
Musim akan segera berganti, pepohonan hampir botak dengan menyisakan beberapa daun yang siap gugur. Di tandai dengan heningnya hutan memberi sinyal bahwa beruang telah membenahi sarangnya untuk siap tidur, awal musim yang baru itu akan memberi sejarah baru pula.
Shishio pikir ia terlalu pintar sebab apa yang di harapkan Keenan berjalan lebih cepat sesuai rencana, namun kecepatan yang berlebih selalu dibarengi dengan kekurangan.
"Kau harus minum secara teratur, aku sudah jelaskan konsekuensi yang akan di terima tubuh mu" ujar Shishio untuk terakhir kalinya.
"Aku sudah menunggu hal ini selama puluhan tahun" balas Keenan tanpa ragu.
Shishio berjalan mundur setelah menguatkan tali pengikat, di tatapnya Alabama hanya untuk memberi satu anggukan penting. Alabama balas mengangguk, menunggu Shishio mundur sedikit lagi sebelum ia menarik tuasnya.
Di balik kaca yang tebal Tianna hanya bisa menonton bagaimana jarum-jarum yang ada pada mesin itu bergerak ke arah Keenan, secara perlahan menusuk dagingnya dan mengalirkan sebuah cairan hijau ke dalamnya.
Dengan waspada mereka menatap bagaimana cairan itu habis dan mesinnya bergerak menarik jarum-jarum itu.
Aaahhh.......
Satu detik pertama Keenan baru merasakan sakit di bagian daerah yang di suntik, beberapa detik kemudian kepalanya mulai terasa pening yang membuatnya mengerang cukup keras.
Mereka tetap mengawasi dalam jarak yang aman, melihat bagaimana wajah Keenan memerah dengan urat yang menonjol.
Ggrrrrr
Aarrrggghhhhh.....
Tubuhnya mulai gemetar, semakin lama semakin hebat hingga menimbulkan suara yang amat berisik. Tianna menatap ngeri saat urat di tubuh Keenan mulai bermunculan, dalam teriakan itu ia juga dapat melihat taring yang mencuat dari dalam.
Kuku-kukunya semakin tajam, menjadi cakar yang siap menyerang siapa saja. Tak tahan oleh rasa sakit yang teramat menyiksa Keenan mulai meronta melepaskan diri, tapi tali pengikat itu di desain sedemikian rupa agar tak mudah putus.
Ggrrrroooooaaaaaaaaarrrr....
Teriakan khas pemangsa memperlihatkan mata Keenan yang berubah keunguan, tubuhnya berhenti meronta menyisakan nafas yang tererangah-engah.
Saat Shishio menatap Alabama ia melihat senyum puas di wajah tua itu, eksperimen mereka telah berhasil. Makhluk yang lebih kuat dari vampire dengan isnting yang lebih tajam, mereka menunggu beberapa detik untuk melihat reaksi Keenan selanjutnya.
Yang mereka dapatkan adalah tatapan penuh ancaman dari Keenan untuk Shishio, mata ungunya tak berkedip sekalipun seolah tak mau kehilangan Shishio.
"Rupanya aku tidak perlu menggores luka di tubuhku untuk melihat seberapa tajam penciuman mu" ujar Shishio.
Ia sangat paham betul mengapa Keenan melihatnya, itu karena Shishio adalah satu-satunya manusia di sana. Makhluk yang menjadi sumber nutrisi bagi Keenan, Alabama hanya terkekeh melihat betapa tajam tatapan Keenan
Setelah ini tugas selanjutnya di berikan kepada Alabama, ia mengambil sebuah jarum suntik yang khusus di ciptakan untuk menembus kulit Keenang yang lebih keras.
Aaaarrrrrrgggghhhhh.....
Saat cairan itu masuk ke dalam tubuhnya ada rasa sakit yang menyentak, instingnya merasakan sebuah ancaman yang harus segera di lawan. Namun ia terikat sehingga hanya mampu berteriak sekencang mungkin, guncangan yang di berikan oleh tubuhnya kini lebih hebat dari yang tadi membuat Tianna semakin takut meski sekedar menonton.
