Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 78 Status Yang Baru


__ADS_3

Ia ingat dengan jelas tatapan itu, ada sesuatu yang terasa dalam dari keduanya. Mungkin sama seperti cara pandangnya selama ini, bahkan mungkin lebih.


Karena itulah ia memutuskan untuk mengambil langkah, tanpa peduli pada resiko buruk yang mungkin saja terjadi. Ia hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja, dengan memegang kepercayaan penuh di tatanya piring itu di atas meja.


"Apa hari ini ada sesuatu yang terjadi?" tanya Colt.


"Aku mengundang teman untuk makan malam" jawab Ima.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? ibu bisa buatkan sesuatu yang lebih baik" tegur Mina.


"Tenanglah bu, semuanya sudah sempurna" jawab Ima.


Dengan penuh bujukan kali ini Agler mau keluar untuk makan malam bersama, tentu karena Ima merengek akan ada tamu yang harus dia sambut sebagai tuan rumah.


Sayangnya tiga puluh menit berlalu dan sang tamu belum juga datang, hampir pupus harapan Ima terlebih Colt yang mengatakan mungkin dia tidak akan datang.


Ting Tong


"Akhirnya..." sorak Ima yang bergegas menuju pintu.


"Sebenarnya siapa yang sedari tadi dia tunggu?" gumam Colt.


"Jangan-jangan Chad" ujar Mina yang membuat Agler tak betah duduk.


"Selamat malam, maaf karena telah membuat kalian menunggu. Mobil ku tiba-tiba mogok di jalan tadi" ucap sang tamu dengan wajah yang kemerahan dan nafas yang terengah-engah.


"Oh...tidak masalah" jawab Mina yang cukup kaget akan kehadiran seorang gadis yang sudah lama tak ia lihat.


"Aku benar-benar menyesal, maafkan aku"


"Berhentilah minta maaf, kau berlari sejauh itu pasti kakimu sakit apalagi di cuaca dingin seperti ini" omel Ima.


"Apa? kau berlari? kalau begitu kenapa berdiri saja ayo duduk! sayang cepat tuangkan air untuknya" ujar Colt kaget.


"Ah iya, mari sini" ucap Mina yang segera menghampiri.


Agler hanya mampu menatap sosok gadis yang berjalan melewatinya dan duduk tepat di sampingnya, dari hidungnya yang merah sudah jelas paru-parunya berusaha bernafas dengan baik di tengah gemparan salju.


Di balik meja kakinya sedikit gemetar tanda lelah dari perjalanan yang cukup jauh, meski begitu ia masih mampu tersenyum dengan tulus.


Tanpa berlama-lama Ima memulai acara makan malam itu, tak ingin tamunya kedinginan dan kelaparan.


"Lain kali jika kau mengalami kesusahan di jalan telpon saja kami" ujar Colt di sela makan malam itu.


"Terimakasih, aku... tidak ingin merepotkan"


"Repot apanya? sepanjang waktu kak Agler menganggur, jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Ima.


Seisi ruangan itu tiba-tiba hening yang membuat suasana terasa canggung.


"Itu... benar, Alisya... kau bisa menelpon ku" ujar Agler pelan.


Mungkin terdengar seperti sebuah ijin, tapi Ima merasa itu merupakan permintaan. Ia bisa melihat kembali tatapan di kedua orang itu yang terasa begitu dalam, akhirnya meski sedikit ia bisa merasakan cahaya yang hidup.


"Biar aku yang mencuci" ujar Alisya setelah acara makan malam itu selesai.


"Tolong jangan buat Ima manja, seharian dia hanya bermain tanpa melakukan sedikit pun pekerjaan rumah" ujar Mina.


"Ibu.... " rengek Ima.


"Hehehe aku telah membuat kalian menunggu, ijinkan aku menebusnya" pinta Alisya.

__ADS_1


Melihat kesungguhan di mata Alisya akhirnya Mina pun mengijinkannya, seolah itu adalah dapur miliknya tanpa segan ia mengerjakan tugas itu.


"Alisya..." panggil Agler pelan.


Ia menoleh, menatap mata yang terlihat sembab dan sendu.


"Ini... piring terakhir" ujarnya.


"Ah ya, terimakasih" jawab Alisya sambil mengambil piring itu.


Sejenak ada hening diantara mereka sampai Alisya memulainya tanpa memalingkan wajah dari piring-piring kotor.


