
Ima menerbangkan pesawat kertasnya tanpa tenaga, alhasil pesawat itu terbang sangat rendah dan mendarat di bawah meja murid lain. Tanpa gairah ia membiarkan pesawat itu tetap di sana, wajah murungnya terlihat sangat jelas sampai menarik perhatian Rona.
"Kau sakit?" tanyanya.
"Tidak"
"Kau sedang ada masalah?"
"Begitulah... " jawab Ima lemas.
"Ada apa? ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu" tanya Rona simpati.
"Rona.... aku sedang jatuh cinta"
"Apa? dengan siapa?" teriaknya hingga mengagetkan satu kelas.
Sadar akan semua tatapan tertuju padanya dengan tertawa canggung Rona hanya bisa berkata maaf, setelah semua orang kembali pada kesibukan mereka masing-masing barulah ia bertanya lagi.
"Siapa pria itu?"
"Chad, orang yang sudah membayar hutang mu"
"Ah aku ingat! yah... dia memang tampan, selain itu juga dia kaya dan baik hati. Sikapnya yang dingin justru membuatnya semakin terlihat menarik" ujar Rona terpesona sendiri.
"Oi oi kenapa kau terlihat lebih menyukainya?"
"Maaf, tapi tipe mu memang luar biasa. Tapi... pria sempurna seperti dia pasti sulit di dapatkan"
"Itulah masalahnya, aku sudah berjanji akan menyatakan perasaan ku setiap hari tapi dia malah bersikap angkuh"
Pletak
"Aw.... sakit.. " erang Ima sambil mengusap kepalanya yang di pukul.
"Bodoh! gadis macam apa yang menyatakan perasaannya setiap hari?" hardik Rona.
"Memangnya kenapa?"
"Dengar! meski pun kau mencintai pria itu tapi kau tidak boleh menyatakan perasaan mu apa pun yang terjadi, sebagai seorang wanita kita harus terlihat anggun dan manis. Jika kita menyatakan perasaan duluan kesannya seperti wanita murahan, untuk itu harusnya kau cukup mendekatinya saja"
"Lalu aku harus bagaimana? meski memiliki kesempatan berduaan dia hanya memperlakukan ku sebagai pelayan" rengek Ima.
Rona menyilangkan tangannya di depan dada, berfikir bahwa wajar jika Chad bersikap acuh sebab Ima memang seorang pelayan. Meski wajah Ima terhitung cantik tapi dengan pakaian lusuh dan rambutnya yang berantakan ia sama saja dengan berlian yang di bungkus daging busuk.
"Tidak ada cara lain" ujar Rona.
Ia mengeluarkan buku dan penanya, di atas lembaran kertas itu ia menuliskan sesuatu yang di baca perlahan oleh Ima.
"1001cara meluluhkan hati Chad, apa maksudnya itu?"
"Kita akan coba cara apa pun dan jika tidak berhasil akan kita coba dengan cara yang lain, terus begitu sampai tuan Chad jatuh cinta padamu. Meski harus gagal berulang kali kita hanya butuh satu kali untuk berhasil" jawab Rona yang terbakar api semangat.
"Ah... kau memang hebat!" sorak Ima kegirangan.
Meski tekad mereka kuat tapi tiga puluh menit berlalu tanpa ada satu pun cara yang berhasil mereka tulis, pada akhirnya jam istirahat selesai dengan kertas yang masih kosong.
Tapi setelah bel tanda pelajaran telah usai hari itu tiba-tiba Rona mendapatkan sebuah ide, ia menarik tangan Ima dan mengajaknya menemui seorang murid perempuan di kelas lain.
"Namanya Seira, dia cantik dan cukup populer. Aku mengenalnya karena satu SMP dengan ku, aku yakin dia punya nasihat yang bagus untuk mu" ujarnya.
Beruntung gadis bernama Seira itu masih berada di kelasnya, segera Rona menemuinya dan mengajaknya bicara.
"Hah? cara mendapatkan hati seorang pria?" tanya Seira bingung.
