Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 127 Pernikahan Penyihir dan Vampire


__ADS_3

Seperti pada malam-malam sebelumnya, sang pujangga itu memanjat dinding sekuat tenaga dan mendarat dengan kedua kakinya. Mengendap-endap di tengah kegelapan sambil mengawasi keadaan sekitar, setelah memastikan semuanya aman maka langkahnya akan semakin cepat menuju sebuah jendela.


Ia tak perlu mengetuk jendela itu karena ia sudah tahu bahwa jendelanya terbuka, selalu dalam kondisi begitu agar ia mudah masuk.


"Kyra.. " panggilnya pelan sambil memasuki ruangan.


"San! kau datang!" sahut Kyra bangkit dari tidurnya.


Meski dalam gelap tapi Manager San tak kesulitan memasuki kamar itu, dengan mudah ia bisa menemukan ranjang Kyra dan memeluk gadisnya dalam satu gerakan.


"Akhirnya kau datang juga, ada yang ingin ku katakan padamu"


"Apa itu?" tanya Manager San penasaran.


"Aku akan bisa berjalan lagi, aku akan hidup normal lagi" ujarnya dengan tak sabar.


"Sungguh? oh Kyra... betapa aku bahagia mendengar kabar ini" ujarnya kembali memeluk.


"Ya, Tianna bisa menyembuhkan ku. Hans yang bilang kalau dia memiliki obat untuk kelumpuhan ku ini"


"Tianna? siapa dia?" tanya Manager San jelas karena nama itu sangatlah asing baginya.


"Um... dia teman Hans" jawab Kyra yang tak bisa berterus terang kalau Tianna adalah seorang vampire.


"Oh begitu rupanya" sahut Manager San.


Mereka terdiam sejenak, saling bertatap sebelum kemudian kembali menghabiskan malam seperti biasanya.


* * *


Seminggu telah berlalu tanpa ada peristiwa mengejutkan lagi, Shigima sudah melakukan permintaan Hans dan memberitahu tanggal yang bagus untuk melangsungkan pernikahan.


Maka malam itu Hans pun pergi menemuinya Tianna, selain untuk mengabarkan tentang tanggal pernikahan mereka yang telah di tetapkan tapi juga untuk memenuhi tugas pokoknya.


Tak seperti biasanya malam itu Hans harus menunggu beberapa menit sebelum kedatangan Tianna, entah apa yang terjadi sehingga Tianna terlambat.


Bersama kabut yang tiba-tiba menyebar kesegala arah, sosok makhluk penghisap darah muncul dari balik kegelapan dengan aura gelap yang lebih pekat dari biasanya.


Untuk pertama kalinya Hans merasa takut pada sosok Tianna yang selama ini ia pandang tak lebih dari makhluk penggoda, dengan mata yang melebar di tatapnya Tianna berjalan ke arahnya.


"Apa kau menunggu lama?" tanya Tianna pelan.


Suaranya lebih lembut dari biasanya, mengalun seperti suara seruling yang terbawa angin. Indah sekaligus menyeramkan dalam waktu yang bersamaan.


"Tidak, aku juga baru sampai" sahut Hans.


Senyum Tianna mengembang, tatapannya menggoda seperti biasa dengan tangan yang mulai meraba bagian leher Hans.


Sentuhan itu cukup membuat Hans terkejut karena kulit Tianna terasa lebih dingin dari yang ia ingat.


Sret


Hanya butuh satu goresan kecil dengan ujung kukunya kulit di bagian leher itu sudah mengeluarkan cairan merah yang harum, tak ingin menyia-nyiakannya Tianna segera membenamkan mulutnya.


"Ah... hhh.. bi-bisakah... kau pelan-pelan?" tanya Hans sebab isapan Tianna lebih kuat dari biasanya hingga membuat lehernya berkedut dan perih.


"Maaf.. " gumam Tianna pelan dan kembali membenamkan mulutnya.


"Um... aku punya kabar tentang pernikahan kita" ujar Hans mencoba bertahan.


"Kita akan melangsungkan pernikahan di gereja, di hadiri keluarga ku dan pendeta. Kau punya waktu lima hari lagi untuk bersiap" lanjutnya.


