
Semenjak kepulangannya tak ada yang berani bertanya apa pun, dari sikap diam Agler mereka menebak tak ada hasil yang sesuai harapannya. Seharian penuh mereka membiarkannya sibuk dengan kesendiriannya di kamar, sampai tiba waktunya bagi Agler untuk siap bercerita.
Setelah mengetahui siapa keluarganya tentu ia ingin pergi ke sana dan bertanya apa yang telah terjadi sehingga ia harus di berikan kepada orang lain, terlebih kondisi orangtua kandungnya yang ia tak tahu siapa.
Demi mendapatkan jawaban ini selama berhari-hari ia harus menyiapkan hati, kemungkinan besar berita menyakitkan akan ia terima sebagai pukulan keras.
* * *
Sebab luka fisiknya telah sembuh Kyra di perbolehkan pulang namun dengan syarat untuk tetap istirahat dengan pengawasan, tentu setelah tindakan nekatnya apa pun bisa terjadi lagi mengakibatkan luka yang lebih serius.
Dengan di dampingi Hans serta kedua orangtuanya mereka pulang, Jack dan yang lain menyambut kepulangan Kyra dengan bahagia. Senyum terhias indah di wajah mereka namun tidak pada Kyra, persiapan membuat makan malam yang mewah demi Kyra tetap berlangsung meski Kyra menolak.
Sifat cerianya hilang begitu saja, bahkan sepanjang makan malam sedikit pun ia tak menyentuh makanannya hingga dingin. Malam itu dengan perut kosong ia segera pergi ke kamarnya meski tidak tidur.
"Dia kelihatan sangat syok, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Blue berkata bahwa dia telah membunuh seseorang?" tanya Hans yang tidak tahu menahu tentang hubungan keluarga itu dengan Chad.
"Ini salah ku, aku tidak memperhatikannya dengan benar sehingga ia merasa tidak di sayangi. Blue....dia...mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari balkon lantai empat belas, sebagai ayah aku hanya diam melihat sementara Chad ikut terjun dan menyelamatkan Blue. Berkat dia Blue masih hidup tanpa kurang apa pun tapi dia sendiri...." Ryu tak bisa meneruskan kalimatnya.
"Dia masih hidup, tapi menderita luka berat hingga kemungkinan mengalami cacat permanen" sambung Jack.
Semua terdiam, begitu pun Hans yang mengerti mengapa Kyra sampai begiti depresi. Saat ini Kyra tengah di hantui rasa bersalah, mengingat hatinya yang lembut tentu saja gadis itu tidak akan mampu menahan beban seperti ini.
"Kita harus mempertemukan Blue dan orang bernama Chad itu" ujar Hans tiba-tiba.
"Ini satu-satunya jalan agar Blue bisa sehat kembali, dengan kata-kata dari Chad yang menyemangati Blue dan beberapa nasihat pasti Blue mau mendengarnya"
"Andai bisa kita lakukan" sahut Violet.
"Bahkan sebelum Chad sadar dari komanya nyonya Joyi sudah membawanya keluar negri untuk pengobatan" jelasnya.
Hans terdiam, kini idenya tak berguna sama sekali bahkan mereka telah berada di jalan buntu. Tak bisa mundur untuk memperbaiki masa lalu dan tak bisa melangkah juga, perasaan menyebalkan yang membuat emosi terus bergejolak hingga hampir meledak.
"Cukup untuk hari ini, saat ini yang bisa kita lakukan hanya terus berada di samping Blue dan memberikan dia semangat" ujar Jack sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Keluarga Hermes menutup hari dengan benak yang masih berantakan dan esok harinya memulai dengan hal yang sama, para pria pergi ke kantor untuk mengurus bisinis keluarga kecuali Ryu dan Hans yang memilih ke Akademi.
Sementara para wanita tetap berada di rumah, mengurus pekerjaan rumah meski mereka memiliki pelayan tapi tetap harus ada yang mengarahkan pekerjaan mereka terlebih karena tidak adanya kepala pelayan.
"Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" ujar seorang pelayan.
Jessa sedikit heran sebab ia tak punya banyak teman, beberapa kenalannya pun bahkan tidak tahu dimana ia tinggal. Rasa penasaran membawanya berjalan ke arah ruang tamu, di lihatnya seorang pria berpakian sederhana tengah memunggunginya.
"Maaf? anda mencari ku?" ujarnya.
Perlahan pria itu membalikkan badan, dengan mata sayunya yang telah menangis diam-diam di tatapnya Jessa lekat-lekat.
"Ka-kau...bagaimana mungkin? kau baik-baik saja?" tanya Jessa heran.
Pria itu berjalan mendekatinya, setelah cukup dekat dari balik kausnya ia perlihatkan sebuah kalung dengan ukiran nama.
"Aku Agler" ujarnya.
Entah mengapa waktu seakan berhenti, lalu tiba-tiba peristiwa mengerikan itu kembali dalam sekejap mata. Saat dimana kobaran api hampir merenggut nyawa orang yang ia kasihi, air mata tiba-tiba jatuh tanpa peringatan.