"Kau kan cukup populer, terus digandrungi para lelaki pasti membuatmu paham apa yang mereka inginkan" ujar Rona.
"Um.... aku kurang tahu, tapi mungkin kau bisa mencobanya dengan bersikap lemah"
"Apa itu bersikap lemah?" tanya Ima mulai antusias.
"Laki-laki akan merasa keren jika bisa diandalkan, contohnya kau tidak bisa membuka tutup toples dan meminta bantuannya. Dengan hal ini pria akan merasa kau adalah gadis lemah yang harus di lindungi" jelas Siera.
"Aku mengerti!" ujar Ima yakin.
Siera pun lanjut pada saran-sarannya yang lain, dengan tekun Ima menulis semua itu di dalam buku tulisnya hingga selesai semua. Tak lupa ia juga belajar akting agar misinya berjalan dengan lancar, malam ini juga ia sudah bertekad akan memulainya.
Persiapan yang ia butuhkan hanya sedikit riasan agar terlihat lebih segar dan manis, menurut Siera untuk gadis seumuran mereka make up tebal justru akan membuatnya terlihat tua dan tidak menarik.
Ima datang ke rumah itu pada malam hari seperti biasa, ia tahu Chad ada di ruang baca maka segera ia pun masuk.
"Selamat malam tuan" sapanya sambil sedikit menundukkan kepala.
"Aku tidak memanggilmu" ujar Chad dingin.
Hampir Ima mati kutu atas pernyataan itu, ia memang tidak di panggil tapi keinginannya yang membuatnya datang.
"Hehe.. anda biasa memanggilku jadi aku datang kemari" jawabnya beralasan, tapi Chad tak menanggapinya seperti biasa.
__ADS_1
"Ah akan saya sajikan kopi untuk anda."
"Tidak, aku ingin darah" ujar Chad.
"Segera saya siapkan" jawab Ima senang.
Di bukanya kotak penyimpanan darah, melihat botol-botol berisi cairan merah itu ia teringat pada saran pertama yang diberikan Siera. Kini ia punya kesempatan untuk menarik perhatian Chad dengan bersikap lemah, diambilnya satu butuh dan disiapkannya sebuah gelas di atas meja.
Di hadapan Chad meski mata Chad tetap fokus pada buku Ima tetap bersandiwara, ia pura-pura kesulitan membuka tutup botol itu. Tapi beberapa menit telah berlalu dan Chad tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah ia tak peduli pada kesulitan yang sedang di alami Ima.
'Menyebalkan! lihatlah kemari dan bantu aku... ' teriak Ima kesal dalam hatinya.
Di saat akan menyerah tiba-tiba Chad berdiri, hal itu membuat Ima kembali ceria sebab rencananya akan berhasil.
"Pakai ini" ujar Chad sambil menyerahkan alat pembuka tutup botol.
"Eh"
Sejenak Ima mematung, mencerna apa yang baru saja terjadi.
̶B̶e̶r̶s̶i̶k̶a̶p ̶l̶e̶m̶a̶h (gagal)
Dengan putus asa Ima mengambil alat itu dan membuka tutup botolnya, ia menuangkan segelas darah untuk di sajikan kepada Chad. Setelah selesai Ima hanya diam tak jauh dari Chad sambil berfikir tentang rencana selanjutnya, yang paling sulit tentu adalah membuat kesempatan.
Hari ini Ima merasa Chad lebih banyak diam sambil membaca, padahal biasanya dia akan minta di buatkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu meski hal sepele.
"Apa tuan lapar? saya bisa buatkan sup" tawar Ima.
"Tidak"
"Bagaimana dengan berendam air hangat?"
"Tidak"
"Apa tuan pegal? biar saya pijit"
"Tidak"
"Apakah tuan ingin saya bereskan kamar sekarang?"
"Tidak"
"Ada yang tuan inginkan lagi?"
"Tidak"
"Tidak"
'Demi Lord vampire kenapa aku jatuh cinta pada pria kaku seperti lap kering?' batin Ima tak sanggup lagi menghadapi sikap Chad.
