Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 48 Perpisahan Dan Pertemuan


__ADS_3

Dengan penuh kehati-hatian Elf berjalan memutari gua itu hingga sampai di dekat Hans tanpa di ketahui oleh goblin, tanpa mengalihkan pandangan mengawasi makhluk yang mulai tidur.


"Kau melihatnya?" bisik Hans.


"Ya.. "


Mata mereka tertuju pada botol ramuan yang letaknya tak jauh dari kaki sang goblin, mereka pun mulai memutar otak.


"Kita tidak bisa mengambil resiko dengan menunggu makhluk itu bangun dan pergi dari gua, jika sudah tidur goblin bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya"


"Kita ambil resiko yang lebih sulit" sahut Hans.


"Tunggu sampai dia pulas, aku akan mencoba mendekat sementara kau terus mengawasi" ujar Elf.


Hans setuju sebab ia takut akan melakukan kesalahan hingga membuat makhluk itu terbangun, bukannya pengecut tapi dalam kondisi seperti ini ia tahu harus mengambil langkah terbaik.


Butuh setidaknya lima belas menit untuk memastikan goblin itu benar-benar pulas, dengan perlahan Elf mulai beraksi sementara Hans tetap mengawasi.


Ia berjalan perlahan sambil menghindari tumpukan koin atau berang lainnya agar tidak menimbulkan suara, setiap detiknya terasa menegangkan hingga Hans berkeringat ekstra di kening.


Aaarrrhhhmmmm....


Baik Elf maupun Hans sama-sama menahan nafas dan berhenti bergerak saat makhluk itu bergerak merubah posisi tidurnya sambil mengeram, setelah beberapa detik yang cukup berat Elf pun kembali melangkah.


Botol itu tepat berada di dekat kaki sang goblin, beruntungnya ada ruang sehingga Elf bisa mengambil botol itu dengan mudah, Hans menghembuskan nafas lega melihat keberhasilan Elf.


Mereka saling melirik dan tersenyum, dengan satu anggukan sebagai isyarat mereka bergerak meninggalkan gua itu.


Klotanggggg......


Ggggrrrrrrrrr


Hans menatap panik kakinya yang habis menendang teko emas, perlahan ia menatap Elf kemudian goblin yang kini bangkit dengan mata merah penuh amarah.


"Lari!...... " teriak Elf.


Saat kaki mereka mulai melangkah dengan cepat goblin itu juga tak mau kalah, meski perutnya buncit tapi ia mampu bangkit tanpa kendala.


Gggrrroooooaaaarrrrr....


Amukan makhluk itu mengguncang isi gua yang membuat bebatuan kecil berjatuhan ke bawah, di tambah kaki besarnya yang menekan bumi saat berlari mengejar Hans dan Elf rasanya bak gempa.


"Hans tangkap!" teriak Elf yang berlari tepat di belakang.


"Aku akan mencoba menahannya" lanjutnya setelah Hans berhasil menangkap botol itu.


Tak ada waktu berdebat meski Hans tidak setuju akan ide itu, ia hanya berharap Elf cepat menyusulnya saat ia mengeluarkan busur dan panahnya.


Syuuuuuutttt....


Satu anak panah saja tentu tidaklah cukup untuk melukai makhluk kekar itu, tapi Elf tak peduli. Ia terus menerbangkan panah hingga langkah goblin terhenti hanya untuk mengahalau panah-panah yang mengincar wajahnya.


Aaarrrrrgggghhhhh.......


Teriakan penanda kesabarannya telah habis goblin itu mulai melangkah tanpa memperdulikan anak-anak panah yang terus mengarah padanya, lagi pun kulitnya sangatlah keras sehingga panah itu tak akan melukainya.


"Oh tidak.. " gumam Elf merasakan bahaya.


Dengan cepat ia berlari sebelum gada berlapis emas itu sempat meremukkan seluruh tulangnya.


Bum...


Hanya dengan satu pukulan saja batu besar di hadapannya hancur menjadi serpihan kecil, hal itu terus terulang saat Elf berhasil keluar dari gua. Melihat Elf dalam bahaya tentu Hans tak tinggal diam, ia mencoba merapal mantra dan membuat perisai di sekeliling goblin agar menghentikan langkahnya.


