
Ya, semua bukan hayalan atau pun mimpi. Terkadang kenyataan itu terlalu menyakitkan tapi begitulah hidup, kadang rencana tidak berjalan baik dan kadang yang menjadi mitos adalah kesungguhan.
Semua tanda tanya terjawab sudah, bukan dia yang aneh tapi dirinya yang tidak mengetahui kebenaran itu.
Seperti desir yang lewat di depan jendelanya, dimana matanya menatap taman namun peristiwa yang menggelantung di sana. Perasaan takut yang melewati batasan hingga menyisakan kehampaan, kini pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana caranya bersikap.
Ceklek
"Alisya... " panggil Chad sedikit kaget menatap sepupunya berdiri di depan jendela.
Tak bergeming, tubuh itu hanya raga sebab ruhnya bergentayangan pada tempat yang mustahil.
"Alisya... " panggil Chad sekali lagi.
Kini perlahan tubuh itu berbalik, jelas menapakkan mata yang kosong. Tapi diam-diam otaknya membuat argumen Chad adalah bagian dari kemustahilan, hal itu menyebabkan hatinya tergerak karena perasaan takut yang tiba-tiba datang.
"Chad..... " panggil Ima yang berlari memasuki kamar itu.
"Alisya? kau sudah sadar? syukurlah... " sahutnya menatap Alisya.
"Ada apa?" tanya Chad sebab dari teriakan itu terdengar sebuah kecemasan.
"Kak Agler... dia pergi menemui Hans" jawabnya.
Sejenak mereka terdiam, mencerna sebuah bayangan yang datang tentang alasan kepergian Agler.
"Sial!" tukas Chad panik.
Segera ia mengambil langkah seribu, di sertai Ima yang mengejarnya dari belakang.
* * *
Brak
Suara itu bergema di seluruh penjuru kastil, tentu saja semua orang terkejut mendengarnya dan bergegas lari ke sumber suara.
Jack yang pertama kali sampai melihat pintu rumah mereka jebol dengan Agler yang berdiri tegak di sana, dari wajahnya ia tahu saat ini api tengah membakar seluruh isi tubuhnya.
"Hans..... keluar!" teriak Agler menatap sekeliling ruangan.
"Ada apa?" tanya Amelia terkejut sebab nama putranyalah yang di sebut.
Agler menunggu, semua anggota keluarga Hermes itu telah menampakkan diri kecuali orang yang ia cari.
__ADS_1
"Mana Hans?" tanyanya dengan suara dingin.
"Dia sedang pergi, kenapa kau mencarinya?" tanya Jack.
"Oh, jadi setelah meracuni Alisya mencoba kabur dari ku" sahutnya.
"Apa kau bilang?" tanya Shigima yang lebih kaget dari semua orang.
Sementara itu Kyra yang mendengar semua ini memutuskan untuk menelpon Hans, tentu saja karena ia sudah menyuruhnya untuk membereskan masalah ini namun yang terjadi adalah segalanya semakin kacau.
"Kemana dia pergi?" tanya Agler.
"Di-dia... " ujar Jack tergagap sebab ia tak tahu kemana Hans pergi.
"Dia sedang bertugas, putraku tidak mungkin melakukan hal jahat dan kabur begitu saja" sahut Amelia tegas.
"Kalau begitu suruh dia pulang" ujar Agler tajam.
"Baik! akan ku lakukan" jawab Amelia yang segera pergi.
Keheningan pun menyeruak dalam ruangan, namun setiap orang merasakan ketegangan yang nyata. Hingga rasanya untuk bernafas pun terasa sangat sulit, hingga suara detak jantung yang keras terasa mengganggu.
"Agler!" panggil Chad yang baru saja datang.
Agler menoleh, menatap Chad dan Ima dengan nafas memburu sebab lelah berlari mengejarnya.
Mereka sama-sama mematung, kembali mengingat pertarungan yang pernah terjadi di antara mereka. Sungguh dunia merupakan tempat yang kecil, begitulah setidaknya yang di pikirkan mereka berdua.
