Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 147 Ujian Terakhir


__ADS_3

Kyra tak bisa menolak jika itu permintaan Chad, meskipun ia pernah sakit hati karena di permainkan tapi Chad telah menebusnya dengan lebih. Lagi pula sejak awal ia memang lebih mencintai Manager San, hanya saja ia akui memang ia sedikit plin plan.


Maka di sanalah ia berada, berjalan memasuki kediaman Hermes yang pernah membuatnya nyaman dan bahagia.


"Blue... kau di sini?" tanya Shigima pelan.


"Oh yeah, aku ingin bertemu Hans"


"Oh, dia ada di kamarnya" sahut Shigima.


"Kemana yang lain?" tanyanya sebab rumah itu sangatlah sepi.


"Banyak yang terjadi, semua orang butuh ketenangan" jawab Shigima dengan senyum yang di paksakan.


Ia pun bergegas pergi meninggalkan Kyra, tanpa mencoba mencaritahu lebih lanjut Kyra pergi menemui Hans.


Dari celah pintu yang terbuka ia bisa melihat Hans duduk di atas ranjangnya, menatap keluar jendela dengan matanya yang kosong.


"Hans... boleh aku masuk?" tanyanya tapi Hans tak menjawab, bahkan ia tak terlihat seperti mendengarnya.


Kyra pun masuk dan memegang bahunya, rupanya sentuhan itu membuat Hans terkejut.


"Aku sudah memanggilmu" ujarnya.


"Maaf, aku tidak mendengarnya" sahutnya kikuk.


"Kau baik-baik saja?" tanya Kyra cukup khawatir pada keadaan sepupunya itu.


"Tentu, bagaimana denganmu? apa yang membuatmu datang kemari?"


"Chad" sahutnya.


"Dia memintaku untuk menyampaikan pesan kepadamu" lanjutnya.


"Untuk ku?" tanya Hans memastikan.


"Dia ingin minta maaf padamu, atas segala kesalahan yang pernah ia perbuat. Dia sadar kau orang yang sangat baik hati, seharusnya kita bisa menjadi saudara yang saling menyayangi dan mendukung satu sama lain bukannya berkelahi" ujar Kyra.


"Itu.. heh.. itu tidak terdengar seperti Chad" guraunya.


"Dia akan pergi istana vampire untuk mengklaim haknya sebagai Pangeran, mungkin dia tidak akan kembali lagi karena itu sangat penting baginya pesan ini tersampaikan" jelas Kyra yang membuat ekspresi Hans berubah.


"Apa?"


"Bukan hanya itu, tapi dia juga pergi untuk menyelamatkan nenek Joyi dan Jessa yang di tawan di istana"


"Maksud mu yang menculik mereka adalah vampire?" tanya Hans.


"Aku rasa begitu"


"Kyra kita harus menyusul mereka" ujar Hans segera berdiri.


"Apa? itu terlalu berbahaya Hans.. " protes Kyra.


"Sesuai katamu Blue, saudara harusnya saling menyayangi dan mendukung" sahut Hans.


Itu memang benar, tapi Hans bukan orang bodoh yang akan pergi sendirian. Ia cukup mengerti keadaan sehingga mengajak Ima untuk ikut andil dalam hal ini, memang beresiko tapi ia butuh otak Ima yang bisa menyusun rencana dengan baik.


"Kenapa mereka tidak memberitahuku tentang hal ini?" gumamnya.


"Mereka tidak ingin kau terluka, begitu juga dengan aku. Tapi aku lebih butuh bantuan pikiran mu sehingga tak ada pilihan, jumlah kita sedikit jadi tak mungkin kita menyerbu begitu saja"


"Kau benar, kita butuh pasukan yang jauh lebih banyak dan hebat"


"Bagaimana dengan Elf?" tanya Hans berharap.


"Keberuntungan tidak datang dua kali Hans, lagi pula waktu kita terbatas" sahutnya.


Mereka pun terdiam, memikirkan cara yang lebih efektif.


"Teman mu, bisakah kau menghubungi teman mu di Akademi?" tanya Ima.


"Um.... aku tak yakin" sahutnya ragu sebab satu-satunya yang ada di kepalanya hanya Reah, dan saat ini hubungan mereka sedang tidak baik.