Prang.....


Di luar dugaan makhluk itu ternyata lebih kuat dari apa yang ia bayangkan, hanya dengan satu ayunan perisainya pecah begitu saja.


"Hans.... batang emasnya.... " teriak Elf di sisi lain.

__ADS_1


Tentu saja, ia benar-benar takut hingga lupa pada batang emas yang di berikan Bapa peri padanya. Hans segera merogoh kantung kecilnya dan mengambil batang emas seukuran empat jarinya, di lemparkannya emas itu kepada Elf yang masih di kejar oleh goblin.


Ggrrrroooooaaarrrr....


Satu teriakan mengikuti gada yang mengayun ke atas siap untuk meratakan, beruntung Elf hebat dalam menangkap sehingga dalam waktu satu detik yang tepat ia mengacungkan batang emas itu.


Hhhhhh Hhhhhh Hhhhhh


Nafasnya terengah-engah menatap mata tubuh goblin yang mematung dengan matanya tertuju pada kilauan emas, perlahan ia menurunkan gadanya dengan bahu yang merendah.


Elf mencoba mendekatkan diri masih dengan mengacungkan batang emas itu, membiarkan goblin melihatnya lebih jelas. Tangan yang ukurannya tiga kali lebih besar dari tangannya mengambil batang emas itu, mengendusnya seolah mencari tahu apakah itu merupakan emas asli.


Elf terdiam beberapa saat hanya untuk memastikan makhluk itu tenang dengan mainan barunya, merasa kondisi telah aman ia melirik Hans dan tersenyum padanya.


* * *


Saat mencoba menghirup udara segar Alisya sadar bahwa tempat itu memang indah dan nyaman, tempat yang cocok untuk seniman seperti dirinya.


Terpikat oleh pemandangan yang sudah lama tak ia lihat dengan meminta ijin kepada Joyi ia pun pergi membawa buku dan pensilnya untuk menjelajah, ia ingat di kampung halamannya dulu ada banyak pohon-pohon ek juga yang membuatnya merasa bernostalgia.


Semakin ia berjalan menjauhi hotel dan masuk ke dalam hutan yang rimbun penghuni hutan semakin ramai menyambutnya, mengantarkan perasaan gelap keluar untuk terhempas menjadi awan malam.


Rupanya mengikuti keinginan Joyi tidaklah buruk, sebaliknya ia mendapatkan energi positif setelah datang ke tempat itu.


Wow....


Gumamnya berdecak kagum menatap perbukitan yang di penuhi pepohonan, nuansa hijau begitu memanjakan mata sampai Alisya tak tahan untuk menggerakkan tangannya pada selembar kertas yang masih bersih.


Cukup lama ia di sana, setidaknya sampai hampir melupakan makan malamnya.


"Besok nenek akan pergi ke pusat perbelanjaan, ini memang bukan kota besar tapi mereka memiliki surganya wanita" ujar Joyi pada acara makan malam itu.


"Benarkah?" tanya Alisya.


"Mm, kau harus ikut nenek besok. Kita akan berburu barang-barang unik dan langka" jawab Joyi.


Alisya hanya tersenyum dan mengangguk, ia tahu ajakan Joyi selalu menghasilkan sesuatu yang baik.


Mereka sempat masuk ke beberapa toko makanan seperti toko roti dan eskrim hanya untuk mencicipi, mereka juga sempat masuk ke salah satu toko perhiasan untuk melihat-lihat namun belum mendapatkan barang yang unik.


"Apa kau lelah sayang?" tanya Joyi.


"Tidak, bagaimana dengan nenek?"


"Ah kau tidak perlu bertanya, apa kau ingat saat pertama kali nenek belikan barang-barang kebutuhan mu? kau yang terlihat pucat karena terus berkeliling" jawab Joyi.


Alisya tertawa kecil sebab ia ingat kejadian itu, meski sudah tidak muda lagi tapi ia akui Joyi memang sangat bugar. Bahkan ia kalah gesit dari nenek berusia enam puluhan itu.


"Ah lihat!" teriak Joyi menunjuk sebuah toko pakaian.


