Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 95 Peluru Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah perjalanan itu ia memang pulang ke kediaman Hermes, tapi itu hanya untuk menyapa ibunya saja. Meski sudah larut Kyra memutuskan untuk kembali ke rumah Joyi, tanpa mendengarkan permohonan Jack yang merayunya untuk tetap tinggal.


Diantar oleh supir Kyra sampai tepat saat Chad pun baru pulang, bersama mereka memasuki rumah.


"Chad... aku ingin bicara" ujar Kyra sedikit ragu.


"Baiklah" jawabnya.


Mereka duduk di ruang tamu, di temani teh manis yang menghangatkan tubuh. Kepala Kyra tertunduk, merasa bingung harus mulai dari mana.


"Ku dengar kau tengah dekat dengan seorang pria" ujar Chad memutuskan untuk memulai.


"Oh.. ya, kami berkenalan di pesta"


"Begitu ya"


"Aku... tidak tahu bagaimana perasaan ku, jika di pikir lagi saat bersama mu pun tidak ada perasaan spesial. Hanya saja aku tidak bisa menerima penolakan, karena itu saat kau mengenalkan Ima rasanya sangat menyebalkan" ujar Kyra.


"Kau berkata benar, mungkin aku menyukai San lebih dari yang aku pikirkan. Tapi kau tahu hidup bukan hanya soal cinta, aku memilih untuk membuka hatiku pada pemuda yang bisa membahagiakan keluarga ku"


"Itu pilihan yang tepat" sahut Chad.


"Setelah ujian ku selesai mungkin aku akan menjadi nyonya, akan tersisa sedikit waktu untuk diri ku sendiri. Jadi... aku ingin berterima kasih padamu, mau bagaimana pun aku masih menganggapmu sebagai malaikat ku" ujar Kyra.


Senyumnya yang tulus membuat Chad semakin merasa bersalah atas tindakannya yang memanfaatkan Kyra.


"Aku minta maaf atas semuanya, atas kesalahan yang sebenarnya tak pantas untuk di maafkan"


"Mm, kau tidak perlu menyesal. Apa pun tujuan mu aku tidak peduli, bagiku sendiri anggota keluarga Hermes tidak ada yang suci" jawab Kyra sambil menggelengkan kepala.


Meski begitu Chad tetap menyesal telah memperlakukan Kyra dengan buruk padahal ia tak bersalah, merasa hampa akan dosanya Chad pergi ke suatu tempat.


Itu adalah sebuah pemakaman tanpa nisan, hanya puing yang di biarkan menyatu dengan alam. Ia berfikir untuk mengadu, tapi saat seorang pria berdiri di sana dengan sebuah bunga membuat darahnya mendidih tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Chad.


Jack menoleh kaget, menatap Chad yang mengawasinya.


"A-aku... hanya ingin menaruh bunga ini"


"Untuk apa? meminta maaf atas kesalahan yang tak kau akui?" olok Chad dingin.


"Aku berani bersumpah padamu, aku tidak pernah menghabisi nyawa siapa pun" sergah Jack.


"Sebaiknya kau simpan sumpah itu untuk dewa di neraka, sekarang pergi sebelum aku menghabisi nyawamu" ujar Chad.


Bukannya menurut Jack malah mengeluarkan sebuah senjata dari balik jasnya, dengan tangannya sendiri senjata itu ia genggamkan pada tangan Chad dengan posisi mengarah padanya.


"Lakukan sekarang Chad, biarkan aku menebus dosa yang melukai hatimu" bisiknya.


Tangan itu gemetar, bertahun-tahun ia menunggu momen itu tapi anehnya kini saat ia memiliki kesempatan tak ada kekuatan yang menyertainya.


"Tidak seperti ini, kau belum merasakan penderitaan ku" ujar Chad melepaskan diri.


Ia beranjak melangkah mundur, membalikkan badan untuk hendak pergi tapi teriakan Jack membuat hatinya membara.


