
Agler berhasil melenyapkan mayat yang ia bunuh, tapi tidak dengan kenangan buruk yang ia buat untuk Alisya. Entah apa yang merasukinya sehingga mengeluarkan sisi vampire di dalam tubuhnya, kini Alisya sudah mengetahui identitas aslinya. Tak ada lagi masa depan bagi hubungan mereka berdua, yang lebih parah lagi ia takut Alisya akan melaporkannya ke pihak yang berwajib.
Meski mungkin laporan itu tidak akan di tanggapi tetap saja Alisya bisa mengumpulkan bukti yang kuat, jika hal itu sampai terjadi maka tamatlah riwayatnya.
Agler mencoba konsultasi kepada Nick, mendengar hal gawat seperti itu Nick segera memberikan obat penghilang ingatan kepadanya. Sebenarnya ketika Alisya menyaksikan hal itu harusnya Agler membuatnya pingsan dan memberinya obat itu agar ia melupakan kejadian yang berlangsung selama sejam sebelum ia pingsan.
Tapi Alisya kabur darinya dan Agler tidak mencoba mencarinya, dua puluh empat jam telah berlalu semenjak peristiwa itu dan sampai sekarang ia belum bertemu dengan Alisya. Jika sudah begini maka ia harus memberikan dosis yang lebih tinggi lagi, sebelum itu ia harus mencari tahu dulu dimana keberadaan Alisya.
Hari itu Agler yang tidak bisa meninggalkan kuliahnya terpaksa harus masuk dulu ke dalam kelas, rencananya setelah kelas selesai ia akan mencoba mencari Alisya.
Tapi begitu ia keluar dari kampus di lihatnya Alisya sedang duduk sambil mengamati bunga di depannya, dengan perasaan tak karuan Agler berjalan perlahan mendekati Alisya hingga ia berdiri tepat di belakangnya.
"Alisya... " panggilnya pelan.
Alisya menengok kebelakang, saat melihat sosok Agler yang berdiri tepat di belakangnya ia tersenyum dan bertanya.
"Kuliah mu sudah selesai? lihatlah apa yang coba aku gambar! kau menyukainya?"
Sontak Agler kaget bukan main, sikap Alisya sangat normal untuk mereka yang baru saja melihat monster.
"Alisya.... bagaimana kabarmu?" tanya Agler memastikan.
"Um... baik, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Alisya heran.
Tapi Agler lebih heran lagi, seolah tidak terjadi apa pun kemarin sikap Alisya padanya tetap seperti biasa. Entah apa yang sudah terjadi, tapi meski ia penasaran Agler memutuskan untuk tidak bertanya apa pun lagi agar Alisya tidak curiga. Ia akan menganggap semuanya telah berlalu tanpa harus di ungkit.
* * *
Manajer San memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi sesuai perintah tuannya, siang itu Joyi sudah tak tahan ingin bertemu dengan Jack untuk memberitahu apa yang telah di perbuat cucunya kepada Alisya.
Sampai di kediaman Hermes kali ini Joyi bersikap lebih sopan, ia memasuki halaman rumah dan mengetuk pintu sampai pemilik rumah keluar.
"Bibi Joy... kau mau apa lagi datang kemari?" tanya Shigima begitu membuka pintu.
"Pertama jangan panggil aku bibi Joy karena aku bukan lagi bagian dari kalian, kedua maksud tujuan ku datang kemari adalah untuk bertemu Jack" jawab Joyi.
Shigima melihat kali ini Joyi datang hanya dengan satu orang anak buahnya, itu bisa diasumsikan bahwa ia akan bicara baik-baik. Maka Shigima pun memanggil Jack dan memberitahu bahwa Joyi ingin bertemu dengannya.
"Kali ini kerusuhan apa lagi yang akan kau buat?" tanya Jack.
"Kali ini aku akan membeberkan tindakan memalukan yang telah cucumu lakukan"
"Apa maksud mu?" tanya Jack tak mengerti.
"Tanyakan sendiri kepada cucumu Hans, dia adalah dalang di balik penculikan Alisya"
"Apa? itu tidak mungkin! jangan tuduh putraku dengan berita bohong seperti itu!" teriak Shigima yang membuat Amelia ikut keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.
"Kau boleh tidak percaya padaku, tapi sebelum itu aku katakan kejadian ini tidak akan pernah aku lupakan. Jack, mulai saat ini jangan harap kau bisa tidur dengan tenang" ancam Joyi.
Tanpa menggubris Shigima yang masih tidak menerima ucapannya Joyi pergi meninggalkan tempat itu.
"Shigima! cepat suruh Hans pulang!" perintah Jack sambil menatap kepergian Joyi.
__ADS_1
"Kenapa? ada apa ayah? ada apa dengan Hans?" tanya Amelia yang melewatkan kabar itu.
"Tidak apa-apa nak, mari kita masuk" jawab Jack yang tidak ingin membahas hal itu.