Tapi berburu dengan waktu membuatnya tak memiliki pilihan lain, pada akhirnya dia harus memberanikan diri untuk memulai percakapan.


Hans mengangguk dan hendak mengajak Ima pergi, tapi baru saja mereka melangkah keluar kehadiran Alisya yang tiba-tiba membuat mereka terkejut.


"Hans... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alisya jelas mencium aroma sesuatu yang tidak beres.


"Ah aku... aku hanya berkunjung" jawabnya gugup.


Hans benar-benar pembohongan yang payah, bahasa tubuhnya mudah di baca sehingga Alisya menuntut penjelasan. Mau tak mau akhirnya Ima mengatakan tujuan mereka, tentu saja mendengar hal itu Alisya segera merajuk minta ikut serta.


"Alisya mereka sepuluh kali lebih kuat daripada aku" bujuk Ima.


"Aku tidak takut"

__ADS_1


"Kau tidak mengerti, apa yang di katakan Ima itu benar. Melihat vampire berburu saja kau sudah pingsan apalagi ikut berperang melawan mereka"


"Apa? jadi kau menganggap ku sebagai beban?" tanya Alisya merasa tersinggung.


"Bukan seperti itu, hanya saja apa yang bisa ku jelaskan pada kak Agler nanti? aku bisa selamat dari musuh tapi belum tentu darinya"


"Aku tidak peduli, pokoknya aku akan ikut" ujar Alisya bersikukuh.


Maka tak ada lagi yang bisa mencegahnya, mau tidak mau Hans membawa Alisya juga menemui Reah.


Mudah untuk menemukan gadis itu, Reah selalu berada di posnya atau di rumah tempat ia istirahat. Kecuali sudah ada seseorang yang memikat hatinya, maka dia bisa berada di mana pun.


"Dia sudah tidak datang ke sini lagi, aku dengar dia minta di pindahkan tapi atasan belum juga mengiyakan jadi dia bolos terus" ujar seorang teman Reah yang saat di tanya.


"Apakah dia ada di rumahnya?" tanya Hans berharap.


"Tidak, dia sudah pindah sejak lama"


"Kau tahu dia pindah kemana?"


"Tidak ada yang tahu" jawabnya.


"Begitu ya, terimakasih sobat" ujar Hans.


"Tidak masalah" sahutnya yang kemudian kembali bertugas.


"Sekarang bagaimana?" tanya Ima.


"Kita harus menemukannya, dia adalah yang paling hebat dalam bertarung" jawab Hans.


Meski tak yakin tapi dengan sisa waktu yang tak banyak Hans terus mencari, sambil berfikir dimana tempat yang kemungkinan di datangi Reah.


Butuh waktu sampai ia ingat satu tempat yang pernah mereka kunjungi bersama, satu tempat yang strategis untuk melihat pemandangan kota.


Hans berlari seketika tanpa kata, membiarkan Ima dan Alisya menunggu dalam kebingungan. Dengan kakinya yang panjang dua anak tangga ia lewati sekaligus, sampai akhirnya ia sampai di atap.


Mengatur nafas yang serasa akan habis, senyumnya mengembang tatkala menemukan Reah yang duduk menatap ke depan.


"Akhirnya... aku menemukan mu" ujar Hans sambil berjalan mendekat.


"Hans?" tanya Reah kaget sambil berdiri.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya bingung.


"Aku tahu... aku memang berengsek, aku egois, tidak punya perasaan, tidak peka, bodoh, dan benar-benar tidak tahu malu" ujar Hans yang membuat Reah memalingkan wajah.


"Tapi entahlah Reah, aku mencintai Elf dan rasanya akan selalu seperti itu. Tapi saat sadar bahwa aku tidak mungkin mendapatkannya yang ku ingat adalah kau, begitu juga saat aku dalam masalah"


"Saudara ku, dia harus menyelamatkan neneknya dan juga nenek ku. Mereka di tawan di istana vampire, aku ingin membantunya" ujarnya.


Reah terdiam, menatap Hans dengan gusar. Memikirkan segala hal yang telah mereka lewati bersama dan itu adalah rasa sakit yang luar biasa.