Jelas yang di tunjuk Joyi adalah jaket berbulu yang di pajang di etalase toko, benda itu telah menarik perhatiannya sehingga mereka menyebrang jalan untuk masuk ke toko tersebut.


Tring...


Bel di atas pintu berbunyi saat Joyi masuk ke dalam toko, seorang kasih wanita yang berdiri di mejanya tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka masuk.


"Wow.... kau punya banyak koleksi" ujar Joyi menatap deretan pakaian dan manekin yang memakai berbagai macam model pakaian.


"Silahkan melihat-melihat, kami punya koleksi terbaru jika anda berminat" ujar seorang pegawai yang menghampiri.


Joyi jelas menunjukkan ketertarikannya, sementara Alisya berjalan ke sisi yang lain. Ia tak begitu mengerti pada fashion, selama ini ia hanya memakai apa yang nyaman di tubuhnya dan atas perintah Joyi pula.


Tapi gaun-gaun di deretan dalam cukup menarik perhatiannya juga, terdapat tulisan 'bisa di sewa' di atas rak yang di cetak dengan cukup tebal. Tangannya mulai meraih salah satu gaun dan merasakan kelembutan yang nyaman di kulitnya, hal itu mengingatkannya pada pesta sekolah yang di adakan setelah kelulusannya.


Hal itu berhubungan pada keinginannya saat melihat Agler dalam balutan jas yang rapi untuk mengajaknya berdansa, tapi ia telah menerima undangan pria lain sehingga hal itu mustahil terjadi.


Kalau pun ia datang ke pesta itu sendirian tidak mungkin juga seorang gadis mengajak dansa duluan, bagi remaja itu merupakan hina.


Memang, di pesta lain yang diadakan adat ia berhasil mendekati Agler dan mengajaknya bicara. Pada kesempatan lain dalam hidupnya ia berhasil mendapatkan hati pria tampan itu, menjadikannya kekasih untuk beberapa waktu yang tak lama.

__ADS_1


Luka di hatinya ingin sekali membenci sebab Agler telah memutuskan secara sepihak, tapi selain itu tak ada lagi kejahatan yang bisa menguatkan kebencian itu. Ia pernah berharap Agler untuk meniduri gadis lain, setidaknya perselingkuhan bisa membuatnya membenci dan menganggap semua hal itu masa lalu.


Hhhhhhhhh


Ia menghembuskan nafas panjang, lelah pada hatinya yang masih belum ikhlas. Entah mengapa terlalu sulit melupakan pria itu hingga menyiksa ruang di benaknya, senyuman manis dan suara lembut Agler tak mampu ia lupakan begitu saja.


"Hahahaha.... jangan ulangi lagi, sudahlah... jangan buang waktuku."


Ucapan dengan suara yang tak asing membuat Alisya menatap ke pintu karyawan yang terbuka, seorang pria berjalan mundur masih dengan tertawa seperti bercanda dengan temannya.


Tapi kemudian tawa itu hilang, bahkan senyum yang sempat menghiasi wajahnya perlahan meredup saat matanya beradu pandang dengan Alisya.


* * *


Ternyata perjalanan pulang lebih cepat dari dugaan Hans, mungkin karena ia begitu bersemangat sebab dapat menyelesaikan misinya dengan baik. Elf memintanya untuk bermalam dulu sebab hari sudah larut sementara mereka pun baru tiba, akan bahaya jika sampai Hans tiba-tiba di serang vampire dalam kondisi letih.


Ia setuju, bahkan ia cepat tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Barulah saat pagi menyingsing Elf mengijinkannya untuk pulang, dengan botol ramuan di dalam tas kecilnya ia menatap gadis yang selama ini telah banyak membantunya.


"Terimakasih, berkat mu aku memiliki wajah untuk berhadapan dengan guru Shishio dan yang lain" ujarnya.


"Tidak, kau berusaha sendiri. Aku hanya menemanimu"


"Kau terlalu merendah" sahut Hans yang membuat mereka saling tersenyum.


Ada sedikit jeda yang terasa aneh, jelas karena tatapan Hans lebih sendu dari bulan purnama. Yang ia tatap bukan hanya seorang gadis dengan kuping runcing, melainkan seorang wanita.