Shigima segera menelpon Hans, dengan suara ketir ia menyuruh Hans untuk pulang. Rasa penasaran membuat Hans ijin dari tugasnya dan pulang demi memenuhi perintah ayahnya.
Saat sampai di rumah Jack dan Shigima membawa Hans ke hotel dan bicara empat mata di ruang kerja Shigima, mereka duduk di sofa dan Jack pun mulai bertanya.
"Apa kau kenal gadis bernama Alisya?"
"Itu... ya, belum lama ini aku mengenalnya" jawabnya.
Shigima dan Jack saling bertatapan, baru jawaban pertama dan mereka sudah takut pada kebenaran yang lain.
"Hans... jawab dengan jujur, apa... kau menculik gadis itu?" tanya Shigima cemas.
Pertanyaan itu membuat Hans kaget, bagaimana mungkin ayah dan kakeknya bisa berfikir demikian. Tapi tiba-tiba ia teringat saat Alisya di jemput oleh seorang wanita yang mengaku sebagai neneknya, saat itu ia di tuduh karena hal yang tidak ia mengerti. Dengan pertanyaan ini membuat Hans sadar ada sebuah kesalahan pahaman yang sudah terjadi.
"Tidak ayah... kakek, aku bersumpah tidak melakukan hal itu"
"Lalu dari mana kau mengenal gadis itu?" tanya Shigima.
Hans pun menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, malam itu ia tengah bertarung dengan seorang vampire ganas sampai tiba-tiba seorang gadis berada di sana.
Entah datangnya dari mana Hans pun tidak tahu, tapi akibat kedatangannya vampire itu jadi mencoba untuk membunuhnya. Hans berhasil menyelamatkan gadis itu, tapi tiba-tiba ia pingsan maka Hans pun membawanya ke rumah singgahnya.
Ia juga memberitahu Reah tentang hal itu, bersama dengan Reah mereka merawat gadis itu sampai sadar. Reah yang bertugas menginterogasi gadis itu, ia mengatakan namanya Alisya dan alasan kenapa dia tiba-tiba berada di sana adalah karena dia mencoba lari dari makhluk yang sama dengan yang Hans lawan.
Sampai sana Reah sudah memiliki jawaban bahwa dalam satu hari Alisya sudah melihat dua vampire sekaligus, tentu bagi manusia biasa sepertinya itu merupakan kejadian buruk yang ingin ia lupakan.
Hans belum sempat mengarang cerita yang masuk akal untuk Alisya sebab ia keburu salah paham, setelah itu datanglah Joyi sehingga semuanya menjadi kacau balau.
"Jadi begitu cerita yang sebenarnya" gumam Shigima.
"Ayah... kita harus meluruskan hal ini kepada bibi Joy, aku tidak rela putraku di tuduh yang bukan-bukan" ajak Shigima.
"Tidak semudah itu, Joyi tidak akan percaya begitu saja apalagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Alisya dan Hans berada di kamar yang sama. Terlebih ingatan Alisya sudah di hapus sehingga ia tidak bisa menjadi saksi atas kebenaran yang terjadi" ujar Jack.
"Sial! lalu apa yang harus kita lakukan? aku tidak bisa terima begitu saja atas tuduhan yang menyangkut putraku" ungkap Shigima kesal.
"Ayah.... apakah.. yang aku lakukan benar-benar salah?" tanya Hans takut melihat wajah kesal ayahnya.
"Tidak nak, kau benar telah menyelamatkan nyawa seseorang. Hanya saja kali ini kita tidak beruntung sebab berurusan dengan orang yang salah"
"Ayah, sebenarnya siapa bibi Joy itu? kenapa dia menuduhku seperti itu?" tanya Hans penasaran.
Jack dan Shigima kembali saling bertatapan, ini adalah cerita yang sangat panjang sehingga tidak akan cukup meski menghabiskan waktu seharian. Terlebih Jack ingin menutup rapat-rapat kejadian yang telah lalu itu.
"Tidak perlu di pikirkan, fokuslah pada tugasmu saja biar kami yang menyelesaikan masalah ini" ujar Jack.
Sebenarnya Hans sangat tidak suka saat ayah dan kakeknya menyembunyikan sesuatu darinya, meski pun itu untuk kebaikan dirinya sendiri tapi Hans merasa ia lemah sehingga harus di lindungi setiap saat.
"Baiklah.. " jawabnya yang tidak bisa menentang dua orang yang teramat ia hormati.
__ADS_1
* * *
Mata Agler tak bisa lepas dari Alisya, jika saat ini Alisya sedang bersandiwara demi menutupi identitas Agler yang sebenarnya maka sandiwara itu sangatlah sempurna. Tapi jika di bilang sandiwara Agler merasa lebih tepatnya Alisya sudah lupa pada apa yang terjadi malam itu, ia bertanya-tanya mungkin Alisya mengalami syok berat hingga mengalami trauma ringan dan tiba-tiba hilang ingatan.
