Ima.


Jelas ada yang berbeda dan Ima sadar akan hal itu, saat mereka pertama kali bertemu Chad nampak seperti bangsawan vampire yang kabur. Namun sekarang Chad terlihat lebih seperti pangeran yang kejam, dengan pakaian rapihnya namun tatapannya dingin.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum mereka sadar" ujar Chad.


"Ba-baik" jawab Ima.


Ia segera menarik tangan Rona dan pergi dari tempat itu, meninggalkan Chad yang masih mengawasinya hingga mereka tenggelam di tengah keramaian orang.


Setelah merasa cukup aman mereka beristirahat di sebuah warung kecil, hanya untuk minum dan melepaskan kepenatan. Tapi wajah Rona tak jua santai, ia masih saja pucat dan terlihat sedang berfikir keras.


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Ima.


"Mereka... pasti akan mencariku, mereka pasti tidak akan tinggal diam sampai bisa menemukan ku dan ibu" ujarnya.


Rona memang benar, selama ia masih berhutang apalagi ia telah berani menentang mereka kemana pun ia pergi orang-orang itu pasti akan mengejarnya dan menangkapnya.


"Jangan khawatir, untuk sementara kau mengungsilah ke tempat yang aman sementara itu kita kumpulkan uang bersama-sama" ujar Ima memberi semangat.


"Terimakasih... kau sudah banyak membantuku" ucap Rona terharu.


Ima pulang dengan badan yang letih, beruntung saat itu ada Chad yang menolong sehingga ia tak perlu bertarung dan rahasianya tetap aman. Tapi sayang pertemuan mereka sangatlah singkat sehingga Ima tak memiliki waktu untuk sekedar basa basi, ia berharap suatu hari nanti bisa bertemu lagi dengan Chad dan mengenalnya lebih jauh.


Selama lima hari Rona aman di tempat persembunyiannya, sambil mengumpulkan uang bersama Ima ia berharap akan dapat terbebas dari masalah hutang itu.


Tiba di hari sabtu Ima kembali datang ke rumah besar untuk menjadi pelayan, masih dengan menggunakan identitas Rona Aeda pun memanggilnya sebagai Rona.


Hari itu Aeda mengatakan bahwa beberapa pelayan yang bekerja dengan sungguh-sungguh maka akan dia ajak ke rumah utama dan berkesempatan menjadi pelayan di sana, banyak keuntungan yang bisa di dapat jika pindah ke rumah utama seperti gaji yang lebih besar.


Ima sangat menginginkan hal itu demi bisa membantu Rona, tapi jika pergi ke rumah utama ia harus bekerja setiap hari. Itu tidak mungkin di lakukan sebab Ima harus sekolah, akhirnya ia melewatkan kesempatan itu.


"Rona, tolong bawakan seprai di kamar atas" ujar seorang pelayan kepadanya.


"Baik" jawab Ima patuh.


Segera ia pergi ke kamar yang di maksud, di gantinya seprai itu dengan yang baru sebab seprai lama akan ia berikan kepada pelayan lain untuk di cuci.


Ddrrrrrtttt Ddrrrrrtttt


Ima agak terkejut saat ponselnya bergetar, begitu ia lihat rupanya Rona yang menelpon. Diam-diam segera ia pergi bersembunyi untuk mengangkat telpon tersebut.


"Halo" bisiknya.


"Ima, sore nanti ubah pertemuan kita di kafe. Aku merasa seseorang tengah mengawasi ku jadi sebagai jaga-jaga aku ingin merubah tempat pertemuan kita" ujar Rona di seberang sana.


"Baiklah aku mengerti"


"Rona...... kau sudah selesai mengganti seprainya?" teriak seseorang dari luar kamar.


"A, ya.... aku segera datang" balas Ima berteriak.


"Sudah dulu aku harus pergi" ujarnya cepat menutup telpon.


Ia taruh ponselnya begitu saja di atas meja dan segera bergegas mengambil seprai kotor untuk di berikan kepada pelayan lain, mereka cukup sibuk hari itu karena jumlah pelayan berkurang. Ima pun jadi mendapat tugas tambahan, ia harus membereskan dua kamar sendirian.


"Akhirnya... selesai juga... " gumamnya menatap jam yang menunjukkan pukul enam tepat.


Ia dan pelayan lain mengganti pakaian mereka kembali dan pulang setelah mendapat upah, Ima bergegas pergi ke kafe tempat Rona sudah menunggunya sejak tadi.


"Apa para pria itu mengikuti mu?" taya Ima.


"Aku tidak yakin, tapi rasanya memang seseorang tengah mengintaiku"


"Sebaiknya kau pindah tempat lagi, memang butuh waktu lama untuk mengumpulkan uang itu tapi kita pasti bisa melakukannya"

__ADS_1


"Ima.... terimakasih, maafkan aku karena telah menyeret mu dalam kasus ini" ujar Rona merasa bersalah.


"Mm, jangan di pikirkan! kita adalah teman dan gunanya teman adalah untuk saling membantu" jawab Ima sambil menggelengkan kepala.


"Ima... " panggil Rona dengan berderai air mata.


