Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 137 Identitas Tersembunyi


__ADS_3

Lagi, Alisya hanya makan beberapa suap saja itu pun karena bujukan dari Ima. Semenjak Joyi hilang dan belum adanya kabar rumah yang sudah sepi itu kini semakin suram, jangankan sebuah keceriaan bahkan obrolan pun tak ada.


Melihat tubuh Alisya yang semakin mengering membuat Agler tersiksa sendiri, semakin tak tega akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Alisya keluar.


Hanya sekedar jalan-jalan namun Alisya menganggapnya sebagai pencarian Joyi, mereka berjalan di sepanjang trotoar hingga memutuskan untuk beristirahat di taman.


Jelas terlihat wajah Alisya yang tidak bergairah, begitu murung seperti lentera yang kehabisan minyak.


"Nenek Joyi pasti ketemu, dia akan baik-baik saja dan pulang dengan selamat" ujar Agler lembut sambil menggenggam tangan Alisya.


"Satu hal yang ku sesalkan hanyalah hubungan kami sedang tidak sehat saat ia tiba-tiba jatuh sakit, kini setelah dia menghilang yang bisa ku salahkan hanya diriku yang egois" ujar Alisya pelan.


"Kenapa kau bicara seperti itu? lihat aku!" perintah Agler.


Perlahan Alisya mengangkat kepalanya, menatap Agler dengan mata bengkaknya yang selalu basah kuyup.


"Kau percaya padaku kan? jika aku katakan dia baik-baik saja maka tidak ada yang perlu kau khawatirkann" sahut Agler.


Perlahan Alisya tersenyum, diam-diam merasa bersyukur sebab setidaknya ia masih memiliki kekasih yang selalu ada untuknya.


"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kita pulang" ajak Agler.


Alisya mengangguk, mereka pun bangkit dan mulai berjalan pergi. Tapi baru beberapa kali melangkah tiba-tiba sesuatu menarik Alisya dari belakang dan mendekap mulutnya dengan kuat.


Mmmmm


Erang Alisya yang mencoba membebaskan diri namun tak berhasil.


"Alisya!" panggil Agler kaget sebab ia tak merasakan ancaman yang datang.


"Hello sayang... mau bermain sebentar dengan ku?" tanya Yulia dengan suara syahdunya yang khas.


Hanya sekali lirik Agler sudah bisa mengetahui makhluk seperti apa Yulia itu, anehnya ia tak merasakan kehadiran Yulia hingga bisa kecolongan.


Hal ini membuat seluruh indranya menajam dengan cepat, terlebih Yulia memegang Alisya dengan kuku yang tepat mengarah ke leher Alisya.


"Mmm... kau memiliki bau yang enak" bisik Yulia mengendus.


"Siapa kau? lepaskan dia" ujar Agler waspada.


"Kau ingin berkenalan denganku? baiklah mari kita mulai!" ujar Yulia sambil menghempaskan Alisya ke belakang.


Sementara dirinya melesat dengan cepat ke arah Agler, tanpa peringatan Agler berhasil menghindar namun tidak tepat waktu.


Sreeet


Ah


Yulia berhasil merobek kulit lengan Agler dengan kukunya yang tajam, seketika darah keluar begitu saja bersamaan dengan rasa sakit. Namun Agler dapat menahannya karena beberapa menit kemudian perlahan luka itu sembuh dengan sendirinya.


Alisya yang kini terbebas segera mencari tempat perlindungan sementara Agler mulai bersiap akan serangan selanjutnya.


"Heh... rupanya pangeran ini tidaklah kuat seperti yang aku pikirkan, kau memang benar-benar tak pantas mendapatkan tahta istana" olok Yulia.


Itu adalah sebuah pejelasan singkat yang Agler pahami dengan cepat, kini ia mengetahui dari mana Yulia berasal.


"Aku tidak berniat untuk pergi ke istana, kau bisa tinggalkan kami dan lanjutkan hidupmu sendiri" ujar Agler.


"Oh tentu tidak, selama kau hidup kesempatan tidak akan pernah ada" balas Yulia.


Satu detik kemudian Yulia maju kini dengan kecepatan yang biasa, Agler dapat melihat setiap gerakannya dan dapat menghindar dengan benar.


