
Karena Ima dan Agler sudah cukup dewasa untuk mencari mangsa sendiri membuat Nick menjadi jarang menemui mereka, meski begitu hubungan mereka masih terjalin dengan baik sebab Nick telah mengambil sumpah untuk mengabdi pada Colt.
Malam dimana bulan bersinar dengan terang Nick mengambil langkah menuju kediaman Colt, dengan sebotol wine yang ia beli di toko minuman niatnya malam itu akan ia habiskan bersama Colt dan Agler.
Tentu Colt menyambut baik niat Nick, mereka duduk di ruang tamu menikmati minuman sambil mengobrol.
"Aaarrhhhhh... ini benar-benar enak" ujar Colt meneguk habis minuman dalam gelasnya.
"Yeah, rasanya sudah lama kita tidak bersantai" sahut Nick.
"Banyak yang terjadi, hidup menjadi vampire di tengah lautan manusia dan perseteruan antar kaum bagai kutukan yang mengerikan. Beruntung sekarang pertempuran itu telah berakhir sehingga kita bisa menghirup udara dengan tenang"
"Tapi tetap saja beberapa vampire mencoba merasuki manusia dengan perjanjian berdarah, itu sudah menjadi kebiasaan seperti sarapan dengan roti"
"Maksudnya?" tanya Agler.
"Beberapa hari yang lalu, mungkin sekitar seminggu yang lalu ada seorang penyihir yang datang padaku untuk meminta bantuan. Dia bilang kakeknya telah melakukan perjanjian dengan vampire dan ingin bebas darinya"
"Perjanjian seperti apa?" tanya Agler lebih penasaran.
"Kakeknya meminta sebuah obat yang hanya di miliki vampire, sebagai gantinya vampire itu meminta darah keturunannya. Bagi bangsa vampire itu wajar karena kedua belah pihak di untungkan, kau tahu kita selalu melakukan hal ini dengan manusia tapi bagi penyihir itu perjanjian itu terlalu merugikan keluarganya"
"Jika di lihat dari mata manusia memang perjanjian itu merugikan, itu sama saja dengan membuat perjanjian dengan iblis" komentar Colt.
"Lalu apa saranmu?" tanya Agler.
"Tidak mudah melepaskan perjanjian, satu-sarunya cara adalah buat kedua belah pihak merugi"
"Begitu rupanya"
"Aku tidak menyangka akan ada manusia apalagi penyihir yang meminta bantuanmu, ku pikir kamilah satu-satunya yang dekat dengan mu" ucap Colt.
"Anak itu bernama Hans, dulu kami pernah bersitegang karena dia hendak membunuh Agler. Setelah bersekutu dengan gurunya tentu kami juga punya ikatan, itu hanya sekedar saling membantu dalam beberapa hal"
"Maksudnya Hans Hermes?" tanya Agler mengingat peristiwa dimana ia pernah bertarung dengan Hans karena kesalahpahaman.
"Aku tidak tahu nama belakangnya, yang jelas kalian pernah bertemu" jawab Nick.
Jika memang seperti itu maka tak salah lagi Hans yang di maksud adalah Hans Hermes, sepupunya dari keluarga ayah kandungnya.
Tiba-tiba Agler merasa lemas, menyadari jika kakek yang di maksud adalah Jack maka perbuatan keji yang dilakukan Jack terhadap ibunya kemungkinan adalah benar. Sebab kini nyatanya Jack bersekutu dengan vampire dan rela mengorbankan keluarganya sendiri.
* * *
Tak banyak yang Tianna hisap, tapi satu kali hisapan itu cukup membuat Hans menderita pusing kepala. Kini tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, untuk mengembalikan kekuatan dan siap memenuhi panggilan di minggu depan ia harus banyak makan makanan bergizi.
"Kau terlihat pucat, apa kau baik-baik saja?" tanya Amelia cemas melihat wajah putranya.
"Iya bu, aku hanya kurang tidur saja"
"Oh Hans, kalau begitu pergilah istirahat. Ibu akan bawakan obat penambah darah untukmu"
"Terimakasih bu" sahutnya yang kemudian pergi ke kamarnya.