Di peluknya tubuh Ima dengan erat, ia bersyukur memiliki teman yang sangat baik bahkan rela bersusah payah demi dirinya.


"Ini sudah malam sebaiknya kau cepat pulang, jangan biarkan ibumu sendirian" ucap Ima.


"Baiklah, sampai bertemu besok"


"Dah.... " ujar Ima sambil melambaikan tangannya.


Ia masih berdiri di sana sampai Rona benar-benar telah pergi dan hilang dalam pandangannya, barulah ia berjalan pulang.


"Ah... aku ketinggalan kereta, sebaiknya aku beritahu ibu bahwa aku akan pulang terlambat" gumamnya.


"Eh, dimana ponselku?" ujarnya saat merogoh saku tapi tak ada apa pun di sana.


Ima mulai mencari di tas, meraba-raba sakunya dan kembali mencari lagi di tas. Tapi ponselnya tak ada dimana pun sampai ia ingat selesai menelpon ponsel itu ia taruh di atas meja.


"Sial! aku harus kembali" gumamnya sambil menepuk jidat.


Ima berlari menyusuri trotoar dan kembali ke rumah itu, nampak penjaga masih di sana sedang bertugas seperti biasa. Ia ingat ucapan Aeda yang tidak mengijinkan siapa pun datang setelah malam hari karena pemilik rumah tidak mau ada orang saat ia pulang.


Tapi Ima harus tetap masuk dan mengambil ponselnya, tak ada cara lain lagi ia memilih untuk menyelinap. Bukan hal sulit baginya berjalan tanpa menimbulkan suara, dia adalah vampire yang sudah terlatih untuk berburu.


Hanya dengan satu loncatan Ima melewati tembok dan berhasil masuk ke pekarangan tanpa di ketahui oleh siapa pun, ia berjalan mengendap-endap melewati pekarangan itu dan masuk lewat jendela yang tidak terkunci.


Rumah itu cukup gelap karena tak ada lampu yang dinyalakan, tapi bukan masalah baginya karena ia memang mahkluk malam. Perlahan Ima berjalan menyusuri ruangan dan naik ke atas tangga, sejauh ini semuanya aman tanpa ada tanda-tanda adanya orang.


Sampai di lantai atas segera ia masuk ke dalam kamar tempat dimana ponselnya ketinggalan, perlahan ia membuka pintu agar tak menimbulkan suara meski ia cukup yakin tak ada orang di rumah itu.


Dalam kegelapan matanya menyusuri ruangan dan segera menemukan ponselnya yang memang masih ada di atas meja, dengan cepat ia melintasi ruangan untuk mengambil ponsel itu.


Tapi saat ia berhasil mengambilnya tiba-tiba ia merasakan sebuah aura dingin yang mendekatinya dari belakang, Ima langsung berbalik dengan posisi siaga namun.


Ah...


"Siapa kau?" bisik sebuah suara yang berhasil mencekik lehernya.


Ima tak mampu menjawab sebab untuk bernafas pun ia cukup kesulitan, sebisa mungkin ia meronta untuk melepaskan diri tapi cengkraman itu cukup kuat.


Insting bertarungnya seketika keluar saat cengkraman itu semakin kuat, dengan tangannya yang bebas segera ia menapak pada tembok dan mendorong tubuh orang itu menggunakan kakinya.


Argh... hhhhhh hhhhhh Hhhhh


Ima berhasil, ia terbebas namun cepat bersiap untuk serangan yang berikutnya meski masih kesulitan bernafas. Tapi orang itu terdiam, ia menatap Ima yang disinari cahaya rembulan, perlahan orang itu berjalan ke arah pintu dan menghidupkan lampu.


"Ah.... " erang Ima sambil menutup wajahnya sebab cahaya lampu itu menyilaukan, perlahan ia membuka mata setelah mulai terbiasa dan kaget menatap pria yang begitu ia kenal.


"Ka-kau..... " panggil Ima.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Chad.


"Apa? ini... kamarmu? itu artinya ini rumah mu!" ujar Ima yang tak menjawab pertanyaan itu.


"Oh um... aku.. mengambil ponselku yang ketinggalan" jawabnya cepat sebab melihat raut wajah Chad yang masih saja dingin.


"Kenapa ponsel mu bisa ada di sini?"


"Itu... karena aku bekerja jadi pelayan di rumah ini, tadi saat aku menelpon aku lupa menaruh ponsel ku di meja dan meninggalkannya. Aku tidak ada niat berbuat jahat sungguh! kau bisa bertanya ibu Aeda dia pasti mengenal ku" jelasnya.


"Siapa namamu?"


"Ima... namaku Ima.. " jawabnya.


Chad memperhatikan dengan seksama, dengan pakaian biasa yang ia kenakan saat ini membuatnya terlihat berbeda dengan Ima yang ia lihat di hutan waktu itu. Tapi wajah cantik Ima masih sama dengan mata yang jujur.


"Ima... menelpon saat bekerja, kau sudah melanggar peraturan yang ada. Besok kau tidak boleh datang lagi kemari" ujar Chad dingin.


"A-apa? ti-tidak aku mohon... aku butuh pekerjaan ini, aku mohon maafkan aku" ucap Ima cepat sambil berlari menghampiri.

