
Momen langka itu sangat berbekas di setiap benak yang baru dan lama mengenalnya, seperti baru saja melihat kilas balik yang pada akhirnya membuat perasaan bercampur aduk.
Dengan caranya masing-masing mereka menyimpan momen itu, satu hal yang sama adalah tidak ada yang mau membicarakannya seolah itu adalah privasi.
Begitu pun dengan Ima yang nampak bahagia, ternyata Anna memang seperti yang di gambarkan semua orang. Begitu cantik, begitu kuat, begitu anggun sampai hampir tak nyata.
Malam itu telah mengubah segalanya di kemudian harinya, meski persaingan antara bangsawan kembali mericuhkan istana tapi semuanya cukup tentram tanpa adanya monster yang menyerang manusia.
Perdamaian yang diinginkan oleh Nyonya namun cukup canggung bagi para Ksatria yang baru, terbiasa berjaga setiap malam kini memiliki waktu untuk bersantai membuat mereka sedikit bingung harus bagaimana.
Berbeda dengan Hans yang sepertinya tahu cara menghabiskan waktu, merebahkan tubuh di atas rumput yang lembut matanya menatap sendu langit malam tanpa taburan bintang.
Benaknya masih berada di malam itu, dimana Elf berubah menjadi Anna yang menyatakan fakta bahwa mereka adalah satu keluarga.
"Jika saja tidak pernah kau ceritakan mungkin saat ini aku akan kebingungan atas sikap mu" ujar Reah seolah tahu isi hati Hans.
"Dia memang cantik dan menakjubkan" sambungnya.
"Yeah" jawab Hans tanpa gairah.
Reah menatap cermat struktur wajah Hans yang sempurna, dimatanya wajah itu tak ada cela sehingga menimbulkan hasrat. Yang lebih menarik adalah ekspresi patah hati yang tidak repot-repot Hans tutupi, harusnya ia ikut berkabung sebagai seorang teman tapi nalurinya malah senang akan hal itu.
"Pasti sulit bagimu" ujar Reah kembali.
Hhhhhhhhhh
"Entah kapan aku bisa melupakannya" ucap Hans frustasi.
"Meski ada kemungkinan serangan lanjutan dari vampire tapi untuk saat ini kita bisa bernafas lega, bagaimana kalau kita maafkan waktu ini?" ujar Reah.
"Maksudmu?"
Reah tersenyum nakal, kemudian dia berlari ke depan. Mengambil setumpuk salju dan mengepalkannya di tangan hingga menjadi bulat sempurna, tanpa tanda ia melemparkan bola salju itu tepat ke arah Hans.
Puk
Hahahaha
"Musim salju belum berakhir" ujarnya melihat Hans yang berlindung di balik lengannya.
Tawa itu begitu renyah dan tanpa beban, menularkan kebahagiaan musim salju pada hati yang telah patah.
Dengan cepat Hans mengambil setumpuk salju di dekatnya, menggumpalkannya dan melempar dengan cepat.
Aaaaaa...
Puk
Hahahaha
Jeritan ringan yang membuat Hans terbahak-bahak, tak mau kalah kini Reah melempar bola salju lagi tapi ia tidak cukup cepat sehingga Hans bisa lolos dengan mudah.
Keceriaan itu menjadi momen lain di musim salju yang beberapa minggu lagi akan berakhir, Hans memang kehilangan cintanya tapi bukan berarti kebahagiaannya.
Begitu juga dengan Chad yang menghabiskan musim salju dengan pujaan hatinya, tersenyum akan cerita heboh Ima yang menunjukkan kekagumannya kepada Anna.
Waktu yang mereka habiskan bersama sudah tak terhitung jumlahnya, semakin hari semakin dekat satu sama lain membuat Chad berfikir untuk membuka semua rahasia yang ia simpan sendiri.
"Ima... ada yang harus kau ketahui tentang aku" ujarnya memulai.
"Apa?"
"Ini... tentang sesuatu yang ku sembunyikan darimu, sebenarnya Kyra berasal dari keluarga Hermes. Ayahnya merupakan kakak dari ayahku yang artinya kami bersaudara, meski begitu aku menjalin hubungan dengannya hanya untuk membalaskan dendam ku" ungkapnya.