Tianna mengangkat wajahnya, menutup goresan luka itu dan mundur beberapa langkah menjauhi Hans. Dengan tegang Hans memperhatikan bagaimana Tianna menghapus noda darah yang tertinggal di bibirnya.


"Aku tidak butuh waktu untuk bersiap, sebaliknya kau yang membutuhkan hal itu" ujar Tianna.


"Um... sesuai perjanjian kau harus menyembuhkan Kyra terlebih dulu, di hari pernikahan kita Kyra akan bertugas menjadi pembawa bunga"


"Tentu saja, vampire tidak pernah mengingkari janjinya" sahut Tianna.


Seperti yang ia katakan, Tianna benar-benar datang ke kediaman Hermes esok malamnya.


Semua anggota keluarga Hermes menyambut kedatangan Tianna dengan perasaan bercampur aduk, tapi mereka mengekspresikan diri dengan bersikap sopan layaknya tuan rumah.


Tianna segera menuju kamar Kyra, di ikuti oleh semua orang yang ingin melihat keajaiban. Beruntung kamar Kyra luas sehingga semua orang dapat melihatnya tanpa saling berdesakan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Tianna basa basi.


"Aku baik" sahut Kyra pelan.


Saat jari Tianna yang dingin menyentuh kakinya Kyra merasa gugup begitu juga dengan semua orang yang menyaksikan, di tambah dengan wajah Tianna yang datar membuat ketegangan memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


"Baiklah, kita mulai" ujar Tianna.


Ia meminta satu mangkuk kecil dengan air hangat di dalamnya, segera Jack pun pergi untuk menyuruh pelayannya menyiapkan barang yang di minta.


Tianna beralih duduk di samping kiri Kyra, memeriksa kakinya dari lutut hingga ujung telapak kaki. Menatap dengan cermat setiap garis pembuluh darah, merasakan aliran darahnya dengan tangan.


"Balikan badan mu" ujar Tianna.


"Maksudmu tengkurap?" tanya Kyra.


Tianna mengangguk, maka Ryu pun membantu putrinya untuk tengkurap. Setelah selesai dengan menggunakan sebuah pisau kecil Tianna menyayat bagian betis, hanya sebuah sayatan kecil tapi darah segar mengalir keluar darinya.


Tianna membiarkan darah itu keluar begitu saja, sementara ia merendam satu tangannya di mangkuk yang berisi air hangat.


"Apa itu tidak masalah? kelihatannya darahnya keluar banyak" tanya Violet cemas.


"Jika kau tidak percaya padaku kau bisa sembuhkan putrimu sendiri" sahut Tianna yang membuat Violet cukup kesal.


Tapi Ryu segera memberi isyarat agar Violet tenang, saat ini yang bisa mereka lakukan hanya percaya pada Tianna.


Setelah beberapa menit yang terasa lama akhirnya Tianna membersihkan darah yang menutupi sayatan di betisnya, lalu dengan pisau yang sama ia menggores tangannya sendiri.


Darah keluar dari tangannya, menetes ke dalam luka yang di buat Tianna. Setelah memberi beberapa tetes Tianna menutup luka itu, ia juga melakukan hal yang sama pada betis yang lainnya.


Setelah selesai ia menyuruh Kyra untuk kembali berbaring seperti biasa.


"Kau akan mengalami demam tapi itu hal yang normal, minum pil ini saat kau mengalaminya" ujar Tianna sambil menyerahkan pil itu.


"Biarkan dia istirahat" ucapnya lagi sambil bangkit.


"Sudah selesai?" tanya Jack.


"Aku sudah menepati janjiku" ujar Tianna.


Ia tersenyum kecil sebelum kemudian pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan keluarga Hermes dalam penantiannya terhadap keajaiban.


Menjelang malam yang semakin larut Kyra benar-benar demam di tengah tidurnya, suhu tubuhnya yang tinggi cukup membuat Violet cemas.


Beruntung ada Ryu yang menenangkannya, segera ia memberikan obat kepada Kyra seperti yang di suruh Tianna. Setelah beberapa menit yang menegangkan suhu tubuh Kyra akhirnya kembali normal dan dapat tidur dengan nyenyak.


* * *


Cahaya itu terlalu menyilaukan sehingga membuat Kyra mengerjap, perlahan ia membuka mata dan mendapati hari sudah menjelang siang.