Buk Buk Buk


Setiap tendangan dan pukulan itu ia tangkis dengan mudah, sadar bahwa kelebihan yang di miliki Yulia hanya kecepatannya Agler tahu ia bisa menang dengan mudah.


Tapi masalahnya Alisya berada di sini dan melihat apa yang terlah terjadi, jika ia sampai kebablasan maka yang ia takutkan mimpi buruk itu akan terulang lagi.


"Heh ada apa? tidak berani melawan wanita?" tanya Yulia tanpa menghentikan serangannya.


Buk Buk


Agler tak menjawab, benaknya saat ini sedang sibuk mencari cara untuk mengalahkan Yulia tapi tanpa mengungkapkan identitasnya.


Whuuusss...


Dengan satu hentakan Yulia melompat mundur, ia mendarat dengan sempurna menggunakan kedua kakinya. Tapi itu hanya sebuah ancang-ancang sebelum ia kembali melesat dengan kecepatan yang lebih maksimal.


Whhuuusss Buk Whuuusss Buk


Ia melompat ke sana kemari untuk memberikan serangan, dengan kecepatannya saat ini mata Agler menjadi sulit melihat pergerakannya.

__ADS_1


Alhasil tak ada yang bisa Agler lakukan selain bertahan, sayangnya meskipun serangan itu cukup ringan namun jika terus dalam posisi ini maka sama saja akhirnya ia akan terluka parah.


Buk Uh...


Erang Agler saat satu pukulan mengenai dadanya hingga menyebabkan darah keluar dari mulutnya, tidak banyak tapi itu merupakan sebuah tanda ia mulai tidak baik-baik saja.


Alisya yang melihat hal itu menjadi khawatir, jelas terlihat Agler terpojok dan itu tidak baik. Dalam saat genting seperti itu tiba-tiba ucapan Ima terngiang di kepalanya, itu adalah sebuah sumpah yang membuatnya percaya meskipun mereka setengah vampire tapi mereka bukanlah monster.


Diam-diam Alisya mengeluarkan sebuah pisau lipat, sesuai anjuran Ima pisau itu terbuat dari perak yang selalu ia bawa kemana-mana.


Menelan ludah dengan susah payah Alisya mulai memperhitungkan langkahnya untuk membantu Agler, meskipun ia sadar Yulia bukanlah tandingannya.


Drap Drap Drap Drap


"Hei! hentikan!" teriak Alisya sambil menyembunyikan bilah pisau itu di belakang punggungnya.


Yulia berhenti menyerang, ia menatap Alisya bersamaan dengan Agler yang ikut kaget karena teriakan itu.


"Sebagai sesama wanita kenapa kau tidak mencoba bertarung dengan ku?" tanya Alisya memberanikan diri padahal suaranya jelas gemetar karena takut.


"Ow... rupanya ternak ini memiliki nyali juga" ucap Yulia dengan senyum licik.


"Tidak.. Alisya.. " gumam Agler sambil menggelengkan kepala.


Whuuussss....


Tanpa peringatan lagi Yulia melesat ke arah Alisya, meski tingkat keberhasilannya kecil tapi Agler segera ikut melesat mencoba melindungi.


Saat itulah Alisya mengeluarkan pisaunya dan menghunuskannya ke depan.


Jleb


Aaaaaaa....


Teriakan nyaring itu memeberitahu akan adanya korban, perlahan Alisya membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Yulia yang berdiri tepat di hadapannya, kemudian pisau yang berhasil menancap tepat di perutnya.


"Alisya!" panggil Agler panik.


"Oh... sial!" gerutu Yulia sambil menjauh.


"Alisya... bahumu.. " ujar Agler menatap darah yang keluar dari luka sayatan di bahu itu.


"Ah... " erang Alisya yang mulai merasakan sakit.


Teriakan Yulia membuat mereka mengalihkan pandangan, nampak asap tipis menyembul dari lengan Yulia yang mencoba mengambil pisau itu.


Seketika Agler segera sadar bahwa pisau itu terbuat dari perak, itu cukup mengejutkan karena ia tak pernah menyangka Alisya memiliki benda seperti itu.


"Sial! aku akan membalas kalian nanti!" sumpah Yulia dengan emosi yang berantakan.