Butuh waktu beberapa menit yang terasa lama bagi cairan itu untuk bekerja, saat perlahan taring itu mengecil dan hilang bersamaan dengan berubahnya warna mata Keenan menjadi merah kembali Shishio tahu obatnya bekerja dengan tepat
Aaaahhhhh....
Hhhhhhhh Hhhhhh Hhhhh
"Kau baik?" tanya Shishio menghampiri.
"Ba...danku....terasa....sakit" jawab Keenan susah payah.
"Istirahatlah, tapi maaf tali pengikat itu akan tetap di sana" ujar Alabama.
Keenan tahu ia mendengar Shishio bicara, tapi kalimat apa itu ia tak tahu sebab kesadarannya hilang dengan cepat.
* * *
Joyi masuk ke dalam sebab tahu Chad ada di kantornya, akhir-akhir ini ia begitu sibuk dengan pekerjaan tapi selalu ada waktu untuk menemui Ima. Hal ini jelas mengatakan Ima sangat penting bagi Chad, tapi karena Chad tetap bersikeras akan menyelesaikan dendamnya maka Joyi datang untuk suatu berita.
"Violet mengundang mu makan malam di rumahnya" ujar Joyi.
Chad termenung, kini ada dua undangan di tangannya. Satu dari musuh dan yang lainnya dari orang tersayang, meski Ima mengatakan tidak perlu datang tapi sebagai pria baik-baik ia harus memenuhi undangan itu.
"Haruskah aku datang malam ini juga?" tanya Chad.
Dari pertanyaan itu Joyi yakin bahwa Chad memiliki janji dengan Ima, sebab sejauh ini dia selalu mengutamakan dendamnya dari yang lain.
__ADS_1
"Nenek sudah mengatakan bahwa kau sedang sibuk bekerja, tapi jika semakin cepat kau datang maka akan semakin cepat rencana kita di laksanakan" jawab Joyi.
Chad paham betul masalah itu, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan undangan dari ayah Ima. Melihat wajah bingung Chad Joyi hanya mengatakan untuk memikirkannya secara perlahan, masih ada waktu sebelum malam tiba.
Dia sendiri memilih pulang untuk beristirahat, namun begitu sampai tetap saja benaknya tak bisa berhenti berfikir.
"Apa anda mau teh nyonya?" tawar Aeda melihat Joyi yang nampak pusing.
"Boleh, mungkin itu bisa menghilangkan kepenatan ku" jawab Joyi.
Aeda segera pergi untuk membuat teh, tak lama kemudian ia kembali dengan nampan berisi teko kecil dan gelas. Perlahan ia tuangkan teh hijau yang masih panas ke dalam gelas tersebut.
"Silahkan" ujar Aeda menyodorkan gelas itu.
"Terimakasih" jawab Joyi sembari mengambilnya.
Perlahan ia menyeruput teh itu, rasa pahit yang tawar di lidah terasa nikmat saat melewati kerongkongan. Sejenak penatnya memang hilang, tapi tetap saja kembali lagi dan membuat pening.
"Sepertinya nyonya sedang memikirkan sesuatu" ujar Aeda.
"Ya, ini cukup menggangguku. Chad di undang oleh Violet untuk makan malam di kediaman Hermes, tapi sepertinya ia juga memiliki urusan pribadi yang sama pentingnya. Aku ingin membanyunya tapi tidak tahu harus melakukan apa" jelas Joyi.
Aeda ikut memikirkan masalah ini, sejenak ia merenung sampai sebuah ide melintas dalam benaknya.
"Jika nyonya ijinkan saya punya sebuah saran" ujarnya.
"Apa itu?" tanya Joyi penasaran.
* * *
"Minumlah, aku sengaja membuatnya untuk mu" ujar Tianna menyuguhkan segelas teh untuk Shishio.
"Terimakasih" ujar Shishio.
"Um....apakah...Keenan akan baik-baik saja?" tanyanya ragu.
Shishio melihat ada garis kekhawatiran di wajah Tianna, dengan tersenyum ia menjawab.
"Begitu ya" ujar Tianna terlihat tidak begitu percaya.
