
Sisi gelap dari belahan bumi itu nampak indah di mata Tianna, melihat betapa megah dan luasnya halaman istana seketika ia melupakan kesulitan yang selama ini terasa menyiksa.
Jubah hitamnya tersapu angin saat mulai berjalan mengikuti Keenan, melewati pagar gerbang yang terbuka lebar tanpa penjaga. Selintas ia pikir istana itu kosong sebab tak ada siapa pun di sana, namun begitu mereka masuk seorang vampire nampak terkejut akan kehadiran mereka.
"Siapa kalian?" tanyanya.
"Hai saudaraku, apa kabarmu?" ujar Keenan dengan senyum penuh arti.
Selama ini Tianna merasa dia hanyalah budak yang di bawa untuk menyelesaikan pekerjaan kotor, ia bahkan tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan boneka-bonekanya karena semua perintah yang tak ada habisnya.
Kini tanpa setetes keringat pun ia melihat abu-abu berterbangan, mengisi setiap celah di mana Keenan menguji kekuatannya. Sampai mereka tiba di singgasana yang kelam, berdebu sebab terlalu lama di biarkan kosong.
"Siapa kalian?" tanya salah seorang tetua.
Sangat kebetulan sekali para tetua agung itu berada di sana, seolah sengaja hadir untuk menyambut kedatangan mereka.
Tanpa menggubris pertanyaan itu Keenan terus berjalan menuju kursi sang Raja, jari panjangnya bergerak mengelus ukiran singgasana tersebut. Mengagumi betapa megahnya kursi itu meski telah mencapai umur berabad-abad, perlahan ia pun duduk disana demi merasakan sensani yang selama ini hanyalah angan belaka.
"Berani sekali kau duduk di sana!" teriak seorang tetua yang merasa tersinggung.
Hhhhhhhhhh
Keenan menghirup udara bebas dan menghembuskannya secara perlahan, kemudian tatapannya seketika tertuju pada tetua yang berani bicara keras kepadanya.
"Keenan, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ballard yang tentu sudah mengenal saudara Viktoria itu.
"Kau...Keenan? adik bodoh dari Ratu Viktoria? menggelikan sekali kau datang seolah singgasana itu milik mu" ujar tetua tadi yang sudah lupa pada Keenan sebab memang tak ada juga yang peduli padanya.
"Bicaralah yang sopan jika kau masih ingin seratus tahun lagi menjabat" ujar Tianna sinis.
"Kau berani menentangku?" teriaknya.
Meski mereka sesama vampire, meski para tetua telah hidup lebih lama tapi kini Keenan bukanlah makhluk yang bisa di abaikan.
Aarggghhhh....
Hah...
Ruangan itu tiba-tiba ramai sebab tetua tadi mengerang dengan cukup keras sambil memegang dadanya yang terluka, tak ada yang tahu pasti apa yang telah terjadi namun melihat senyum di wajah Keenan mereka yakin itu adalah perbuatannya.
Dalam beberapa menit yang cepat abu menyebar kesegala arah, menandai tuan baru yang akan di panggil raja. Tanpa melakukan ritual ujian seleksi penobatan pun di lakukan hari itu juga, tentu saja karena Keenan telah menunjukkan kelayakannya sebagai pemimpin.
Di hadiri oleh para vampire yang sebagian besar para bangsawan, meski diringin bisikan gosip diantara mereka tapi Keenan terlihat tak acuh. Dengan bangganya ia memakai jubah Raja dan duduk di singgasana, mengumumkan bahwa Tianna resmi menjadi putri kerajaan.
Tuk Tuk Tuk
Sepatu haknya mengetuk lantai setiap kakinya melangkah semakin dekat pada Keenan, di kamar sang Raja dimana jendelanya mengahadap hamparan hutan yang tiada berwarna Keenan berdiri menikmati angin istana.
"Ambilah, ini saatnya kita mengangkat gelas. Ijinkan aku untuk menuangkannya sebagai tanda hormat sekaligus terimkasihku atas janji yang telah kau tepati" ujar Tianna menyodorkan gelas kosong.