Ia kira Ima akan heboh dengan segala pertanyaan, tapi wajah itu datar seolah tak ada yang menarik.
"Saat Kyra di culik aku juga ikut di bawa ke istana, Keenan memberitahu ku alasan dia menculik Kyra yang membuat ku sadar bahwa kau, kak Agler, Hans dan Kyra adalah satu keluarga. Itu mudah di pahami, yang aku tidak mengerti kenapa kau dan kakak bisa berpisah dari keluarga Hermes bahkan kau justru dendam kepada keluarga mu sendiri " ujar Ima mengatakan apa yang ia ketahui.
Chad menundukkan kepala, kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah kalung dengan ukiran nama Agam.
Sambil memperlihatkan kalung itu Chad pun menceritakan apa yang ia dengar dari Joyi, kisah dimana Jack membakar pondok itu dan membunuh kedua orangtua angkatnya.
Ima hanya terpana bingung sendiri, tentu kisah itu terlalu kejam bagi seorang kakek kepada cucunya sendiri.
"Tapi kenapa Jack ingin menghabisi ibumu? bukankah dia mengandung cucunya sendiri?" tanya Ima tak mengerti.
"Karena itu akan membahayakan anggota keluarga Hermes yang lain, ayah ku sudah di cap seorang pengkhianat saat ia memilih menjadi vampire. Ketika dia naik tahta dan di gulingkan secara paksa seluruh keluarga Hermes ikut terbawa dalam kondisi itu, mereka ikut di buru jika membantu orangtuaku karena itu dengan tega Jack melakukannya"
"Kejam... " komentar Ima yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Tak hanya Jack, tapi Hans juga bukanlah pria baik-baik" sambungnya.
"Apa maksud mu?"
__ADS_1
"Sepupuku tiba-tiba hilang, dengan bantuan paman Jhon nenek menemukannya di sebuah motel. Dengan pakaian terbuka dia di sana bersama dengan Hans"
"Apa?" teriak Ima tak percaya.
Selama mereka di tahan Keenan di matanya Hans adalah sosok pria yang bisa di andalkan, dia begitu cakap dan sayang kepada keluarganya.
"Apa hal itu sungguh terjadi?"
"Kau meragukan ku?" balas Chad tegas.
"Tidak! tentu saja tidak, aku hanya... tidak menyangka dia bermuka dua" jawab Ima cepat karena merasa telah menyinggung hati Chad.
Mereka terdiam sementara Chad mencoba mengendalikan diri agar amarahnya tidak keluar.
"Lalu... bagaimana keadaan sepupumu sekarang?" tanya Ima mencoba mengalihkan topik.
"Dia sudah baik meski sekarang dia menjadi lebih pendiam."
Ima cukup mengerti akan perubahan sikap sepupu Chad, mau bagaimana pun peristiwa seperti itu pasti meninggalkan bekas yang membuat trauma.
"Chad, kapan kau akan mengenalkan ku pada keluarga mu? jika sudah kenal aku yakin sepupu mu dan aku bisa berteman baik" tanya Ima.
Chad sedikit merenung, ia menyadari ada niat baik di balik pertanyaan itu.
"Kapan pun kau mau" jawab Chad seraya tersenyum.
* * *
Semakin senja para pelayan semakin sibuk bekerja, menatap setiap cela dengan teratur. Membersihkannya dari segala bentuk noda dan debu hingga mengkilap, meski lelah tapi perintah dari tuannya itu tak mungkin mereka abaikan.
"Bibi Aeda" panggil Chad.
"Ya tuan?"
"Apakah semuanya sudah siap?"
"Semuanya telah siap" jawabnya.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi menjemputnya" ujar Chad memperlihatkan garis lembut pada bibirnya.
Semua pelayan yang melihat segera menghampiri Aeda setelah kepergian Chad, dengan mata terpana salah satu diantara mereka berkata.
"Apakah itu senyuman?"
