
Selama sepekan satu persatu anggota Hermes di culik dan disekap di istana, mereka di tempatkan pada kamar yang berbeda dengan penjagaan yang ketat. Kini hanya tinggal Jack dan Hans yang masih bebas berkeliaran sebab mereka memang bersembunyi agar tidak ikut tertangkap, sudah dua hari prajurit melakukan pencarian namun pulang dengan tangan kosong.
"Biarkan saja mereka, memang sulit menangkap orang hebat seperti mereka. Cepat kirimkan surat untuk pemimpin penyihir, aku tidak bisa menunggu terlalu lama" ujar Keenan memberi perintah.
Ballard tak mengira semua sesuai dengan perhitungan Ima, ia pikir karena dia seorang tetua maka ia bisa mengerti sifat Raja barunya itu. Tapi ternyata gadis yang belum lama ia kenal bisa segera menebak langkah-langkah yang di ambil Keenan, jika di tanya Ima akan selalu menjawab 'Aku pun akan berbuat demikian agar bisa bertemu Anna'.
Mungkin memang benar karena mereka memiliki satu idola yang sama sehingga Ima bisa membaca pikiran Keenan, mau bagaimana pun ia senang semua berjalan dengan baik.
Saat Chad, Agler dan Hans datang Ima menjelaskan situasi istana kepada Hans. Mereka saling bertukar informasi hingga Ima membuat sebuah strategi, ia menyuruh Hans membiarkan semua anggota keluarganya di culik.
Dengan jaminan mereka akan baik-baik saja Hans di beri tugas untuk menyiapkan pasukan penyihir yang terbaik, sebisa mungkin Hans tidak boleh membuat kecurigaan sehingga yang perlu ia beritahu rencana ini hanya orang kepercayaan saja.
Hans kemudian memutuskan untuk memberitahu Jack, Shigima dan Ryu serta Nyonya sebab ia butuh ijin untuk menyiapkan pasukan.
Setelah semua anggota keluarga Hermes di culik Keenan akan mengirim surat yang di tujukan untuk Anna, karena Hans berkata Anna akan datang maka ada sedikit perubahan rencana.
Nyonya akan mengirimkan surat yang meminta pertemuan, sebisa mungkin saat pertemuan dua pemimpin ini Kyra dan semua anggota keluarga Hermes yang di culik segera kabur.
Sementara itu pasukan penyihir akan menyerang Keenan dan prajuritnya, perang inilah yang nantinya menjadi penentu penggulingan Keenan sebagai Raja.
Tapi Ima lebih berharap Anna benar-benar datang sebelum perang itu di mulai sehingga tak perlu ada korban jiwa.
Seperti yang telah di rencanakan Nyonya yang menerima surat itu segera mengirim surat balasan untuk meminta Keenan bertemu, dengan pasukan yang telah ia siap malam itu juga mereka pergi ke tempat pertemuan.
Hans dan Jack yang menghilang berniat membebaskan keluarga mereka segera menyelinap ke istana, memastikan Keenan telah pergi menuju tempat pertemuan mereka pun menuju kamar dimana Kyra di tahan.
Dengan mudah Hans membuka kunci kamar itu, wajahnya yang riang memburu ke dalam kamar sambil memanggil.
"Blue.... "
* * *
Iring-iringan itu berjalan menyusuri hutan, dalam gelapnya malam mata Ima terpaku pada dahan-dahan yang nampak kokoh. Ia sudah besar kepala saat semuanya berjalan dengan lancar, tapi di akhir semuanya berubah menjadi bencana.
Entah Keenan mengetahui rencananya atau tidak kini ia hanya bisa berharap Anna benar-benar hadir dan menyelamatkan mereka sebab perhitungannya sedikit meleset, semua tahanan Keenan di bawa ke tempat pertemuan yang nantinya akan di manfaatkan sebagai sandera.
Karena itulah Jack dan Hans hanya terpaku di kamar yang kosong dimana seharusnya Kyra berada di sana, mereka juga mencoba mencari di tempat lain dan telah mengetahui bahwa mereka semua di bawa oleh Keenan.
