
Sebagai pelayan ia wajib bangun pagi, memulai pekerjaan agar begitu tuannya bangun semua sudah nampak rapi. Tugasnya kali ini adalah membersihkan halaman yang sudah di penuhi dengan daun-daun, diambilnya sapu dan serokan sebagai alat pembersih.
Srek Srek Srek
Meski udara masih dingin dan mata masih mengantuk tapi itu tidak boleh menjadi alasan untuk bermalas-malasan, namun tiba-tiba tangannya berhenti saat di dengarnya sebuah suara tawa.
Tentu itu cukup menakutkan sebab belum ada pelayan lain yang keluar selain dirinya, dengan sedikit keberanian dan penasaran yang berlebih di carinya sumber suara itu.
Suara itu berasal dari taman, semakin dekat ia melangkah semakin jelas hingga dari balik pohon di lihatnya seorang wanita tua tengah berjingkrak sambil tertawa.
Aaahh..
Jessa menoleh seketika mendengar teriakan itu, rupanya seorang pelayan yang tak sengaja tergelincir dan terjatuh.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jessa menghampiri.
"Nyo-nyonya... saya... baik-baik saja" jawabnya kaget bercampur heran melihat wanita yang bahkan tak bisa bicara karena stroke kini bahkan bisa berlari.
"Mari aku bantu kau berdiri" ujar Jessa.
"Te-terimakasih" sahutnya.
Masih dalam keadaan bingung pelayan itu menghentikan pekerjaannya yang berlari masuk ke dalam, yang pertama ia temui adalah Amelia yang baru bangun.
Segera diberitahunya tentang Jessa yang sudah bisa bangun, awalnya ia pikir pelayannya hanya berhalusinasi. Tapi saat Jessa masuk ke dalam rumah dan menyapanya bahkan Amelia tak bisa menutup mulutnya yang terbuka lebar saking kagetnya.
Berita ini pun menyebar dengan cepat di semua penjuru kastil, semua anggota keluarga Hermes tentu bahagia dengan kesehatan Jessa yang telah pulih terlebih Jack.
Namun di balik kata keajaiban yang di ucapkan Jack di belakang para pelayan menggosipkan hal ini.
"Bukankah ini aneh? sudah dua kali nyonya tiba-tiba sembuh tanpa di bawa ke dokter" ujar salah satu pelayan.
"Kau benar, setahuku stroke tidak bisa sembuh seperti itu. Meski ada kemungkinan sembuh pasti secara bertahan, tapi nyonya langsung tiba-tiba menjadi normal" sahut yang lain.
"Hei! mungkinkah ada sesuatu yang terjadi?"
"Apa maksudmu?"
"Kau tau tuan adalah penyihir hebat, aku memikirkan sihir yang bisa menyembuhkan seperti itu"
"Jangan bergurau! mana ada sihir seperti itu" tukas yang lain sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana kalau itu sihir terlarang? kau tahu selalu ada hal yang seperti itu"
"Maksudmu sihir kegelapan?" tanyanya.
Mata mereka saling beradu pandang dengan ngeri, tentu karena mereka tahu apa itu sihir kegelapan.
"Ah jangan bergurau! tuan bukan orang seperti itu"
"Ya ya"
"Sudah, kembali bekerja" ujar mereka saling bersahutan mengakhiri percakapan itu.
Sementara Shigima yang sejak tadi menguping justru mulai memikirkan hal itu, ia sangat kenal Jack. Cintanya kepada Jessa selalu lebih besar dari apa pun, bahkan cinta itu pula yang mengakibatkan pertikaian dengan Joyi hingga perang ini terjadi.
Sebagai seorang penyihir tentu Shigima tahu apa itu sihir kegelapan, itu merupakan ritual tertentu yang di lakukan oleh penyihir demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Harta, tahta, kekuatan bahkan keabadian. Tapi sihir ini hanya di lakukan oleh mereka yang siap berkorban segalanya, sebab ritual ini adalah sebuah permintaan kepada Dia yang tidak berdarah daging.
