Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 143 Pelaku penembakan


__ADS_3

Setelah peluru perak berhasil di cabut maka penyebuhan akan berlangsung dengan cepat, setelah dokter menyatakan Ima sembuh total maka hari itu juga Mina segera membawanya pulang.


Bersama dengan Chad dan Alisya mereka pulang ke rumah Mina, sementara Agler dan Colt yang diberitahu lewat telepon akan menyambut di rumah.


Reinner pun juga yang telah di beritahu bergegas ke rumah Mina untuk menyambut, saat mobil yang membawa Ima datang mereka keluar rumah dengan senyum yang sangat di paksakan.


"Hai sayang... bagaimana perasaan mu?" tanya Colt yang segera menghampiri dan memeluk putrinya itu.


"Aku baik ayah... jangan terlalu kekhawatiran aku, kau tahu putrimu ini sangat kuat bukan?" sahut Ima yang mulai kesal dengan perlakuan manja Colt.


"Berhenti bicara omong kosong, kau membuat kami semua khawatir" tukas Agler kesal.


"Oh... kakak...." panggil Ima segera memberika pelukan.


"Bagaimana?" tanya Mina kepada Colt.


Dengan mata tertunduk Colt menggelengkan kepala, ia benar-benar kehilangan jejak hingga tak bisa menemukan sang pelaku penembakan.


"Apa-apaan ini? sesulit itukah mencari orang?" tanya Mina dengan kesal.


Sontak teriakan itu membuat semua orang terdiam termasuk Ima yang tidak tahu apa-apa.


"Ada apa?" tanya Ima.


"Ah tidak ada, mari masuk" sahut Agler mencoba mengalihkan tapi tentu itu tidak akan berhasil pada Ima.


"Katakan pada ku apa yang tidak aku ketahui" ujar Ima tegas.


Tak ada satu pun diantara mereka yang berani bicara tapi tak ada juga yang berani menentang Ima, akhirnya mereka hanya diam dengan wajah bingung.


"Kami mencoba mencari pelaku yang menembak mu" sahut Reinner yang membuat semua mata terarah padanya.


"Apa? maksudnya Shigima?"


"Tidak, yang menembak mu adalah anak buahnya" jawab Reinner lagi.


Kenyataan itu membuat Ima terdiam, rupanya ia salah mengira.


"Baik Shigima atau anak buahnya bagiku tidak ada bedanya, Shigima tetap bersalah dalam hal ini" ujar Mina.


"Ibu... "


"Apa?" teriak Mina dengan api di hatinya.


"Sudah waktunya mereka semua tahu apa yang di lakukan Shigima padamu"


"Apa maksud ibu?" tanya Ima.


"Kau tidak perlu menyangkalnya, ibu dengar sendiri bahwa orang yang menyerangmu adalah Shigima Hermes" jawab Mina berapi-api.


Sejenak, semuanya terasa berputar hingga membuat Ima hampir kehilangan keseimbangan. Tapi kemudian ia berkata dengan pelan.


"Saat itu kami tidak saling mengenal, bahkan itu terjadi sebelum aku bertemu dengan Chad. Aku hanya mencoba mencari darah untuk dahaga ku dan Shigima menjalankan tugasnya sebagai penyihir, katakan diantara kami dalam pertempuran itu siapa yang salah?"


"Ima... " panggil Mina.


"Ini salah ku karena terlahir sebagai vampire!" teriak Ima.


Bom itu meledak dengan begitu hebatnya, meluluhlantahkan setiap hati hingga hancur berkeping-keping. Satu tetesan air mata menandai hari cerah yang bagus untuk berduka, membebaskan perasaan takut yang selama ini hanya sebuah ancaman.


"Jika... aku hanya manusia biasa maka ini adalah salah Shigima, dan kalian berhak merenggut nyawanya tanpa permisi" ujar Ima kini dengan suara yang lebih pelan.


"Maafkan aku, ini adalah salah ku" sahut Colt menahan lajunya air mata yang semakin deras.


Permintaan maaf itu adalah sebuah kesalahan yang paling salah, membungkam setiap mulut dan menggantinya dengan air mata.


"Apa salahnya menjadi vampire atau penyihir?" tanya Alisya tiba-tiba.


Ia menghapus air matanya dan tersenyum lebar, berjalan menghampiri Ima untuk menghapus air matanya juga.