Ia menatap keluat jendela, dimana tak ada apa pun yang bisa ia lihat kecuali daun-daun yang berguguran. Tapi Shishio tahu yang di lihat Tianna lebih dari sekedar itu.
"Kau sangat mengkhawatirkannya" ujarnya.
"Dia....adalah sepupu yang menyebalkan, dia tidak punya semangat untuk hal lain kecuali kekuatan. Tapi meski begitu kami bernasib sama, untuk itulah mengapa kami bisa bersama dan saling mengerti. Ada hal yang belum ku ceritakan padamu tentang Keenan"
"Apa itu?" tanya Shishio penasaran.
"Alasan Keenan sangat menginginkan kekuatan bukan hanya karena ia ingin di akui, tapi dia menginginkan Anna."
Sudah lama sekali tak ada yang menyebut nama itu kecualo dirinya, setelah sekian lama akhirnya telinganya mendengar nama itu di sebut meski oleh seorang vampire yang masih asing baginya.
"Maksud mu?" tanya Shishio hati-hati.
"Melihat kedudukan mu sebagai penyihir aku yakin kau pasti mengenalnya, dia adalah vampire yang membawa batu keabadian dan mengalahkan Viktoria saudari Keenan"
"Apa maksudmu Keenan menginginkan Anna?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi Keenan sering memujanya. Bahkan Anna adalah alasan kedatangannya ke sini, dia adalah alasan yang membuat kami berkumpul bahkan menyandera Reinner Raja vampire"
"Maksud mu...Raja Reinner belum mati? dia masih hidup?" tanya Shishio tersentak.
Tianna melirik ke kiri dan kanan seolah takut akan ada yang menguping padahal jelas mereka hanya berdua saja, perlahan ia mendekati Shishio dan berbisik.
"Keenan menyelamatkannya dari hukuman mati hanya untuk menyandranya dan menanyai keberadaan Anna kepadanya."
Shishio terdiam, ia tak menyangka Keenan begitu tertarik pada Anna hingga melakukan semua kegilaan ini. Jika dia tahu muridnya Hans adalah keponakan Anna dan mencari keberadaannya maka sudah di pastikan ia juga akan terjerat kegilaan Keenan, untunglah ia memutuskan untuk ikut bergabung dengan begitu ia bisa mengawasi Keenan dengan matanya sendiri.
"Apa kau tahu Anna? ku dengar dia dulu penyihir yang hebat jadi kau pasti mengetahuinya" tanya Tianna kini dengan suara yang biasa lagi.
"Dia memang penyihir yang hebat, dia terkenal karena kekuatannya dan kepintarannya" jawab Shishio sambil mengenang bagaimana wajah cantik Anna.
__ADS_1
"Seperti dugaanku" ujar Tianna.
Shishio menatap daun terakhir yang gugur saat cahaya oranye menyinari ranting-ranting yang kering, di dunia yang luas ini ia sudah melihat empat musim dan keindahan di setiap musimnya.
Tapi semua itu kalah oleh satu musim panas yang cerah, musim dimana tubuhnya masih gempal dengan wajah yang bulat. Hari dimana ia masuk ke Akademi untuk pertama kalinya dan duduk di samping gadis cantik keturunan Hermes, semangat yang membara masih terasa bergejolak di dadanya hanya karena informasi keluarga itu.
Satu kedipan matanya mengubah kenangan itu secara cepat, hari-hari hebat saat Anna menyatakan cinta dengan gagahnya di hadapan semua orang lalu perjalanan cintanya yang penuh drama.
Anna tetap berada di sampingnya, untuk menjaga dan mendukungnya meski pada akhrinya ia tak berhasil mendapatkan hatinya tapi jauh di dasar hatinya ia yakin Anna akan kembali untuk memenuhi janji yang dia buat dua puluh lima tahun silam.
* * *
Meski masih terasa pening tapi ia mencoba untuk bangkit, sayangnya tali pengikat masih terpasang dengan kuat sehingga hanya bagian kepala yang bisa terangkat.
Aaarrgghh..