Jika ritual itu berhasil ia bisa mendapatkan keinginannya namun harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, tak cukup sampai di situ seumur hidupnya pun adalah kutukan yang sulit di hilangkan.
Ada sedikit kekhawatiran bagi Shigima, tentu karena Jack kadang bersikap berlebihan. Mengingat keajaiban yang terjadi pada Jessa kemungkinan itu bisa saja terjadi, tapi sedikit sanubarinya berkata itu hanya gosip yang di buat para pelayan.
* * *
Dengan penuh kasih sayang rambut yang hampir semua putih itu ia sisir hingga rapi, sambil mendengarkan senandung kecil yang di gumamkan Jessa.
__ADS_1
Ia bersyukur Tianna mau datang lagi dan memberikan apa yang ia butuhkan, dalam satu waktu dua kebahagiaan menyertai hidupnya dan itu merupakan anugrah yang paling dinanti.
"Aku senang kau pulih di waktu yang tepat, bulan depan kita akan merayakan pernikahan Hakan dengan Kyra" ujar Jack.
"Aku pun sama, rasanya begitu menyakitkan hanya mendengar ceritamu tanpa bisa melakukan apa-apa" balasnya.
"Maafkan aku Jessa, aku telah mengabaikan mu sesaat" ucap Jack menyesal.
"Sudahlah, ini semua adalah takdir yang tak bisa kau ubah. Dari pada menyesal ada hal yang lebih penting dari itu"
"Apa?" tanya Jack penasaran.
Jessa menatap kedua mata Jack dalam-dalam, berfikir sejenak untuk haruskah ia katakan sekarang atau menunggu hari yang tepat. Tapi jika terus di tunda ia takut penyakitnya tiba-tiba kambuh lagi sehingga hilang kesempatannya untuk bicara.
"Kau ingat Mina dan Colt?" tanyanya.
"Apa yang kau maksud adalah teman-teman Anna?" tanya Jack yang masih memiliki daya ingat yang baik.
Jessa mengangguk.
"Oh ya, sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka"
"Saat ini mereka sudah memiliki dua anak, satu pemuda dan satu gadis. Anak mereka yang pemuda bernama Agler, dia adalah saudara kembar Chad yang taka lain adalah putra Reinner" jelasnya.
"Re-rei... memiliki anak kembar?" ujar Jack tak percaya.
"Dalam perang melawan vampire dia ada di sana, bersama Chad melawan raja vampire itu" ucap Jessa mengingatkan.
Mata Jack mulai menerawang masa lalu, mencoba mengingat apa saja yang ia lihat malam itu. Karena faktor usia dimalam yang gelap itu hanya sebagian yang bisa lihat, sebagian besar adalah pertarungan dengan vampire dan tentu saja kedatangan Anna yang menggemparkan.
Karena kehadiran Anna ia hanya terfokus pada putrinya itu tanpa menyadari ada seseorang yang sangat mirip dengan Chad, setelah di ingat-ingat memang ia sempat melihat Agler.
Namun karena itu adalah malam berdarah yang mengharuskannya fokus pada pertarungan di tambah matanya yang terlalu jelas melihat ia pun mengabaikannya.
"Oohh... Jessa, bagaimana bisa aku acuh pada cucuku sendiri? mengapa aku tidak menyadari hal itu?" raungnya kembali pada lubang penyesalan.
"Tidak, akulah yang salah" ujarnya bersikukuh.
"Tabahkan hatimu, yang perlu kau lakukan saat ini adalah menjemputnya. Dia adalah bagian dari keluarga Hermes maka dia berhak mendapatkan apa yang menjadi pewaris Hermes miliki"
"Kau benar, aku harus segera menemuinya" ujar Jack kembali semangat.
Bermodal alamat yang di berikan Jessa tanpa menunda lagi Jack pergi ke kediaman Megan, Colt yang membukakan pintu tentu cukup di kejutkan akan kehadirannya.