"Bagaimana kabarmu?"


"A-aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"


"Mencoba membuat lembaran baru"


"Begitu ya" sahut Agler yang paham betul apa maksud dari ucapan itu.


"Aku bertemu Ima di pusat perbelanjaan, dia memberku hadiah natal dan memintaku untuk datang sebagai ganti hadiahnya. Jadi... tidak mungkin aku tidak datang setelah di undang" jelas Alisya.


Tentu Agler kaget mendengarnya, ia tak menyangka Ima dapat melakukan hal mustahil seperti ini. Anehnya hal itu membuatnya senang, dengan senyum tipis ia berjalan mendekati Alisya dan mulai membantunya.


* * *


Meski udara cukup dingin tapi Alisya berjalan tanpa merasa kesulitan, tanpa terasa kakinya berjalan ke arah dermaga dan di sanalah tempat dimana dulu hatinya merasa bahagia dengan hidup yang terasa sempurna kakinya berhenti.


Tempat di atas batu itu masih terlihat jelas namanya tertulis dalam lingkaran cinta yang Agler buat, masa itu terlalu indah untuk di lupakan sehingga hatinya pun menolak untuk membenci.


Ia kira mudah untuk membuka lembaran baru, namun kenyataannya saat ia bertemu dengan Agler kembali justru ia merasa lega. Hal itulah yang membuatnya mengambil keputusan baru, ia akan berdamai meski hubungan yang sama tak akan terjalin lagi.


"Kau sudah menunggu lama?" tanya Agler.


"Tidak juga" jawabnya.


Tak ingin bertele-tele Alisya segera bicara setelah Agler duduk.


"Aku baru sadar bahwa aku telah membuat kesalahan, kau tahu bagaimana perasaan ku padamu itu telah berlangsung sejak kita masih SMA. Mendapatkan mu pada akhirnya ternyata membuat keegoisan ku semakin besar, mungkin karena aku tidak ingin di tinggalkan lagi seperti saat itu."


Terbayang bagaimana saat kedua orang tuanya meninggal, itu adalah perpisahan yang terlalu menyakitkan sehingga ia takut untuk menghadapinya.


"Tidak, ini salah ku. Aku tidak memberikan penjelasan padamu" ucap Agler sadar diri.


"Mungkin kita berdua yang salah, itulah kenapa hubungan ini berakhir dengan buru. Setelah acara makan malam itu aku sadar sejauh apa pun akua berlari untuk menghindarimu tidaklah ada gunanya, karena hakikatnya hatiku masih terpaut padamu"


"Alisya... " panggil Agler pelan.


Bukan hanya Alisya tapi Agler pun sama, ia terlalu pengecut akan masa depan yang akan mereka jalani seandainya hubungan itu tetap terjalin. Sorot ketakutan di mata Alisya malam itu terlalu menjadi mimpi buruk baginya sehingga ia masih membungkam mulut.


"Agler, mulai hari ini bagaiamana jika kita berteman dengan baik? aku terlalu lelah untuk berlari dan tidak bisa membencimu sepenuhnya" ujar Alisya.


Ucapan itu terasa seperti silet yang menyayat hatinya, betapa berdosanya ia yang telah membuat seorang gadis hancur seperti itu.


"Biarkan aku yang mentraktir mu kali ini" ucap Agler.


Akhirnya ia bisa mengobrol dengan santai tanpa merasa khawatir, perasaan hangat yang sudah lama ia nantikan sepanjang waktu kini membuatnya benar-benar bahagia. Meski masih tersisa rasa bersalah tapi kedepannya ia akan berusaha lebih terbuka pada Alisya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.


Pulang ke rumah Agler kembali beraktifitas seperti biasa, benaknya memang masih bermasalah dengan Chad sebab ia belum mengetahui diantara dia dan Jessa entah mana yang harus ia percayai.


Mengingat ucapan Chad waktu itu matanya telah cukup terbuka untuk tidak menelan ucapan orang begitu saja meskipun dia bagian dari keluarga, untuk saat ini ia masing ingin menjadi Agler Megan.

__ADS_1


"Kencan mu berhasil?" tanya Ima yang begitu teliti melihat senyum di wajah kakaknya.


"Jangan ngaco! tidak ada yang berkencan" sahut Agler.