Iring-iringan itu berhenti tepat di sebuah perbukitan tempat di berlangsungkannya pertemuan, seperti yang ia terka Nyonya pun hadir dengan jumlah pasukan yang terbilang cukup banyak.
Melihat sandera yang di bawa membuat Nyonya berkecil hati, ia tak menyangka Keenan akan membawa serta mereka.
Dengan menunggangi kuda Keenan beranjak di temani prajuritnya untuk menemui Nyonya, melihat hal itu Nyonya pun ikut bergerak hingga akhirnya mereka bertemu di tengah lapang.
"Dengan segala hormat, aku tidak melihat keberadaan Sang Dewi dalam barisan mu" ujar Keenan.
"Dia akan datang, kau hanya perlu menunggu dengan sabar"
"Hehe Nyonya, sejauh ini hanya aku yang pernah bertemu dengannya secara langsung. Entah mengapa aku meragukan isi dari suratmu meski tentu aku berharap lebih pada mu" sahut Keenan dengan senyum tercela.
"Kau melupakan Hans, dia yang lebih dulu menemui Sang Dewi dan sekarang dia sedang pergi menjemputnya" ujar Nyonya menekan tangannya agar bisa mengendalikan diri.
Di tengah situasi yang tidak menguntungkan ini ia harus tetap terlihat tenang agar semua berjalan dengan baik, dengan santainya Keenan mengangkat tangan kemudian berkata.
"Yah aku harap perjalanan mereka lancar, sebab waktu mu hanya satu jam sebelum kepala orang-orang itu aku penggal."
Keenan berbalik dan kembali pada prajuritnya, dengan segelas darah ia menikmati udara malam dengan cahaya bulan yang terang. Sementara di sebrang Nyonya hampir tidak bisa bernafas karena cemas, di titahnya seorang Ksatria untuk menjemput Jack.
Setidaknya mereka harus menyusun rencana ulang, tapi tiga puluh menit berlalu baik Jack maupun Hans tidak kunjung datang juga.
"Sstt, apa kau punya permintaan terakhir?" bisik Keenan kepada Kyra.
"A-apa?"
"Aku bertaruh Anna tidak akan datang, waktu mu tersisa tinggal tiga puluh menit lagi sebelum kepalamu ku penggal" ujarnya sambil menampilkan seringai yang menyeramkan.
__ADS_1
Dengan susah payah Ima menelan ludah, sesaat ia pikir bisa bersahabat dengan Keenan karena perlakuannya yang baik. Ternyata Keenan tetaplah berdarah dingin seperti yang di katakan Ballard, jika begini tak ada cara lain selain memulai perang.
Waktu yang semakin terkuras habis menyisakan lima belas menit yang mencekam, vampire bertubuh besar dengan pedang yang sama besarnya mulai bersiap di garis depan saat sebuah balok kayu di tempatkan di sana.
Penyesalan mulai merundung hati Ima, jika bukan karena strategi yang Ima buat tidak mungkin mereka akan berakhir seperti itu.
Tiba sepuluh menit lagi Keenan kembali mendekati Kyra hanya untuk mengingatkan waktunya yang hampir habis, air mata mulai jatuh sebagai bentuk ekspresi ketakutannya.
"Kyra... tarik nafas mu dalam-dalam dan sebelum kau hembuskan kutuklah aku dengan semua mantra yang kau ketahui, biarkan aku menanggung dosa ku atas kesalahan ku padamu. Tapi bahkan meski tinggal satu detik lagi yang kita miliki, aku masih percaya Anna akan datang untuk menolong kita" ujar Ima pelan.
Keyakinan yang begitu kuat terpancar jelas di mata itu, menghentikan air mata yang telah terurai. Entah dari mana datangnya kepercayaan itu tapi bak aliran listrik ia pun terbawa pada keyakinannya, sama-sama mereka saling berpegang tangan dan memejamkan mata untuk memohon perlindungan.
"Ding dong.... sepertinya waktunya telah habis" ujar Keenan.
Gep
Tangan yang besar itu mencengkram lengan Kyra dengan sangat kuat, memaksanya untuk berpisah dengan Ima dan kembali menguraikan air mata.
"Tunggu! mau kau bawa ke mana putriku?" teriak Violet panik.
