
Kisah itu tak mudah untuk di lupakan, kenyataan yang sukar untuk di terima namun benar adanya. Ternyata penyebab hilangnya Chad bukan karena pekerjaannya, melainkan sebuah insiden tak terduga terjadi untuk menyelamatkan seorang gadis yang jatuh dari atas balkon.
Jessa berkata saat ini Chad di bawa keluar negri untuk pengobatan meski dokter telah menyatakan kakinya akan lumpuh total.
"Cih, sial!" geramnya dengan tangan mengepalkan setumpuk salju.
Air mata itu tanpa henti membuat lubang pada hamparan putih yang lembut, dalam benaknya emosi terus bergumul untuk mencari ide agar bisa menemuinya.
Entah harus bagaimana, entah harus kemana, ia tak pernah suka jika harus menunggu tanpa ada kepastian yang jelas.
Akhir Desember itu berlalu dengan derita penantian, saat terompet di tengah malam berbunyi untuk menandai pergantian tahun ia hanya bisa berharap Dewi Fortuna memberkahi hidupnya di tahun ini.
* * *
Kyra membenarkan mantel yang ia pakai sebelum turun dari mobil, tak lupa Agler yang masih berpura-pura menjadi Chad memberikan tangannya agar Kyra lebih mudah berjalan.
Kini mereka berhadapan di pintu gerbang kediaman Hermes, baru pulang dari acara makan malam yang di janjikan Agler waktu itu.
"Terimakasih untuk makan malamnya" ujar Kyra yang kini jauh lebih membaik.
"Aku senang kau menikmatinya"
"Chad...aku bersungguh-sungguh pada ucapan ku, kau tidak perlu merisaukan apa pun lagi dan meski memang agak kasar tapi hanya ini yang bisa ku ajukan sebagai balas budiku" ucapnya bersungguh-sungguh.
"Ahaha...ya itu bagus, tapi..rasanya itu tidak adil. Aku tidak mau kau merasa berhutang padaku jadi tolong hentikan hal ini ya, setelah semuanya membaik kita bisa pikirkan lagi" jawab Agler canggung.
Mata binar Kyra meredup, tatapannya menjadi sendu dengan perasaan bersalah yang masih menghantui benaknya.
Puk
"Jangan terlalu di pikirkan, masuklah udaranya semakin dingin" ujar Agler sambil menepuk lembut pundaknya.
"Chad..." panggilnya pelan sebab ada perasaan aneh yang berbeda.
Perasaan yang sama saat mereka makan malam tadi, entah mengapa bahkan dari cara bicara saja baginya Chad terdengar berbeda. Ia merasa hangat dan nyaman saat berada di dekatnya, bahkan Chad terkesan lebih banyak bicara dan tersenyum.
Jauh berbeda dengan Chad yang selama ini ia kenal, rasanya seperti dua orang yang berbeda. Meski begitu ia telah membulatkan tekad dan menyatakan keinginannya.
"Aku sudah memikirkan hal ini dengan baik, selama ini aku berfikir hidupku tak berarti sampai tiba-tiba aku melihat mu mencoba meraih tanganku. Untuk pertama kalinya aku merasa ada seseorang yang peduli, bahkan aku bisa merasakan kasih sayang tanpa imbalan. Karena itu...mari kita lanjutkan pertunangan kita sebab aku percaya bahwa apa pun yang terjadi kau pasti akan melindungiku."
Agler tak mampu bicara apa pun sebab ia tahu bahwa Chad adalah saudara kembarnya yang artinya sepupu Kyra, mau bagaimana pun mereka tak bisa terikat tali pertunangan apalagi pernikahan.
Karena itu untuk sementara waktu Agler hanya memintanya untuk lebih fokus pada kesehatannya terlebih dahulu, masalah itu akan mereka bicarakan lagi nanti.
Tak mau ambil resiko yang lebih Agler sudah mendiskusikan hal ini dengan Jessa, ia tak akan menemui Kyra lagi sebagai Chad dan untuk sementara waktu juga tidak akan menampakan diri sebagai Agler.
Meski ingin merangkul satu keluarga itu sebagai Hermes tapi ia tak boleh egois dan membahayakan yang lain. Sementara waktu ia hanya akan menjadi bayangan yang mengikuti arah Hermes tanpa melakukan kontak langsung, satu-satunya yang kini bisa ia temaui hanya Jessa.
"Ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Jessa saat mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah kedai.
"Ah itu...tentang Chad, aku masih tidak mengerti. Jika Chad adalah saudaraku sudah pasti dia juga seorang Hermes, tapi kenapa dia berkata kepada Ima bahwa orangtuanya meninggal karena kecelakaan? bahkan dia yakin tentang itu seolah melihat langsung kejadiannya"
"Joyi" jawab Jessa serius.