Dengan gemetar ia menyentuh permukaan kalung itu, hal yang sama ia lakukan dulu saat nafasnya hampir habis karena menghirup asap terlalu banyak.
__ADS_1
"Cucuku....Agler...kau..." ujarnya di tengah isak tangis.
Kalimat yang cukup membuat Agler lebih yakin bahwa ia memang bagian dari keluarga Hermes, kini terjawab sudah satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang bergumul dalam benaknya.
Masih ada sisa pertanyaan yang wajib Jessa jawab, tapi belum sempat Agler membuka mulut ekspresi Jessa tiba-tiba berubah dan tanpa meminta persetujuan ia mengajak Agler pergi dari tempat itu.
Sepanjang jalan dalam kemudi mobil sedikit pun Jessa tidak mengatakan apa pun, di lihat dari arah jalan yang mereka tempuh Agler berasumsi mereka akan pergi ke pinggiran kota.
Jessa memarkir mobilnya sembarangan di pinggir jalan dekat hutan, hanya dengan anggukan kepala ia mengisyaratkan untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam hutan.
Masih tak ada suara yang terdengar dari mulut Jessa, hanya suara alam yang menyambut kedatangan mereka. Tak cukup lama berjalan mereka tiba di sebuah lapangan yang di penuhi tumpukan salju, sekilas tak ada yang aneh namun jika di perhatikan dengan baik bentuk tumpukan salju itu sedikit tidak wajar.
Jesaa berjalan sedikit dan mulai mengais salju tepat di hadapanya, tak butuh berapa lama kemudian nampaklah puing-puing kayu berserakan di sana.
"Inilah tempat dimana peristiwa itu terjadi" ujarnya pelan.
Agler terkesiap, sadar bahwa ucapan itu mengarah pada pertanyaan terbesar yang ada dalam benaknya.
"Ayah mu! dia adalah seorang Raja vampire yang di khianati dan di gulingkan secara paksa! dia di hukum atas dosa yang tidak pernah ia perbuat, dia...dia adalah Reinner Hermes!" ujar Jessa dengan suara lantang yang sanggup memecah langit.
"A-apa?" tak mudah menerima sebuah kenyataan, inilah alasan mengapa dalam catatan Mehves dia di sebut pangeran.
"Ti-tidak mungkin!" ujarnya pelan.
"Kau pasti bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, mengapa kau bisa berada pada satu keluarga yang asing? semua itu aku lakukan demi keselamatan mu, agar kau hidup"
"Lalu...apa yang terjadi di sini?" tanyanya menahan batin.
Jessa menatap langit, mengingat kembali semua yang terjadi pada malam itu. Hari di mana ia melihat Joyi berusaha menculik Catherine dan di sinilah gubuk itu berada, tempat dimana Catherin melahirkan kedua putranya.
Seorang diri berbekal cinta kasih untuk cucunya ia datang menyelamatkan Catherin, melawan seorang vampire yang di tugaskan Joyi untuk berjaga. Dia bertarung cukup hebat hingga tanpa sengaja menyenggol lilin yang di gunakan sebagai penerang, dalam pertarungan yang belum usai api kian menyebar hingga melahap sebagian gubuk.
Srek Srek
Rasa sedih yang mendalam itu membuat Agler menatap hamparan salju yang menutupi puing-puing, ia sudah menyiapkan hati untuk segala kemungkinan tapi tetap saja kenyataan pedih itu terlalu menyakitkan.
Whhhuuuuuuusssss....
Ingin rasanya angin itu membawa serta kesedihannya, tapi yang ada ia malah memberikan hawa dingin pada tubuh yang gemetar.
Air mata jatuh begitu saja, membuat lubang kecil pada salju yang lembut untuk ikut beku kemudian. Dalam beberapa saat mereka terdiam, melepaskan kesedihan yang ada agar ada ruang untuk perencaan selanjutnya.
* * *
Dalam genggaman tangannya tersimpan sebuah alamat, tempat yang bisa dia datangi kapan pun untuk menengok cucunya. Untuk sementara ia akan menyimpan rahasia tentang Agler sampai keadaan rumah lebih baik, ini mungkin berita baik tapi selalu ada resiko untuk semua hal yang berharga.
Terlebih saat ini Kyra masih membutuhkan perhatian mereka, jika tiba-tiba Agler datang dan merebut perhatian ia takut akan berakibat buruk untuk Kyra.
"Tu-tunggu!" gumamnya menyadari satu hal.
Itu adalah wajah Agler yang saagat mirip dengan Chad, jika Agler benar adalah anak dari Reinner maka Chad adalah saudara kandungnya yang juga selamat dari kebakaran itu.
"Joyi...kau...mengambil Chad dari kami" ujarnya getir.
Rasa kesal kini memenuhi ruang yang tadi kosonng, kekejaman dan niat balas dendam Joyi rupanya berjalan begitu mulus hingga dua puluh lima tahun lamanya. Dengan liciknya ia tak hanya menculik Catherin tapi juga memanfaatkan Chad untuk keperluan balas dendamnya.
