
Menandai hari yang baik hampir satu jam lebih ia bercermin, memastikan penampilannya sempurna tanpa ada cacat sedikit pun. Di akhir ia menyemprotkan parfume di bagian tertentu pada tubuhnya, menghirup aroma wangi itu kini kepercayaan dirinya semakin meningkat.
"Wow! kau terlihat sangat keren... " ujar Kyra saat melihat Alisya keluar dari kamarnya.
"Terimakasih" sahut Alisya tersenyum.
"Kau mau kemana?"
"Hanya pergi minum dengan teman"
"Huh, teman macam apa sampai kau harus memakai sebotol parfume?" tanya Kyra.
"Apakah sangat tercium?" tanya Alisya yang menjadi khawatir.
"Tenang saja, ini karena hidungku sedang sensitif. Kau sudah sempurna"
Aaahhh....
Alisya menghela nafas lega, tentu karena ia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri.
"Baiklah kalau begitu sampai nanti"
"Bersenang-senanglah" balas Kyra.
Alisya memilih untuk menggunakan taksi, tak butuh waktu lama ia sudah sampai di bar tempat dimana Agler sudah menunggunya.
"Hai" sapa Alisya begitu turun dari mobil.
"Hai, maaf karena tidak bisa menjemput mu. Aku benar-benar baru selesai dari pekerjaan ku" ujar Agler menyesal.
"Sudahlah, tidak masalah" sahut Alisya yang membuat Agler menatapnya lama sambil tersenyum.
Tentu hal itu membuatnya malu, tak tahan dengan tatapannya ia menyenggol sikut Agler.
"Hentikan" bisiknya.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini" ujar Agler.
"Berhenti menggodaku, ayo kita masuk!"
"Hei! aku berkata jujur" sergah Agler.
"Aku tahu.. " sahut Alisya yang tak bisa berhenti tersenyum.
Mereka masuk ke dalam bar, di sambut oleh alunan musik yang begitu keras dan hiruk pikuk orang-orang yang menikmatinya. Sebelum turun ke lantai dansa tentu yang ingin mereka nikmati duluan adalah racikan sang bartender.
"Kau sering ke sini?" tanya Alisya dengan nada keras agar Agler dapat mendengarnya.
"Hanya beberapa kali, dulu teman ku bekerja di sini tapi sekarang dia sudah pindah" jawabnya.
Keramaian itu, alunan musik itu dan suasana cerianya terlalu menggoda hingga membuat Alisya taka tahan untuk tidak ikut terjun. Dengan senyum nakal di gapainya tangan Agler, menggoyangkan sedikit tubuhnya hingga membuat Agler tak tahan untuk tertawa.
Pada akhirnya mereka pun turun ke lantai dansa, berbaur dengan orang-orang untuk menikmati malam yang bebas.
Tawa dan teriakan begitu nyaring saling bersautan, setiap dentuman drum mengiringi loncatan yang semakin memperkuat irama tarian.
Wajah-wajah kebahagiaan nampak pada orang-orang yang notabene masih muda, begitu juga Agler dan Alisya yang saling menatap dan tersenyum.
"Aku haus, apa kau mau istirahat dulu?" tanya Agler beberapa menit kemudian.
Alisya menggeleng dengan raut wajah enggan, Agler hanya tersenyum dan berjanji akan segera kembali. Alisya pun mengangguk keras, kembali menikmati musik sementara Agler pergi dari sana.
Awalnya ia masih bisa berpesta sendirian sampai seorang pria tiba-tiba mendekatinya dan menari tepat di depannya, tentu Alisya merasa terganggu sebab dari ekspresinya saja ja sudah tahu pria itu bukan hanya menari.
Tak ingin merusak suasana hati ia pergi ke sisi lain, tapi pria itu cukup gigih. Bahkan ia mencoba untuk merangkul Alisya, tentu saja hal itu sudah di luar batas.
"Hei! bisa singkirkan tanganmu dariku?!" teriak Alisya berhenti menari.
"Ada apa sayang? aku hanya sedang menari" jawabnya.
"Ck" decak Alisya kesal.
Ia pun memilih untuk berhenti dan menemui Agler, tapi pria itu malah mengejarnya bahkan memegang tangannya.
"Hei!" teriak Alisya kalap.
Buk
Uh...