Sebenarnya selain dari akibat darahnya yang di hisap langsung ada satu hal lagi yang mengganggu pikirannya sehingga ia memang kurang istirahat, itu adalah pertemuannya dengan Joyi.
Diam-diam mereka bertemu hanya untuk sebuah obrolan yang ingin di hindari Hans, tentu yang di bicarakan Joyi adalah kakeknya Jack.
"Aku ingin kau menjauhi Jack" ujar Joyi kala itu tanpa bujukan.
"Kau bercanda, setelah Chad dan Agler kini kau mencoba menjauhkan ku dengan keluarga ku? sedendam itukah kau kepada kami sehingga ingin kami benar-benar hancur?" sergahnya tentu tak terima pada permintaan itu.
"Hans, kau yang paling tahu bagaimana Jack. Meski dia adalah kakek yang penuh kasih sayang tapi cintanya itu adalah jebakan, dia akan membuatmu berkorban demi dirinya dan itu merupakan kesalahan"
"Apa maksud mu?"
"Kau bisa bertanya pada Shigima atau Ryu, paman mu Ken telah meninggal akibat perbuatan egois kakekmu. Dia dengan mudahnya mengorbankan Ken hanya untuk memenuhi keinginannya, terserah kau akan percaya pada siapa tapi jika kau ingin selamat jauhi Jack sesegera mungkin" ujar Joyi yang kemudian mengakhiri pertemuan itu.
Hans berbaring di atas ranjangnya dalam keadaan gelisah, kini apa yang Joyi katakan menjadi kenyataan. Ia mengorbankan dirinya kepada Tianna hanya untuk sebuah pil, agar Jack dapat menyembuhkan Jessa seperti keinginannya.
"Tidak! aku berfikir terlalu jauh, sudah jelas aku melakukannya atas kesadaranku sendiri bukan permintaan kakek" gumamnya mencoba menyingkirkan pikiran negatif itu.
__ADS_1
Namun tetap saja Hans terganggu akan hal itu, hingga minggu berikutnya saat ia menyerahkan diri kepada Tianna.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Tianna segera menarik mulutnya meski baru membenamkannya.
"Apa?" tanya balik Hans.
"Aku hanya darahmu sedikit, tapi dalam waktu seminggu kau kehilangan banyak energi"
"Itu... aku hanya kurang tidur"
"Oh sayang... kau harus tetap bugar karena jika kau tidak bisa memenuhi panggilan maka Jack tidak akan menerima pil itu dan akan ku beritahu sebuah rahasia, pil itu tidak menyembuhkan penyakit jadi Jessa harus terus meminumnya agar bisa hidup normal" bisik Tianna tepat di telinganya.
Hans terperanjat, itu artinya seumur hidup ia harus memberikan darahnya. Terlalu lelah dan penat Hans menyeret kakinya untuk meninggalkan tempat itu, sampai kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
Bruk
Ia ambruk tepat di pintu masuk rumah, menjelang pagi barulah seorang pelayan menemukan tubuhnya yang telah dingin dengan wajah pucat.
"Tuan...... " teriak pelayan itu ngeri.
Semua orang rumah berhamburan keluar mendengar teriakan itu, air mata cemas Amelia menitik kemudian melihat pemandangan itu. Dengan tergesa-gesa Shigima segera mengangkat tubuh itu, memeriksanya sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
Jack, Amelia, Shigima, Jessa dan Ryu berdiri di luar ruangan dengan wajah khawatir. Sampai seorang dokter keluar dengan cepat mereka mengerubunginya.
"Bagaimana dokter?" tanya Jack.
"Dia hanya kurang istirahat, tekanan darahnya rendah jadi dia butuh istirahat total. Selain itu semuanya normal sehingga kalian tidak perlu khawatir"
"Ah syukurlah"
"Boleh saya menjenguknya?" tanya Amelia.
"Sebaiknya nanti saja, pasien baru saja tidur jadi biarkan dia pulih dulu"
"Oh baiklah" gumam Amelia sedikit kecewa.
"Bersabarlah, ini juga demi kebaikan Hans" ucap Shigima menenangkan.
"Sayang... " panggilnya cemas.
"Ibu... " balas Hans dengan sedikit tenaga yang ia miliki.