Ini adalah kali pertama mereka melihat senyum di wajah pangeran dingin, tentu saja karena di rumah itu tak pernah ada yang bisa membuatnya senang sedikit pun.
Satu-satunya orang yang bisa membuat Chad hingga tertawa hanyalah gadis kampung yang cerewet dan keras kepala, malam itu Chad pergi memenuhi janjinya untuk menjemput Ima.
Membawanya ke rumah dan mengenalkannya kepada keluarga Chad secara resmi, Cokt dan Mina mengijinkan tanpa sarat. Tentu karena mereka cukup mengerti perasaan kedua insan itu, terlebih Chad memiliki rasa tanggung jawab yang besar.
"Apa aku sudah terlihat cantik?" tanya Ima sambil berputar pelan.
"Kau terlihat seperti biasa" jawab Chad mencoba menyembunyikan kekagumannya.
"Setidaknya aku terlihat pantas tidak? keluarga mu sangat kaya jadi aku harus tampil sebaik mungkin" ujar Ima dengan nada kesal seperti biasa.
"Jangan khawatir soal itu, kau pasti akan di terima dengan tangan terbuka" sahut Chad.
"Ah sudahlah! kau membuat ku semakin gugup" hardik Ima yang segera bergegas masuk ke dalam mobil.
Tersenyum senang Chad mengikuti langkah itu, menjalankan mobilnya dengan cukup santai mereka pun tiba tak lama kemudian.
Kediaman Menhad adalah rumah rumah megah dengan gaya eropa yang klasik, tempat dimana Chad tinggal bersama Joyi dan Alisya. Rumah itu tiga kali lebih besar dan indah dari rumah istirahat Chad yang biasa Ima datangi, bahkan halamannya pun lebih luas dan menarik.
Chad memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk, bersikap jantan Chad membukakan pintu untuk Ima yang membuatnya merasa seperti seorang putri.
Berjalan bersama menuju pintu masuk Aeda sebagai kepala pelayan menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di kediaman Menhad, nyonya dan nona muda sudah menunggu di dalam" sambutnya sambil menundukkan kepala.
"Terimakasih bibi Aeda" jawab Chad.
"Beliau adalah kepala pelayan di rumah" sambungnya kepada Ima.
"Aku tahu, kau lupa bahwa aku pelayan di rumah mu" bisik Ima yang merasa canggung.
"Oh aku lupa" gumamnya.
Ima hanya bisa tersenyum dengan sedikit menundukkan kepala berharap Aeda tidak mengingatnya, namun saat Chad membawanya masuk diam-diam Aeda memperhatikannya.
"Bukankah dia gadis yang menanyakan tuan muda?" gumamnya mencoba mengingat.
Memasuki area ruang tamu Ima kembali di buat takjub, ia tahu Chad adalah orang kaya tapi tidak pernah ia bayangkan Chad tinggal di rumah yang bahkan lebih indah dari istana vampire.
__ADS_1
"Selamat datang" sapa Joyi menghampiri.
"Oh halo, selamat malam" jawab Ima tak lupa memberi hormatnya.
"Ini nenek ku" ujar Chad memperkenalkan.
"Chad tidak banyak bicara tentang mu, tapi aku cukup mengenal kedua orang tuamu. Jika kau tanyakan aku yakin mereka bisa memberitahu mu" ucap Joyi.
"Begitu rupanya" sahut Ima seraya tersenyum.
"Mari kita ruang makan, kami sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk menyambut kedatangan mu"
"Sungguh? ah... aku jadi merasa tidak enak"
"Kau tidak perlu sungkan" ucap Chad dengan senyum nakal.
Ima hanya bisa menatap sinis, tentu karena mereka tahu sifat Ima yang suka makan.
Baru saja mereka melangkah masuk ke ruang makan aroma steak sudah tercium, menggoda perut yang semakin keroncongan.
Ima duduk tepat di samping Chad sementara Joyi di ujung meja, tempat dimana ia biasa duduk sehingga bisa menatap semua anggota keluarga dengan baik.
"Maaf aku datang terlambat" ujar Alisya memasuki ruangan.