"Baiklah... kalau begitu saya permisi... " ujar Ima putus asa.
Chad masih tak menanggapi meski Ima berjalan sambil menundukkan kepala karena lesu, bahkan ketika Ima pergi ke halaman belakang untuk memanjat tembok.
"Eh, apa mereka tidak membersihkan kolamnya?" gumam Ima melihat daun-daun kering yang mengambang di atas permukaan kolam renang.
"Tidak mungkin, ibu Aeda pasti marah jika mereka melewatkan satu bagian kecil saja. Mungkin daun-daunnya berjatuhan tadi saat di tiup angin" lanjutnya sambil menatap pohon besar yang berdiri kokoh di depan kolam renang.
"Baiklah... sekalian saja aku bersihkan."
Ima mulai mengambil jaring khusus untuk membersihkan kolam renang, satu persatu ia ambil daun-daun itu dengan jaring sampai kolam renang benar-benar bersih.
"Kau belum pulang?" tanya Chad tiba-tiba.
Ima menoleh seketika karena kaget namun kakinya dengan spontan mundur sebab tubuh Chad yang terlalu dekat dengannya.
Aaaaaaahhhh....
Byur....
Blukbuk... zas... zas...
"Ah... kau mengotori kolam renang ku, cepat naik!" perintah Chad.
Blukbuk... zas...
"Tolong!"
Blukbuk....
Chad menatap tangan Ima yang meronta-ronta mencari pegangan, berkali-kali ia muncul kepermukaan namun tak lama tenggelam kembali.
"Jangan pura-pura tenggelam, kolam renangnya tidak sedalam itu" teriak Chad.
Tapi Ima masih berada di sana dengan kaki dan tangan yang meronta-ronta di dalam air, Chad masih memberi waktu agar Ima menghentikan aktingnya. Tapi yang selanjutnya terjadi tangannya mulai berhenti bergerak, perlahan tubuhnya tenggelam dan kesadarannya hilang.
Saat itulah Chad baru sadar bahwa Ima tidaklah sedang bersandiwara.
__ADS_1
Byur....
Chad segera masuk ke dalam kolam renang, saat tubuh Ima hampir mencapai dasar kolam di tariknya tangan Ima agar mendekat padanya. Dengan susah payah ia membawa Ima kepermukaan lalu mengeluarkannya dari dalam kolam renang.
"Ima... hei Ima?" teriaknya, tapi tak ada jawaban.
Chad mencoba memeriksa denyut nadi dan nafasnya, semuanya masih ada tapi Ima tetap tak sadarkan diri. Ia pun mencoba memberikan nafas buatan beberapa kali, lalu memeriksa keadaannya dan memberikan nafas buatan lagi.
Terus berulang sampai saat ia hendak melakukannya lagi tiba-tiba mata Ima terbuka, dalam waktu satu detik itu mata mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat lalu.
Brrrhhuuuhhh
Uhuk Uhuk Uhuk
Ima memuntahkan air yang sempat ia telan, beberapa saat ia terus batuk hingga dadanya yang sakit perlahan membaik dan nafasnya kembali normal.
"Ah... aku pikir kau akan mati" ujar Chad yang kelelahan.
"Kau... lagi-lagi kau menciumku!' tuduh Ima setalah mampu bernafas dengan baik.
"Apa? itukah ucapan yang harus kau katakan pada orang yang telah menyelamatkan nyawamu?"
"Jangan menghindari pernyataan ku, pura-pura bersikap acuh tapi diam-diam kau selalu mencuri kesempatan"
"Jangan tuduh aku sembarangan! ha.... aku tahu, kau memang bersandiwara kan?" balas Chad menuduh.
"Sandiwara apanya? kau tiba-tiba datang dan mengejutkan ku, salah mu sampai aku jadi jatuh ke kolam"
"Kau bisa berenang!"
"Aku tidak bisa berenang!" sahut Ima dengan nada tinggi.