"Ima... " panggilan itu lirih saat tangannya terlepas dari genggaman Ima.
Mereka masih mengacungkan tangan saat tubuh gadis lemah itu di bawa kehadapan Keenan, tubuhnya di paksa menunduk dengan kepala yang bersandar pada bongkahan kayu.
"Bedebah! apa yang akan kau lakukan padanya?" teriak Ryu.
Keenan menoleh, menampilkan senyum licik khas iblis. Mata dinginnya menatap satu persatu keluarga Hermes yang memasang raut wajah cemas, kemudian dengan suara halus yang parau ia menjawab.
"Jangan ribut, aku akan melakukan persembahan untuk Sang Dewi agar ia mau hadir di tempat yang hina ini."
Kembali memalinngkan wajahnya kepada Kyra, air mata adalah cairan pertama yang menodai bongkahan kayu itu.
Dengan satu isyarat ia memerintahkan sang Algojo untuk menarik pedangnya, suara gesekan yang linu membuat setiap mata bergidik membayangkan kengerian yang akan terjadi.
"Kupersembahkan kepadamu, jiwa suci yang akan melebur dalam kedamaian" bisiknya.
"Kyra...." teriakan yang memilukan itu membuat Kyra menutup mata dengan hati yang di perkuat.
Jleb...
Aaaarrrggggghhh....
Tubuh itu tumbang tepat di hadapan Keenan, matanya yang terbelalak menatap ngeri sebelum akhirnya perlahan melebur menjadi abu.
"Kyra... " panggil Ima pelan.
Setelah beberapa detik penuh ketegangan ia membuka mata, merasakan kepalanya yang masih menekan bongkahan kayu. Perlahan ia mengangkat kepala dan melihat sang Algojo yang mati dan berubah menjadi abu, tak ada yang tahu apa yang telah terjadi.
Tapi saat Keenan melihat sebuah anak panah yang tergeletak di atas debu bawahannya ia telah menemukan jawaban, seseorang atau sebuah kelompok bersembunyi cukup dekat dengannya dan membunuh bawahannya dengan anak panah yang terbuat dari perak.
"Sial! berani sekali kalian! keluar dan hadapi aku secara jantan!" teriak Keenan murka.
Tepat di sisi kanan tempat Keenan berdiri Shishio dan Hans menghembuskan nafas lega sebab berhasil menyelamatkan Kyra, setelah mengetahui mereka di bawa ke medan perang Shishio segera membantu Hans untuk menyelamatkan keluarganya.
Mereka menyusun rencana dengan memanggil para pemanah hebat untuk mengepung pasukan Keenan, dengan saran Hans mereka menggunakan anak panah yang ujungnya terbuat dari perak agar lebih mematikan para vampire.
"Aku hanya bisa membantu mu sampai di sini, untuk selanjutnya nyawa mereka berada di tanganmu" bisik Shishio.
"Aku mengerti" jawabnya.
Shishio tersenyum dan menepuk pundak muridnya itu sebelum pergi meninggalkan medan pertempuran, tapi tiba-tiba Hans memanggil.
"Guru.. "
"Ya?"
__ADS_1
"Um.... maaf karena telah meragukan mu" ujarnya menyesal.
Shishio tersenyum, meski kini dia satu kelompok dengan Keenan tapi bukan berarti dia mengkhianati kaumnya sendiri. Hal inilah yang baru Hans sadari dan karenanya ia cukup malu, rupanya Shishio memang adalah pahlawan sesungguhnya yang bergerak di balik layar.
Kini saatnya dia yang menjadi pahlawan bukan hanya untuk keluarganya tapi juga untuk semuanya, melihat senyuman dan anggukan Shishio Hans kembali mengangkat kepala dan fokus pada keselamatan keluarganya.
"Semuanya! angkat pedang kalian dan majulah sebagai pahlawan!" teriak Nyonya memandu.
Aaaaaa.....
Drap Drap Drap Drap
Barisan pedang berlari dengan gagahnya, menyerbu tanpa rasa takut atau pun gentar. Melihat hal itu membuat Keenan memberi isyarat agar pasukannya juga maju, maka pertempuran pun terjadi.