"Aku sudah menderita Chad! cucu ku sendiri membuat rencana untuk kematian ku dan cucu ku yang lain mulai menjauh dariku, padahal di tempat ini aku hanya melihat api tanpa tahu menantu ku terjebak. Andai aku tahu hari itu kalian terjebak pasti aku akan menerjang api untuk menyelamatkan kalian, memang ini salah ku yang membiarkan semua terjadi."


Doooorrrrr.....


Bunyi yang nyaring itu membuat burung-burung berterbangan ke langit, perlahan tangannya meraba bagian perut yang berlubang. Sebuah cairan merah yang segar keluar dari lubang itu, mengotori tangannya.


"Jack..... "


Sebuah bisikkan yang cukup pilu.


* * *

__ADS_1


Angin berdesir hangat, memberi perasaan nyaman saat setiap langkah menuju dermaga. Tempat seribu kenangan yang kian bertambah setiap harinya, hari itu pun sebuah kenangan baru akan tersemat saat seorang pria berdiri tepat di bawah dimana nama mereka tertulis.


Alisya tak bersuara saat memandangnya, sampai Agler mengangkat wajahnya membuat mata mereka beradu pandang.


Angin kembali berdesir seakan ingin mereka bergerak sebab sejenak tiba-tiba mereka mematung, akhirnya Alisya yang mengambil langkah duluan. Ia berjalan menuruni tangga hingga berdiri tepat di hadapan Agler tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda itu.


Tak ada yang Alisya katakan, wajahnya menengok ke samping dan melihat bentuk cinta serta namanya lebih hitam dari nama Agler. Itu telah di perbaiki, dengan mudah ia bisa mengetahui bahwa Agler menulis kembali namanya agar dapat terlihat dengan jelas.


Ini membuktikan bahwa namanya pun masih tertulis di hati Agler, ia kembali menatap Agler dan melirik tangan pemuda itu yang bergerak ke belakang seperti menyembunyikan sesuatu.


Tanpa kata Alisya menatap tajam mata Agler dan menyodorkan tangan kosongnya, awalnya mereka terdiam tapi pada akhirnya Agler memberikan alat tulis itu.


"Kenapa kau memperbaikinya? semua yang tercipta di dunia ini pada akhirnya akan pudar terkikis waktu dan musnah begitu saja" tanyanya.


Agler tak bisa menjawab, ia hanya menggeleng pelan dengan ragu. Terlalu takut untuk menyatakan cintanya yang terus ia pupuk semakin dalam agar kuat hingga tak mudah musnah.


"Kenapa kau begitu egois bahkan pada dirimu sendiri? sesulit itukah menerima kenyataan?" tanya Alisya lagi.


"Kau tidak mengerti kesulitan yang ku alami" jawab Agler menahan air matanya.


Betapa kejamnya pemuda itu, melukis namanya dengan cinta tapi menolak memegang tangannya. Alisya tersenyum pahit memikirkan tak ada lagi pemuda yang se pengecut Agler yang terus menyakitinya dengan cinta, dalam perpisahan mereka baik yang buruk maupun baik selama itu cinta mereka masih tumbuh tapi taak bersatu sebagaimana mestinya.


"Kalau begitu hapus namaku, baik di batu itu dan juga hatimu" ujar Alisya menyerahkan kembali alat tulis itu.


Jika bisa selama mereka berpisah Agler pasti sudah melakukannya, tapi jangankan menggandeng tangan gadis lain bahkan di mimpinya gadis itu selalu saja Alisya.


Akhirnya air mata itu tumpah saat Agler menggelengkan kepalanya, dengan cepat ia membalikkan badan. Menyembunyikan kelemahannya pada cinta yang tak bisa ia rangkul.


Alisya yang melihat hal itu sadar bahwa kekasih hatinya hanyalah pemuda pengecut yang tak berdaya, ia yang juga menangis berjalan ke arah batu itu dan kembali menulis nama Agler dalam lingkaran cinta mereka.


Saat Agler berbalik dan menatap hal itu tangisannya berhenti sejenak, menatap gadis yang kini berdiri dengan penuh percaya diri.