"Monster bukanlah dia yang bertaring atau memiliki cakar, tapi dia yang tidak punya hati untuk mencintai. Bukankah itu yang kau ajarkan padaku? lalu kenapa kau bicara seolah menyesal hidup menjadi vampire? itu lebih baik dari pada manusia seperti ku, setidaknya kau bisa melindungi orang yang kau cintai bukan membuat mereka terus melindungi mu" ujarnya.


"Aku hanya.... maafkan aku" sahut Ima menyadari akan apa yang ia katakan telah melukai semua orang.


"Ibu... aku dan Shigima, kami hanya kebetulan berada di satu posisi yang kurang baik. Aku mohon berhentilah menyalahkan orang lain karena kekhawatiran mu, berkali-kali aku jatuh dan terluka tapi hingga saat ini aku masih berdiri di hadapan mu jadi berhentilah mencemaskan ku" pintanya.


"Ima... " panggil Mina yang tak kuasa menahan air mata, segera di rangkulnya putri nakalnya itu.


Mengakhiri momen haru itu mereka masuk ke dalam, mengadakan pesta kecil untuk menikmati masa bahagia meski hanya bertahan sementara.


Sebuah pesan Reinner terima dari Tianna yang membuatnya mengajak sang pangeran kembar untuk pergi ke markas, di sana mereka mulai membahas pesan itu.


"Joyi masih hidup" ujar Reinner membacakan pesan singkat itu.

__ADS_1


"Sungguh? bagaimana bisa Tianna mengetahui hal ini?" tanya Chad.


Rei berfikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.


"Tianna berhasil mendapatkan kepercayaan Clarkson, jika kita kembali mengingat jejak yang kau dapatkan maka bisa kita asumsikan bahwa yang menculik Joyi adalah Yulia dan membawanya ke markas mereka. Intinya adalah yang menahan Joyi adalah Yulia dan Clarkson, itulah mengapa Tianna tahu keadaan Joyi"


"Sungguh? bisakah kita melacak dimana markas mereka dan membebaskan nenek?' tanya Chad penuh harap.


"Tidak! itu terlalu beresiko, kita masih butuh banyak bukti yang memberatkan Clarkson dan membuat ayahmu kembali ke tahta" sahut Jhon.


Chad tertunduk lesu mendengar hal itu, pemahamannya pada misi itu telah membungkam mulutnya seketika.


"Kau tidak perlu khawatir, jika Tianna berada di dekat Joyi aku yakin dia pasti akan menjaganya" sahut Reinner menghibur.


Chad hanya tersenyum, mencoba menenangkan hatinya yang masih di landa gelisah.


Tak banyak lagi yang mereka bahas mengenai pesan Tianna, pertemuan itu berakhir begitu saja.


Chad memilih untuk pergi ke rumah istirahatnya, sebab hanya di sana ia bisa menjernihkan kepalanya meski dengan bantuan wine.


Waktu yang berjalan tanpa ada hal apa pun lagi membuatnya terasa lebih cepat, malam datang begitu saja membawa udara dingin yang tak berlaku baginya.


Chad masih di balkon, menatap keluar dengan botol kosong di sampingnya. Saat itulah sebuah bayangan hitam melesat tepat ke arahnya, berdiri di belakangnya namun Chad nampak tak peduli.


"Kadang semua memang berjalan tak seperti yang kita inginkan" ujar Ballard berjalan menghampiri.


"Begitulah hidup" sahut Chad.


"Meski begitu tetaplah percaya nenek mu akan kembali, harapan itu walau pun kecil sangatlah berarti"


"Aku tahu, dia adalah seorang wanita tua yang pemberani dan aku yakin dia pasti akan baik-baik saja" ujarnya.


Ballard sedikit mengernyitkan keningnya, jelas saat ini keadaan hati Chad sedang hancur tapi ucapannya lebih tenang dari harri-hari kemarin.


"Apa sesuatu sudah terjadi lagi?" tanyanya.


Hhhhhhh


Hembuskan nafas itu mengartikan ya, dengan terbuka Chad menceritakan apa yang telah menimpa Ima dan itu membuatnya sangat frustasi.


"Katakan padaku bagaimana ciri-ciri orang itu, aku berjanji akan menemukannya untuk mu" ujar Ballard.