Tangan pria itu terlepas begitu saja saat Agler memukulnya tepat di pipi, melihat pria itu jatuh Alisya segera berlari ke arah Agler.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Agler.
"Ya, sebaiknya kita pergi saja dari sini" sahut Alisya.
"Baiklah ayo!" ajak Agler.
Tanpa memperdulikan pria yang menatapnya dengan dingin Agler segera merangkul Alisya dan membawanya keluar dari bar.
"Maaf karena telah mengajak mu kemari" ujar Agler setelah mereka keluar.
"Hei kenapa minta maaf, hal itu biasa terjadi apalagi di bar"
"Yeah kau benar, mungkin masalahnya karena kekasihku ini terlalu cantik" goda Agler.
__ADS_1
"Apa? sejak kapan kau pandai merayu seperti ini? hahaha" sahut Alisya tak bisa menahan tawa.
"Apa terdengar aneh?" tanyanya sedikit malu.
"Ya, tapi aku suka" jawabnya seraya tersenyum.
"Ima yang mengajariku, dia bilang aku sangat kaku seperti robot. Dia juga mengatakan aku bukan Chad yang sudah terlihat keren hanya dengan diam saja, aku butuh sedikit perubahan"
"Ima... dia selalu memberikan saran ayang baik" sahut Alisya.
Mereka tersenyum dan saling bergandengan tangan, tapi tiba-tiba.
Buk
Ah...
Sebenarnya tak terasa sakit, tapi pukulan di belakang leher yang secara tiba-tiba itu cukup mengejutkan. Mereka berbalik dan melihat pria yang tadi mengganggu Alisya berdiri tak jauh dari mereka di temani teman-temannya, Agler membungkuk untuk mengambil botol air minum yang di pakai untuk memukulnya.
"Sok jagoan di depan gadis mu huh? coba lawan kami jika kau memang jantan" ujarnya.
"Bisakah kalian cari orang lain saja? aku tidak berminat berkelahi" jawab Agler.
"Brengsek! hajar dia!" teriak pria itu.
"Agler!" panggil Alisya cemas.
Melawan manusia tentu mudah bagi Agler meski jumlah mereka ada lima orang, apalagi sebelumnya dia pernah berurusan dengan Keenan yang kekuatan mendekati Sang Dewi.
Tapi karena ada Alisya yang melihat tentu ia harus bersikap seperti manusia biasa, hanya seorang pemuda dengan kekuatan normal.
Aaaaaa...
Teriakan itu mengawali pertarungan, satu diantara mereka maju dengan tangan di kepal. Agler mengelak begitu juga saat yang lain menyerangnya, dua serangan itu dapat ia hindari dan di serangan yang lain ia tahan.
Dimata Alisya perkelahian itu tidaklah seimbang, tentu saja satu lawan lima akan menyulitkan Agler. Tapi anehnya ia melihat Agler seperti begitu santai, ia terus mengelak dan menahan tanpa kesulitan.
"Cih, sialan!" teriak pria yang memberi perintah.
Ia mengeluarkan sebuah belati dari dalam sakunya, hal itu di lihat oleh Alisya dan saat pria itu berlari hendak menyerang secara spontan Alisya berteriak.
"Awas..... "
Agler menoleh, saat belati itu hendak menusuk perutnya dengan cepat ia mengelak dan menahan pergelangan tangan pria itu. Merasa geram pria itu cepat bergerak di bantu teman-temannya yang kembali menyerang, karena kerepotan Agler tak punya pilihan selain menyerang.
Buk Buk Buk
Tiga diantaranya berhasil di pukul hingga terjengkang, menyisakan tiga lagi termasuk si pemberi perintah. Ada jeda yang membuat mereka saling menatap, tentu saja karena Agler mengalahkan tiga orang hanya dengan satu pukulan di masing-masing.
"Sial!" gumam pria itu.
Tentu itu cukup merepotkan karena Agler masih harus menyembunyikan kekurangan aslinya, ia mencoba mengurangi sedikit energinya agar terlihat lebih manusiawi.
Sayangnya hal itu memberi kesempatan bagi lawan untuk menyerang, saat Agler sibuk dengan dua teman pria itu ada sebuah celah yang di gunakan musuh untuk melukai punggung Agler.
Beruntung naluri Agler cukup kuat untuk menyadari adanya bahaya, namun karena ia menutup kekuatan belati itu sempat mengenai pinggangnya.