Keenan tersenyum dan mengambil gelas itu, membiarkan Tianna menuangkan segelas koktail dengan kedua tangannya secara perlahan.
"Kau tahu, Viktoria begitu di cintai, di sayangi, di anggap berharga hingga mendapat perhatian yang tidak wajar. Mulai dari hari ini akan ku buktikan bahwa hidup selalu tentang dia yang terkuat, di takuti adalah jalan yang pantas jadi mari bersulang untuk abu saudari ku yang sia-sia" ujar Keenan mengangkat gelas.
Tianna mengangguk, mempersilahkan tuannya untuk menikmati minuman.
"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Tianna.
"Tetap pada awal, aku akan mencari Anna" jawabnya.
"Jika....dia sudah di temukan apa yang akan kau lakukan?"
"Menyalurkan hasratku, dua puluh empat tahun adalah waktu yang singkat untuk mengenalnya tapi terlalu lama untuk menahan perasaan ku" jawab Keenan sambil memandang gelas yang telah kosong.
__ADS_1
"Sebelum itu mari kita jemput Shishio dan Alabama, mereka juga harus merasakan kenikmatan ini" ujarnya lagi.
* * *
Hans mendapat kabar setelah kesabarannya hampir habis, tanpa sepengetahuan Reah ia pergi menemui Nick untuk mengambil denah istana yang ia minta.
"Butuh waktu yang cukup lama membuat ini, jujur karena aku jarang bahkan hampir tidak pernah menginjakkan kaki di sayap kanan. Itu adalah tempat tidur Raja dan para tetua, intinya tempat untuk orang-orang penting sehingga prajurit sepertiku tidak memiliki urusan di sana" ujar Nick memberikan alasan dari keterlambatannya.
"Tidak masalah, aku mengerti" jawab Hans.
Nick mulai menjelaskan setiap bagian dari istana yang perlu ia ketahui, sekarang ini bisa di pastikan penjagaan cukup kendur karena tidak ada yang menjabat sebagai Raja. Namun bukan berarti ia bisa lenggang masuk begitu saja, para tetua dan bangsawan vampire tetap berada di istana sehingga beberapa prajurit yang menjaga mereka pun pasti ada di sana.
Terlebih sebuah ruangan tempat penyimpanan abu Lord vampire dan istrinya yang juga sempat menduduki tahta, abu kedua vampire penting itu tersimpan baik dan berada di bawah pengawasan langsunh seorang jenderal.
"Gunakan ini, pastikan aroma tubuh mu hilang agar tidak ada yang menyadari keberadaan mu" ujar Nick menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan merah.
"Apa ini?" tanya Hans.
"Darah ku yang di campur dengan minyak dan rempah lain, usapkan pada tubuh mu agar tidak ada vampire yang bisa mencium aroma manusia dari mu" jelasnya.
Hans menyimpan botol itu dalam sakunya beserta peta denahnya, setelah melakukan sedikit persiapan ia pun pergi. Nick berbaik hati mengantar hingga hutan dimana jalan pintas menuju istana berada, di depan sebuah gua ia berkata.
"Di sisi lain dari gua ini adalah wilayah vampire, sebaiknya kau gunakan minyak itu sekarang"
"Aku mengerti, terimakasih untuk bantuan mu" jawab Hans.
"Berhati-hatilah" ujar Nick untuk yang terakhir kalinya.
Hans mulai menggunakan minyak itu di leher dan tangannya, setelah menarik nafas panjang untuk mempersiapkan mental ia pun mulai mengambil langkah memenuhi janjinya.
Gua itu gelap tanpa ada yang bisa di lihat sekali pun itu tangan sendiri, beruntung ia membawa pematik sehingga setidaknya ada sedikit cahaya untuk menerangi jalan.