"Bohong, aku belum pernah mendengar vampire yang tidak bisa berenang"
"Kenapa semua vampire harus bisa berenang? lagi pula aku manusia setengah vampire. Sudahlah, jangan menghindar dari pernyataan ku"
"Aku tidak menghindar" ujar Chad tetap tak mau kalah.
"Kalau begitu kau mengakui telah menciumku dengan sengaja"
"Aish.... aku memberimu nafas buatan bukan mencuri dalam kesempatan, apa kau tidak mengerti hal itu?"
"Pada dasarnya kau tetap mencium ku!" ujar Ima bersikukuh.
Chad terlihat kehilangan kesabaran, tiba-tiba ia menarik pinggang Ima hingga menempel pada tubuhnya. Lalu menutup mata dan menyentuh bibir Ima dengan bibirnya, rasa kaget membuat Ima hanya diam saat Chad lebih menikmatinya.
Beberapa saat kemudian Chad melepaskan Ima, tanpa ekspresi seperti biasa ia berkata.
"Itu baru namanya ciuman."
Tapi Ima tak bereaksi apa pun, ia hanya memandang kedua mata Chad dengan seksama hingga membuat Chad sedikit malu.
"Tuan Chad, sepertinya aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku" ujar Ima tiba-tiba.
"Bodoh! kau masih saja berkata seperti itu" hardik Chad tanpa mampu membalas tatapan Ima.
Ia bergegas masuk ke dalam, meninggalkan Ima yang masih duduk di sana.
"Pembohong, jika tidak kenapa kau menciumku tadi?" gerutunya.
Ia pun bangkit dan ikut masuk ke dalam, sementara Chad membersihkan diri di kamar mandi ia menyiapkan baju ganti di atas ranjang. Setelah itu barulah ia pergi ke kamar mandi yang lain untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup, karena tak ada pakaian wanita maka Ima menggunakan pakaian pelayan yang ada di sana.
Untuk menghangatkan diri ia membuat dua cangkir coklat panas, satu untuk dirinya sendiri dan yang satunya ia berikan kepada Chad.
"Kenapa kau memakai pakaian itu?" tanya Chad.
"Oh, pakaian ku juga kan basah karena tidak ada lagi pakaian jadi aku menggunakan ini saja"
"Apa pakaian itu nyaman jika di gunakan untuk tidur?"
"Mau bagaimana lagi?" sahut Ima yang tidak punya pilihan.
Chad beranjak dari kursinya tanpa sepatah kata pun, ia pergi entah kemana lalu kembali lagi dengan sebuah kemeja putih di tangan.
"Kau cukup pendek jadi satu pakaian ku saja sudah cukup untuk menutupi seluruh tubuhmu" ujarnya sambil menyerahkan kemeja itu.
Ima hanya mendengus saat mengambil kemeja itu, segera ia pergi untuk mengganti pakaiannya kembali. Namun setelah berganti pakaian Ima justru terlihat lebih menarik, kemeja itu cukup panjang bagi Ima namun hanya menutupi sampai setengah paha. Dengan rambutnya yang terurai dan tangannya yang hampir hilang di balik pakaian Chad menyesal telah menyuruhnya berganti pakaian sebab kini ia tergoda akan kecantikan yang tiba-tiba itu.
"Kemeja mu sangat halus dan nyaman di pakai" ujar Ima seraya tersenyum.
"A-aku mau istirahat" ucap Chad tanpa mau melihat tubuh Ima.
"Eh kau belum menghabiskan minumanmu" sergah Ima.
"Tidak apa, aku sudah mengantuk" jawabnya dan segera pergi ke kamar.
"Ada apa dengannya?" gumam Ima merasakan sikap Chad terasa aneh, tapi apa pun itu ia tak mau ambil pusing.
__ADS_1
Meski ia vampire tapi jatuh ke kolam renang di malam hari cukup membuatnya kedinginan, Ima memutuskan untuk menikmati secangkir coklat panas terlebih dahulu sebelum pergi tidur.