__ADS_1
"Satu-satunya orang yang harus kau waspadai di dunia ini adalah dia, sudah ku katakan dialah yang menculik ibumu jadi bisa saja dia berhasil menyelamatkan Chad. Aku dengar Joyi menikah dengan seorang pengusaha yang memiliki anak dan menantu, bisa jadi dia memberikan Chad kepada anak tirinya itu. Lalu orangtua angkat Chad meninggal karena sebuah kecelakaan, itulah alasan mengapa Chad tidak tahu identitas aslinya karena Joyi berhasil menutupinya" jelas Jessa.
"Kejam sekali, kenapa dia berbuat begitu kepada keluarga kita?" tanya Agler menahan marah dengan mengepalkan tangan.
Hhhhhhhhhh
Jessa menghela nafas panjang, tentu karena ini adalah kisah masa lalu yang panjang.
"Semua berawal bahkan sebelum ayah mu lahir, saat itu kami masih muda dan penuh energi. Cerita singkatnya aku dan kakekmu saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah, tapi Joyi yang saat itu menjadi asisten pribadi Jack tak terima. Ia bahkan memberiku racun untuk mengakhiri hidup ku dan bersekongkol dengan seorang vampire untuk menjatuhkan Jack"
"A-apa? racun?" tukas Agler tak percaya.
Memang, saat ia di beri tugas untuk menyamar menjadi Chad sedikitnya ia bisa merasakan aura kuat dari Joyi. Padahal jelas Joyi hanyalah manusia biasa, bukan vampire atau penyihir.
Dari caranya berdiri pun ia bisa tahu Joyi adalah sosok wanita kuat yang berpengaruh, rasanya tak ada yang tak bisa di taklukan olehnya.
"Lalu?" tanyanya lebih penasaran.
"Aku berpura-pura mati dan menghilang untuk melindungi bayi yang sedang ku kandung, hingga tiba saatnya bagi ku untuk mengungkap kejahatannya. Jack marah besar dan mengusirnya dari rumah, karena itulah dia dendam kepada kami."
Tanpa di sadari Agler semakin mempererat kepalan tangannya, andai tahu lebih awal saat ini Chad mungkin berada di keluarga yang tepat bukan cengkraman wanita tua yang jahat.
Dalam benaknya kini berputar mencari jalan untuk menyelamatkan Chad, apa pun yang terjadi ia harus membawa Chad kembali ke keluarga Hermes.
Demi tujuan itulah ia kembali meminta bantuan Nick, karena Ima yang paling mengetahui tentang Chad tentu Ima juga turut serta dalam pencarian itu.
"Apa kau yakin soal ini? maksud ku Chad bukan orang yang mudah percaya begitu saja, dia sedikit keras kepala" ujar Ima kurang yakin.
"Entahlah, tapi saat mengetahui aku memiliki saudara lain yang ku inginkan hanya hidup bahagia bersamanya" jawabnya.
Kerja keras mereka tak berbuah cukup manis, selain nama dan riwayat kesehatan selama di rawat tak ada lagi yang mereka dapat.
Menghadapi jalan buntu Agler dan Ima membisu di ruang keluarga, mencoba berfikir sampai kepala mereka rasanya mau pecah.
"Ah.." pekik Ima tiba-tiba.
"Apa?"
"Kau pernah bersandiwara menjadi Chad, bagaimana kalau kau bersandiwara lagi dan pergi ke kantornya. Pasti kita bisa mendapatkan petunjuk dari sana" ujarnya.
"Benar juga, itu layak di coba. Tapi kita tidak tahu alamat kantornya"
"Tenang saja, serahkan hal itu padaku" jawab Ima yakin.
Esok paginya ia pergi ke rumah Chad, dengan sengaja ia menemui Aeda dan meminta alamat kantor Chad. Ia beralasan bahwa Chad menyuruhnya pergi ke kantor, tentu Aeda yang sudah berpengalaman tak serta merta memberikan alamat itu. Dengan dalih bahwa Chad telah memberikan alamatnya namun hilang akhirnya ia memiliko sedikit kepercayaan, Aeda pun memberikan alamat itu.
Dengan riang Ima memberikan alamat itu kepada Agler, sekarang tugasnya hanya bersandiwara seperti biasa. Ima mengingatkan Chad adalah bos yang pendiam dan seperti diktator, itu adalah sikap yang susah-susah gampang untuk di tiru namun Agler harus tetap mencobanya.
Baginya yang tak pandai berbohong selalu ada rasa takut ketahuan saat melakukan sandiwara itu, ia tak bisa mengontrol degup jantungnya yang terasa semakin menggebu hingga seakan-akan mau keluara dari dadanya.