Setiap langkahnya menuju dunia yang asing membuat hatinya was-was, ada ketakutan yang ia rasakan sama seperti saat di kepung kawanan vampanences. Kali ini ia benar- benar sendiri dan kemungkinan tidak akan ada yang membantunya seperti di hutan, mengingat hal itu tiba- tiba ia berharap Elf ada bersamanya.
Beberapa saat kemudian akhirnya ia keluar dari gua, meski perasaan khawatirnya hilang tapi justru kini ia harus lebih waspada sebab telah menginjakkan kaki di tanah musuh.
Hans mulai berjalan sambil mengawasi sekeliling, bergerak secepat mungkin agar tak ada waktu yang terbuang. Sebenarnya lebih baik jika ia datang di siang hari dimana para vampire itu tidak mampu melawannya di bawah cahaya matahari, tapi hal itu tidak terlalu berguna sebab yang ia datangi adalah istana vampire dimana cahaya matahari tidak menembus ke dalamnya.
Sesuai petunjuk Nick akhirnya ia menemukan istana itu, megahnya hampir sama dengan Akademi hanya dengan desain yang berbeda. Halamannya pun tandus tak seperti di Akademi yang memiliki taman bunga, ia juga tak melihat penjaga seperti yang Nick katakan.
Meringkuk di bawah pohon ia kembali melihat peta, memastikan jalan yang akan ia tempuh benar.
"Baiklah, yang perlu aku lakukan hanya mengambil abu Lord vampire" gumamnya sedikit gugup.
Ia kembali melipat peta denah itu dan memasukkannya ke dalam saku sebelum bergerak untuk bangkit, secara perlahan bersembunyi di balik ke gelapan ia melangkah dengan pasti menuju istana.
Mengitari halaman ke bagian sisi yang lain dari pintu utama, ada sebuah pintu kecil yang biasa di gunakan oleh orang dapur. Pintu itu memang kadang di jaga tapi tidaklah seketat yang lain, ia bisa menyelinap masuk begitu ada kesempatan.
Melewati dapur yang tidaklah seramai perkiraannya dengan mudah Hans bisa lolos tanpa di ketahui para vampire yang kebanyakan bicara bukan bekerja, memastikan di luar pintu kosong ia bergerak cepat melewati koridor yang cukup gelap.
Setelah melewati tiga pintu di kanan ia hendak belok ke kiri namun langkahnya terhenti saat melihat dua prajurit yang berjalan ke arahnya, mereka tengah berbincang tentang Raja dan memberikan komentar masing-masing.
Kelihatannya obrolan itu lebih menarik dari apa pun di sekeliling mereka sebab Hans dapat lolos tanpa di ketahui padahal ia hanya menempelkan tubuh di dinding dalam gelap.
Hans pun cukup tertarik pada obrolan kedua vampire itu tapi tak ada waktu untuk hal yang sepele, ia kembali bergerak dan mempercepat langkahnya.
Setelah melewati dua belokan akhirnya ia menemukan sebuah ruangan yang menurut petunjuk adalaj ruang penyimpanan abu Lord vampire, ia membuka sedikit pintu untuk memastikan ruanga itu kosong.
Kenop pintu itu ia putar perlahan dan masuk ke dalam berusaha tanpa menimbulkan suara, di dalamnya ia menemukan dua peti mati tergeletak secara berdampingan.
Ia buka salah satu peti dan menemukan abu dengan jumlah yang sedikit, sedang di dalam peti yang lain jumlah abunya lebih banyak dengan sebuah kalung di dalamnya.
"Aku menemukannya" gumamnya senang.
__ADS_1
Tanpa menunda waktu Hans segeta mengeluarkan sebuah kantung dan memasukkan abu itu ke dalamnya, butuh waktu beberapa menit yang terasa lama untuk memasukkan semua abu itu.
Keringat yang telah membasahi keningnya segera ia lap selesai mengikat kantung itu, setengah pekerjaannya kini telah selesai maka yang perlu ia lakukan hanya pulang dengan selamat.
"Selesai dengan urusan mu?" tanya Keenan tiba-tiba saat Hans membalikkan badan.