Hari itu rasanya ada sesuatu yang berbeda, ia melihat sekeliling dan mencoba mencari tahu tapi tak ada yang berubah di kamarnya. Sampai akhirnya tanpa sadar ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah kamar mandi untuk melihat adakah yang berubah dari tubuhnya dan saat itulah ia menyadarinya.


"Ibu.... " teriaknya sekencang mungkin.


Violet yang terkejut karena teriakan itu segera bangkit sambil menggumamkan nama Kyra, melihat ranjang itu kosong seketika ia panik dan mencari putrinya.


"Ibu!" panggil Kyra sekali lagi sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


"Blue... " balas Violet.


Awalnya Violet bingung karena ia belum seratus persen sadar, tapi melihat senyum yang mengembang di wajah Kyra akhirnya ia menyadari keajaiban telah terjadi.


Seluruh penjuru kastil pun ramai akan berita kesembuhan Kyra, semua orang senang termasuk Hans tanpa memikirkan kewajibannya memenuhi janji.


Pesta kecil di adakan pada malam harinya untuk merayakan kesembuhan itu, semua tertawa dan makan sepuas hati hingga perut mereka kenyang.


Sementara itu di sebuah rumah yang tak terurus Tianna justru menekuk wajahnya, hatinya sedang tidak senang sebab Shishio baru saja memarahinya.


"Kali ini kesalahan apa yang kau buat?" tanya Alabama.


"Aku tidak sengaja menjatuhkan alkohol di atas bukunya" jawab Tianna sambil mendengus.


"Hahahaha bagi peneliti seperti Shishio buku sudah seperti urat nadi" ujar Alabama.


Mendengarnya Tianna semakin cemberut, ia benar-benar kesal karena akhir-akhir ini Shishio selalu memarahinya meski itu hanya kesalahan kecil.


"Ngomong-ngomong apakah gadis itu benar-benar bisa berjalan?" tanya Tianna merubah topik pembicaraan.


"Jika apa yang kau laporkan kepadaku semuanya benar maka tidak ada alasan untuk ragu"


"Semuanya benar! aku juga memberitahu mereka sesuai dengan perintah mu" sahut Tianna.


"Kalau begitu pernikahan mu akan segera di langsungkan"


"Ya, tersisa dua hari lagi"


"Kau sudah menyiapkan gaun mu?" tanya Alabama meski sebenarnya ia tidak tertarik.

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku akan menikahi seorang penyihir jadi aku memilih gaun tanpa lengan dengan warna putih salju. Sayangnya... pengantin ini akan hadir tanpa pendamping" jawab Tianna.


Entah mengapa tiba-tiba ia teringat pada Keenan, sepupu yang benar-benar menepati janjinya meski hanya mereka nikmati seumur jagung.


Ia bertanya-tanya tentang apa yang sedang di lakukan Keenan saat ini, mungkin tidak dalam keadaan baik sebab ia di bawa oleh sang Dewi demi mendapatkan hukuman.


"Konyol sekali" gumamnya mengingat ambisi Keenan yang tak masuk akal.


Andai Sang Dewi benar-benar tidak ada mungkin saat ini yang sedang ia permainkan adalah sekelompok penyihir, bukan satu penyihir tua yang memujanya karena sebuah pil.


* * *


Akhirnya apa yang di tunggu Tianna tiba juga, saat senja temaram ia segera bersiap mengenakan gaun dan merias diri.


Sementara itu di kediaman Hermes terjadi kericuhan kecil, itu karena Kyra baru di beritahu bahwa Hans akan menikah. Tanpa persiapan Kyra di minta untuk membawa bunga dalam upacara pernikahan tersebut.


"Kenapa? kenapa kau merahasiakan ini?" tanya Kyra masih belum bisa terima.


"Aku tidak merahasiakannya, kau mengetahuinya sekarang sebelum upacara itu berlangsung" sahut Hans.


"Tetap saja, kau benar-benar licik!" hardik Kyra sambil memukul lengan Hans.


Tapi pukulan itu membuat Hans gemas dan memeluk sepupunya itu dengan penuh kasih sayang, baginya asal semua bahagia maka pengorbanannya setimpal.


"Ayo kita pergi" ajak Hans.