Membuat sebuah goresan luka yang terasa sakit, melihat darah keluar dari luka itu Agler menyadari bahwa belati yang di gunakan terbuat dari perak sehingga lukanya tidak akan menutup begitu saja.
"Oh tidak!" erang Alisya cemas.
Pria itu tersenyum merasa dirinya akan menang, tapi kemudian Agler menatapnya dingin. Sebuah tatapan khas predator yang bahkan membuat Alisya ikut bergidik meski ia bukan mangsa, tatapan yang membuatnya merasa tak asing berada di posisi itu.
Dalam satu gerakan kini Agler menyerang, memukul satu demi satu orang itu hingga jatuh terjerembab.
Setiap gerakan balasan itu membuat sebuah siluet di mata Alisya yang membuat kepalanya pening, entah mengapa ia merasa pernah mengalami situasi seperti itu.
Ia mencoba mengingatnya, kapan dan di mana tapi tak berhasil. Setahunya dari pertama mereka bertemu hingga berhubungan ini adalah kali pertama ia melihat Agler berkelahi, jadi siluet yang ia lihat nampak seperti halusinasi saja. Lebih tepatnya Alisya mengalami dejavu.
Trang
Pria itu menjatuhkan belatinya menatap Agler yang mulai berjalan ke arahnya, di belakang Agler teman-temannya sudah tak sanggup berdiri jadi tentu ia juga akan berakhir sama seperti mereka.
"Maafkan aku... aku mohon lepaskan aku" rengek pria itu ketakutan.
Rengekan yang kembali membuat Alisya merasa telah meloncati waktu, jelas hatinya mengatakan peristiwa itu pernah terjadi. Seseorang jatuh dengan wajah ketakutan saat melihat Agler, tapi ingatannya mengatakan bahwa ini adalah kali pertama.
"Pergi sebelum ku patahkan tanganmu" ujar Agler.
"Ba-baik" sahut pria itu.
Tanpa menunggu lagi ia segera bergerak merangkak, melewati Agler dan teman-temannya yang masih belum bisa bangkit hingga berlari meninggalkan tempat itu.
Bruk
"Agler!" teriak Alisya tersadar saat melihat Agler jatuh terduduk.
Ia segera mendekat untuk melihat keadaannya, saat tangan Agler mengusap bagian pinggang darah mengotori telapak tangannya itu.
"Astaga... kau terluka parah" ujar Alisya cemas.
"Tidak apa-apa, ini hanya sedikit tergores saja" jawab Agler.
Tak mau ambil resiko Alisya menutup luka itu dengan kain dan bersikukuh membawa Agler ke rumah sakit meski Agler menolak, sesampainya di rumah sakit luka gores itu segera di obati dan di perban.
"Terimakasih dokter" ujar Alisya pada seorang dokter yang menanganinya.
__ADS_1
"Ini bukan masalah serius, hanya sedikit tergores saja" ujar Dokter itu.
"Sepet yang aku bilang" sahut Agler.
"Tetap saja darah keluar dari luka mu itu" balas Alisya.
Sebenarnya Agler sedikit senang karena belati yang di gunakan adalah perak sebab luka yang di dapat tidak akan langsung sembuh sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
* * *
Tok Tok Tok
Ketukan di pagi hari buta itu membangunkan Violet dari tidurnya, saat ia melihat jam dengan mudah ia menebak bahwa tamu itu adalah Kyra putrinya.
Ia pun bangkit untuk membuka pintu, sesuai tebakan itu memang Kyra yang datang dengan sekantong belanjaan.
"Apa yang kau bawa?" tanya Violet.
"Daging sapi, bagaimana jika kita buat steak?"
"Bagus, ayahmu bisa makan bersama kita" sahutnya.
"Apa?" tanya Kyra kaget.
"Siapa itu sayang?" tanya Ryu yang keluar dari kamar dalam keadaan kacau.
Saat matanya beradu dengan Kyra tiba-tiba kantuknya hilang, mereka hanya mematung sambil saling menatap satu sama lain.
"Sejak kapan ayah di sini?" tanya Kyra akhirnya.
"Ah itu.... "
"selamam, dia datang malam-malam untuk meminta maaf. Itu sudah terlalu malam tentu saja ibu sudah mengantuk dan akhirnya kami tidur saja" ujar Violet menjawabkan.
"Oh... begitu rupanya" gumam Kyra.