Seolah mulutnya terkunci Hans tak dapat menjawab apa pun, ia terlalu kaget sebab sedari tadi ia tidak mendengar suara langkah kaki atau pun merasakan kehadiran seseorang.
Keenan tersenyum dan tiba-tiba.
Buk
Ah....
Ia tidak mengedipkan mata, Keenan terus berada di depannya tapi entah mengapa ia merasakan punduknya di pukul dengan keras hingga kesadarannya secara perlahan menghilang
Satu-satunya yang ia ingat hanya wajah Keenan yang semakin mendekatinya saat tubuhnya ambruk ke lantai.
Rasanya seperti menaiki rollercoaster, terus berputar-putar hingga kepalanya terasa pening bahkan ada sedikit rasa mual yang cukup mengganggu.
Butuh beberapa menit baginya hanya untuk mengangkat kepala dan melihat dengan cukup jelas, dengan posisi duduk tangan dan kakinya di ikat kencang. Dua vampire yang bertugas menjaganya tengah asik mengobrol sampai salah seorang dari mereka menatap ke arahnya.
"Oh, kau sudah bangun rupanya" ujar salah satu dari vampire itu.
"Aku akan memberitahu Yang Mulia, pastikan untuk tidak mendekatinya. Kau tahu mereka penuh tipuan" ujar yang lain sambik menatap sinis kepadanya.
Kawannya hanya terkekeh mendengar ucapan itu, lalu menatap Hans dengan tatapan yang penuh menghina.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Hans.
"Memulai tipu daya huh?" olok vampire itu.
Hans tidak mengerti mengapa ia di olok seperti itu, tapi rasanya tetap menyebalkan
"Hanya beberapa jam saja" ujar Vampire itu akhirnya.
Beberapa jam yang cukup lama pastinya, tas yang berisi perlengkapan dan peta denah itu sudah raip. Tentunya ramuan jiwa yang ia bawa juga pasti telah di ambil, jangankan mencari jalan lain demi menghentikan perang kini bahkan ia tidak punya cara untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
Drap Drap Drap
Dari suara langkag kaki itu bisa di pastikan jengukan ini di hadiri oleh beberapa orang, dari ucapan vampire yang pergi tadi ia tahu beberapa orang penting akan melihat dan menginterogasinya.
"Yang Mulia" sapa vampire yang menjaganya sambik sedikit membungkukkan badan.
Hans terpana melihat Keenan sebab ia adalah vampire yang memergokinya, di dampingi oleh beberapa vampire lain Keenan masuk ke dalam ruangan.
"Maaf atas punduk mu, aku tidak ingin ada perkelahian yang tidak perlu" ujar Keenan.
Ucapan itu sudah tentu menyadarkan betapa kuatnya Keenan, tak ingin mendapat masalah yang lebih besar Hans hanya diam.
"Perkenalkan, aku Keenan. Kau bisa memanggilku Yang Mulia seperti yang lain atau Raja Keenan" ujarnya lagi.
"Apa...maksudmu?" tanya Hans lebih kaget lagi.
"Yang Mulia adalah Raja baru di istana, beliau baru di nobatkan kemarin atas persetujuan semua tetua" ujar seorang prajurit vampire.
"Itu...artinya kau Raja vampire yang baru?" tanya Hans memastikan.
Keenan mengangguk seraya tersenyum, menikmati wajah kacau Hans yang belum bisa menerima kenyataan itu. Kini bangsa vampire telah memiliki seorang pemimpin yang artinya hanya akan ada dua hal terjadi, perdamaian atas keinginan Raja baru atau perang yang semakin besar.
Rupanya kabar Raja baru hanya awal dari berita lainnya, belum redam rasa kaget di hatinya seseorang datang memasuki ruangan.
"Yang Mulia, aku sudah menelitinya" ujar orang tersebut.
__ADS_1
"Kau....guru...Shishio" panggilnya pelan.
Matanya beradu pandang dengan Shishio, cukup lama hanya untuk membangun segala pertanyaan yang mungkin tidak ada jawabannya.