Tapi mengingat Agler adalah keturunannya maka ia bisa maklum dan mempersilahkan Jack masuk, setelah memanggil Agler ia pun pergi keluar untuk memberi mereka privasi.
Menatap wajah Agler yang begitu mirip Chad membuat Jack benar-benar terpana, ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya memiliki cucu pria yang kembar.
"Agler.... itu nama mu kan?" tanya Jack penuh haru.
"Aku sudah bilang kepada nyonya Jessa untuk menyampaikan pesan ku pada kalian, entah ia menyampaikannya atau tidak. Mungkin juga anda tidak mau mendengar dan bersikeras datang kemari, tapi bujukan apa pun tidak akan membuatku meninggalkan rumah ini" ujar Agler melewati momen haru pertemuan kakek dan cucu itu.
Tentu saja karena meski bagi Jack ini adalah untuk pertamakalinya mereka bertemu tapi bagi Agler ini adalah untuk kesekian kalinya, pertama kali ia menginjakkan kaki di kediaman Hermes dan mengenal keluarganya adalah saat bersandiwara menjadi Chad untuk memenuhi undangan makan malam.
"Ke-kenapa?" tanya Jack bingung.
"Namaku adalah Agler Megan, disinilah keluarga ku tinggal" jawab Agler.
Rupanya keputusan yang diambil Agler benar-benar sudah bulat sehingga Jack tak punya kesempatan, meski begitu ia masih berharap Agler mau berkunjung kapan saja.
"Tunggu!" sergah Agler saat Jack mulai beranjak meninggalkan rumah itu.
"Aku ingin mengetahui sesuatu tentang keluarga Hermes" ujar Agler yang penasaran akan sesuatu.
"Apa?"
"Jelaskan padaku silsilah keluarga Hermes, tidak perlu dari nenek moyang. Cukup dari mu saja sebagai kepala keluarga saat ini" ungkapnya.
__ADS_1
Jack sedikit bertanya-tanya tapi kemudia ia mengiyakan, karena berawal darinya maka cukup mudah untuk menjelaskan.
"Dulu aku memiliki tiga istri, itu adalah Yuki ibu Shigima kemudian Jane ibu dari Kei, Reinner dan Ryu dan yang terakhir adalah Maria ibu Anna. Tapi sebelum itu aku menikahi Jessa yang saat ini masih ada, sebenarnya dia adalah ibu kandung Anna namun karena sesuatu dia menyerahkan Anna kepada Maria sejak masih bayi.
Dari Shigima aku mendapatkan cucu bernama Hans, dari Reinner aku mendapatkan kau dan Chad lalu dari Ryu aku mendapatkan Kyra. Sebentar lagi Kyra akan menikah dengan pemuda bernama Hakan, setelah pernikahan itu berlangsung mungkin aku akan mendapatkan cicit pertama ku" jelasnya.
Agler memahami penjelasan yang singkat dan jelas itu, membuat sebuah keyakinan tiba-tiba muncul kalau neneknya Jane adalah benar di bunuh oleh Jessa.
"Hanya itu yang ingin aku ketahui" ujarnya.
"Agler... sebulan lagi Kyra akan menikah, aku harap kami bisa berbagi kebahagiaan itu dengan mu" ucap Jack berharap.
"Akan ku usahakan nanti" sahutnya pelan.
Kecewa Jack pulang dengan tangan kosong, tubuhnya letih seakan habis berperang. Jessa yang sudah menanti di rumah hanya bisa menenangkannya, kembali memberi semangat dengan kata-katanya.
Berkat itu Jack merasa lebih baik, ia tahu Jessa selalu bisa diandalkan dalam hal seperti ini. Dengan keberadaan Jessa di sampingnya kini rintangan apa pun yang menghadang ia merasa mampu untuk melewatinya, karena itu penting baginya untuk terus berhubungan dengan Tianna.
Di malam yang seperti biasanya ia pergi menyelinap keluar, namun malam itu Hans yang baru pulang selesai bertugas memergoki kepergiannya.