Tatapan yang terlalu tajam hingga Elf menundukkan kepalanya, merasakan dentuman jantung yang berdegup dengan cepat saat Hans bergerak mendekatinya. Hawa panas menjalar dari telinga hingga membuat wajahnya memerah tatkala jemari itu mulai menyentuh punggung tangannya yang terkepal, Elf mundur beberapa langkah membuat Hans cukup pintar untuk mengerti bahwa itu penolakan.


Ia tak memaksa, Elf adalah penjaga hutan yang suci. Seumur hidupnya Hans adalah manusia pertama yang datang bahkan menghabiskan waktu berminggu-minggu di kediamannya, tentu ia sadar bagi gadis itu ada rasa takut dan kekhawatiran yang tak bisa di jelaskan.


"Aku... akan memenuhi janjiku, setelah semuanya cukup terkendali akan ku bawakan sebungkus permen dengan berbagai macam rasa" ujar Hans pelan.


"Akan ku tunggu" jawab Elf masih tak mampu mengangkat kepalanya.


"Kalau begitu sampai jumpa."


Ucapan selamat tinggal dan lambaian tangan menandai kebersamaan mereka yang telah berakhir, saat tubuh itu semakin jauh barulah Elf memperlihatkan matanya birunya yang menumpahkan air kesedihan.


"Selamat... tinggal... Hans... " jawabnya dengan suara parau tanpa bisa mengendalikan hatinya yang terluka.


* * *


Cukup lama memang karena mereka butuh waktu untuk memastikan bahwa itu bukanlah mimpi, Alisya bahkan sempat menggenggam pakaian yang sedari tadi ia lihat hanya untuk merasakan kainnya.


"Jadi.... di sini sekarang kamu tinggal" ujarnya pelan menahan air mata agar tidak jatuh.


"Alisya, kenapa... kenapa kamu ada di sini?" tanya Agler yang masih kaget.


"Aku mencari pakaian untuk berduka, cinta ku sudah lama sakit dan hampir mati sebentar lagi."


Agler tak mampu membalas ucapan itu, ia tahu dialah penyakit yang mengakibatkan penderitaan itu. Diam tak mampu bicara membuat Alisya muak hingga pada akhirnya ia berjalan keluar toko dengan kesal, kali ini Agler menyusulnya seolah siap menjawab semua pertanyaan Alisya.


"Aku mencari mu ke segala tempat, rumah, kampus bahkan pasar tempat mu bekerja tapi tak ada jawaban yang bisa memberi tahu ku dimana keberadaan mu. Hampir aku mati karena keputusasaan dan lihatlah bagaimana takdir membawaku pada pertemuan kita yang unik?" ucap Alisya kesal.


"Maafkan aku... "


Tentu tak ada kata lain yang ada dalam pikiran Agler selain mengucapkan kata maaf.


"Apa kau bahagia dengan pacar baru mu?" tanya Alisya sekonyong-konyong.


"Apa?" tanya Agler bingung.


"Kau belum punya pacar? lalu apa alasan kepergian mu yang tidak masuk akal? apakah karena status kita? aku bahkan sudah lelah menjelaskan betapa bagaimana miskinnya aku, semua harta dan status ini hanyalah pajangan yang di berikan nenek kepada seorang yatim piatu" ujar Alisya dengan nada tinggi.


"Aku mohon jangan seperti ini, ada hal yang tidak bisa kau mengerti dan alasan tersendiri mengapa aku harus pergi. Ini masalah keluarga ku, ini adalah privasi yang setidaknya harus kau hormati" jawab Agler bingung entah harus bicara apa.


"Oohh..... kau meminta ku mundur begitu saja setelah semua perjuangan ku?"


"Alisya! mungkin kita memang sudah tak berjodoh, mengapa kau harus habiskan waktu mu dengan ku sementara kau bisa menjalani hidup mu yang baik tanpa aku?"

__ADS_1


Tanpa ia sadari ucapan itu telah menyinggung hati seorang gadis yang telah lama tersiksa, dalam deraian air mata tanpa suara Alisya menganggukkan kepala berkali-kali dan menjawab.


"Kau benar, aku hanya membuang waktu ku yang berharga."


__ADS_2