Darah mulai menyiram padang rumput itu, membuatnya berwarna merah yang berkilau di bawah sinar rembulan. Pasukan pemanah bergerak seperti bayangan, meluncurkan anak panah mereka dengan tepat di jantung para vampire.
Saat angin berdesir abu itu berterbangan, melewati kekacauan yang ada hingga hilang di tengah hutan. Momen itu dimanfaatkan oleh Agler dan Chad yang dapat bergerak secepat kilat, meski ada beberapa penjaga tapi mereka dapat mengatasinya dengan bantuan Hans.
"Kakak!" panggil Ima haru saat Agler melepaskan ikatan di tangannya.
"Bedebah!" teriak Keenan yang baru sadar akan tindakan penyelamatan itu.
"Kau berani bermain di belakangku" ujarnya penuh amarah.
Mereka hanya bisa terdiam, membuat para penjaga yang ada bergerak mengepung mereka.
"Persembahan ini akan tetap berlangsung, kau yang akan menjadi tumbal pertama" ucapnya sambil menunjuk Ima.
Mereka yakin mata mereka terbuka dengan cukup lebar dan tidak berkedip, tapi tiba-tiba Keenan sudah berada di samping Ima dan menggenggam lengannya.
"Ah... lepaskan aku!" teriak Ima yang kesakitan.
"Beraninya kau!" ujar Chad murka.
Buk
Satu pukulan yang keras itu dapat Keenan tahan hanya dengan satu tangan, kemudian tanpa susah payah ia mendorongnya hingga Chad terjatuh.
Meski di depan mata prajuritnya sedang bertaruh nyawa dalam perang tapi Keenan tidak ada niatan untuk membantu padahal hanya dengan sekejap mata ia bisa memusnahkan semua penyihir yang ada, amarah yang menggebu dalam dadanya membuat matanya hanya fokus pada Ima yang kemudian ia paksa untuk merunduk pada bongkahan kayu.
"Tidak! Ima...." teriak Agler.
Tak bisa tinggal diam Agler bergerak dengan cepat dan menancapkan sesuatu pada punggung Keenan.
Arghh...
Keenan meradang, rasa sakit itu membuatnya melepaskan Ima hingga Agler dapat menjauhkannya darinya. Dengan susah payah Keenan mencabut sebuah belati dari punggungnya itu, saat ia lihat matanya semakin memerah karena marah.
"Perak huh? sayangnya aku tidak mudah mati" ujarnya.
Keenan membuang belati itu jauh-jauh, tapi tentu saja Agler masih punya senjata lain yang terbuat dari perak dengan olesan bawang putih seperti yang di ajarkan Hans.
Tanpa ragu ia kembali mendekat dan mencoba melukai Keenan di tempat yang berbeda, melihat hal itu Chad ikut membantu meski ia tak begitu pandai bertarung.
Tapi kekuatan Keenan terlalu besar bahkan kecepatannya pun sulit untuk di imbangi, pada akhirnya Hans ikut membantu juga sehingga kini Keenan harus melawan tiga orang sekaligus.
Sementara mereka bertarung dengan sengit Ima mencoba membebaskan Jesaa, Amelia dan Kyra serta membawa mereka ke sisi yang lebih aman, sedang Jack bertarung melawan para vampire penjaga.
Melihat Jack yang masih bertarung membuat Jessa ingin membantu, tapi Ima mencegahnya. Meski ia dahulu adalah penyihir hebat tapi kekuatannya perlahan menghilang seiring usia dan penyakit yang di deritanya.
Aaahh..
Bruk
Untuk kesekian kalinya Chad, Agler dan Hans jatuh menghantam tanah dengan keras. Seluruh tubuh mereka terasa sakit dan lebam di sana sini tapi itu tidak menyurutkan semangat mereka, kekerasan yang telah Keenan lakukan kepada keluarga Hans dan Ima tidak bisa di maafkan begitu saja.
__ADS_1
Mereka kembali bangkit dan mengumpulkan segenap kekuatan, dengan nafas yang memburu setelah bersiap dalam hitungan ketiga mereka berlari bersama tapi.
Jleb.