"Kenapa kau begitu baik kepada saudara mu tapi tidak kepadaku?" tanya Reah menahan air matanya.


"Aku tidak mau memaksakan hatiku padamu karena aku juga sudah putus asa terhadap Elf, tapi aku menjanjikan pesta ulang tahun sungguhan untuk mu dan aku, hanya kita berdua" ujar Hans yang kemudian mendapatkan tawa kecil dari Reah.


"Baiklah... tepati janjimu" sahutnya yang membuat Hans secara reflek memeluknya.


Mereka pun turun, menemui Ima dan Alisya untuk berkenalan sebelum kemudian merencanakan penyerangan.


Reah mengakui Ima benar-benar pandai mengatur strategi, karena terbatasnya waktu mereka memutuskan untuk mengajak beberapa kawan yang mau bergabung.


Karena jumlah yang sedikit maka Ima memutuskan untuk memperbanyak senjata, jenis apa pun boleh di gunakan selama bisa membunuh vampire.


"Kau gugup?" tanya Reah menatap tangan Alisya yang gemetar.


Alisya hanya tersenyum dan itu sudah merupakan jawaban, Reah cukup mengerti sebab ia ingat telah menolong Alisya yang pingsan setelah melihat vampire.


"Kau bisa menggunakan ini" ujarnya sambil memberikan sebuah pistol.


"Dalamnya peluru perak?" tanya Alisya.


"Tentu saja, sebaiknya kau gunakan senjata jarak jauh seperti ini sebab lebih menguntungkan bagimu"


"Terimakasih" sahut Alisya.


"Bukan masalah" balas Reah.


* * *


Ramuan terakhir yang Tianna ciptakan khusus untuk Clarkson, begitu spesial sebab ini adalah pertarungan terakhir untuk menuju kemenangan.


"Minum sebelum pertarungan itu di mulai" ujar Tianna sambil menyerahkan botol kecil itu.


"Terimakasih sayang... " sahut Clarkson bermanja.


Waktunya hampir tiba, sinar matahari telah redup sejak tadi dan dia harus segera pergi ke istana.

__ADS_1


"Mari kita pergi" ajaknya.


"Kau mengajak ku?" tanya Tianna.


"Tentu saja, aku ingin kau berada di samping ku saat Tetua menyatakan diriku sebagai pemenang"


"Lalu bagaimana dengan Joyi dan Jessa?"


"Yulia akan mengurus mereka" jawab Clarkson.


Seharusnya Tianna tetap berada di sana sesuai rencana, tapi jika ia menolak pergi maka semuanya akan menjadi kacau dalam waktu singkat.


Mau tak mau ia harus mengikuti perintah Clarkson, sambil berharap yang lain dapat menjalankan tugas masing-masing tanpa kendala.


Karena jarak yang dekat maka tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai, Clarkson segera di sambut sebagai peserta dan di beri tempatnya bersiap.


Setelah semua peserta hadir maka Dewan yang memimpin ujian tersebut maju ke tengah ring untuk memberikan sambutan, tak perlu banyak kata karena pada intinya siapa pun yang berhasil menang maka dia yang akan di angkat menjadi Raja baru.


Clarkson benar-benar tak sabar hingga terus menggoyangkan kakinya, tapi walau pun dalam keadaan gugup ia tak lupa meminum ramuan yang di berikan Tianna sebelum namanya di panggil untuk memasuki area pertandingan.


"Tuan-tuan, dengan ini saya nyatakan ujian terakhir dalam seleksi di mulai!" teriak sang Dewan sambil mengacungkan tangannya.


Sorak sorai penonton begitu meriah menyambut acara tersebut, sementara para peserta mulai bergerak dengan saling menatap curiga.


"Tuan-tuan yang terhormat! semuanya... mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi ada sesuatu yang perlu kita luruskan bersama" teriak sebuah suara.


Sontak semua orang terdiam, saling berbisik dan bertanya siapakah yang berani menghentikan acara itu.


Dari balik kegelapan akhirnya Chad dan Agler menampakkan diri, membuat Tianna tersenyum lega sebab mereka datang di waktu yang tepat.


"Siapa kalian? lancang sekali.. " teriak salah satu dari penonton.