"Jangan bangun, kau harus tetap istirahat" sergah Amelia kembali mendorong Hans untuk berbaring.
"Maaf aku telah membuat semuanya khawatir"
"Tidak apa, kau pasti lelah karena pekerjaan mu"
"Dokter bilang besok aku sudah boleh pulang, jadi tidak ada yang perlu ibu cemaskan" ujar Hans menghibur Amelia yang jelas tak bisa berhenti menatapnya dengan cemas.
Amelia mengangguk, mengelus rambut Hans dengan lembut dan menyuapinya agar tubuh itu cepat pulih.
"Bagaimana?" tanya Jack yang sedari tadi menunggu di luar.
"Dia baik-baik saja" jawab Amelia yang baru keluar.
"Seperti yang dokter bilang, kita tidak perlu mengkhawatirkannya" sahut Shigima.
"Kalau begitu ayah dan yang lain bisa pulang, kalian juga harus istirahat. Biar aku dan Shigima yang menemaninya di sini"
"Baiklah kalau begitu, sampaikan salam ku pada Hans" ujar Jack.
Amelia mengangguk dan mengantarkan kepergian mereka sampai di pintu rumah sakit, tapi saat Jack hendak masuk ke dalam mobil tanpa sengaja ia melihat Joyi berdiri di sebrang jalan.
Jelas ia tengah memperhatikan mereka sehingga membuat Jack tak nyaman, ia pun menyuruh Jesaa dan Ryu pulang lebih dulu sementara ia akan menemui Joyi dengan dalih ada urusan lain.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jack menghampiri Joyi setelah memastikan Jessa telah pergi.
"Telah di mulai lagi Jack, sudah saatnya kau mengetahui hal ini" ujarnya.
"Apa maksud mu?" tanya Jack tak mengerti.
__ADS_1
Sorot mata Joyi hari itu berbeda dari biasanya, ada sebuah duka yang teramat dalam dengan pupuk harapan.
Joyi membawa Jack pergi ke suatu tempat yang sepi, dimana mereka bisa bicara bebas berdua tanpa khawatir akan di dengar oleh siapa pun.
Menatap hamparan danau yang tenang tapi bukan itu yang ia lihat, desir yang menyapa lembut tapi dingin menusuk tulangnya hingga ngilu. Joyi kembali merasakan ketakutan yang selalu menjadi mimpi buruk dalam setiap pejaman matanya, ia mulai membuka mulut dan bersuara.
"Aku pernah menyinggungnya dalam generasi Anna, tapi saat itu hatimu membara hingga pandanganmu terhalang asap. Kini aku akan mengatakannya kembali, sebelum jatuh korban pertama"
Joyi berbalik, menatap Jack sebagai kepala pelayan yang selama ini begitu setia padanya.
"Cintamu yang suci untuk Jessabelee adalah sebuah kesalahan, kau tidak seharusnya mencintai apalagi memilikinya"
"Heh omong kosong yang selalu kau ucapkan saat kalah bersaing, aku tahu kau mencintai ku hingga berkomplot dengan Jhon untuk menyingkirkan Jessa" tukas Jack tak bisa melupakan pengkhianatan itu.
"Tidak Jack, itu adalah alasan yang mendukung. Alasan utamanya adalah mendiang ibumu yang memintaku untuk memisahkan kalian bagaimana pun caranya"
"Apa? tidak mungkin... " sahut Jack tak percaya sebab orangtuanya setuju pada pernikahan mereka.
"Dulu nyonya datang kepada peramal saat pertamakali kau membawa Jessa ke rumah, nyonya meminta di carikan tanggal pernikahan yang bagus untuk kalian tapi... yang dia dapat adalah sesuatu yang terus dia sembunyikan hingga akhir hayatnya" ucapnya.
Masih segar ingatan itu dalam benak Joyi, saat dimana ia menemani sang nyonya pergi. Dengan antusias ia membawa dua helai rambut milik Jessa dan Jack untuk di lihat, sang peramal memasukkan benda itu ke dalam kendi berisi air dan mengaduknya beberapa kali.
"Mereka terlihat saling mencintai, Jessa merupakan gadis baik dan berasal dari keturunan yang kuat. Jika mereka di persatukan ini akan menjadi sejarah baru, keluarga ku pasti akan semakin kuat karenanya" ujar nyonya Hermes tak sabar.