Meski tak yakin tapi Chad tetap mengatakannya, setelah mendapatkan gambaran yang jelas Ballard pun pergi begitu saja.


* * *


Seolah ia ikut berkabung mengikuti isi hati Jack yang suram, beserta angin dingin mengurung tawanya dalam satu tempat yang hanya ada kegelapan.


Ia pernah berada di posisi ini, hari di mana jas hitamnya berlumpur karena terus jongkok di samping makam Jessa.


Itu adalah kali pertama mereka di pisahkan oleh penghianatan yang keji, dan kini jasnya basah kuyup Karena terus duduk di samping ranjang dimana Jessa biasa berbaring, kembali di pisahkan karena sebuah fitnah.


Sayangnya kali ini ia sendiri, tak ada seseorang yang menguatkan dirinya atau meminjamkan pundak kepadanya.


Hal ini yang kembali membuka satu pemikiran tentang ucapan Joyi, terlebih cucunya sering datang menodongkan senjata.


"Apakah ramalan itu memang benar? apakah seharusnya kau tidak pernah menjadi bagian dari keluarga ini?" gumamnya mempertanyakan sesuatu yang selama ini ia sangkal.


Matanya yang sudah membengkak menatap ke sekeliling dimana Kastil yang biasa ia sebut rumah masih berdiri kokoh, sayangnya gelak tawa yang selalu ia inginkan hanya terwujud sementara.


Baik dalam generasi putranya maupun cucunya, tak pernah ada kebahagiaan abadi di dalamnya.


Ia mulai berfikir keluarga Hermes benar-benar terkena kutukan, segalanya tidak akan pernah baik sampai ia menghancurkan sumber kutukannya.


* * *


Meski Ima menyatakan diri baik-baik saja tapi semua orang masih mengkhawatirkannya, begitu juga Alisya dan Chad yang sepakat untuk kembali menjenguk ke rumahnya.


Chad datang dengan tas berisi penuh makanan kesukaan Ima, di hari itu tak ada yang lebih baik lagi selain berkumpul bersama.


Dari siang hingga malam kediaman Colt begitu ramai hingga terasa sempit, ini membuat kepala keluarga itu memutuskan untuk memasang tenda di luar sekaligus mengadakan acara barbeque.


Semakin malam suasana semakin meriah, gelak tawa menyiratkan kebahagiaan penuh syukur yang membuat siapa pun akan iri terhadap keluarga itu.


"Wah... baunya membuat perutku benar-benar lapar" ujar Ima sambil mengelus perutnya.


"Dasar tukang makan, bersabarlah sedikit lagi" sahut Agler sambil membalikkan dahinya agar matang merata.


Ima hanya nyengir menampilkan rentetan gigi rapihnya, sementara Agler juga tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


"Bau yang sangat menggoda, sangat cocok untuk merayakan sesuatu yang penting" ujar sebuah suara dari dalam gelapnya hutan.


Agler dan Chad secara bersamaan maju ke depan, siap menghadapi apa pun untuk melindungi yang lain.

__ADS_1


Srek Srek


Semak-semak itu bergoyang saat sesosok makhluk melewatinya, semakin menajamkan indera tiba-tiba mereka mematung saat yang keluar dari kegelapan adalah Ballard.


Yang membuat mereka terkejut adalah tangan Ballard tidaklah kosong, ia membawa seutas tali yang di ikat pada langan seseorang.


Terlihat orang itu babak belur dan sudah tak memiliki tenaga lagi untuk kabur, dengan penasaran Chad bertanya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Membawa buronan seperti kata janjiku" ujarnya.


Mendengar hal itu Chad berlari menghampirinya, mengangkat kepala orang itu untuk melihat wajahnya.


"Dia.... anak buah Shigima" ujar Colt jelas mengenalinya meskipun ada beberapa memar di pipinya.


"Bagaimana bisa kau menemukannya?" tanya Agler.


"Aku akan mengerahkan seluruh kemampuan ku untuk menepati janji ku kepada Chad, sekarang di sinilah pelaku yang kalian cari" ujarnya.


Jika mereka menemukan orang itu kemarin sudah pasti orang itu tidak akan selamat, hanya dengan satu kali pukulan saja ruhnya sudah pindah ke dimensi lain.


Tapi hari ini, suasana hati mereka sedang baik terlebih Ima berada di sana yang bisa di pastikan akan menghentikan niat mereka.