Tapi asumsi itu tidak sepenuhnya dapat ia terima karena Alisya masih ingat hari dimana mereka pergi makan bersama demi merayakan pameran lukisannya yang sukses, hanya saja Alisya lupa bahwa Agler sempat menunjukkan sisi vampirenya dan membunuh para perampok.
"Ah..... anginnya sangat sejuk, tempat ini benar-benar adalah tempat favorit ku" ujar Alisya sambil merentangkan kedua tangan, membiarkan angin laut menerpanya dengan lembut.
"Kau menikmatinya?" tanya Agler pelan.
"Mm, aku lebih suka karena ada kau di sampingku" ujar Alisya sambil memegang tangan Agler.
"Alisya.... apa kau sungguh mencintai ku?" tanya Agler tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin mendengarnya"
"Mm, tentu saja. Aku sangat mencintaimu, aku merasa senang dan nyaman saat berada di dekat mu"
"Alisya... bagaimana jika aku... monster? apa kau masih mencintai ku?" tanya Agler ragu.
Alisya terkesiap mendengar pertanyaan Agler yang aneh itu, tapi kemudian tiba-tiba ia tertawa.
Hahaha
"Apa yang kau katakan? monster apanya? kau punya dua mata sama seperti ku, dua telinga, tubuh yang normal dan kehidupan yang normal. Jangan bergurau yang aneh-aneh"
'Ah, Alisya... kau... melupakan peristiwa itu, kau tidak ingat bahwa aku berubah menjadi monster di depan matamu' batin Agler kaget.
"Ini sudah semakin malam, aku harus cepat pulang sebelum nenek khawatir" ujar Alisya.
"Baiklah" jawab Agler.
Alisya menelpon supirnya untuk menjemput di tempat biasa, tepat di persimpangan jalan mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Sedang Agler pulang dengan menggunakan bis hingga tiba di halte dan berjalan sebentar sampai tiba di rumah, saat ia kembali Nick menyambutnya dengan pertanyaan seputar Alisya.
Meski Agler juga bingung dengan apa yang terjadi tapi ia yakin Alisya sudah lupa pada peristiwa itu, Nick juga agak bingung tapi tidak mempermasalahkannya. Lebih baik memang tidak perlu di usut, menikmati apa yang sekarang terjalin itu lebih baik.
Tanpa mereka sadari di balik dedaunan pohon yang rindang Tianna menyembunyikan auranya untuk mengintai, telinganya cukup tajam sehingga dapat mendengarkan percakapan itu.
"Ah... padahal aku sudah repot-repot membuat drama yang menarik, tapi semuanya gagal total. Kalau begini tidak ada cara lain, aku harus merubah rencanaku atau.... target ku" ujarnya sambil mengeluarkan secarik kertas yang di berikan Keenan padanya.
* * *
Jack kembali ke dalam kamarnya, menuang air ke dalam gelas dan meminumnya hanya dengan satu kali tegukan. Keringat muncul dari keningnya yang telah memiliki banyak kerutan meski hari itu sejuk seperti biasa, Jessa hanya mampu menatap wajah cemas suaminya tanpa bisa bertanya.
"Apa yang telah merasuki Joyi? aku benar-benar tidak mengerti mengapa ia begitu dendam padaku. Padahal dia adalah satu-satunya orang yang selalu setia padaku, kini dia menjadi orang yang paling membenciku. Oh... Jessa... kenapa dia bersikeras membencimu, menyalahkan mu atas penderitaan yang ia alami sekarang. Apakah cinta seburuk itu? sampai kita harus menanggung penderitaan yang menyakitkan ini" ujarnya melepas kesedihan dari dalam hatinya.
Perlahan ia mengelus tangan istrinya, beranjak pada rambutnya baru mengecup dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku Jessa, kau harus mendengar keluhan yang aku buat. Masalah timbul terus menerus dan itu menguras energi ku, sekarang aku harus fokus pada penyelesaian masalah Hans" lanjutnya.
Andai meski mulutnya saja yang normal maka itu sudah lebih dari cukup, dalam diam Jessa telah mendengarkan segala hal yang terjadi pada keluarganya.
__ADS_1
Ia ingin sekali menggerakkan kakinya untuk berlari menghampiri Joyi, dengan tangannya akan ia buktikan sekali lagi kekejaman Joyi yang membuat penderitaan ini dan dengan mulutnya akan ia beberkan rahasia keji yang telah Joyi perbuat.
Seperti dahulu, saat dimana ia membuktikan kepada Jack bahwa pengkhianat yang sesungguhnya adalah Joyi. Andai bukan karena sifat iri Joyi mungkin saat ini putrinya masih ada di sampingnya, putri dengan darah campuran vampire dan penyihir. Sang keabadian yang berhasil memenangkan perang dan menyelematkan seluruh keturunan Hermes yang tersisa, sayang setelah kepergiannya justru orang-orang di balik layar merusak tatanan yang ada.