"Aku mencintaimu, cinta yang membuat ku benci pada sifatmu. Selama ini aku berjuang mengejarmu yang mencoba menjauhiku, tanpa menyadari kemana pun aku pergi sebenarnya kau selalu ada" ujar Alisya.


Debur ombak menyertai langkahnya yang berjalan semakin mendekati Agler hingga ia berdiri sangat dekat dengannya.


"Alih-alih membiarkan ku damai dalam kesendirian yang justru membunuh ku perlahan mengapa kita tidak mati bersama dalam kebahagiaan?" tanyanya.


Ia sudah tak bisa menahannya lagi, melepaskan kerinduan yang selama ini menyeretnya dalam kegelapan.


Dengan senang hati Alisya menerima sentuhan itu, berpegang pada bahu Agler dan membelainya dengan lembut mereka saling mengecupkan kasih sayang.


* * *


Ketenangan dalam keluarga Hermes buyar saat sebuah kabar mengerikan masuk melalui pintu utama, hanyut dalam kekhawatiran semua anggota keluarga memburu rumah sakit tempat dimana Jack di rawat.


Melihat Chad yang duduk di luar ruangan hati mereka rusak oleh api yang dengan besarnya berkobar, langkah Shigima yang pertama mewakili semua anggota keluarga.


Buk


Aaaaaaa...


Teriakan perawat yang melihat pukulan Shigima lebih mengejutkan semua orang, sementara Chad yang menerima pukulan itu diam tanpa perlawanan.


"Kau... beraninya... dia adalah kakek mu sendiri!" teriak Shigima.


"Aku tidak melakukannya, aku punya cakar yang tajam kenapa harus aku menggunakan sebuah peluru?" balas Chad tenang.


"Tuan! saya mohon tenanglah, ini rumah sakit" ujar seorang perawat mencoba melerai.


Melihat hal itu Amelia bergegas menarik Shigima mundur, meski amarah menyelimuti mereka tapi bukan saatnya untuk berkelahi sementara Jack tengah berjuang melawan kematian.


"Pergi! aku tidak ingin melihat wajah mu" teriak Shigima.


"Kalau begitu kau yang harus pergi, aku akan tetap di sini menunggu hasil operasi" ujar Chad.


Shigima hendak bangkit untuk memberi satu pukulan lagi tapi kini Ryu ikut mencegahnya, dengan tatapan memohon ia membuat Shigima kembali duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Tuan, anda bisa mengambil pakaian pasien di resepsionis" ujar seorang perawat memberitahu.


"Suster! saya anak pasien, biarkan saya yang mengambilnya" potong Shigima mendengar ucapan itu.


"Oh, begitu rupanya. Silahkan tuan" jawab sang perawat.


Chad hanya diam menatap Shigima yang pergi meninggalkan tempat itu, sambil mengambil pakaian Jack ia berniat untuk mencari udara segar dulu agar tetap bisa tenang.


Dari seorang perawat yang bertugas ia mengambil pakaian Jack yang di bungkus plastik, membawa barang itu keluar setelah membeli sebotol minuman ia duduk di bangku taman menenangkan diri.


Sejauh karir Jack selama menjabat jendral penyihir ini adalah kali pertama raganya melawan kematian, sialnya itu adalah diakibatkan oleh dendam dari cucunya sendiri.


Hhhhhhhh


Hembusan nafas yang berat mengantarkan Shigima pada ketenangan, setelah beberapa menit membuang emosi kini ia membuka plastik yang membungkus pakaian Jack.


Di keluarkannya jas yang pagi tadi ia lihat di pakai ayahnya, ada pula kemeja dengan lubang dan noda darah di bagian perutnya. Melihat hal itu bisa di pastikan luka yang diterima Jack adalah sebuah tembakan peluru seperti kata Chad, yang mengherankan adalah Shigima juga menemukan sebuah pistol dengan peluru perak yang masih utuh.


Tentu ini membuat tanda tanya besar dalam kepalanya, sebab jika peluru dalam senjata itu utuh maka artinya ada senjata lain yang menyerang Jack.


Ia mulai berfikir Chad berkata jujur, sebagai seorang vampire tak sulit melawan Jack meskipun ia penyihir berpengalaman mengingat usia Jack yang tak lagi muda hingga tak segesit dulu.