Tapi peramal itu masih tak bergeming, matanya lekat menatap air dalam kendi untuk beberapa menit hingga tiba-tiba ia tersentak kaget.
"A-ada apa?" tanya nyonya Hermes khawatir, begitu juga dengan Joyi muda yang duduk tepat di belakangnya.
"Kau harus menghentikannya, takdir mereka akan membunuh keturunan mu" ujar peramal itu dengan wajah pucat.
Sama pucatnya dengan Jessa yang menatap kebingungan, entah penglihatan seperti apa yang membuatnya berkata demikian.
"Apa maksud mu? tolong jelaskan padaku" pintanya.
"Cinta adalah sesuatu yang teramat kuat, perasaan itu dapat menghidupkan yang mati tapi juga mengorbankan yang hidup menjadi mati. Cinta mereka terlalu kuat hingga jika mereka mengambil satu langkah yang salah maka akibatnya bisa fatal, cinta ini sama dengan kutukan"
"Bagaimana.... mungkin... " ucap nyonya Hermes tak percaya.
"Jika kau ingin keturunan mu hidup damai maka kau harus pisahkan mereka, tapi jika kau tidak bisa melakukannya maka seluruh keturunan mu akan sial selama mereka saling memiliki" jelas peramal itu.
Tak ada ibu yang tega melihat putranya menderita, apalagi harus memisahkannya dari cintanya. Tapi sebagai bagian dari Hermes ia juga tak bisa membiarkan keturunannya menderita, maka dengan penuh perhitungan ia mengambil satu langkah besar.
Malam itu menjadi malam penting yang tak akan pernah bisa Joyi lupakan, jelas dalam ingatannya nyonya Hermes memakai kalung mutiara besar dan bicara padanya.
"Kita harus ambil tindakan, kami sudah memutuskan untuk memisahkan Jesaa dan Jack demi kebaikan semua. Karena itu, kami memintamu untuk mengambil tugas penting ini"
"Kelemahan Jack saat ini adalah kami, untuk itu setelah kepergian kami tugas mu yang sebenarnya akan di mulai" sambung tuan Hermes.
"Saya.... tidak punya kekuatan untuk melakukannya" akui Joyi yang takut akan segala resikonya.
Nyonya Hermes mengangkat dagunya agar Joyi menengadah untuk menatap tekad mereka yang sudah bulat.
"Jangan pernah menundukkan kepalamu, kau adalah pion besar yang akan menjadi benteng. Tunjukkan kekuatan mu agar tak ada yang berani melewati batasanmu"
"Saya... tidak berani... nyonya... " sahutnya dengan mata sayu.
Tapi tak ada alasan untuk mundur, sejak kecil ia sudah di sumpah akan menjadi pelayan pribadi Jack yang artinya tanggungjawabnya bukan hanya untuk melindungi Jack tapi seluruh keturunannya.
"Aku mengetahuinya, kau mencintainya...
meski tak bisa mendapatkan status yang kau inginkan tapi takdir mu adalah bersama dengannya selamanya, kau akan menjadi ibu bagi anak-anaknya meski mereka tak pernah lahir dari rahimmu"
"Nyonya.... " panggilannya sendu.
"Joyi... ku serahkan semuanya padamu" ujarnya.
Esok harinya kedua orangtua Jack di temukan tak bernyawa, kesedihan memenuhi kastil itu bagai kabut tebal. Lonceng takdir berbunyi dengan kencang menandai kutukan bagi keturunan Hermes saat cinta Jessa keluar dari batasannya, berperang melawan Joyi yang mengambil misinya untuk membunuh.
Keputusan Joyi untuk mengambil sumpahnya di atas makam tuanya membentuk seorang kepala pelayan yang memegang kendali atas kastil dan seluruh penghuninya.
Ia mulai rencana pembebasan kutukan dengan membunuh Jessa, meski pada akhirnya justru itu awal dari kehancuran.
__ADS_1
"Aku telah melakukan kesalahan Jack, aku tidak memastikan Jessa benar-benar mati" ucap Joyi di akhir ceritanya.