Ada kecanggungan diantara Ayah dan anak itu, tentu Ryu masih terlalu malu hingga bingung harus berbuat atau bicara apa sedang Kyra masih sedikit kesal hingga sama bingungnya.
"Kalau begitu mari kita makan bersama, aku akan bantu ibu memasak" ujarnya.
"Terimakasih sayang" sahut Violet.
Kyra segera menuju dapur, memakai celemek dan menyiapkan bahan yang sudah ia beli. Sementara Ryu menikmati secangkir kopi yang di buatkan Violet, duduk di meja makan sambil menatap keharmonisan ibu dan anak itu.
Tak butuh waktu lama steak yang mereka buat pun siap untuk di hidangkan, Kyra segera menata piring dengan cekatan seolah itu pekerjaannya sehari-hari.
Membuat Ryu berfikir selama beberapa hari ini apa yang telah ia lewatkan, setahunya Kyra adalah gadis manja yang sedikit keras kepala. Tak ada pekerjaan rumah yang bisa ia lakukan dan sekarang bahkan ia memasak dengan begitu lihainya.
"Sebenarnya ini tidak tepat untuk sarapan, tapi tidak masalah" ujar Violet membawa hidangan itu ke atas meja makan.
"Baunya enak" komentar Ryu.
"Cobalah, rasanya tak jauh enak dari baunya" ujar Violet.
Ryu tersenyum dan mulai memotong daging itu, satu potong ia masukkan ke dalam mulut. Hanya dengan satu gigitan ia sudah bisa merasakan rasa dagingnya yang lezat, begitu nikmat di setiap gigitan yang tak perlu mengeluarkan tenaga.
Itu bukan kali pertama ia memakan steak, tapi untuk pertama kalinya ia merasakan kenikmatan dalam makanan. Mungkin itu karena istri dan putrinya yang membuat, dengan perasaan tulus dan penuh kasih sayang.
Tanpa terasa air mata tiba-tiba mengalir di pipinya, membuat Kyra dan Violet terkejut.
"Kenapa? apa rasanya seburuk itu?" tanya Violet.
"Ini...sangat lezat" jawabnya.
Violet dan Kyra saling menatap heran, tapi kemudian mereka tersenyum sebab itulah Ryu. Seorang ayah dan suami yang mudah menangis karena hal kecil sekalipun, tanpa di duga Kyra menggenggam tangan Ryu dan berkata.
"Nikmatilah."
Air mata itu tiba-tiba berhenti, terlalu kaget pada kelembutan Kyra. Namun beberapa detik kemudian Ryu mengangguk dan mulai memakan potongan kedua, bersama dengan Kyra dan Violet yang ikut menikmati hidangan itu.
Selesai makan suasana mulai mencair, setelah Ryu minta maaf dan berjanji akan berubah baik Kyra maupun Violet tak ada yang mengatakan apa pun lagi.
Mereka bercanda seperti biasa, membuat keluarga itu menjadi harmonis seperti dulu. Saat itulah Kyra meneguhkan hatinya untuk mengatakan maksud kedatangannya.
"Kemarin... Hakan mengajak ku berkuda" ujarnya.
"Benarkah? wah... dia punya hobi yang bagus" ucap Violet.
"Apa kau menikmatinya?" tanya Ryu.
"Awalnya aku takut, tapi ternyata rasanya cukup menyenangkan. Tapi.... " kalimat itu terhenti, membuat Violet dan Ryu bertanya-tanya sebab wajah Kyra terlihat tidak baik.
"Ada sesuatu yang terjadi kemarin, kami tak hanya sekedar berkuda" lanjutnya.
"Maksudmu?" tanya Ryu yang sudah membayangkan hal-hal intim.
"Hakan, dia melamar ku kemarin" jawab Kyra tegas.
Seolah waktu berhenti begitu saja mereka terdiam bahkan tak bergerak sedikit pun, tapi raut wajah Violet perlahan berubah dengan senyum yang mulai mengembang.
"Benarkah? dia melakukan itu?" tanya Violet memastikan pendengarannya berfungsi dengan baik.
Kyra mengangguk, membuat Violet kini benar-benar bahagia. Tapi Ryu masih menatapnya tanpa ekspresi yang jelas dan bertanya.
"Lalu apa jawabanmu?"
__ADS_1
"Aku.... " ujar Kyra tidak terlalu yakin.