Awalnya Hans memanggil, namun Jack tak mendengar sehingga ia terus saja melanjutkan perjalanannya. Penasaran akhirnya Hans mengikuti kemana Jack pergi, ia mulai merasa tak enak saat menyadari Jack pergi ke tempat yang sepi.
Hal yang lebih mengejutkan hatinya adalah ketika ia melihat seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan, pengalaman dan isntingnya mengatakan wanita adalah vampire.
Mereka terlihat bicara namun karena jarak yang jauh Hans jadi tak bisa mendengarnya, tidak ada cara lain ia harus mendekat. Tapi sebelum itu dia harus menggunakan ramuan khusus agar baunya tak tercium, seperti yang ia lakukan selama ini untuk menyerang vampire.
Perlahan Hans bergerak sambil memastikan langkahnya tepat tanpa di ketahui, dari balik puing yang menumpuk di sisi tong sampah ia mencoba menajamkan pendengarannya.
"Baiklah, kita bisa buat kesepakatan itu" ujar Tianna.
Jack sudah tersenyum senang namun kalimat selanjutnya membuat bulu kuduknya merinding.
"Tapi kau tahu dalam sebuah kesepakatan kedua belah pihak harus di untungkan, jadi aku meminta bayaran yang sepedan dengan pil itu"
"Apa... yang kau inginkan?" tanya Jack cemas.
"Kau tahu sesuatu yang selalu di butuhkan kaum vampire, sesuatu yang bisa menghilangkan dahaga dan menambah kekuatan" jawab Tianna.
Jack tersentak kaget saat menyadari apa yang Tianna maksud, tapi Hans jauh lebih kaget lagi. Tentu ia tak mengira kakeknya Jack yang hebat bersekutu dengan vampire untuk sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Baiklah, akan ku berikan darah ku dan menukarnya dengan pil itu" ungkap Jack.
Hahahahaha
Tawa itu begitu renyah tapi juga melengking hingga terasa sakit di telinga, Tianna merasa kalimat itu adalah gurauan terburuk yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.
"Berani sekali kau menunjuk diri sendiri, ketahuilah pak tua aku tak suka darah manusia kolot seperti mu" ujarnya.
Jack terdiam, lebih cemas dari sebelumnya.
"Aku ingin darah wanita yang masih segar, tapi tentu bukan wanita sembarangan. Aku ingin darah wanita yang menjadi keluargamu, lebih baik lagi jika dia adalah keturunan mu" lanjut Tianna.
"Apa? jangan harap aku mau mengorbankan keluarga ku untuk mu!" teriak Jack menolak.
Ckckckck
"Kenapa pikiran mu sempit sekali? aku hanya minta sebotol saja, kau tidak perlu membunuhnya. Atau.... kau mau menyerahkannya kepadaku? itu lebih baik karena aku pandai mengurus manusia" sahut Tianna.
Jack terdiam, berfikir harus bertindak bagaimana sebab tidak mungkin ia melakukan hal sekeji itu tapi hidup Jessa pun tergantung padanya.
"Baiklah, pikirkan baik-baik. Untuk malam ini aku tidak akan memberimu apa pun sampai kau membawakan barang yang aku minta, kita bertemu lagi nanti"
"Apa? tidak! tunggu! kau harus memberiku pil itu, beberapa saja aku mohon.. sebutir pun tak apa" sergah Jack.
Tapi sayangnya Tianna sudah menghilang tanpa bekas, membiarkan Jack tersungkur dalam dilema kehidupan. Sementara Hans juga masih terdiam di sini, menjernihkan pikiran dari segala objek negatif yang menyulut amarahnya kepada Jack.
Tentu saja karena apa yang dia dengar adalah hal paling mengerikan, ia bertanya-tanya apakah Jack berani mengorbankan keluarganya sendiri demi pil itu.
__ADS_1
Namun sebelum jauh menerka hal itu terlebih dahulu ia harus meneliti hubungan Jack dan Tianna, termasuk pil yang sejak tadi mereka bicarakan.