Dan sialnya Ima berada di regu Chad, yang artinya pertarungan itu dapat membawa bencana yang lebih besar di masa depan.
"Hans akan datang... dia berjanji akan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi" ujar Amelia yang baru kembali.
"Aku harap ini memang kesalahpahaman, sebab aku tidak bisa mentolerir perbuatan biadabnya" sahut Agler bagai sebuah janji mutlak.
"Ini memang salah paham" teriak sebuah suara yang begitu familiar di telinga Agler.
Ia menoleh, bersamaan dengan Chad dan Ima. Kini semua mata tertuju pada Alisya yang berdiri di depan pintu, ia yang baru saja datang segera berjalan menuju Agler.
"Hans tidak melakukan apa pun padaku, dia tidak berbuat jahat padaku" ujarnya.
"Kau dengar! putraku tidaklah bersalah" teriak Amelia membuang nafas lega meski sebenarnya ia kurang memahami situasinya.
"Alisya... kau ingat apa yang telah terjadi?" tanya Agler melembut.
__ADS_1
Ia mengangguk pelan, menatap mata yang jelas penuh dengan kekhawatiran. Saat ia menatap ke bawah tangan itu terlihat gemetar, entah karena menahan emosi atau cemas.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi" pinta Agler.
Alisya terdiam, tentu saja yang terjadi adalah monster di dalam diri Agler telah membuatnya syok parah. Tapi ia ragu untuk mengatakan hal itu terlebih di depan semua orang, saat semua telinga bersiap mendengarkan Alisya menjawab.
"Aku bertemu dengan orang jahat, dia mencoba mengangguku dan saat itulah Hans datang. Dia sebenarnya telah menyelamatkan ku"
"Bagaimana dengan pakaian mu yang terbuka?" tanya Chad yang juga ingin mengusut tuntas masalah ini.
"Itu... pakaian ku kotor, ada seorang wanita yang membantuku juga. Dia mengobati luka ku dan membiarkan ku tidur di kamarnya"
"Siapa wanita itu?" tanya Chad lagi.
"Aku!" jawab Reah yang baru datang dengan Hans.
Lagi, semua mata tertuju pada pintu yang di lewati para pemberi jawaban.
"Namaku Reah, aku teman Hans. Malam itu Alisya sempat pingsan dan Hans meminta bantuan ku, karena penginapan ku jaraknya lebih dekat jadi aku memutuskan untuk membawanya ke sana" jelasnya.
Kini semua orang terdiam, termasuk Agler yang merasa bersalah atas tindakan arogannya.
"Maaf, aku telah merepotkan kalian. Aku terlalu syok hingga lupa apa yang sebenarnya terjadi, maaf karena salah ku kesalahpahaman ini telah terjadi" tutur Alisya.
"Tidak nak, kau sama sekali tidak bersalah" sahut Jessa.
"Semua ini karena ulah Joyi"
"Apa maksud mu?" tanya Chad merasa tak senang.
"Sadarlah Chad! kau dan Agler adalah bagian dari keluarga ini, kalian seharusnya tinggal bersama kami dengan nama Hermes. Tapi Joyi memisahkan kita hingga tercerai berai, tak cukup sampai di sana dia juga mencuci otakmu hingga yang ada hanya kebencian untuk keluarga mu sendiri" tegas Jessa.
Whuuuussss
Kecepatan yang sulit di baca mata itu membuat sebuah kilat bayang hitam, saat sadar cakar Chad telah berada di leher Jessa yang tinggal kulit dan tulang.
"Chad!" teriak Jack ketakutan.
"Sekali lagi kau mengatakan hal jelek tentang nenek aku tidak akan pernah memaafkan mu" bisik Chad.
Ketegangan seketika memenuhi ruangan itu, tak ada yang berani bergerak bahkan bernafas sekalipun.
"Ayo kita pulang" ajak Chad kemudian.
__ADS_1
Ia menggandeng Ima sementara Agler merangkul Alisya, mereka melangkah pergi meninggalkan kediaman itu.
Pulang ke rumah tanpa banyak bicara Alisya langsung pergi ke kamarnya, memilih beristirahat untuk menjernihkan pikiran.