"Kalian terlihat bersama waktu itu, tiba-tiba kau jadi pemurung dan sekarang seolah ada musim semi di kepalamu. Ah....ini membuatku yakin tidak ada kisah cinta yang mulus" keluh Ima.


"Apa yang kau gumamkan? apa Chad memperlakukan mu dengan tidak baik?"


"Dia mendadak jadi sangat romantis, tapi itu membuatku merinding"


"Kenapa begitu?"


"Entahlah, mungkin karena aku menyukai Chad si pangeran kejam. Tapi aku bersyukur dia romantis dengan caranya sendiri, sangat khas dan menunjukkan sisi manisnya" ungkapnya mengingat begitu banyak perhatian yang di berikan Chad.


"Lalu bagaimana dengan mu? jika tidak berkencan apa yang kalian lakukan?" tanya Ima penasaran.


"Dulu kami memang punya hubungan yang bagus, bahkan aku sempat memikirkan masa depan dengannya tapi...." ucapan itu terhenti tatkala mimpi buruk kembali dalam benaknya.


"Apa yang terjadi?"


"Alisya melihat aku memangsa beberapa manusia" ungkapnya.


"Apa?" teriak Ima kaget.


"Wajahnya jelas memperlihatkan kengerian, bahkan rasa takutnya dapat aku rasakan. Sejak saat itu aku merasa harus menjauhinya, aku tidak yakin bisa menjalani hubungan dengannya."


Ima terdiam, bagi mereka yang bagai hantu hidup normal seperti manusia biasa sangatlah sulit apalagi menyangkut soal perasaan. Dalam kehidupan ini Ima bersyukur bertemu dengan sesama vampire sehingga tidak ada perbedaan yang merenggangkan hubungan mereka.


"Itu artinya... Alisya...."


"Tidak, aku rasa tidak!" ujar Agler yang tahu maksud ucapan Ima.


"Aku rasa Alisya terlalu syok pada peristiwa itu sebab setelah kejadian itu kami tidak bertemu beberapa hari dan saat bertemu Alisya benar-benar tidak ingat apa pun, aku sudah memastikannya"


"Wow, kau beruntung sekali kalau begitu" ucap Ima terkejut.


"Yeah, meski begitu tetap saja aku tidak percaya diri. Untuk saat ini kami hanya memutuskan untuk berteman baik" ujarnya.


* * *


Kepulangan Keenan yang membawa amarah membuat seisi istana was-was, terlebih saat keluarnya perintah untuk menyerang para Ksatria.


Hal ini menjadi tanda tanya besar bagi semua termasuk Tianna, mencoba bicara dengan hati-hati ia bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Dia tidak mau memenuhi keinginan ku, dia merendahkan kekuatanku" ujar Keenan sambil mengepalkan tangannya dengan keras.


Ternyata setelah tahu penyebabnya tetap saja hal itu tidak membantu, ambisi Keenan yang kelewat batas adalah ironi yang rumit.


Jika sudah menyangkut Anna ia pun tak bisa memutar otak, lebih baik diam agar posisinya tetap aman.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Tianna yang hanya penasaran.


"Aku akan menghabisi kaum penyihir satu persatu, kita lihat apakah dia akan tetap diam setelah melihat kaum itu hancur" jawabnya.


Mata itu jelas menyala begitu terang seperti bara api, dengan senyum tipis yang membuat wajah Keenan lebih menyeramkan dari biasanya Tianna bergidik dan memilih untuk pergi.


Ia menceritakan apa yang terjadi kepada Shishio, tentu hal ini adalah bahaya besar yang harus Shishio cepat tangani. Meski dia bukan bagian dari Akademi lagi tapi hatinya belum bisa mengabaikannya, diam-diam dia menulis pesan rahasia kepada Nyonya.


Mendapat kabar genting Nyonya segera mengambil langkah, dalam waktu yang singkat untuk sementara agar tidak menimbulkan kecurigaan ia memerintahkan pasukan hitam untuk terjun.


Ini adalah pasukan khusus yang bertugas untuk mengorbankan nyawa demi yang lebih dominan, terdengar jahat memang. Tapi pasukan ini di bangun atas dasar mereka yang tak punya kelebihan tapi tetap ingin berkontribusi bagi kelangsungan Akademi, kebanyakan dari mereka merupakan para manusia berdarah campuran penyihir yang tidak memiliki kekuatan sihir.

__ADS_1


__ADS_2