__ADS_1


"Aku tidak suka orang yang tidak disiplin"


"Tolong jangan lakukan ini, aku mohon.... aku sangat butuh uang ini jika tidak para pria yang kau hajar waktu itu akan kembali dan mengambil Rona untuk di jual" pinta Ima.


"Itu bukan urusanku"


"Aku akan bekerja lebih giat lagi, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi tapi aku mohon jangan pecat aku. Aku butuh uang itu untuk melunasi hutang Rona aku.... aku tidak bisa melihat teman ku dalam kesusahan"


"Sudah ku bilang itu bukan urusanku, lagi pula kenapa kau sangat peduli padanya? dia hanya mangsa bagi kaum kita" ujar Chad yang membuat Ima tertegun.


Dalam tubuhnya memang mengalir darah vampire, tapi dia bukanlah vampire seutuhnya sebab DNA ibunya yang seorang manusia pun ada dalam dirinya. Ia bukan manusia tapi juga bukan vampire, dia adalah keduanya karena itu tidak ada kamus mangsa atau predator dalam hidupnya.


"Kau salah, dia bukan mangsaku tapi temanku!" ujar Ima tegas.


Kini mata Ima menatap dengan tajam ke arah Chad, tatapan yang sama dinginnya dengan es.


"Tidakkah kau sadar bahwa kau pun bukan vampire sejati? aku bisa merasakan aura mu yang hanya manusia setengah vampire, sama dengan ku" lanjutnya.


"Aku berbeda, meski kita sama tapi derajat kita berbeda. Aku tidak berburu seperti kaum rendahan, aku minum dalam gelas tanpa harus saling berebut wilayah"


"Begitukah? lalu apa yang kau lakukan di hutan saat itu dengan pakaian buruk jika bukan berburu?"


"Itu bukan urusan mu"


"Kalau begitu kau juga tidak berhak mengatakan kalau Rona adalah mangsaku, meski dia manusia tapi dia adalah temanku!" ujar Ima bersikukuh.


Chad bisa melihat keberanian Ima dari matanya yang langsung menatap tajam padanya, di tambah tubuh yang berdiri tegap dan ucapannya yang jelas. Baru kali ini dalam hidupnya ada seseorang yang berani menentangnya, padahal jelas Ima hanya seorang pelayan dan dia adalah tuan.


Hal itu membuat Chad cukup tertarik pada Ima, dia tahu Ima bukanlah vampire biasa.


"Ayo pergi!" ajak Chad.


"Hah? kemana?" tanya Ima bingung.


"Menemui para lintah darat itu" jawab Chad.


* * *


Kasihan, itu adalah perasaan pertama yang Ima rasakan ketika bertemu Chad untuk yang pertama kalinya. Setelah berpisah diam-diam ada rasa suka mengingat wajah tampan Chad dan penasaran akan kepribadiannya yang dingin, tapi kini Ima di buat bingung dengan sifat asli Chad.


Ternyata ia adalah seorang yang kaya raya dan bisa hidup enak tanpa berburu, seperti para pangeran bangsawan yang di ceritakan Nick.


Chad memang dingin dan cuek tapi ternyata ia juga cukup kejam, ia adalah tuan tanpa toleransi yang di benci para pelayannya. Yang membuat Ima bingung sekarang tiba-tiba Chad membantu Rona untuk melunasi hutang-hutangnya.


Bersama dengan Rona mereka menemui para pria itu dan hanya tanpa ragu melunasi hutan Rona meski jumlahnya milyaran, Ima senang karena dengan begini Rona terbebas dan bisa hidup normal.


Tapi ia ragu semuanya benar-benar telah selesai, Rona hanya bisa mengucapkan terimakasih tanpa bisa membalas namun Chad juga tidak meminta imbalan apa pun. Ia menyuruh Rona pulang begitu saja setelah semua urusan selesai dan menjalani kehidupan seperti biasa.


"Terimakasih kau telah membantu kami" ujar Ima.


"Aku tidak melakukannya dengan gratis"


"Apa? ta-tapi tadi kau bilang kau tidak meminta balasan" ujar Ima kaget.


"Aku mengatakannya kepada temanmu karena dia tidak punya apa-apa dan tidak sanggup untuk membalasnya, tapi kau berbeda"


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ima mendengus.


Chad menghampiri Ima dan terus mendekatkan wajahnya, membuat Ima gugup dan sedikit takut sampai tak mampu membalas tatapan Chad.


"Kau harus membayarnya dengan menjadi pelayan pribadi ku" bisik Chad.


"Apa?"


"Apa pun yang kau lakukan atau dimana pun kau berada saat aku memanggilmu maka kau harus langsung datang kepadaku"


"Jika aku tidak mau?"


"Kau harus kembalikan uang yang ku keluarkan untuk melunasi hutang teman mu."


Chad mundur beberapa langkah dan mulai berbalik untuk kemudian pergi dari tempat itu, meninggalkan Ima yang masih termenung tanpa tahu apa yang harus dia perbuat.


"Sial! aku terjerat."

__ADS_1


__ADS_2