Secepat mungkin ia pergi meninggalkan tempat itu demi mengobati luka yang ia dapat, sementara Agler tak mencoba mengejar sebab Alisya lebih membutuhkan pertolongan.


"Tahanlah sebentar, aku akan mengobatinya" ujar Agler.


Ia mengeluarkan sebuah botol kecil, lalu menuangkan isinya ke permukaan bahu Alisya yang terluka.


Ah


Pekik Alisya menahan perih, beruntung itu hanya terjadi sebentar saja sehingga ia tak terlalu tersiksa.


"Ada lagi yang sakit?" tanya Agler masih khawatir.


"Tidak, bagaimana denganmu? apa lukanya sudah menutup?" balas Alisya balik bertanya.


Bukannya menjawab Agler justru termangu, pertanyaan itu sangatlah aneh kecuali Alisya sudah mengetahui identitas aslinya.


"Alisya... " panggil Agler mencoba bertanya tapi kata-kata itu sulit untuk keluar.


"Aku sudah ingat semuanya, aku mengetahui siapa kau sebenarnya" ujar Alisya yang peka.


Pernyataan itu semakin membuat Agler kehilangan kata-kata dan berakhir membisu, ia hanya menundukkan kepala mencoba meraih ketenangan.


"Sejak kapan?" tanyanya akhirnya.


"Saat kau pergi ke kediaman Hermes untuk memberi pelajaran kepada Hans, saat itu aku sudah ingat peristiwa malam di mana kau membunuh beberapa berandalan" jawabnya.


Kini semuanya masuk akal, itulah alasan mengapa sikap Alisya sedikit berubah setelah peristiwa itu. Rupanya tanpa ia ketahui Alisya telah mengingat identitas aslinya yang sempat terkuak dan terkubur lagi.


"Aku sempat takut padamu, bahkan kepada Chad juga. Tapi seseorang menyadarkan ku bahwa kalian tidak pernah menyakiti manusia mana pun meski itu adalah sumber kehidupan kalian bahkan kalian selalu melindungi ku, oleh karena itu aku selalu membawa senjata perak kemana pun aku pergi agar setidaknya aku bisa melindungi diriku sendiri tanpa merepotkan kalian" jelasnya.


"Alisya... " panggil Agler pelan dengan perasaan yang bercampur aduk.

__ADS_1


"Memiliki taring, cakar ataupun tanduk tidak bisa di sebut monster. Sebab monster yang sesungguhnya adalah dia yang tidak memiliki cinta" ujar Alisya sambil tersenyum manis.


"Alisya.. " panggil Agler kembali kini sambil merangkulnya.


Tubuhnya begitu erat memeluk seakan takut tiba-tiba kabut akan membawa Alisya pergi, mengerti perasaan Agler Alisya membalas pelukan itu dengan hangat.


"Maafkan aku karena sempat meragukanmu, sekarang aku sudah mengambil keputusan bahwa apa pun yang terjadi aku akan percaya padamu"


"Tidak, jangan minta maaf. Itu akan membuatku semakin merasa buruk" pinta Agler dengan suaranya yang parau karena isakan tangis.


"Kalau begitu mulai sekarang kau harus terbuka padaku, jangan sembunyikan apa pun lagi" ujar Alisya yang di jawab dengan anggukan.


Setelah beberapa menit beristirahat mereka pun segera pulang, takut akan bahaya yang bisa saja tiba-tiba muncul kembali.


Saat sampai di rumah Agler segera menceritakan apa yang ia alami kepada Reinner, meski tidak tahu nama Yulia tapi Agler mampu mendeskripsikan dengan baik.


Itu membuat Reinner segera mengetahui bahwa Yulia mulai bergerak, hal ini pun membuat Reinner mengadakan rapat dadakan untuk mulai memberitahu sedikit demi sedikit informasi yang perlu di ketahui kedua putranya.


"Yulia adalah salah satu bangsawan yang sering keluar masuk istana, kebanyakan kegiatannya hanya untuk menghibur para pejabat istana saat pesta. Hal yang perlu kalian ketahui darinya adalah dia lebih nakal dan gila, apa pun akan ia lakukan demi kesenangannya. Ada rumor mengatakan dia berhubungan dengan akuntan istana bernama Clarkson, mungkin ini bukan informasi penting tapi Clarkson terbukti menggelapkan dana untuk kepentingan pribadi.