__ADS_1
"Joyi...tunggu saja, kau akan hancur oleh senjata yang kau buat sendiri" gumamnya penuh amarah.
Terlepas dari semua itu kini tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide mengingat wajah Agler yang mirip dengan Chad, dengan cepat ia menuju ke alamat yang di berikan Agler.
Kediaman Colt dimana Agler tinggal selama ini, dari sekian banyak orang di dunia ia juga tak menyangka Mehves akan menitipkan Agler pada teman Anna. Tapi itu cukup menguntungkan karena ia kenal baik Mina dan Colt sehingga ia yakin selama ini Agler hidup dengan baik.
Kedatangan Jessa di kediaman itu tentu membuat seisi rumah kaget, secara ringkas Jessa menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu. Tentu nama Joyi dia sebut sebagai dalang di balik semua ini, Mina tak terlalu kaget sebab sedikitnya ia sudah tahu kisah keluarga Hermes.
Ima yang ikut hadir mendengarkan cerita itu cukup di buat kaget karena kenyataannya Chad selama ini adalah saudara kakaknya sendiri, andai sejak dulu mereka di pertemukan mungkin sudah lama mereka bertemu dan menyadari persaudaraan mereka.
"Kedatangan ku kemari karena aku membutuhkan bantuan Agler" ujarnya.
"Bantuan apa?" tanya Agler.
Jessa pun menjelaskan maksud dan tujuannya, setelah beberapa menit berdiskusi mereka pun mendapatkan jalan keluar. Dengan tersenyum senang Jessa mengucapkan terimakasih.
"Tidak perlu seperti itu, bukankah kita adalah keluarga?" ujar Agler yang justru membuat Jessa menitikkan air mata.
"Selama ini aku selalu khawatir, apakah cucuku makan dengan baik, tidur dengan nyaman, bahagia atau tidak? tapi melihatnya sekarang membuat ku sangat lega. Terimakasih karena kalian telah merawatnya dengan baik, seumur hidup aku berhutang budi kepada kalian" ujarnya haru.
"Tolong jangan seperti itu nyonya, kami senang Agler hadir dalam keluarga kecil kami. Meski aku tidak pernah melahirkannya tapi dia sudah ku anggap sebagi putra ku sendiri" jawab Mina.
"Dia memang putramu, bahkan sebelum umurnya mencapai satu hari kedua orang tuanya telah tiada. Akan sangat egois bagiku jika menganggap kau hanya ibu pengganti, meski aku ingin Agler mengambil kembali haknya sebagai Hermes tapi dia sudah punya keluarga di sini jadi semua akan tergantung pada dirinya sendiri" ujar Jesaa.
Mina menyambut kebijaksanaan Jessa dengan suka cita, Agler sendiri untuk saat ini belum ada niatan untuk pergi dari rumah jadi dia akan tetap berada di sana sebagai Agler Megan.
* * *
Ceklek
Pintu di buka, memperlihatkan Kyra yang masih duduk melamun menatap kekuar jendela. Segera Violet menghampirinya untuk memneritahunya kabar baik.
"Blue....Chad datang untuk melihat kondisi mu"
"Apa?" tanya Kyra yang langsung menengok.
Violet menganggukan kepala dengan yakin, membuat Kyra penasaran hingga berlari keluar kamar. Saat ia berjalan menuruni tangga di lihatnya Chad yang sedang duduk sambil berbincang dengan Jack, kini langkahnya semakin perlahan saat dia semakin dekat dengan Chad.
Matanya intens menatap tubuh Chad yang terlihat baik-baik saja, saat mata mereka beradu pandang Chad segera bangkit dan berjalan menghampirinya sehingga mereka bertemu di tengah ruangan.
"Hai, bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Chad....ku pikir kau....kau...kata mereka...kau akan...lumpuh" ujar Kyra pelan dengan bingung.
"Ah sepertinya yang kau dengar adalah rumor, kenyataannya aku sekarang berdiri di hadapan mu."
Kyra masih terdiam, tak percaya pada apa yang ia lihat. Saat Chad berjalan mengambil bucket bunga dan memberikannya kepadanya yang bisa ia lakukan hanya berdiri tanpa suara.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini karena masih ada pekerjaan. Lain waktu jika keadaan mu sudah lebih baik bagaimana jika kita makan malam di luar? kau mau?" tanyanya.
Kyra masih saja bengong dan hanya bisa mengangguk, bahkan saat Chad berpamitan dan pergi meninggalkan rumah itu.
"Violet bawa Blue masuk ke kamarnya dan biarkan dia istirahat, biar aku yang mengantar nak Chad" ujar Jessa.
Kali ini Violet menurut, ia mengabaikan Chad padahal biasanya ia selalu cari muka. Sementara itu Jessa yang sudah sampai di luar rumah sempat melihat sekeliling hanya untuk memastikan tak ada yang menguping.
__ADS_1
"Agler, terimakasih.." ujarnya.
"Sudah ku bilang itu tidak perlu, Kyra adalah sepupu ku. Dia gadis yang malang, sebagai saudaranya ini sudah merupakan tugasku" jawabnya sambil menatap pintu kediaman Hermes.