"Kenapa kau diam? orang ini sudah melukai Ima bahkan membuatnya hampir meregang nyawa" tanya Ballard.


"Siapa yang menyuruh mu melakukan itu?" tanya Colt tiba-tiba.


Ballard menatap heran, tapi ia membiarkan Colt mendekat dan menginterogasi orang itu.


"Katakan padaku" ujarnya.


"Tuan.... Shigima... siapa pun... yang... terluka... tidak masalah... " sahut orang itu dengan sisa kekuatannya yang ada.


"Kau dengar? keluarga itu memang ingin melukai mu, dia bahkan tak ragu untuk membunuh siapa pun yang berada dekat dengan mu" ujar Ballard kepada Chad.


"Aku akan mengonfirmasi hal ini dengan Shigima" tukas Colt.


"Percuma saja, saat kau tiba di sana orang ini akan meminta perlindungan Shigima dengan mengatakan bahwa kau yang telah merencanakan semua ini. Ini bukanlah kali pertama bagi kami"


"Apa maksud mu?" tanya Colt heran.


"Sebelum peristiwa ini terjadi sudah ada banyak penyihir yang menyerang Chad dan aku, saat aku berhasil meringkusnya dan membawanya kepada Jack dia malah memfitnah ku" jawabnya.


Itu adalah sebuah kebenaran yang tak bisa di sangkal oleh Chad, karena itu ia hanya bisa diam.


"Dari pada membawanya lebih baik kita menghukumnya di sini saja"


"Itu benar" ujar Mina setuju.


"Ibu... " panggil Ima kaget.


"Ingat apa yang pernah kita diskusikan? masalah Shigima bisa kita urus nanti tapi orang yang melukai putriku tidak boleh diampuni" ujarnya.


"Ibu! bagaimana bisa ibu setega itu?" tanya Ima hampir tak percaya pada apa yang di katakan Mina.


Ballard tersenyum puas, jerih payahnya terbayar sudah meskipun Chad atau Agler belum memutuskan apa pun.


"Lakukanlah nak, dia pantas mendapatkan hukuman yang setimpal" ujar Ballard.


Tapi Chad hanya terdiam, dalam hatinya sebuah perang besar sedang terjadi. Tentu ia ingin menghukum orang yang melukai kekasihnya tapi jika ia melakukannya maka ia telah membuat Ima kecewa, dan dia tidak mau mengecewakan cintanya.


"Ini bukanlah kali pertama aku menghadapi kematian, saat dalam genting pun aku selalu berhasil selamat jadi semua omong kosong ini tidak perlu" tukas Ima.


"Itu tidak ada hubungannya dengan pelaku, jika kau selamat maka keberuntungan memihak mu tapi belum tentu hal itu akan terjadi lagi jika dia di bebaskan" balas Ballard.


"Maaf tuan, tapi darah yang di balas dengan darah tidak akan menghasilkan bunga yang cantik. Aku adalah korban dari peristiwa ini dan kau tidak berhak memberikan keputusan yang tidak aku setujui" ujar Ima lagi tanpa ada keraguan di matanya.


"Terlalu baik bukanlah sikap yang bagus, kau akan mengalami penderitaan yang sama secara berulang dan apakah kau tidak kasian pada orang-orang yang menyayangimu? mereka juga ikut menderita jika kau terluka"


"Nyatanya keberuntungan selalu berpihak padaku, tak peduli seberapa besar luka yang ku terima pada akhirnya aku hidup" tegas Ima.


Satu hal yang membuat api dalam diri Ballard menyala adalah baik tatapan maupun ucapan Ima sangat tegas, ia sadar tidak akan menang melawan Ima maka ia pun mengambil keputusan.


Sret...


Uh..


Aaaaaaaaa....


Teriakan Alisya lebih kencang dari jiwa yang akhirnya damai, matanya tertutup tak kuasa melihat darah segar mengalir dari luka robek yang besar.


Sementara yang lain justru tak bisa menutup matanya, peristiwa itu terjadi begitu cepat dan tak terkira.

__ADS_1


"Apa.... yang kau lakukan?... " tanya Ima pelan.


"Memberi hukuman yang setimpal, biarlah aku yang menanggung mimpi buruknya" sahut Ballard tanpa peduli pada tangannya yang berlumuran darah.


__ADS_2