Tapi mau bagaimana pun Chad selalu berkata akan membunuh Jack demi membalas dendam, mungkin saja Chad menyimpan senjata lain agar terlihat ia tak bersalah.


Shigima memutuskan untuk kembali dan tepat saat itu dokter yang menangani Jack baru saja keluar, mereka segera berkerumun menanyakan hasilnya.


"Dia selamat, hanya saja kalian belum boleh menemuinya. Sebaiknya kalian berdoa saja agar pasien cepat sadar dan kembali pulih" ujar dokter itu.


"Terimakasih dokter" ucap Amelia.


"Dokter! apa benar ayah terluka karena sebuah peluru?" tanya Shigima.


"Ya, dia mengalami pendarahan hebat karena hal itu"


"Boleh aku melihat pelurunya?" tanya Shigima.


"Tentu, mari ikut dengan ku" jawabnya.


Shigima memberikan pakaian Jack pada Ryu sebelum berjalan mengikuti sang dokter, sementara itu Chad berjalan pergi meninggalkan rumah sakit setelah mendengar kabar baik itu.


Kembali pada Shigima yang kini meneliti peluru dengan seksama, ia sadar itu jenis peluru yang berbeda dengan yang di miliki Jack meskipun sama-sama terbuat dari perak.


Mengingat Chad seorang vampire tidak mungkin ia memiliki senjata yang terbuat dari perak, itu artinya ada orang lain lagi yang menginginkan kematian Jack.


"Maaf dokter, pemuda yang datang dengan ayah ku apakah dia juga terluka?" tanya Shigima.


"Oh maksud mu nak Chad? dia tidak terluka, dia yang datang membawa pasien sambil dengan cara menggendongnya. Andai dia terlambat sedikit saja aku rasa ayah mu tidak akan selamat, nak Chad sudah menutup lukanya dengan benar dan membawanya ke sini dengan cepat. Itu adalah langkah terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien" jawabnya.


Itu berarti Chad berkata jujur, ia tak melukai Jack bahkan telah menyelamatkan nyawanya.


Shigima kembali pada keluarganya, masih membawa tanda tanya besar di atas kepalanya.


"Ada apa kak?" tanya Ryu melihat wajah bingung itu.


"Senjata yang melukai ayah bukan milik orang lain, dan pelurunya terbuat dari perak murni"


"Apa? itu artinya bukan Chad yang melakukan ini?" tanya Ryu.


"Kenapa kalian begitu ingin Chad yang melakukan ini?" tanya Violet tiba-tiba.


Semua mata tertuju padanya, namun tanpa gentar ia melangkah maju untuk melihat satu persatu orang itu.


"Apa karena dia buka pemuda yang baik? apa karena dia terus menyerukan peperangan? apa karena dia memanfaatkan Blue? mungkin dia musuh tapi aku tidak pernah lupa meskipun Chad melukai Blue dengan tindakannya dia tetap orang pertama yang menyelamatkan Blue dari kematian, kini saat dengan lantangnya ia berkata ingin membunuh tapi kenyataannya lagi-lagi ia menyelamatkan nyawa keluarga Hermes" ujarnya tegas.


Shigima dan Ryu menundukkan kepala, cukup malu untuk mengakui bahwa mereka telah berprasangka buruk.


"Aku memang salah menilai Chad sebagai calon menantu, tapi aku tidak pernah salah menilai Chad dari kebaikannya. Itulah mengapa aku memilih berdiri di sampingnya, dari pada kalian yang selalu berkata baik tapi tidak pernah berhati baik" ujarnya lagi.

__ADS_1


Membawa kekesalan Violet memilih pergi dari tempat itu, melupakan masalah keluarga Hermes yang tak ada habisnya. Kembali fokus pada Kyra yang baru saja menemukan seorang pria baik, berharap kini takdir memihak padanya lewat Hakan.


Sedang Shigima semakin menundukkan kepalanya, malu pada diri sendiri yang sadar bahwa semua ucapan Violet benar adanya.


__ADS_2