Kyra mengangguk pelan, dengan menggunakan mobil mereka semua pergi ke gereja di luar kota. Tempat yang telah Shigima persiapkan untuk acara itu, saat mereka sampai seorang pendeta yang sudah menunggu menyambut kedatangan mereka.


Secara bergiliran mereka bersalaman sebelum kemudian masuk ke dalam, semua orang duduk kecuali Hans yang segera berdiri di hadapan pendeta.


"Dimana mempelai wanitanya?" tanya pendeta itu.


"Dia akan datang" jawab Hans yang tahu pasti akan hal itu.


Beberapa menit berlalu dengan begitu sunyi, di tengah pikirannya yang berantakan akhirnya telinganya mendengar sebuah langkah kaki menuju pintu.


Hans berbalik menatap pintu yang masih tertutup, entah mengapa ia begitu penasaran hingga tak mau mengalihkan pandangannya.


Kreeeett....


Perlahan pintu besar itu bergerak, semakin terbuka lebar untuk memperlihatkan sosok seorang wanita bergaun putih di baliknya.


Senyumnya mengembang indah dengan rambut perak yang berkilau, Hans tak bisa berkedip menatap wanita yang selama ini begitu ia rindukan.


"Elf.. " gumamnya dengan kelingan air mata yang jatuh begitu saja.


Semua orang yang hadir segera bangkit dari tempat duduk mereka saat Elf mulai berjalan memasuki ruangan, ia tetap tersenyum dengan mata yang tertuju pada Hans.


Hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Hans, tangannya yang lembut mengusap pipi Hans untuk menghapus air matanya.


"Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan suara merdu yang mengalun lembut.


"Kau sangat cantik" ujar Hans yang membuat Elf terkejut.


Sejenak ia terdiam memandang Hans, seolah mendeteksi kebohongan atas ucapannya itu. Tapi karena yang ia temukan adalah kemurnian bak mutiara maka suara pelan ia mengucapkan terimakasih.


"Baiklah.. apa kalian siap?" tanya bapa pendeta.


Hans mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Elf, masih sambil bepegangan tangan mereka menghadap ke arah pendeta. Maka upacara pun di mulai.


"Hans Hermes apakah kau menerima wanita yang ada di sampingmu ini menjadi istrimu? dan bersedia menghabiskan sisa umur mu untuk saling memiliki dan mengasihi serta membahagiakannya selama hidupmu?" tanya sang pendeta.


Hans tersenyum, semakin menggenggam erat tangan Elf sebab dadanya terasa sesak karena penuh akan kebahagiaan.


Tapi saat ia memalingkan wajahnya kepada Elf untuk menatap sepasang mata biru yang memabukkan yang ia lihat justru bara yang mengkilat, tepat di sampingnya Tianna berdiri dengan senyum sumringah.


Hampir ia jatuh karena syok, dalam beberapa menit yang telah berlalu rupanya ia mengalami halusinasi yang terasa nyata.


Yang menghapus air matanya bukanlah Elf melainkan Tianna, yang ia puji akan kecantikannya bukan Elf tapi Tianna. Begitu juga dengan tangan yang saat ini tengah ia gandeng adalah milik Tianna, vampire yang membuat perjanjian berdarah dengannya.


Susah payah Hans menelan ludah, buliran keringat mulai muncul di dahinya karena gugup. Sementara Tianna mulai tak sabar mendengar kata setuju yang harus di ucapkan Hans, begitu juga dengan sang pendeta yang merasa Hans sedang tidak dalam keadaan baik.


"Hans Hermes?" panggil pendeta karena Hans tak juga bersuara.


Tahu bahwa tak ada kata mundur sekuat tenaga Hans mencoba menenangkan diri, menatap bapa pendeta dengan matanya yang memerah.


"Aku... " ujarnya melanjutkan upacara pernikahan yang sempat terhenti sejenak.


"Apakah aku terlambat?" teriak seseorang sambil membuka pintu.


Sontak semua orang berbalik melihat ke arah pintu, begitu juga dengan Hans dan Tianna.

__ADS_1


Melihat sosok yang berdiri di tengah pintu mata Tianna terbelalak kaget, ia melepaskan tangan Hans secara perlahan tanpa mengedipkan mata.


"Yang Mulia... " panggilnya lirih.


__ADS_2