"Kami adalah Agam dan Agler, putra dari Raja Reinner dan kedatangan kami kemari adalah untuk mengklaim hak kami sebagai Pangeran" jawab Agler.


"Apa?"


Bisikan demi bisikan semakin terdengar ricuh, tentu karena itu adalah hal yang sulit di cerna mengingat Catherine mati sebelum melahirkan. Setidaknya itulah yang di percayai hampir semua vampire di istana.


"Jangan bergurau, tunjukkan kepada kami apa buktinya?"


"Ya benar"


"Ya.. "


Pertanyaan ini sudah Reinner bahas dalam rapatnya, untuk itulah mereka sudah menyiapkan bukti yang paling konkrit.


Apalagi kalau bukan darah, mereka bergerak menemui para tetua yang duduk di kursi mereka. Menatap Ballard yang sejak tadi telah mengawasi, tersenyum sebelum kemudian berkata.


"Tuan Ballard.. kau adalah saksi kami yang masih hidup, kau bisa katakan pada semuanya bahwa darah yang mengalir dalam nadi ini adalah asli" ujar Chad.


Semua orang nampak bingung, jelas karena selama ini Ballard tidak pernah mengungkapkan apa-apa.


"Bagaimana kakek? bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Chad pelan.


Ballard benar-benar di buat muak, saat ia telah memutuskan untuk menghabisi mereka justru kini mereka datang di saat yang tidak tepat.


Ia tidak mungkin mengatakan ya sebab semua orang akan mempertanyakan kesetiaannya pada hukum, jika dia berkata tidak maka ia yakin akan ada konsekuensi dalam hal ini.


Memandang ragu akhirnya tatapannya tertuju pada Clarkson yang tepat berada di belakang, menyadari sebuah isyarat yang di berikan Clarkson ia pun menjawab.


"Tidak, aku tidak mengenal mereka."


Para penonton kembali berbisik-bisik, bahkan diantara mereka mulai mengusir saudara kembar itu karena telah menghalangi jalannya acara.


"Aku sangat menyesal atas jawaban mu, kalau begitu mari kita akhiri saja sandiwara mu ini" ujar Agler.


"Clarkson! kau bersalah karena telah menggelapkan dana istana untuk kepentingan pribadi, tak hanya itu kau juga membiayai pemberontakan kepada Raja Reinner. Semua dosa mu ini harus segera di pertanggungjawabkan di hadapan hukum, kau tidak layak mengikuti ujian seleksi" teriak Chad yang kembali membuat seisi ruangan gaduh.


"Tidak! itu semua fitnah, siapa kau? berani sekali menuduh tanpa bukti" sakit Clarkson.


"Semua bukti yang memberatkan mu ada di sini" jawab Agler memperlihatkan lembaran kertas.


Lembaran itu kemudian Agler serahkan kepada para tetua agar bisa mengeceknya, mendapati semua tuduhan itu asli mereka tak bisa berkata lagi selain memberikan perintah.


"Tangkap dia! bawa dia ke sel sekarang juga!"


"Tidak! aku tidak bersalah!" teriak Clarkson panik saat para penjaga mulai berdatangan menghampirinya.


Kegaduhan semakin terasa hingga membuat Clarkson kehilangan kendali, suara-suara orang yang berbisik dan menghina begitu memekakkan telinganya.


Hingga sampai pada satu titik tubuhnya yang dingin mengeluarkan asap tipis, melihat hal itu para penjaga menjadi ragu untuk mendekat.


Penonton pun ikut berjaga, takut sesuatu yang buruk akan terjadi dan mengenai mereka. Sementara Tianna yang duduk di sudut ruangan tersenyum puas, ramuannya mulai bereaksi dan itu akan melumpuhkan Clarkson.


"Racun!" teriak Ballard tiba-tiba.


"Orang-orang ini sudah menuduh Clarkson dan meracuninya! tangkap mereka dan hukum mereka yang telah berbuat onar di tanah suci kita!" teriaknya lagi yang membuat kegaduhan kembali terjadi.

__ADS_1


Awalnya para penjaga saling menatap, tapi karena ini adalah perintah dari salah satu tetua maka mereka pun mulai bertindak.


"Chad... Agler.... " teriak Tianna sambil berlari untuk memulai apa yang telah mereka pikirkan.


__ADS_2