Dia menyewa petarung dan memasukkannya ke dalam barisan pengawal istana, merekalah yang mengejar dan mencoba membunuh ku serta ibu kalian" jelas Reinner.


"Jadi... dalang di balik peristiwa itu adalah Clarkson?" tanya Chad memperjelas.


"Setelah kematian Viktoria dia mencoba naik ke tahta, namun ilmu pedangnya payah sehingga ia gagal terus dalam seleksi. Meski belum ada bukti yang lebih kuat tapi aku yakin dialah dalang di balik pemberontakan, menyebar fitnah dan menyuruh petarung sewaannya untuk membunuhku"


"Lalu kenapa dia menyerang Agler?"


"Kemungkinan besar Clarkson menyuruh Yulia untuk membunuh kalian, sebagai Pangeran kalian adalah hambatan besar untuk mencapai tujuannya" ujar Jhon.


"Ya, dia sempat menyinggung hal itu" sahut Agler.


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Kalian harus mulai waspada, jika mereka menyerang lagi usahakan untuk menghabisi mereka. Ini lebih menguntungkan dari pada terus mencari informasi tentang mereka"


"Kalau begitu kenapa kita tidak menyerang mereka sekarang?" tanya Agler.


"Yulia sangat pandai menghilangkan jejak, ini yang membuatku kesulitan mengetahui dimana keberadaan mereka. Satu-satunya cara adalah memancing mereka sampai ke luar dari sarang, tapi hal itu terlalu beresiko sebab kita juga tidak tahu apa rencana mereka" jelas Jhon.


Kesunyian pun singgah selama beberapa menit, tak ada yang bicara sebab benak mereka penuh dengan berbagi pertanyaan yang belum ada jawabnya.


"Aku akan terus cari cara, sementara ini kerjakan tugas kalian masing-masing" ujar Reinner akhirnya mengakhiri pertemuan itu.


* * *


Butuh waktu lama bagi Yulia untuk sampai di markasnya, luka itu benar-benar menghambat pergerakannya selain dari rasa sakit yang luar biasa.


"Yulia? apa yang terjadi?" tanya Clarkson menghampiri.


"Jangan banyak tanya! cepat tolong aku" hardik Yulia.


"Baiklah, ayo kemari" ujar Clarkson cepat membantunya untuk duduk.


Melihat sebilah pisau yang masih menempel di perut kiri Yulia ia sadar benda itu terbuat dari perak, maka ia pun menggunakan kain untuk mencabutnya.


Aaaaa....


Lengkingan teriakan itu cukup memekakkan telinga, rasa sakit yang luar biasa tak bisa ia tahan hingga harus mencakar ujung kursi hingga robek.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Clarkson sambil menutup luka itu.


"Gadis yang jalan bersama Agler, sialnya aku terpancing olehnya hingga dia berhasil melukai ku" jawabnya.


Clarkson tak menberikan komentar apa pun padahal dalam hati ia meremehkan Yulia yang memang selemah itu.


"Bagaimana dengan Agler?" tanyanya.


"Aku sudah mengukur kemampuannya, ia hebat dalam bertahan namun belum bisa menandingi kecepatan ku"


"Itu berita bagus"


"Bagaimana keadaan wanita itu?"


"Masih sama"


"Kita harus segera pindah dari sini, aku meninggalkan jejak dari luka ku. Segera beritahu dia dan bantu aku memindahkan wanita itu" ujar Yulia mengabaikan rasa sakit di perutnya yang masih belum sembuh.


Clarkson hanya bisa menurut meski sebenarnya ia kesal, dalam kelompok ini harusnya dia yang memimpin tapi kadang-kadang Yulia bersikap seenaknya bahkan lebih sering memerintahnya.


Jika dia tak mau menurut maka Yulia akan semakin berbuat onar untuk membuatnya kerepotan, ini cukup menjengkelkan dan yang bisa ia lakukan hanya bersabar.

__ADS_1


Lagi-lagi dalam kondisi tertindas seperti ini Clarkson akan membayangkan Tianna, berharap segera menemui vampire itu dan mengajaknya bergabung dalam timnya.


__ADS_2