Ima menengok kebelakang, menatap Alisya yang juga menatapnya balik. Dalam waktu beberapa menit mereka terdiam dengan benak saling keheranan.
"Alisya, perkenalkan ini Ima" ujar Joyi bangkit dari tempat duduknya.
Alisya berjalan mendekat, begitu juga dengan Ima yang bangkit dari kursinya.
"Jadi... tamu spesial yang Chad maksud adalah kau" ujar Alisya.
"Kakak tinggal di sini? artinya sepupu Chad itu adalah kakak?" tanya Ima menegaskan.
Perlahan mereka menganggukkan kepala, mengerti pada kebetulan yang luar biasa itu membuat tawa mereka pecah. Dengan senang mereka saling berpelukan sementara yang lain hanya menatap keheranan.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Joyi.
"Sebelum aku berhubungan dengan mu kak Alisya sudah datang ke rumah dan makan malam bersama keluarga ku" jawab Ima lebih menjelaskan kepada Chad.
"Bagaimana bisa?" tanya Chad bingung.
"Itu karena kak Agler dan dia.. "
"Berteman baik" ujar Alisya cepat memotong ucapan itu.
Ima sedikit terkejut tapi kemudian dia mengerti hubungan Alisya dan Agler memang tidak cukup baik.
"Aku dan Agler satu sekolah saat SMU, saat aku pindah kesini ternyata Agler juga kuliah di tempat yang sama dengan ku jadi kami cukup dekat" jelas Alisya.
"Oh begitu rupanya, sungguh kebetulan yang baik" ujar Joyi membuat suasana kembali ceria.
Melupakan hubungan antara Alisya dan Agler makan malam pun di mulai dengan sedikit candaan yang Ima lakukan agar suasana lebih hangat, tawa yang tak pernah ada di rumah itu membuat Joyi bersyukur Chad memilih gadis yang tepat.
Meski memang hubungan itu masih baru dan belum terlihat arahnya tapi Joyi berharap Chad memiliki jodoh dengan Ima, setidaknya Chad akan memiliki keluarga sempurna dari Ima yaitu Colt dan Mina.
Selesai makan malam mereka menghabiskan waktu untuk bersantai di ruang keluarga, mengobrol dan kembali bercanda.
"Kau harus sering-sering datang kemari, meski Chad sibuk bekerja tapi ada aku di rumah" ujar Alisya.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi akan ku usahakan" jawab Ima.
"Itu bagus, lain kali mungkin kau juga bisa menginap di sini. Bolehkan nek?"
"Tentu saja, kita punya banyak kamar" sahut Joyi.
"Sebelum itu kenapa tidak kak Alisya duluan yang menginap di rumah ku? meski rumah kh tidak sebagus dan seluas ini tapi kita bisa berbagi kamar, aku yakin itu akan menyenangkan"
"Pertama karena kita berteman jangan panggil aku kakak, panggil saja nama depan ku dan yang kedua akan ku lakukan jika kau berjanji akan memasak untuk ku"
"Tidak masalah bagiku untuk memasak, tapi memanggil dengan nama rasanya itu tidak pantas" ujar Ima ragu.
"Ayolah Ima, jika kau memanggil ku dengan kakak rasanya sangat formal dan terkesan canggung" bujuk Alisya.
"Baiklah... Alisya... " ujar Ima pelan.
"Itu lebih baik" sahut Alisya senang.
Mereka pun melanjutkan obrolan ringan itu, kini Chad ikut bicara dan beberapa kali berdebat kecil dengan Ima. Menunjukkan cara berhubungan mereka yang terkesan kekanak-kanakan tapi manis, membuat Alisya cukup iri.
Dulu saat ia masih berhubungan dengan Agler karena mereka sama-sama sudah dewasa tak ada perdebatan konyol yang terjadi, tak ada sikap jahil yang menyebalkan atau rengekan manja karena hal sepele.
Kini tiba-tiba ia merasa ingin mencoba hubungan seperti itu, menerka apakah sikap Agler akan sama dengan Chad atau malah ia akan di anggap aneh.
__ADS_1