Erangan kecil itu menandai lelahnya tubuh setelah melewati berbagai macam rasa sakit, bahkan rasa pening cukup menganggu sebab matanya ikut tak bisa melihat dengan jelas.
"Oh..cepat sekali kau sadar" ujar Shishio menghampiri.
"Bagaiman perasaan mu?"
"Buruk" jawab Keenan lemah.
Shishio hanya tersenyum, ia pun melepaskan tali pengikat agar Keenan bisa bangun. Rupanya tubuhnya memang kelelahan sebab butuh waktu baginya hanya untuk bangkit, akhirnya Shishio pun membantunya.
"Perlahan saja" ujarnya saat Keenan ingin berdiri.
Saat kakinya menyentuh lantai yang dingin tak ada kekuatan sehingga hampir saja ia terjatuh, untung Shishio cukup kuat untuk menopang tubuh kekarnya. Perlahan ia di bopong ke ruangan lain dimana ada tempat tidur yang empuk, Keenan segera merebahkan tubuhnya di sana.
"Bagaimana hasil tesnya?" tanya Keenan kini dengan suara yang lebih bertenaga.
"Cukup bagus, kau hanya perlu penyesuaian sedikit saja"
"Aku merasa...semakin lama tenaga ku kembali" ujarnya sambil meremas kedua tangan.
"Pada hakikatnya kau bertambah kuat, ini hanya penyesuaian tubuh yang perlu beberapa menit saja"
"Bagus, dengan begini semuanya berjalan sesuai rencana kita" ucapnya senang.
"Jangan lupa minum obatmu, aku ingin istirahat setelah bekerja seharian" sahut Shishio meninggalkan sebuah botol kecil berisi beberapa pil berwarna kuning sebelum pergi.
Apa yanh di katakan Shishio memang benar, dalam waktu beberapa menit saja tubuhnya sudah benar-benar bugar kembali. Dengan mengenakan pakaiannya tanpa lupa membawa obat ia pergi keluar dan menemui Tianna.
"Ayo kita pergi" ujarnya.
"Pergi? kemana?" tanya Tianna bingung.
"Mengambil janjiku padamu" jawab Keenan sambil tersenyum penuh misteri.
Tianna tidak mengerti apa yang di maksud Keenan tapi ia ikut juga, saat hari menjelang malam dan semakin larut mereka berjalan melewati hutan.
Langkah Keenan semakin lama semakin cepat hingga membuat Tianna merasa lelah sebab mengimbangi kecepatan yang tak biasa itu, ia sempat merengek di tengah jalan dan tidak mau meneruskan perjalanan.
"Apa ini sikap saat menjemput kebahagiaan?" tanya Keenan.
"Jangan katakan hal-hal yang tidak aku mengerti, kau semakin kuat saja setelah bangun dari tidur yang aneh mana bisa aku mengimbangimu" keluhnya.
Tanpa di duga Keenan mengulurkan tangan dan menggendong Tianna, dalam dekapan itu ia berkata.
"Hari ini, aku akan menjemput impian kita. Hari ini aku akan memenuhi janjiku padamu, aku akan mengambil istana dan menjadikanmu putri di sana"
"Maksudmu...kita akan pergi ke istana? tapi...bagaimana jika kita tidak di ijinkan masuk dan malah di hukum karenanya?" tanya Tianna khawatir.
Keenan tersenyum, senyum hangat yang berbeda dari biasanya.
"Kali ini tidak akan ada yang bisa menghalangi kita untuk mewujudkan impian kita, aku berjanji akan membunuh siapa pun yang berani menghalangi kita sebab....kita pantas mendapatkan hal ini."
Sekian lama bersama entah mengapa tiba-tiba Tianna merasa Keenan sangat keren, dia bahkan terlihat lebih tampan di bawah sinar rembulan yang pucat. Saat ia mengangguk kaki Keenan mulai bergerak, melompat dari satu dahan ke dahan yang lain.
Kecepatan dari gerakan kakinya bergesekan dengan udara yang menghadirkan angin di sekitar mereka, menerbangkan rambut Keenan dan memperlihatkan dengan jelas senyuman bahagia yang akan meraih impiannya.
__ADS_1