Begitu juga dengan keringat dingin yang membasahi keningnya, saat ia tiba di kantor sebelum keluar dari mobil ia harus menenangkan diri terlebih dahulu dan menyempurnakan ekspresinya agar meyakinkan.
Ffhhiiuuuuuuuuhhhhh....
__ADS_1
Membuang nafas panjang kini Agler keluar dari pintu mobil, baru saja ia melangkahkan kaki seorang petugas yang berjaga segera memberi hormat yang cukup membuatnya kaget.
Ia membalasnya dengan anggukan kecil meski sedikit canggung, hal lain terjadi yang membuatnya semakin gugup saat para karyawati memandangnya.
Tak cukup sampai di situ beberapa menyapa dengan nada manja dan dengan sengaja memperlihatkan bagian menonjol yang biasanya sukses menarik perhatian, beruntung Ima telah memperingatkannya akan hal ini sehingga ia hanya perlu berjalan terus tanpa mengatakan apa pun seperti ucapan Ima.
"Tuan muda!" panggil seseorang yang menghentikan langkahnya sebab ia tahu panggilan itu untuk Chad.
Di lihatnya seorang pria muda berlari ke arahnya, masih mencoba bersikap dingin ia hanya berdiri mematung.
"Kapan anda kembali dari Amerika? kenapa anda tidak memberitahuku?" tanya Manager San.
"Oh, ah itu...ya maaf soal itu" ujar Agler yang masih bingung, namun wajahnya mulai serius karena sekarang ia tahu dimana Chad berada.
"Tuan muda.." panggil Manager San dengan wajah serius sambil menatap tajam padanya.
"A-apa?" tanya Agler mulai gugup.
"Apa anda baik-baik saja? wajah anda terlihat lebih pucat dari biasanya"
"Oh ah ya..aku hanya sedikit kurang enak badan"
"Aku mohon jangan memaksakan diri, sebaiknya anda pulang dan beristirahat dulu di rumah"
"Ti-tidak perlu, aku baik-baik saja"
"Tidak ada alasan, saya akan mengantar anda pulang sekarang juga" ujar Manager San bersikukuh.
Mau tidak mau Agler harus ikut juga, jika ia semakin menolak maka akan terlihat semakin mencurigakan. Lagi pula dengan di antar bawahannya maka ia bisa tahu dimana rumah Chad, lebih untung lagi jika ia mendapat informasi yang lebih berharga di sana.
Manager San membukakan pintu mobil agar Agler dapat duduk di sampingnya, setelah memasang sabuk pengaman barulah Manager San menjalankan mobilnya.
Sepanjang jalan itu mereka tak banyak bicara, mereka hanya melakukan percakapan basa basi saja yang ringan.
"Tuan muda apa yang akan kau pakai besok? stelan jas hitam atau biru tua?" tanya Manager San tiba-tiba.
Agler sedikit tertegun, rasanya seperti dia sedang di uji dan jika salah menjawab maka sandiwaranya akan terbongkar.
"Kenapa bertanya? kau tidak bisa memutuskannya sendiri? bukankah kau tahu seleraku?" ujar Agler sebisa mungkin terlihat dingin.
"Ah maafkan aku" jawab Manager San yang membuat Agler bernafas lega.
Tapi tiba-tiba Manager San menghentikan mobilnya, sejenak ia terdiam sebelum kemudian ia berkata.
"Tapi...aku memang tidak tahu selera anda, tuan...muda."
Agler terkesiap, dari tatapan itu ia tahu Manager San telah mengetahui sadiwaranya. Degup jantungnya kini menjadi cepat, di tambah dengan Manager San yang mengunci pintu seolah berkata 'jangan kabur'.
"Sepertinya kau benar-benar tidak tahu tuan Chad, kau membuat banyak kesalahan sebagai seorang tuan muda Chad. Yang pertama, tuan Chad tidak pernah gugup apalagi bicara dengan terbata dalam kondisi apa pun. Yang kedua, beliau tidak akan pernah mau duduk di depan sejajar dengan supir meski pintu telah di bukakan untuknya. Ketiga, aku tidak mengurus pakaiannya meski aku tahu seleranya" jelas Manager San membongkar penyamaran Agler.
"Katakan siapa kau?! wajahmu memang sangat mirip dengannya tapi aku tahu kau bukanlah tuan Chad, apa tujuan mu menyamar jadi dirinya?" gertak Manager San.
Agler terdiam, mau mengelak pun susah karena memang sulit memerankan orang seperti Chad. Dengan tenang ia menghela nafas, baru kemudian menjawab.
__ADS_1
"Nama ku Agler, aku saudara kembar Chad yang sejak lahir sudah terpisah dengannya."